
"Kamu denger sendiri, kan? itu yang terjadi," kata Satya yang menghapus air mata Amartha dengan ibu jarinya.
"Kamu itu dunia aku, Sayang! dan aku nggak akan melepaskannya begitu aja, kita akan bersama bahkan sampai maut tak akan mampu memisahkan," kata Satya.
"Aku hanya takut dia akan nekat berbuat sesuatu," kata Amartha, lantas dia menceritakan apa saja yang dialaminya, termasuk ada seseorang yang sengaja mendorongnya saat ia pulang saat jalan pagi.
Tanpa sadar rahang Satya mengeras saat mengetahui ada seseorang yang bukan hanya meneror istrinya dengan foto, vidio dan juga boneka arwah melaikan orang itu berniat mencelakai calon anak yang ada di kandungan istrinya.
"Kenapa aku pergi, karena aku nggak akan sanggup kalau kehilangan anak ini, nggak! nggak akan..." air mata lolos dari kedua mata Amartha.
"Nggak, kamu nggak akan kehilangan dia. Maaf, maafin aku! aku yang nggak bisa melindungi kalian, maafin aku..." Satya menangkup kedua pipi istrinya, dan menyatukan kening mereka.
"Kita akan menghadapinya bersama, maafkan aku yang udah bikin kamu sedih, kecewa, marah. Semuanya akan segera berlalu, tinggal satu langkah lagi, dan semuanya akan selesai..." kata Satya.
"Kamu mau aku menyelesaikan semuanya? atau..." ucapan Satya menggantung, ia menjarak wajahnya dan melihat kedua mata istrinya yang sudah sembab.
"Selesaikan," jawab Amartha.
"Tapi biarkan aku disini," lanjut Amartha.
"Nggak, aku nggak mau..." Satya menggeleng.
"Kamu nggak merasakan, jika dia sudah berada di bawah sini? persalinanmu bisa maju atau mundur, hari itu bisa saja datang tiba-tiba. Aku nggak mau mengambil resiko sebesar itu, aku mau kamu pulang sama aku..." kata Satya.
"Mau, ya?" tanya Satya sekali lagi. Lama Amartha berpikir, sampai akhirnya wanita itu mengangguk pelan. Satya langsung memeluknya.
Amartha melepaskan pelukan itu secara tiba-tiba.
"Tapi jika kamu nyatanya menikah dengan Ivanka, jika hal itu sampai terjadi, aku akan pergi jauh dari hidupmu, dan jangan harap kamu bisa menemukan kami. Karena aku akan membawa serta anakku," kata Amartha menatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Pernikahan itu akan tetap berlangsung, sesuai dengan rencana awal," ucap Satya.
Satya mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi Amartha, ia mengecup seluruh wajah istrinya itu.
"Ehem," Kenan berdehem membuat Amartha dan Satya menoleh ke arah pria itu.
"Aku masih lapar, aku akan mengambil sandwhich ini dan kalian bisa melanjutkan lagi adegan tadi," kata Kenan mengambil satu piring sandwich dan berlalu meninggalkan kedua suami istri itu.
Kenan mendudukkan dirinya di kursi di ruang tamu.
"Sesakit itu, ya?" gumam Kenan sambil memegang dadanya yang sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Rasanya masih sama, bahkan tidak berkurang sedikit pun," kata Kenan. Dia tak mau terlalu lama terjebak dalam rasa yang tak bisa ia kendalikan.
Meratapi apa yang sudah terjadi hanya menjadi sebuah kesia-siaan. Yang harus ia lakukan hanya berjalan ke depan dan jangan sekalipun menengok lagi ke belakang.
Kenan menghela nafasnya, ia segera menelepon para pengawalnya untuk segera membereskan tenda dan menyuruh mereka menyiapkan penerbangan untuk dirinya kembali melintasi benua lain.
.
.
Siang itu akhirnya Amartha memutuskan untuk kembali pulang. Vira sudah duduk di kursi penumpang samping kemudi.
Sedangkan Amartha masih berpamitan dengan Esih dan Akbar yang berdiri di teras villa.
"Terima kasih ya, Teh..." ucap Amartha seraya memeluk Esih dengan erat. Ada perasaan sedih berpisah dengan wanita itu.
"Ini ada sedikit dari aku, Teh ... diterima, ya?" kata Amartha seraya menyerahkan sebuah amplop berisi uang pada Esih.
"Neng, hati-hati di jalan, ya? terima kasih ya, Neng..." jawab Esih sambil menitikkan air matanya.
"Teteh juga jaga kesehatan," kata Amartha.
