Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Aku milikmu


__ADS_3

Sesaat kemudian pria itu tertawa. Bahkan dia sudah sangat la tidak melihat kain itu, yang biasa dibilang istrinya kain jahanam, kain laknat, dan banyak lagi sebutan yang menggambarkan sebuah baju yang tidak layak pakai untuk bepergian keluar rumah. Yang jelas bukan juga daster emak-emak yang harganya 30 ribuan yang cuma bertahan semingguan ajah.


Satya langsung mengembalikan kain itu ke tempat semula, dan dia keluar setelah selesai memakai piyamanya. Dia melihat istrinya masih duduk di tepi ranjang dan belum mengganti bajunya.


"Kok belum tidur?" ucap Satya mendekatkan diri pada istrinya. Pria itu berdiri di depan Amartha yang sedang duduk. Satya menyelipkan jari-jarinya diantara rambut panjang istrinya, dia membuat gerakan seolah sedang menyisir rambut Amartha.


"Aku mau sikat gigi dulu sama mau ganti baju," jawab Amartha sambil memandang wajah suaminya.


"Ehem, ya udah. Jangan lama-lama..." bisik Satya yang membuat jantung berdetak lebih kencang seperti habis lari marathon.


"Aku tunggu disini, ya..." ucap Satya yang kemudian berjalan ke arah sisi ranjang sebelah kiri. Menyibak selimut dan masuk ke dalamnya, sedangkan Amartha langsung berjalan ke arah kamar mandi.


Wanita langsung menutup pintu dan membuka lemari yang biasa digunakan untuk menyimpan handuk bersih yang belum dipakai.


Amartha mencari sebuah baju tipis yang terselip diantara handuk-handuk putih. Ia membungkukkan tubuhnya untuk membuka lemari itu.


"Harus pake banget, ya?" ucapnya saat menjereng sebuah pakaian, anggap saja itu pakaian. Seketika pikirannya melayang pada sosok wanita bernama Ivanka, bukan karena hormon atau kondisi emosi ibu hamil yang tidak stabil, tapi ini soal feeling seorang istri.


"Aku tau, karena aku juga wanita..."


"Aku tau apa yang tersembunyi dibalik tatapan matamu pada suamiku, kau sudah melewati batas, Ivanka. Aku tak akan membiarkan itu," Amartha bermonolog dengan dirinya sendiri, ia melihat dirinya di pantulan cermin.


Perlahan Amartha muncul dari balik daun pintu. Wanita itu berjalan mendekati suaminya.


"Kemarilah..." ucap Satya. Pria itu duduk dengan bersandar pada bantal yang empuk.


Tak terasa matahari perlahan naik ke atas, menggantikan sang malam yang cantik dengan taburan bintang sebagai perhiasannya.


Sebuah tangan memeluk Amartha dengan sangat posesif. Bahkan hembusan nafasnya yang hangat bisa ia rasakan di perpotongan lehernya.Wanita itu mengerjapkan matanya, namun tubuhnya seakan tak mau bergerak apalagi berpindah. Namun rasa lapar membuatnya tak bisa lagi berbaring dengan tenang.

__ADS_1


Ia meraih benda pipih diatas nakas, ternyata yang ia ambil adalah ponsel milik suaminya. Ia memicing kala melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Ivanka Barsha.


"Kalau urusan kerjaan kenapa dia nelfon tengah malem dan lagi, dia missed call sebanyak ini padahal baru jam sembilan," ucap Amartha yang pagi-pagi sudah mengoceh.


"Aaaaapaaaa? j-jam sembilan?" pekik Amartha. Wanita itu berbalik menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


"Maaaaaass!" seru Amartha mencoba membangunkan suaminya.


"Apa sih, Yank? pagi-pagi udah tereak? udah kayak mami aja kamu, Yank..." Satya ngomong tanpa membuka matanya.


"Masss, kamu nggak ngantor? ini udah jam sembilan," kata Amartha mengingatkan bahwa suaminya itu sudah sangat kesiangan.


"Masih ngantuk, Sayang ... lagian di kantor ada Firlan," Satya perlahan membuka matanya, ia terpaku pada wajah istrinya.


"Mau kemana?" ucap Satya saat istrinya pergi meninggalkannya menuju kamar mandi.


