Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Siapa Yang Nempel?


__ADS_3

"Masa, sih?" Satya mencari asal muasal sumber dari segala sumber bau parfum wanita.


"Pura-pura nggak tau atau memang hidung Mas yang eror?" tuduh Amartha. Satya tidak tahu saja kalau penciuman seorang istri begitu tajam, apalagi Amartha yang sedang hamil sangat sensitif terhadap segala bau.


"Kan tadi nggak nempel," gumam Satya yang baru ingat bahwa tadi ia baru bertemu dengan Ivanka, pria itu masih mencari bau yang dimaksud istrinya.


"Nempel-nempel apa? nempel siapa?" Amartha mencecar Satya dengan pertanyaan.


"Itu hidung sama kuping bisa tajem banget, dah!" Satya geleng-gelang kepala melihat tingkah istrinya itu.


"Jawab, ih!" Amartha mulai ngambek.


Wanita itu melipat tangannya di depan dada dan ia menengok kebarah jendela, kesal.


"Astaga," Satya ingin sekali menjambak rambutnya, Amartha kenapa jadi ngambekan seperti sekarang. Pria itu mengelus lembut rambut istrinya, namun Amartha tak bergeming.


"Yank..." panggil Satya.


"Yank ... dengerin aku dulu, iya iya aku jelasin," Satya mencolak-colek lengan istrinya.


"Ya udah jelasin tinggal jelasin," Amartha menepis colekan Satya, tapi pria itu terus saja membujuk sang istri agar mau melihat ke arahnya.


"Nengok kesini dulu dong, Yank..." ucap Satya merengek.


"Nanti leher kamu pegel sebelah loh," lanjut pria itu lagi


"Ya udah cepet jelasin," akhirnya Amartha menoleh pada Satya. Pria itu menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.


"Mungkin ini bau parfumnya Ivanka," ucap Satya hati-hati.


"Jadi kamu sama dia? huhuhuhhu, jahat kamu, Mas! aku lagi hamil malah selingkuh!" Amartha menaboki lengan Satya.


"Nggaak, Yank! dengerin dulu," Satya menghentikan aksi anarkis Amartha. Wanita itu menangis kecewa karena Satya melakukan adegan tempel menempel dengan wanita yang sudah jelas-jelas menyukai Satya.


"Ini parfum bisa nempel di jas kamu berarti kan kalian nempel-nempel," ucap Amartha disertai isakan. Satya mengusap jejak air mata di pipi Amartha


"Nggak sengaja, Yank ... beneran deh, suwer!" Satya menggenggam tangan istrinya.

__ADS_1


"Nggak sengaja apanya?" tanya Amartha kesal dengan Satya.


"Nempel," sahut Satya.


"Tuuuuhhh kaaaaaannnn!" Amartha cemberut sementara Satya malah tertawa, menambah rasa dongkol di hati ibu hamil itu.


"Hahahaha, tadi tuh Ivanka mau jatuh, terus aku pegangin, tapi masa iya bau parfumnya ikutan nempel sih?" Satya berucap sambilbhidungnya mengendus kedua lengannya, memang ada sedikit aroma parfum di lengan sebelah kirinya.


"Beneran cuma dipegang?" tanya Amartha masih ngambek, Satya pun menoleh dan mengangguk.


"Iyaaaaaa, Nyonyaaaaa..." Satya mencubit gemas pipi istrinya.


"Ibu lagi cemburu, dek..." bisik Satya pada perut Amartha yang buncit.


"Ihhhhh, apaaan sih?" ucap Amartha malu karena sudah salah sangka terhadap Satya. Namun sesaat pikirannya melayang pada perkataan Sinta. Amartha menatap Satya yang kini mulai melajukan mobilnya.


Amartha beberapa kali melihat ke arah Satya yang sedang menyetir dengan kecepatan sedang. Satya tersenyum saat pandangannya dan Amartha bertemu.


Beberapa kali perkataan Sinta yang menyuruhnya berhati-hati terhadap Ivanka membuatnya sedikit cemas. Namun batinnya mengatakan bahwa Satya tidak akan mungkin bertindak sesuatu yang akan menyakitinya. Dia yakin pria yang disampingnya ini akan teguh pada kesetiaannya.


