Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Menyingkirlah!


__ADS_3

"Lepaskan tanganmu," kata Satya.


"Tidak akan," ucap wanita itu.


"Aku udah lama loh nungguin kamu," ucap wanita itu.


"Nggak usah gila deh! awas!" Satya menjauhkan kepala wanita itu dari bahunya.


"Sebelum kamu harus membantuku," kata wanita itu.


"Aku bilang singkirkan tanganmu!" ucap Satya.


"Maaf jika waktu itu..."


"Aku tidak ingin membahas itu, menyingkirlah!" ucap Satya ketus. Ia melepaskan tangan wanita itu, namun dengan cepat wanita itu merangkul lengan Satya bahkan semakin erat dan manja.


"Apa asistenmu belum mengatakan padamu jika aku ingin menyambung project itu? ini permintaan ayahku, sahabat dari ayahmu..." kata wanita itu lagi. Di satu sudut ada mata yang mengawasi mereka dan sudah beberapa kali mengarahkan bidikan lensanya.


Satya merasa ada seseorang yang melihat ke arahnya. Satya segera memasukan tangannya ke dalam saku dan memencet tombol perekam suara, entahlah firasatnya mengatakan kemunculan Ivanka bukan pertanda baik.


"Ivanka, kita bukan teman dan bukan partner bisnis. Jadi, tolong menyingkirlah. Sikapmu sudah berlebihan, aku bukan kekasihmu yang bisa kamu perlakukan seperti ini," kata Satya sudah mulai emosi.


"Sudah lama tidak bertemu, apa luka di tanganmu sudah sembuh? aku bahkan sangat shock saat itu..." Ivanka melihat telapak tangan pria itu, melihat apakah ada luka yang masih berbekas atau tidak. Pria yang berbeda yang berada di satu meja lain, melihat ke arah Satya dan Ivanka. Pria itu lantas beranjak dan pergi melewati Ivanka yang bergelayutan di lengan Satya.


"Acting yang sangat buruk!" cibir pria itu sambil menaikkan satu sudut bibirnya.


"Aku mohon, ini tempat umum dan aku tidak ingin mempermalukan anak dari Adam Barsha..." ujar Satya yang dengan sedikit kasar dan menyingkirkan tangannya dari genggaman Ivanka.


"Baiklah, tapi aku tidak mau tau kamu harus membantuku. Seperti aku membantumu dulu," ucap Ivanka setengah berbisik. Satya menjauhkan kepalanya dari wanita itu.


"Aku tidak pernah meminta, kamu yang datang sendiri. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu waktu itu, tapi bukan berarti aku berhutang budi padamu. Karena kamu pun mendapatkan keuntungan dari perusahaanku. Permisi!" ucap Satya yang segera pergi meninggalkan wanita siluman itu.


"Bagaimana?" tanya Ivanka melalui earpods yang terselip di telinganya.


"Sesuai permintaanmu, Nona!" ucap seorang pria yang merupakan orang suruhan Ivanka.


"Bagus!" kata Ivanka, ia pun segera meninggalkan tempat itu.


Satya merapikan jasnya sebelum duduk. Ia mencium jas yang bersentuhan dengan kulit Ivanka. Satya ingin memastikan kalau parfum wanita itu menempel di bagian sana atau tidak.


"Nasib buruk jika bertemu dengan wanita itu," gumam Satya.

__ADS_1


"Maaf, membuat anda menunggu," ucap pria yang sedang ditunggu Satya.


Satya yang sedang mencium-cium bagian lengannya pun terkesiap, sedikit canggung karena ternyata sudah ada Irwan di hadapannya. Menatapnya penuh tanda tanya.


"Anda sudah datang, silakan duduk..." ucap Satya tersenyum canggung.


"Bagaimana kabar anda, Tuan?" tanya Irwan setelah mendudukkan dirinya di depan Satya.


"Sangat baik," jawab Satya.


Sementara di tempat lain, Amartha yang tertidur selama 2 jam itu pun akhirnya mengerjapkan matanya. Ia membuka matanya perlahan.


"Astaghfirllah, aku malah ketiduran!" ucap Amartha yang terkejut dirinya malah enak-enakan tidur, ia pun langsung teringat dengan Vira.


Amartha pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya dengan air terlebih dahulu sebelum ia melangkah dan membuka connecting door yang menghubungkan kamarnya dengan kamar bayi.


"Vira?" panggil Amartha.


