Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Bunga 100 Juta


__ADS_3

"Kalau apa? cepat katakan!" ucap Satya tidak sabaran.


"Kalau anda sering pulang cepat, dokumen sudah banyak yang menumpuk dan pekerjaanku semakin banyak!" ucap Firlan cepat. Firlan mengutuk mulutnya sendiri, karena tak bisa mengatakan hal yang sesungguhnya.


"Kamu menelfonku hanya untuk mengatakan hal receh seperti itu? aku bosnya, jadi bukan masalah besar jika aku pulang cepat. Lagipula kamu asistenku, jadi wajar bagimu mengerjakan semua itu," ucap Satya.


"Astaghfirllah kalau bukan bos udah gue gibeng nih orang! dulu aja sok nggak mau dipanggil bos, tuan Abi punya anak kok gini amat!" gumam Firlan, yang terdengar Satya seperti bisikan yang tidak jelas


"Hey! kamu masih normal kan, Firlan? apa kamu sudah belok? jangan seperti orang yang sedang sleep call-an sampai harus bisik-bisik seperti itu. Jujur tingkahmu ini membuatku takut. Periksakan mentalmu secepatnya, ambilah libur sehari untuk pergi ke dokter, swbelum semuanya terlambat." Satya bergidig ngeri saat membayangkan Firlan menjadi gemulai.


"J-jangan sembarangan ya, Tuan ... perkataan anda benar-benar tidak berperasaan," ucap Firlan gugup.


"Itu kamu sampai gugup begitu? hidup ternyata begitu kejam, apa kamu mengalami hal yang sulit?" ujar Satya.


"Saya masih berada di jalan yang lurus, Tuan! anda jangan berpikiran yang aneh-aneh. Anda sudah melakukan pembunuhan karakter yang sebenarnya!" ujar Firlan kesal.


"Kasihan sekali ya, Vira..." ucap Satya membayangkan betapa malangnya nasib wanita itu.


"H-hey, Tuan! buang jauh-jauh perspektif anda itu, i-itu sama sekali tidak benar, anda j-jangan menyebarkan rumor yang tidak jelas seperti itu, masa depan saya dipertaruhkan disini," ucap Firlan.


"Hahahahhahahahah," Satya malah tertawa.


"Anda benar-benar menyebalkan, Tuan!"


"Bekerjalah dengan giat, dan jangan menelepon jika tidak ada sesuatu yang penting!" ucap Satya dan memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Astaga, resiko punya asisten otaknya rada konslet," gumam Satya, ia melanjutkan kembali aktivitasnya pada benda pipih yang ia gunakan untuk bekerja.


Satya merasakan kerongkongannya sangat kering. Ia pun pergi keluar dari kamar menuju dapur.


Ia segera mengambil botol dalam lemari pendingin, dan menuangnya ke dalam gelas. Dan dalam sekejap air dalam gelas itu diteguknya dan rasa haus enyah seketika. Namun, sayup-sayup ia mendengar suara dari arah taman.


Satya meninggalkan gelas dan botol begitu saja dia atas meja saji di dapur. Pria itu dengan santainya berjalan menuju taman, untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi disana.


"Ini mau taruh dimana lagi?" terdengar suara wanita.


"Taruh disitu saja. Ya ampun, Sa ... jalan tuh madep ke depan jangan malah meleng, duh kalau ini pot ketendang terus pecah, bisa berabe!"

__ADS_1


"Iya iya maaf, Mang!" ucap wanita itu.


"Kalian sedang apa?" tanya Satya saat sudah memasuki taman.


"Eh, Tuan ... ini, sedang menata ulang taman," ucap mang Anto spesialis ekosistem alam di rumah Satya.


"Bunga-bunga ini, saya baru lihat..." Satya menunjuk salah satu bunga berwarna hitam yang ia tidak tau namanya. Sang majikan pun duduk di kursi yang ada di sana.


"Oh, itu bunga dapat kiriman dari Nyonya Sandra, tadi Barli yang mengantar kemari, Tuan..." jawab mang Anto yang menunjuk bunga berwarna hitam itu dengan ibu jarinya, sopan.


"Nama tanemannya apa ya tadi, Sa?" mang Anto menoleh pada Sasa yang sedang melihat pot yang tadi tersenggol oleh kakinya.


