
Satya dan Amartha berjalan kembali menuju rumah. Namun di tengah perjalanan, Amartha melihat ada penjual ketupat atau lontong sayur.
"Mas, aku pengen lontong sayur," kata Amartha.
"Jangan beli makanan sembarangan di pinggir jalan. Banyak debu. Lagian pagi-pagi nggak baik makan makanan yang bersantan. Kalau mau nanti bikin sendiri di rumah," kata Satya, Amartha mengerucutkan bibirnya kesal dengan Satya.
"Nggak usah manyun-manyun begitu, nanti mirip sama ikan lou han," lanjut Satya.
"Lou han itu jidatnya yang nong-nong bukan bibirnya yang monyong!" sarkas Amartha.
"Hahahahaha, biasa aja kali, Yank ... nggak usah pake ngegas juga,"
"Kalau nggak aku pengen itu ada yang jual ketan, enak kayaknya dikasih kelapa parut!" ucap Amartha seraya menunjuk penjual ketan.
"Dibilangin itu pada jualannya di pinggir jalan, nggak higienis. Nanti di rumah bikin semua makanan yang pengen kamu makan, Yank..." kata Satya tak mau kalah.
"Lagian ini masih pagi, makannya yang netral-netral dulu..." lanjut pria itu.
Amartha melepaskan tautan tangannya dengan Satya, dia mempercepat langkahnya.
"Yah, ngambek lagi, deh..." gumam Satya. Ia langsung mengejar istrinya..
"Yank!" seru Satya. Namun, Amartha tak menghiraukan suaminya. Ia terus saja berjalan menuju gerbang rumahnya, Satya berusaha setengah berlari, sampai akhirnya Amartha tak sengaja tersandung dan...
Hap!
Beruntung Satya langsung menahan tubuh Amartha, sehingga wanita itu tak sampai jatuh. Namun, ia merasakan kencang di sekitar perutnya.
"Kenapa? kontraksi?" tanya Satya, Amartha hanya mengangguk sambil memegang perutnya.
Satya langsung mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam rumah. Amartha mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Amartha kenapa, Sat?" tanya Rosa yang kebetulan melihat anaknya main gendong-gendongan.
"Kontraksi, Mah ... mungkin kecapean," ucap Satya sambil melirik iatrinya sekilas.
"Ya sudah, nanti mama anterin teh anget ke dalam kamar," ucap Rosa.
"Makasih, Mah..." jawab Satya.
Satya segera meletakkan Aamartha di atas ranjang. Tanpa berkata apa-apa, pria itu langsung ke kamar mandi untuk membasuh tangannya sekalian berganti baju.
Tak lama, pria itu keluar dari dalam kamar mandi. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil baju hamil untuk istrinya. Satya bergerak ke arah pintu dan menguncinya.
"Ganti baju dulu," ucap Satya. Ia membantu istrinya berganti pakaian. Pria itu hanya diam, tak banyak bicara. Amartha tahu jika Satya pasti sedang marah saat ini.
"Masih mau ngambek?" tanya Satya. Amartha menggeleng.
__ADS_1
"Yang kamu lakuin tadi bahaya. Bahaya bukan cuma buat kamu aja, tapi buat anak kita..." ucap Satya yang menahan emosinya.
"Aku ngelarang kamu makan makanan itu bukan tanpa sebab, tapi kalau kamu nggak mau nurut dan malah ngelakuin hal kayak gini lagi. Mulai sekarang aku nggak akan ngelarang kamu. Terserah kamu mau makan apa, aku nggak akan peduli," ucap Satya menohok.
Cairan bening memupuk di kedua mata wanita itu, dan dalam satu kedip air mata meluncur deras.
"Maaf," ucap Amartha lirih.
"Huuuffh," Amartha memegangi perutnya yang terasa kencang.
Satya menghela nafasnya, ia mengusap lembut perut istrinyaa.
"Maafin ayah, yah! udah marah-marah barusan. Dedek jangan ngambek, yah? " kata Satya pada perut istrinya. Ia mengelus perut Amartha dengan lembut, berharap mengurangi rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh istrinya.
"Maafin aku ya, Sayang? udah ya jangan nangis lagi ... harusnya aku nggak ngomong seperti itu," ucap Satya ia membawa Amartha ke dalam dekapannya.
"Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan kalian," lanjut Satya seraya mengecup puncak kepala istrinya.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Sebentar, aku buka pintu dulu," ucap Satya. Ia mengganjal punggung istrinya dengan tumpukan bantal sebelum ia berjalan menuju pintu.
"Gimana? Amartha nggak apa-apa?" tanya Rosa di depan pintu.
"Hanya kontraksi biasa, Mah..." ucap Satya seraya memberi Rosa akses untuk masuk ke dalam.
"Sedikit," kata Amartha.
"Loh kalau sedikit, kenapa sampai nangis begini? apa mau ke rumah sakit?" tanya Rosa yang mengusap jejak air mata di pipi Amartha.
"Nggak perlu, Mah ... cukup istirahat aja, nanti juga baikan..." ucap Amartha.
"Ya sudah, nanti sarapannya mama bawain kesini, ya?" kata Rosa tersenyum pada anaknya.
"Makasih, Mah..." ujar Amartha.
Rosa kemudian keluar dari kamar anaknya. Satya pun menutup pintu kembali, lalu duduk di samping ranjang istrinya.
"Minum dulu, Yank? supaya perasaan kamu agak enakan," ucap Satya lembut. Ia mendekatkan cangkir ke bibir Amartha. Perlahan wanita itu menyesapnya.
"Udah?" tanya Satya. Amartha mengangguk.
"Masih sakit?" Satya mengelus perut buncit istrinya.
"Hanya sedikit," ucap Amartha.
Satya membantu istrinya untuk rebahan, ia mengambil bantal maternity, agar istrinya lebih nyaman untuk berbaring menyamping. Satya mendekap istrinya dari belakang memberikan sentuhan lembut pada perut wanitanya, sesekali ia pun mendapat tendangan dari calon anaknya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, seorang pria datang ke rumah wanita yang dia akui sebagai calon istrinya.
"Selamat pagi, Tuan..." ucap pelayan di rumah itu saat melihat seorang pria diambang pintu.
"Mari, silakan masuk..." lanjut sang pelayan.
"Dimana Sinta?" tanya pria itu.
"Masih di kamarnya, Tuan..."
"Astagaaaa, jam segini masih tidur?" gumam pria itu.
"Dimana kamarnya?" tanya pria yang memakai jas abu-abu tua.
"Diatas, Tuan ... di kamar nomer dua dari kanan," jawab pelayan di rumah itu.
Pria itu segera melangkah menaiki tangga menuju kamar Sinta. Dia menggelengkan kepalanya tidak paham, bagaimana bisa wanita itu masih terjebak di alam mimpinya sementara 1 jam lagi acara wisudanya akan segera di mulai.
Tanpa mengetuk pintu pria itu menerobos masuk ke dalam kamar wanitanya.
"Sinta!" seru pria itu menyingkap selimut yang menutupi tubuh Sinta. Beruntung Sinta memakai piyama panjang bukan pakaian yang tidak layak pakai.
"Sinta, bangun!"
"Ih, ganggu banget, sih!" gumam Sinta sambil memeluk bantal gulingnya.
"Sinta! cepetan bangun!" seru Fendy, ia menarik guling yang didekap wanita itu.
"Emmmh ... apaan sih, Bik! berisik, deh!" ucap Sinta, dia malah menarik lagi selimutnya.
"Heh, tapi sejak kapan suara bibik berubah jadi suara laki-laki?" ucap Sinta lagi.
"Hah? laki-laki?" gumam Sinta, wanita itu terkesiap dan hampir meloncat dari tempat tidurnya. Dan matanya membulat saat melihat seorang pria duduk di ranjangnya dengan setelan jas lengkap.
"Fendy? kenapa kamu ada disini?" pekik Sinta saat melihat sosok Fendy duduk di tepi ranjangnya.
"Buat jemput kamu, lah!" jawab Fendy.
"Cepat bangun dan bersiap! aku beri waktu 20 menit untuk mandi dan berdandan, kita tidak punya banyak waktu," kata Fendy tegas.
"Bersiap kemana?" gumam Sinta.
"Astagaaaa! hari ini hari wisuda kamu, kalau kamu lupa! cepatlah, apa perlu aku mandikan seperti kucing di rumah bibiku?" ucap Fendy.
"Wisuda? ya ampun aku lupa!" Sinta langsung berlari ke kamar mandi, dan meninggalkan Fendy begitu saja.
...----------------...
__ADS_1