Satya memilih untuk kembali memejamkan matanya. Amartha yang sudah mandi segera berjalan ke arah walk in closet, untuk memilih baju yang akan dipakainya.


Setelah selesai ia melihat Satya yang masih bergelung dengan selimutnya, wanita itu memilih untuk keluar dan membuat sesuatu untuk menjadi sarapan mereka berdua.


Sesampainya di dapur, Amartha segera memakai appron dan mengikat rambutnya.


Wanita itu mengambil daging cincang dan beberapa sayuran beku, ia memulai memotong bawang bombai, bawang putih dan cabai. Amartha mulai memanaskan wajan, dan bau harum seketika menyeruak saat bawang bombay sudah berpadu dengan bawang putih dan juga potongan cabai. Ia meraih a little bowl of minced meat dan mencampurkannya pada bumbu yang telah lebih dulu menyentuh minyak panas.


"Waduh, ini mah istri idaman! pagi-pagi udah goyangin wajan, bikin sesuatu yang bisa ngisi perut suami biar nggak masuk angin," Amartha memuji diri sendiri.


Wanita itu mengaduk masakannya dengab spatulla. Setelah itu dia menaruh beberapa sayuran beku sebelum ia memasukkan nasi ke dalamnya. Dengan lihai tangannya menaburkan salt and papper. Tak ketinggalan oyster sauce juga soy souce ia tambahkan ke dalam masakannya. Terakkhir, Amartha menambahkan sesame oil untuk menambah cita rasa dari nasi goreng buatannya.


"Nih kalau para chef nyontohin ngelurusin udang kayaknya gampang banget, loh ini kok malah susaaah, astagaaaa!" Amartha ngenes ngelurusin udang biar cakep bentuknya pas digoreng.

__ADS_1


"Ah, untung aja bisa..." Amartha tersenyum saat berhasil membersihkan dan meluruskan bentuk udang yang semula melengkung. Ia menata apa saja bahan yang ia perlukan. Amartha kini membuat deep fried tempura shrimp.


Setelah selesai ia segera membersihkan peralatan masaknya sebelum ia menata nasi goreng ke dalam piring.


Sebuah panggilan membuat tidur Satya terganggu, siapa lagi kalau buat Ivanka. Satya mengernyit saat melihat siapa yang meneleponnya. Pria itu lantas mengusap layarnya untuk menerima panggilan itu.


"Ya? gimana?" tanya Satya dengan suara paraunya, ia mencoba untuk duduk. Pria itu mencoba beradaptasi dengan cahaya di kamarnya. Ia pun sesekali menguap, Ivanka jadi gugup setelah mendengar suara orang yang sangat dikaguminya. Berbeda dengan Satya yang hanya menganggapnya rekan kerja


"Sayang sarapannya udah siap, Mas..." ucap Amartha, Satya tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya. Wanita itu berjalan ke arah ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Ivanka yang tadi ingin mengucapkan sesuatu mendadak terdiam setelah mendengar suara Amartha. Walaupun Amartha berkata sangat pelan namun masih didengar oleh Ivanka.


"Halo?" Satya yang tak mendapatkan respon dari lawan bicaranya, lantas ia menutup sambungan telepon itu secara sepihak. Ivanka yang baru saja akan berucap mendadak kesal karena panggilan itu telah berakhir.


Amartha yang sudah cantik dengan balutan dress yang khusus untuk ibu hamil pun keluar dari kamar meninggalkan Satya yang sedang bersiap-siap.


Amartha menyeduh teh, untuk sang suami tercinta. Dia paham betul berapa takaran gula yang disukai suaminya. Wanita itu menaruh secangkir teh di meja, ia pun segera duduk memunggu Satya keluar dari kamar.


Tak berapa lama, Satya pun muncul dengan setelan kemeja semi formal.


"Loh? Mas nggak ke kantor?" Amartha mengernyit heran dengan penampilan suaminya.


"Ke kantor tapi sama kamu, ya? cuma sebentar aja kok. Ada berkas yang harus aku tanda tangani hari ini, habis itu kita ke rumah Mami. Oh ya, nanti kamu ganti pakaian kamu, pakai dress yang ada di papperbag di atas meja rias kamu, Yank..." ucap Satya lembut lalu menyesap teh hangat miliknya.


Tiba-tiba ponsel Satya berdering, ia mendapat telepon dari seseorang...


"Siapa?" tanya Amartha penuh selidik.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2