Sedangkan ditempat lain, Firlan baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk di kamar hotel yang beberapa hari ini ditempatinya. Pria itu menghela nafas panjang, setelah melakukan pekerjaan yang tidak biasa. Pria itu sudah segar dan wangi setelah beberapa saat tadi mengguyur tubuhnya di bawah kucuran shower.


"Kok, nggak diangkat, sih?" gumam Firlan saat Vira tak kunjung mengangkat ponselnya.


"Kemana tuh bocah!" Firlan masih mencoba menghubungi Vira sekali lagi. Namun wanita yang sedang ia rindukan itu tak juga mengangkat panggilan darinya. Akhirnya Firlan menyerah, ia meletakkan kembali ponsel di atas tempat tidurnya.


"Ternyata jadi pekerja kasar capek banget, badan udah kayak digebukin satu RT," gumam Firlan mengelus pinggangnya.


Sedangkan Vira yang beberapa kali di telepon sang pujaan hati sedang berada si ruangan Ricko. Raharjo sedang ada di ruangan steril, jadi tidak bisa ditunggui orang lain selain perawat yang bertugas, sedangkan Dewi sedang beristirahat di kosan Vira.


"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Vira yang meletakkan sekeranjang buah di atas meja.


"Sangat baik," sahut Ricko tersenyum tipis.


"Syukurlah kalau begitu ... maaf aku hanya membawa buah," ucap Vira yang mulai mendekat dan menarik sebuah kursi yang berada di samping ranjang pria itu lalu ia mendudukinya.


"Terima kasih, itu sudah lebih dari cukup," ucap Ricko yang paham kalau Vira masih sangat canggung bicara dengannya.

__ADS_1


"Ehm, ada sesuatu yang kamu inginkan, eh maksudku ada yang Kakak inginkan?" tanya Vira memecah keheningan, sedangkan Ricko malah tertawa kecil saat mendengar Vira bicara.


"Kenapa? apa ada yang lucu dengan ucapanku? " tanya Vira mengernyit heran.


"Hahahaha, nggak kok! ehm, kamu nggak perlu bicara terlalu kaku kayak gitu, santai aja kali..." ucap Ricko.


"Mau aku kupasin apel?" tanya Vira lagi.


"Boleh, kalau nggak bikin kamu capek," sahut Ricko yang membuat Vira terkekeh dengan jawaban pria itu. Wanita itu beranjak dari duduknya dan mengambil satu buah apel dan pisau.


"Ngupas kayak gini mana ada capek lah, Kak..." jawab Vira sembari membawa apel tersebut ke wastafel yang ada di toilet.


"Kalau perlu sesuatu bilang aja, sebisa mungkin aku akan datang kesini," ucap Vira setelah kembali duduk di samping Ricko dengan membawa apel dan pisau di tangannya.


"Tapi gimana caranya aku menghubungimu sedangkan aku nggak punya nomor kamu, Vira..." celetuk Ricko.


"Oh, iya yah..." ucap Vira yang kemudian terkekeh. Ricko segera mengambil ponsel yang ada di sampingnya, melihat itu Vira langsung menyebutkan nomor ponselnya.


"Kakak bisa telfon aku kalau perlu sesuatu," ucap Vira tulus.


"Baiklah," jawab Ricko membalas senyuman dari gadis kecil yang selalu ia rindukan.


"Setidaknya itu yang bisa aku lakukan sebagai rasa terima kasihku," ucap Vira dia belum juga mengupas apel di tangannya.


"Sebenarnya kamu nggak perlu ngelakuin itu, karena aku ikhlas," kata Ricko dengan senyiman khasnya.


"Astagaa! dari tadi ngobrol apelnya belum diapa-apain!" seruVira mengagetkan pria yang s etengah berbaring di ranjangnya.


"Ngagetin orang aja kamu, Vir!" Ricko mengusap dadanya, suara Vira yang cempreng bikin kuping aduhai rasanya.


"Maaf, hahahaha..." Vira malah tertawa kecil.


"Ini apelnya mau dikupas atau mau langaung dipotong?" tanya Vira.


"Gimana kalau kamu kasih aku pisaunya aja," sahut Ricko.


"Emangnya Kakak mau debus? segala pisau mau dimakan! ada-ada aja, deh..." seloroh Vira, lalu keduanya tertawa dan suasana pun mulai menghangat.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2