"Ya, kenapa, Ta?" tanya Vira. Hanya ada Vira disana yang masih setia dengan kuas-kuas dan cat berbagai macam warna.


"Sasa kemana? bukannya aku minta dia buat nemenin kamu?" Amartha mencari-cari keberadaan Sasa.


"Oh, dia lagi ngambilin air putih. Aku haus, Ta..." ucap Vira nyengir.


"Jangan disentuh! masih basah, nanti tangan kamu kena cat!" seru Vira.


"Upssss! untung aja belum kena, hihihi sorry!" ucap Amartha.


Sementara hubungan Fendy dan Sinta sudah semakin dekat, apalagi setelah Sinta mengakui Fendy sebagai kekasihnya dihadapan Ivanka, membuat Fendy semakin berbunga-bunga.


"Nggak usah senyum-senyum kayak gitu," kata Sinta membuyarkan lamunan sang pacar.


"Ya gimana, orang lagi seneng ya pasti senyumlah!" kata Fendy.


"Aku deg-degan tau!" ucap Sinta.


"Ibu kamu suka sama cewek yang rambutnya bondol kayak gini?" ucap Sinta sambil melihat rambutnya yang sangat pendek.


"HaHahaha, kamu itu cantik. Mau rambut pendek atau panjang nggak masalah, yang penting bisa jadi istri yang solekha..." kata Fendy.


"Ini baju aku sopan nggak kayak gini? nggak kependekan, kan? aku takut first impression ku nggak bagus," ucap Sinta yang terlihat sangat cemas, terbukti dari jari jemarinya yang saling meremas.

__ADS_1


"Aku baru liat kamu segugup ini," ucap Fendy meraih satu tangan Sinta. Mereka sedang menunggu kedatangan Ibu dari Fendy, kebetulan hari ini mereka janjian untuk makan bersama di sebuah restoran siang ini.


"Tenang, kamu cantik dan kamu spesial buat aku. Aku yakin kalau ibu pasti suka dengan pilihan aku," ucapan Fendy menenangkan Sinta.


"Kalau ibu kamu menentang hubungan ini, dan nyuruh kamu ninggalin aku gimana? apa yang mau kamu lakuin?" tanya Sinta.


"Aduh, gimana ya?" Fendy pura-pura mikir.


"Gimana? cepetan jawab!" kata Sinta tidak sabaran.


Pikiran Sinta sudah membayangkan hal yang buruk terjadi. Dari foto yang pernah diperlihatkan Fendy, ibu Fendy ini terlihat sangat gahar. Dengan garis rahang yang tegas, dan mata yang menatap tajam. Nyali Sinta menjadi ciut. Rasanya genderang sedang di tabuh di dalam hatinya. Bahkan telapak tangannya menjadi dingin.


"Ya ampun mikirnya lama banget!" kata Sinta, Fendy terkekeh.


"Oh, jadi daritadi nungguin jawaban aku?"


"Menurutmu?" Sinta ingin sekali menyumpal mulut Fendy dengan tisu.


"Astaga, kamu itu menggemaskan sekaliiiii," kata Fendy.


"Gimana? kalau ibu kamu nggak setuju sama hubungan ini? terus nyuruh kamu buat ninggalin aku? astaga, apakah aku harus mengulangi kata-kataku ini?" Sinta mendengus kesal.


"Ehm, gimana ya? menurut kamu gimana?" Fendy malah mengulur jawabannya.


"Astagaaaa, kamu bener-bener bikin..."


"Ibu yakin, Fendy tidak akan meninggalkan kamu..." ucap seorang wanita dengan suara yang sangat lembut.


"Ibu?" gumam Fendy, ia segera bangkit dan mempersilakan ibunya untuk duduk.


Sinta hanya melongo karena wanita yang ada di hadapannya sangat berbeda dengan foto yang diakui Fendy sebagai ibunya. Wanita yang sangat kalem dan masih muda itu tersenyum pada Sinta.


"Eh, ehm .. saya..." Sinta gugup menyalami ibu Fendy.


"Pacarnya Fendy?" tanya wanita itu.


"Iya, Tante..."


Sedangkan Fendy ingin tertawa melihat wajah Sinta yang begitu pias bertemu dengan calon mertuanya.


"Kau berhutang penjelasan padaku!" gumam Sinta seraya menginjak kaki Fendy dengan ujung heels yang dipakainya.

__ADS_1


"Aaaaaawh!" pekik Fendy.


...----------------...


__ADS_2