Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mantan Istri atau Mantan Pacar?


__ADS_3

Fendy terpaku melihat wanita yang ada dihadapannya. Dalam diamnya Fendy memgatakan dalam hatinya bahwa akhirnya perlahan membuat Sinta menjadi dirinya yang dulu. Sinta merasa risih mendapat tatapan tak berkedip dari pria yang sudah menunggunya selama satu jam.


"Nggak usah malu!" Fendy akhirnya mengatakan sesuatu memecah keheningan diantara keduanya.


"Siapa juga yang malu? aku udah biasa dikagumi," ucap Sinta.


Fendy mendekat, mengikis jarak diantara mereka.


"Tapi pada akhirnya aku yang akan memilikimu," bisik Fendy. Sinta menelan salivanya dengan susah payah.


"Kamu terlalu percaya diri, anyway! belum tentu juga aku mau sama pria menjengkelkan seperti kamu," kata Sinta. Pria itu mundur satu langkah, ia menatap Sinta penuh arti


"Hahahhahaha, masa sih? tapi mata kamu berkata lain," sindir Fendy.


"Ngaco!" Sinta mengelak.


"Terserah, yang jelas aku sudah tau jika kamu sudah mulai terbiasa dengan kebersamaan kita," ucap Fendy.


"Baiklah, kita hampir terlambat..." ucap Fendy yang segera menarik tangan Sinta keluar menuju mobilnya.


"Kita mau kemana, sih?" tanya Sinta.


"Nanti juga tau..." jawab Fendy, ia menekan pedal gasnya membelah jalan raya.


Sinta tidak tau Fendy akan membawanya kemana, dengan pakaian seperti ini sepertinya mereka tidak mungkin ke mall atau nonton di bioskop. Sinta menoleh pada Fendy yang fokus pada kemudinya. Setengah jam kemudian, Fendy berhenti di depan sebuah hotel ternama di kota itu. Ia membuka sabuk pengamannya.


"Ngapain kesini?" tanya Sinta.


"Nanti juga tau," jawab Fendy yang dengan segera membebaskan tubuh Sinta dari belitan sabuk pengaman.


"Nggak usah macem-macem, ya!" kata Sinta ketus.


Fendy tak menjawab, pria itu segera keluar dan membuka pintu untuk wanita yang menatapnya dengan tampang sinis. Fendy melemparkan kunci pada petugas Vallet.


Pria itu membawa Sinta masuk ke dalam, ia tak peduli dengan Sinta yang terus berusaha melepaskan diri darinya. Fendy membawa Sinta masuk ke dalam lift.


"Lepasin, nggak?" sentak Sinta.


"Nggak!" kata Fendy tegas.


"Kalau tau kesini aku nggak akan mau," ucap Sinta.


Pintu lift terbuka, Fendy menarik tangan Sinta. Wanita itu dengan susah payah menyeimbangkan langkahnya dengan Fendy. Pria itu berhenti di depan sebuah ballroom. Pria itu membawanya masuk.

__ADS_1


"Pesta?" gumam Sinta yang jelas di dengar oleh Fendy.


"Jadi kamu ngajak aku kesini buat nemenin kamu kondangan?" tanya Sinta pada Fendy.


"Menurut kamu?" kata Fendy yang membuat Sinta gondok bukan main.


"Hai bro! congrats, ya!" ucap Fendy yang menyalami sepasang pengantin yang berbaur bersama para tamu undangan.


"Hai, Fend! wah, udah ada pasangan, nih! kapan nyusul?" tanya pengantin pria yang menepuk pundak Fendy.


"Hahahaha, kapan-kapan, Man!" seloroh Fendy.


"Wah, parah nih bocah!" ucap pria yang bernama Arman.


"Kesrobot orang baru tau rasa!" ucap Arman.


"Nggak akan! dia udah cinta mati sama pria tampan ini. Iya kan, Sayang?" ucap Fendy seraya mengecup punggung tangan Sinta. Fendy mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.


"Aku nggak bisa kasih apa-apa, hanya tiket honeymoon ke eropa," ucap Fendy seraya memberikan sebuah amplop pada Arman.


"Wow, thanks!" Arman tersenyum saat menerima hadiahnya.


"Kenalin, ini Marcella..." ucap Arman mengenalkan istrinya pada Fendy. Pria itu hanya sedikit membungkukkan badannya dan tersenyum. Sinta melihat tak ada jabatan tangan diantara keduanya, Fendy tersenyum canggung begitu juga dengan pengantin wanita. Sinta merasa ada yang aneh dengan sikap Fendy dan wanita itu.


