Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Terluka


__ADS_3

Seketika Amartha berlari maju berniat untuk merebut pisau dari tangan Sinta. Namun, siapa sangka pria yang berada tepat dibelakang Amartha, bergerak lebih cepat dari gadis itu.


SREEEEETT!


Pisau itu tak sengaja melukai telapak tangan Satya yang merebut paksa pisau dari tangan Sinta. Sinta yang melihat itu menjatuhkan pisau dan terlihat ketakutan mendapat tatapan mematikan dari Satya.


Amartha yang melihat Satya terluka segera meraih tangan Satya. Hatinya mencelos saat pria itu lagi dan lagi menjadi tameng untuknya.


"Mas Satya?!" pekik Amartha saat melihat darah mengucur dari telapak tangan pria itu.


"Kamu terluka, Mas!" Amartha langsung meraih tangan Satya yang berlumuran darah.


"Nggak apa-apa," jawab Satya yang akan menarik tangannya dari Amartha. Tapi Amartha tak mau melepaskan tangan Satya.


"Sebaiknya kita pergi dari sini!" ucap Amartha yang mengarahkan Satya untuk pergi dari tempat itu, mereka berdua membalikkan badan dan berjalan menuju pintu.


Amartha masih memegang tangan Satya yang terus mengeluarkan cairan berwarna merah dan menetes pada permukaan lantai di ruangan itu.


"Sinta, aku akan berkunjung kembali setelah keadaanmu lebih tenang..." ucap Amartha yang menghentikan langkahnya sesaat, tanpa melihat Sinta yang kini sedang ketakutan.


"Sssst, tenang Sayang... ada mama disini," ucap Kamila yang memeluk Sinta dengan erat dan mengusap lembut rambut putrinya.


Refan segera memencet tombol emergency, untuk memanggil suster yang berjaga.


Kamila menangis melihat kondisi putrinya yang sangat memprihatinkan ini. Namun, dia juga tidak bisa memaksa Kenan untuk bisa menikahi Sinta.


Sinta terus terisak saat melihat punggung Amartha kian menjauh. Sinta tidak bisa menerima kenyataan, bahwa Amartha telah menikah dengan pria yang sangat dicintainya selama bertahun-tahun.


Amartha yang mendengar isakan Sinta pun terus saja melanjutkan langkahnya dengan memegang tangan kanan Satya yang terluka. Dia tidak mempedulikan tatapan setiap orang yang berada di sana. Dia segera meraih handle pintu dan meninggalkan ruangan itu.


"Amartha..." Kenan memanggil Amartha, namun istrinya itu melewatinya begitu saja tanpa menghiraukannya sama sekali.


Hatinya sakit mendapatkan perlakuan Amartha yang mengacuhkannya, namun ia sadar bahwa apa yang dilakukannya sangat membuat hati Amartha terluka.


Kenan beralih memandang Sinta yang kini berada dalam pelukan Kamila. Berliana pun terduduk lemas. Kenan segera menghampiri sang ibu yang terlihat sangat shock dengan semua yang terjadi hari ini.


Kenan menggenggam tangan ibunya, yang kini melihat Sinta dengan tatapan iba. Sedangkan Refan dia duduk di sofa dengan mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka akan sekacau ini jadinya.


Tak berapa lama, suster dan dokter datang dan menyuntikkan obat penenang untuk Sinta. Sinta yang mendapat obat penenang pun akhirnya terpejam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Amartha dan Satya menuju IGD untuk mendapatkan pertolongan. Amartha duduk di sisi kiri pria itu dan menatap Satya dengan sendu. Matanya terasa panas, cairan bening membuat pandangaannya menjadi kabur, sekali kedip saja air mata itu langsung meluncur.


Kenapa kamu selalu mengorbankan dirimu untuk melindungiku?


"Udah, jangan nangis! disini nggak ada es krim!" ucap Satya yang kini sedang berbaring di brankar ruang IGD.


"Cih, siapa juga yang nangis!" sahut Amartha yang memalingkan wajahnya dan dengan cepat mengusap lelehan air matanya yang mengalir ke pipinya.


"Terus ini apa, coba? tetesan embun?" tanya Satya yang menunjukkan lengannya yang basah, karena tetesan air mata yang berasal dari kedua manik milik Amartha.


"Lagian cuma luka kayak gini mah, ciiiiiil..." kata Satya sambil menjentikkan jarinya, dengan gaya meremehkan.


"Sini, aku beset lagi!" jawab Amartha yang berusaha meraih tangan Satya yang kini sudah di perban.


