
"Eh, Jeng Lady disini juga?" ucap Sandra sambil cipika cipiki seperti ibuk-ibuk pada umumnya yang pasti heboh kalau bertemu teman sebayanya.
"Ini siapa, Jeng?" tanya wanita bernama Lady itu, menunjuk Amartha dengan dagunya.
"Oh, ini istrinya Satya, Jeng! oh, ya ... kenapa waktu itu Jeng nggak dateng waktu nikahan anak saya?" tanya Sandra.
Namun Lady tak menjawab pertanyaan Sandra. Wanita yang berpenampilan sangat mewah itu memandang Amartha dari ujung kaki sampai ujung kepala, membuat Amartha risih dibuatnya.
"Jadi cuma kayak gini doang?" tanya Lady pada Sandra.
"Apanya ya, Jeng?" Sandra balik bertanya, dia tidak mengerti apa yabg diucapkan temannya itu.
"Anak kamu seleranya rendah ya Jeng ternyata," bukannya menjawab pertanyaan Sandra, wanita yang sudah tidak muda lagi itu malah mencibir penampilan Amartha.
"Kalau cuma model begitu mah nggak ada apa-apanya dari Savia, saya kira Jeng menolak menjodohkan Satya dengan anak saya itu karena pacar Satya itu jauh lebih baik dari Savia dari segi apapun, eh taunya..." Lady tertawa mengejek, wanita itu menunjukkan sikap angkuhnya. Sandra yang mendengar menantunya dihina pun menjadi geram.
"Jeng, menantumu ini mau ditempelin barang mewah sekalipun kalau dasarnya kere mah kere aja, Jeng ... temen-temen kita yang lain juga udah tau kalau anak Jeng nikah sama yang beda kelas," ucap Lady yang semakin memancing amarah Sandra, namun wanita itu mencoba meredam emosinya.
"Beda kelas? emangnya kita kelas berapa? saya udah lulus sekolah dari tahun kapan itu, jadi emang saya nggak butuh kelas saya itu butuh attitude," kata Sandra dengan tenang.
"Maaf ya, Jeng ... saya tidak suka ada yang menghina menantu saya, saya juga tau kelakuan anak anda Savia di luaran sana, tapi maaf aja mulut saya terlalu berharga untuk membicarakan kebobrokan anak orang, permisi..." ucap Sandra menohok pada wanita yang kini memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Ayok, Sayang ... kita cari toko lain," ucap Sandra pada Amartha, mereka membawa papperbag yang berisi tas-tas mewah pun segera pergi, dan tidak jadi membeli sepatu di toko itu.
"Heh, Jeng Sandra! batu kerikil tetap batu kerikil tidak akan menjadi berlian walaupun dipoles setiap hari!" seru Lady yang tidak mendapat respon dari Sandra, wanita itu tetap berjalan meninggalkan wanita tua yang kini mengeluarkan kipas dari tas mewahnya.
"Mau belanja malah jadi gerah, dasar tidak berkelas!" gumam Lady sambil menggerakkan kipas di tangannya.
__ADS_1
Sandra pergi meninggalkan toko sepatu itu dengan amarah yang memuncak. Amartha hanya diam ketika tangannya di gandeng menuju sebuah coffee shop.
Sandra mendudukkan dirinya di salah satu kursi, Amartha pun mengikutinya. Mereka menaruh belanjaan mereka di atas kursi yang tidak mereka tempati.
"Sayang, kamu jangan dengerin omongan maklampir itu, ya? jangan masukin ke hati omongan dia," ujar Sandra sembari menggenggam tangan menantunya.
"Maaf ya, Mam..." ucap Amartha sendu.
"Maaf buat apa, Sayang?" Sandra mengusap punggung tangan Amartha.
"Maaf karena udah bikin Mami malu di depan temen Mami tadi," lirih Amartha, dia menunduk tak berani menatap mata mertuanya.
"Nggak sama sekali, Sayang ... kamu jangan berpikiran seperti itu, apa yang dikatakan temen mami itu nggak bener, sebagai manusia kita tidak bisa melihat orang hanya dari segi harta," ucap Sandra.