"Sinta..." Sinta menjabat tangan pasangan pengantin itu secara bergantian.


"Nikmati pestanya, tinggal dulu ya Fend, Sin ... enjoy!" ucap Arman yang meninggalkan Fendy dan Sinta, ia menggandeng istrinya menyapa para tamu yang datang. Tidak ada pelaminan, konsep pesta pernikahan ini membuat sang pengantin bebas menyapa tamu undangannya. Dan sepertinya acara ini hanya khusus untuk orang terdekat dari pasangan pengantin itu.


"Siapa?" tanya Sinta ambigu. Fendy mengambilkan minuman untuk wanita yang mengira dia akan diajak fine dining di sebuah restoran mewah. Namun siapa sangka, mereka berakhir di acara kawinan teman Fendy.


"Siapa?" Sinta gemas karena bukannya menjawab Fendy malah memberinya segelas minuman dingin.


"Bagian dari masa lalu," ucap Fendy setelah menenggak minuman miliknya.


"Hah?"


"Jawaban dari pertanyaanmu itu," kata Fendy ia menaruh gelas bekas minumannya diatas meja. Sinta menyesap minuman rasa buah itu sambil kedap kedip.


"Kita pergi dari sini," ucap Fendy, ia mengambil alih gelas di tangan Sinta dan menaruhnya berdampingan dengan gelasnya yang sudah kosong.


Di dalam mobil, Fendy lebih banyak diam tidak seperti biasanya. Sesuai tebakannya wanita cantik itu ternyata ada hubungannya dengan Fendy. Tapi kalau dilihat dari dari raut wajah sang pengantin pria, Sinta yakin kalau teman Fe dy itu tidak mengetahui bahwa istrinya pernah menjalin hubungan dengan temannya sendiri.


Fendy mengajak Sinta untuk makan malam di tempat lain yang mengusung konsep sky dining.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Fendy pafa Sinta.


"Nggak ada," jawab Sinta, padahal batinnya berkata lain. Ia ingin tahu siapa sebenarnya Marcella itu, namun gengsi membuatnya membungkam mulutnya.


"Tapi tatapanmu berkata lain," kata Fendy.


"Nggak usah cemburu, dia itu cuma mantan..." lanjut Fendy.


"Mantan istri atau mantan pacar?" Sinta kelepasan bertanya.


"Hahahaha, pengen tau banget, ya?"


"Nggak juga," ucap Sinta yang memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Yang jelas bukan mantan istri karena aku belum pernah menikah," jawab Fendy, ada sedikit kelegaan di hati Sinta mendengar ucapan pria itu. Sinta menggelengkan kepalanya, kenapa juga dia ingin mengorek informasi mengenai wanita itu. Sepertinya otaknya sudah mulai ada masalah, pikir Sinta.


"Lagian siapa juga yang butuh penjelasan?" kata Sinta.


"Ya kamulah, siapa lagi?" ucap Fendy.


Sementara di tempat lain, Vira tak sengaja mendengar Ricko tengah berbincang di telepon. Entah apa yang dibicarakan hingga pria itu tertawa begitu renyah. Ricko duduk di sofa depan tivi sambil sesekali memegang perutnya.Vira memilih melipir ke dapur.


"Masak mie enak kayaknya, kasih cabe rawit yang banyak," gumam Vira.


Wanita itu mengikat rambutnya dan mulai memasak mie instant. Ia mulai menaruh mie ke dalam air yang tengah mendidih lalu ia masukkan telur dan potongan cabe rawit. Tak butuh waktu lama akhirnya seporsi mie instant pun jadi. Viraembawa mangkuk itu ke meja makan, ia juga mengambil segelas air dingin.


Ricko yang sudah mengakhiri sambungan teleponnya merasa tergugah dengan aroma mie instant yang membuatnya mendadak lapar.


Pria itu berjalan ke arah meja makan.


"Makan apa, Vir?" tanya Ricko ia duduk di samping wanita itu.


"Mie..." sahut Vira. Ia mengangkat gelas lalu meminumnya, mengusir rasa pedas.


"Enak nih kayaknya," ucap Ricko, sambil menggeser mangkok berwarna putih mendekat ke arahnya. Pria itu menyerobot makanan Vira. Vira hanya terbengong melihat Ricko yang melahap mie instant miliknya dengan telur setengah matang.


"Lanjutin makannya," ucap Ricko yang mengembalikan mangkok itu. Pria itu kemudiam memenggak sisa air putih yang ada di gelas Vira.


"Aku masuk, ya?" ucap Ricko, ia mengacak rambut gadis kecilnya.


...----------------...


"

__ADS_1


__ADS_2