"Idiiiih, mbaknya kejem amattt, atuuuut..." Satya mencoba menjauhkan tangannya yang terluka.


"Nggak lucu!" sahut Amartha jutek.


"Kamu bisa diem nggak?!" Satya tiba-tiba membentaknya membuat Amartha terkejut.


"Udah diem aja di hati aku jangan kemana-mana! disini aja nih, disini..." lanjut pria itu dengan cengiran menyebalkan dan menepuk-nepuk dadanya dengan tangan kirinya.


"Awwwwhhh! sakit!" ucap pria itu dengan wajah dibuat memelas.


"Suster, tolong suster disini ada kekerasan!" ucap Satya, sontak membuat Amartha langsung berdiri dan langsung membekap mulut Satya dengan telapak tangannya.


Pria satu ini benar-benar membuatnya gila. Bisa-bisanya dia teriak di ruang IGD, orang lain mungkin tidak akan percaya, kalau orang modelan kayak Satya ini sebenarnya adalah seorang dokter.


"Mmmmmph! mppph ... aku dibungkam, tolong!" teriak Satya mencoba melepaskan bekapan Amartha menggunakan tangan kirinya.


"Berisik!" Amartha melotot pada Satya yang kini memasang wajah memelasnya. Matanya kedap-kedip seperti bayi yang masih suci.


"Bisa diem nggak?" Amartha setengah berbisik yang dijawab anggukan kecil oleh Satya dengan wajah seolah tak berdaya. Amartha pun melepaskan bekapannya, dan kembali duduk dengan tenang.


"Perasaan yang kebeset telapak tangan kan, ya?bukan otak?" ucap Amartha sambil mengetuk pelipisnya sendiri menggunakan jari telunjuknya.


"Mungkin karena otakku isinya cuma kamu, jadi rada-rada konslet dikit!" ucap Satya dengan raut muka yang benar-benar pengen ditimpuk.


Amartha yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya, pusing dengan semua ocehan pria satu ini.


"Ta ... empat kali empat sama dengan enam belas, sempat tidak sempat cintaku harus kamu balas!" ucap pria itu tiba-tiba, yang menirukan pantun yang biasanya di tulis di akhir sebuah surat cinta anak SD.

__ADS_1


"Cih!" Amartha berdecih, melihat Satya yang kembali pada bentuk aslinya.


"Ta, kita bakar-bakaran, yuk?" ucap Satya lagi, sepertinya otaknya memang benar-benar konslet. Dari tadi pria ini tak berhenti mengoceh seperti burung beo.


"Bakar apaan?" tanya Amartha malas.


"Bakar masa lalu dan mulai lembaran baruuuu!" jawab Satya nyengir kuda.


"Najis!" sahut Amartha yang pura-pura jutek, untuk menyembunyikan segaris senyum di bibir tipisnya. Satya yang melihat itu tersenyum simpul.


Aku tuh lebih baik liat kamu jutek kayak gini dari pada liat satu tetes air mata kamu.


"Ih manis banget senyumnya," ucap Satya yang menoel lengan Amartha dengan tangan kirinya.


"Siapa juga yang senyum," Amartha berusaha mengelak dari tuduhan Satya.


"Ya kamu lah, masa abang ojek yang mangkal di depan?" ucap Satya yang dibalas seribu capitan dipinggangnya, membuat pria itu kegelian.


"Maaf, jangan berisik Tuan, Nona ... disebelah lagi ada tindakan," ucap seorang suster perempuan dengan sedikit menyibak tirai yang mengelilingi brankar Satya.


"Kamu sih!" ucap Satya dengan suara berbisik-bisik menuduh Amartha dalang dari keributan yang terjadi di ruang IGD malam itu.


"Ish," Amartha memutar bola matanya jengah dengan tingkah pria sableng bin sengklek yang sedang berbaring di depannya.


Ketika hidup memberiku seribu alasan untuk menangis, kamu memberiku satu alasan untuk ku bisa tersenyum, terima kasih Satya!


...----------------...


Hari ini aku kasih bonus up loh.....aihhhh...baik sekalii kannn akuuuuuu??????


Jangan lupa , tinggalkan jejak kalian...maap nih rada maksa?!


Like, komen dan kembang sekebon yah...biar aku semangat buat menghalunya ....ehek!


**akhir kata,


buah semangka buah kedondong,


Vote akikah dong?!!!


eaaa eaaa eaaa**...

__ADS_1


__ADS_2