"Aduh bocel nggak, yah?" gumam Sasa sambil memeriksa pot kecil itu


"Sa! ditanyain malah ngomong sendiri," ucap mang Anto.


"Nggak tau, kan tadi mang Anto sendiri yang nerima," jawab Sasa.


"Kan tadi ada kamu juga, Sa.." ujar mang Anto yang terlihat gemas dengan jawaban Sasa.


"Lupa, Mang..." sahut Sasa yang mencoba mengingat nama bunga yang ditunjuk majikannya.


Satya pusing mendengar perdebatan kedua orang beda jenis itu. Pria itu duduk melihat kedya orang itu berdebat tanpa berniat untuk menjadi wasit.


"Itu tanaman Anggrek Hitam Papua, Tuan..." ucap Bik Surti yang tiba-tiba muncul membawa minuman untuk mang Anto dan Sasa yang sedang kerja bakti beberes tanaman.


"Nah! itu, tadi namanya! wah, cespleng juga nih Surti!" puji mang Anto pada bik Surti.


"Minumnya Sa, Mang Anto..." kata bik Surti seraya menaruh minuman yang terlihat segar, apalagi setelah berpeluh seperti ini.


"Oh, ada ya anggrek berwarna hitam seperti ini, saya malah baru dengar," ujar Satya yang tak melepaskan pandangannya dari bunga yang ditanam dalam pot berwarna putih, sangat kontras dengan warna hitam misterius yang dimiliki bunga itu.


"Permisi, Tuan..." ucap bik Surti sebelum kembali ke dapur belakang yang digunakan untuk para pelayan.


"Tadi Barli sempat bilang kalau harga satu pot kecil tanaman ini bisa mencapai 100 juta, makanya saya disuruh hati-hati membawanya,"


"Apa? 100 juta? astagaa, mami belum berubah ternyata!" pekik Satya, mengerjapkan matanya berkali-kali.

__ADS_1


"Sini, Sa! bawa kesini bunga itu kemari," Satya menggerakkan tangannya.


"Ini, Tuan..." ucap Sasa seraya memberikan bunga anggrek yang berwarna hitam pada Satya.


"Katanya bunga langka, adanya di pedalaman sana, Tuan..." ujar mang Anto.


Ketika Satya tengah memperhatikan bunga yang katanya langka itu, terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat padanya.


"Mas..." ucap Amartha dmyang baru saja bangun tidur.


"Yank? udah bangun?" tanya Satya. Ia segera menaruh bunga itu di atas meja dan menghampiri istrinya yang masih kiyip-kiyip.


"Udah, tapi kamu nggak ada..." ucap Amartha manja.


"Ya udah lanjutin lagi ya tidurnya ... masih ngantuk, kan?" kata Satya, Amartha menyandarkan bahunya di pundak pria itu sedangkan kakinya terus melangkah menaiki satu persatu anak tangga.


Satya membuka pintu saat mereka sudah sampai di depan kamar mereka.


"Mau aku ambilkan bantal khusus ibu hamil?" tanya Satya saat Amartha sudah duduk di tepi ranjangnya dan mulai merebahkan dirinya.


"Tidurlah, aku akan temani..." ucap Satya, sambil merebahkan dirinya di samping istrinya. Dengan lembut ia membelai rambut Amartha.


"Apa kamu nggak ingin potong rambut? apa nggak ribet mengurus rambut sepanjang ini?" tanya Satya sambil terus membelai, memberi rasa kantuk.


"Nggak mau, nanti aku nggak cantik lagi," jawab Amartha dengan mata yang terpejam dan mulai terbuai dengan rasa nyaman yang Satya ciptakan.


"Kamu selalu cantik, Sayang ... selalu cantik setiap saat, bahkan disaat kamu baru bangun tidur sekalipun," ucap Satya.


"Masa, sih...?" ucap Amartha parau, mungkin antara sadar dan tidak sadar.


"Iya, Sayang ... kamu cantik meskipun tidur sambil mangap sekalipun tetep cantik," puji Satya.


"Mangap?" mata Amartha tiba-tiba terbuka lebar. Ia memutar lehernya, menatap tajam suaminya yang hanya bisa kedao kedip melihat reaksi sang istri.


"Kok kamu masih ingat-ingat kejadian itu sih, Mas! sebel!" kata Amartha langsung merong-merong.


"Ya Allah, selamatkan hambamu ini," gumam Satya dalam batinnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2