"Liat mami, Sayang ... kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh, mami sayang sama kamu seperti mami sayang sama Prisha dan Satya, kamu juga anak mami ... apalagi di dalem sini ada cucu mami, jangan dipikirin ya, Sayang? anggap aja tadi kaleng rombeng lewat," ucap Sandra menghibur hati Amartha.
"Makasih ya, Mam ... selama ini udah baik sama Amartha," ucap Amartha yang menatap Sandra dengan raut wajah yang sendu.
"Eh, tapi kita salah masuk, ternyata..." Sandra melihat sekeliling.
"Kenapa, Mam?" tanya Amartha tidak mengerti.
"Kita di coffee shop, kamu kan nggak boleh minum kopi," kata Sandra yang baru menyadari dia menarik Amartha masuk di tempat yang menyajikan minuman berbahan dasar kopi.
"Tapi ada cokelat dingin, Mam ... jadi nggak masalah," Amartha menunjuk menu yang di tempel di sebuah papan besar.
Sandra melambaikan tangannya memanggil seorang pelayan untuk membuatkan ice coffee dan ice chocolate mint. Tak lama pesanan mereka pun datang, kedua wanita itu menikmati minuman mereka dengan sepotong kue.
__ADS_1
Hari telah sore, Vira dan Dewi sudah menunggu Raharjo selama kurang lebih 5 jam. Vira langsung berdiri saat pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar, dan memanggil keluarga dari Raharjo.
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan baik, sekarang Bapak Raharjo masih dalam masa pengawasan selama beberapa jam ke depan, begitu juga pendonor," ucap dokter ketika berhadapan dengan Vira dan Dewi. Perasaan Vira sangat lega saat mengetahui kabar baik ini, wanita itu menangis, bukan karena sedih tapi karena rasa haru yang begitu dalam.
"Alhamdulillah, terima kasih, Dok..." ucap Dewi, tak sadar air matanya lolos dari kedua matanya.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Pak Ricko?" tanya Vira, ia juga mencemaskan keadaan Ricko.
"Kondisinya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap sang dokter.
"Kalau begitu saya, permisi..." kata dokter itu yang meninggalkan Vira dan Dewi di depan ruang operasi.
"Alhamdulillah, Maa..." Vira memeluk Dewi dengan erat, mereka berdua menangis sambil berpelukan, akhirnya hal yang mereka khawatirkan tidak terjadi.
"Iya, Sayang ... alhamdulillah," ucap Dewi yang mengelus punggung Vira.
"Untuk saat ini papa belum bisa dijenguk, jadi sekarang kita lebih baik pulang dulu, lagian mama juga belum makan dari siang, nanti Vira pesenin makanan," Vira menjarak tubuhnya dengan Dewi.
"Tapi kalau papa butuh sesuatu?" tanya Dewi.
"Perawat yang akan membantu papa, kita tidak bisa masuk ke dalam. Nanti kita akan kembali kesini," jelas Vira. Dewi menurut saja, ia mengikuti
Akhirnya Vira dan Dewi memilih pulang terlebih dahulu untuk makan dan mandi. Bagaimanapun mereka yang sehat juga butuh istirahat. Karena tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu. Malam harinya Vira yang kebetulan sedang besok adalah jadwal terakhir shift pagi pun memilih untuk tinggal di ruang perawatan Ricko bersama Dewi. Mereka juga mengkhawatirkan keadaan pria itu.
"Kenapa tidak ada yang menjenguk Kak Ricko ya, Mah?" tanya Vira saat mereka duduk di sofa di ruang perawatan Ricko. Sedangkan Ricko masih ada di ruang observasi.
"Mama juga tidak tahu, Vira..." ucap Dewi.
__ADS_1
"Yang mama tau dia itu dulunya tinggal di panti asuhan, tempat yang sering mama dan papa kunjungi, tapi entahlah mama belum bertanya lebih lanjut. Mama takut membuat dia tersinggung atau sedih karena mengingat keluarga," jelas Dewi. Vira mengangguk paham.
...----------------...