"Mas Akbar, saya sudah transfer uang sewa villanya," kata Amartha yang memandang Akbar yang terlihat sedih. Pasalnya pria itu mengira jika Amartha itu wanita yang belum bersuami, walaupun dia jelas melihat jika wanita itu sedang hamil. Namun karena dia datang seorang diri, maka dari itu Akbar menyangka wanita itu sedang kabur dari rumah karena hamil.
"Mas?" Amartha membuyarkan lamunan Akbar.
"Emh, iya. Sudah saya terima, hati-hati dan jaga diri baik-baik," kata Akbar yang tersenyum tipis.
"Ayo, Sayang..." ucap Satya sembari menautkan jari jemarinya dengan Amartha.
"Permisi," ucap Amartha, namun baru beberapa langkah ia kembali melepaskan tangannya dari Satya dan segera memeluk Esih dengan erat.
"Terima kasih, Teh ... terima kasih," Amartha menangis sesenggukan di bahu wanita itu. Wanita yang sudah ia anggap keluarga sendiri, dan ketika harus berpisah ia merasakan sedih yang teramat sangat.
"Iya Neng iya. Jaga diri ya, Neng! jangan kabur-kaburan lagi," ucap Esih sembari mengusap punggung Amartha. Amartha masih menangis, Satya yang melihat itu pun segera mendekat dan menyentuh punggung Amartha. Membuat Amartha melepaskan pelukannya pada Esih.
Amartha berjalan mengikuti suaminya dengan sesekali menyeka air matanya. Sedangkan Kenan hanya melihatnya dari kejauhan, dia menyandarkan tubuhnya di sisi samping mobilnya sambil menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Amartha menghentikan langkahnya saat melihat Kenan yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Aku bisa bicara sebentar dengan dia?" tanya Amartha pada Satya. Pria itu mengangguk, dan mencium kening Amartha.
__ADS_1
"Bicaralah, aku tunggu di mobil," kata Satya seraya pergi dari sisi istrinya.
Amartha berjalan mendekat pada mantan suaminya. Kenan pun menegakkan tubuhnya dan mendekat pada wanita cantik yang sedang berjalan ke arahnya. Dan mereka masing-masing menghentikan langkahnya.
"Mas?" ucap Amartha.
"Aku..." Amartha ragu mengatakannya.
"Katakan saja," ujar Kenan.
"Emh, aku ... aku menggunakan uang yang ada di..." kata Amartha tak mampu melanjutkan kata-katanya, rasanya ia malu sekali telah menggunakan uang yang ada di kartu yang dulu pernah diberikan Kenan padanya.
"Kamu pasti mengetahui keberadaanku disini, setelah aku menarik begitu banyak uangmu," sambung Amartha.
"Begitu, ya?" Kenan malah terkekeh, ia mencoba mencairkan suasana.
"Aku akan segera menggantinya," kata Amartha.
"Hahahaha, apanya yang perlu diganti? itu semua uangmu, bahkan jika kamu akan menghabiskannya pun nggak masalah, karena itu sudah menjadi hak milikmu, Amartha..." jelas Kenan.
"Aku malah senang, karena kamu mau menggunakannya terlebih disaat kamu benar-benar membutuhkannya," lanjut Kenan.
"Kalau begitu, makasih ya, Mas?" ucap Amartha.
"Aku akan kembali, aku datang karena kamu sudah membuat aku khawatir setengah mati," kata Kenan.
"Maaf," ucap Amartha penuh penyesalan.
"Yang penting kamu baik-baik aja, jadi aku bisa kembali," kata Kenan.
"Hai! om Kenan pergi dulu, jika kamu nanti kamu akan keluar, jangan buat mama menahan sakit terlalu lama, ya? buatlah rasa sakitnya sesingkat mungkin," ucap Kenan seraya membungkukkan badannya seolah bicara dengan perut Amartha. Kemudian Kenan kembali menegakkan tubuhnya.
"Aku antar kamu ke mobil," kata Kenan seraya menyentuh punggung Amatha yang tertutupi rambut panjangnya yang tergerai.
Kenan membukakan pintu mobil, dan perlahan Amartha masuk ke dalamnya, duduk disamping suaminya.
"Hati-hati di jalan," kata Kenan sebelum menutup pintu mobil.
Amartha menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada Kenan yang berdiri menatap kepergian mobil yang membawa Amartha.
Pria itu berjalan menuju mobilnya sendiri, dan mengangguk tersenyum pada Esih dan Akbar sebelum ia masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan pelataran villa.
__ADS_1
...----------------...