
Satya berlari ke depan untuk mengecoh para pembuat onar, suruhan Damar Brawijaya. Berharap mereka akan mengira yang berlari adalah Kenan, sehingga Kenan dan Amartha bisa kabur dari tempat ini secepatnya.
"Heh! berhenti!" teriak orang suruhan Damar.
Semakin mereka berteriak semakin kencang Satya berlari. Postur tubuh Satya yang mirip dengan Kenan membuat orang-orang itu mengira yang berlari keluar adalah Kenan, orang yang mereka cari. Beberapa diantara orang suruhan Damar berlari mengejar Satya dan ada pula yang berlari ke arah mobil, kemudian melajukan mobilnya ke arah pria itu berlari.
Bagus! kejarlah aku sampai dapat, dasar bodoh!
Satya sesekali melihat ke belakang, mereka semakin dekat, hingga terlihat mobil B*w berwarna hitam yang berhenti di depan Satya.
Ciiiiiiiiittttt.
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan Aspal.
"Sialan! hampir saja aku yang ketabrak bod*h!" umpat Satya pada Firlan. Pria itu langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Firlan hanya menyunggingkan senyum sekilas.
"Cepat! giring mereka masuk ke jalan tol!" titah Satya pada Firlan Anggara.
"Siap, boss!" ucap Firlan sembari melirik Satya sekilas
"Jangan panggil aku boss!" sarkas Satya pada pria disampingnya.
"Baiklah, anaknya boss!" sahut Firlan yang semakin membuat Satya semakin kesal.
"Aisshhhh, menyebalkan!" gumam Satya.
Sementara Firlan yang merupakan orang kepercayaan ayah Satya, melajukan kecepatan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Brengs*k!" umpat salah seorang orang suruhan Damar. Ketika mendapati targetnya masuk ke dalam mobil dan melesat jauh.
"Cepat naik!" ujar salah satu dari komplotan yang mengendarai mobil dan menunjuk pintu dengan dagunya itu, pada beberapa rekannya yang mengejar sang target.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Cepat, kalian segera pergi!" ucap Rosa sambil menyerahkan koper milik Amartha pada Kenan di depan mobil berwarna hitam.
"Tapi, Mah..." ucap Amartha dengan air mata yang meluncur bebas dari kedua netranya.
"Tenanglah, kami akan baik-baik saja disini," ucap Rosa seraya berhambur memeluk putri semata wayangnya.
Kemudian Amartha berganti memeluk Rudy. Rudy mencium pucuk kepala putrinya, lalu pria paruh baya itu melonggarkan pelukannya dan menatap Kenan, menantunya.
__ADS_1
"Kenan jaga putriku," ucap Rudy menepuk pundak Kenan.
"Dengan segenap jiwaku, Pah..." sahut Kenan dengan mantap.
"Waktu kalian tidak banyak! ayo, cepat!" kata Rudy sembari membuka pintu mobil untuk Amartha.
Sedangkan Kenan langsung memasukkan koper ke dalam bagasi dan segera berlari membuka pintu mobil disisi kemudi.
"Mah..." ucap Amartha sesaat mobil hitam itu membawanya menjauh dari pelataran rumahnya. Amartha menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil, ia menutup wajahnya dengan tangannya. Dia sangat kacau saat ini.
Sedangkan Rosa menangis melihat mobil yang membawa putrinya semakin jauh dan lama kelamaan hilang dari pandangannya. Rudy memeluk tubuh istrinya, mengusap punggung wanita itu agar tetap kuat. Sedangkan para tetangga tak banyak yang bisa mereka lakukan. Hanya memberikan dukungan, pada pasangan suami istri yang kini melihat teras rumahnya sudah sangat berantakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
"Bangs*t! cepat kejar mobil itu!" teriak pimpinan komplotan yang sedang mengejar mobil Satya yang mereka kira adalah Kenan.
"Nggak biasanya bos minta bantuan?" ucap Firlan.
"Ck! sudah aku bilang aku ini bukan bos! bosmu itu Abiseka Ganendra!" Satya mendengus kesal.
Berulang kali dia dipusingkan dengan Firlan yang terus menerus mengganggunya, dengan meminta Satya untuk membantu ayahnya menjalankan perusahaan, tentunya itu perintah dari Abiseka karena sudah tak mampu lagi membujuk sang anak.
"Dan anda anak sulung dari Abiseka Ganendra, jika anda lupa," sahut Firlan sekenanya.
"Nyetir yang bener jangan banyak omong!" sarkas Satya.
"Baik, Tuan!" kata Firlan yang semakin menekan pedal gas mobilnya.
Maklumin aja, orang lagi patah hati suka emosian, hahahahaha...
"Cengar-cengir, kesambet nih orang!" gumam Satya saat melihat Firlan yang nyetir mode ngebut tapi muka nyantai kayak di pantai dan cengirannya yang membuat Satya tambah dongkol.
Firlan memang orang kepercayaan dari Abiseka Ganendra, seorang pebisnis yang handal. Kondisi fisik Abiseka yang sudah tidak muda lagi, menginginkan Satya meneruskan bisnis yang telah dibangunnya selama ini. Tapi nyatanya, Satya mengabdikan dirinya sebagai seorang dokter dan tidak tertarik sama sekali dengan dunia bisnis. Abiseka sebenarnya tidak ingin memaksakan kehendaknya terhadap Satya, namun dia adalah satu-satunya anak lelaki yang dimiliki pria paruh baya itu, sedangkan adik perempuan Satya masih kuliah di jurusan seni musik, yang tidak mungkin dalam waktu dekat ini bisa menggantikan posisi sang ayah.
"Lan, lo udah kirim orang buat jaga rumah orangtua Amartha?" tanya Satya.
__ADS_1
"Sudah, Tuan!" sahut Firlan yang sedang melihat dua mobil dibelakangnya semakin dekat.
Tadi, manggilnya aku kamu sekarang lo gue, cinta bisa bikin orang seenak jidatnya sendiri, weekend bukannya buat ngapel Andini malah buat kejar-kejaran di jalan tol, punya boss begini amat kagak mikirin hati asistennya!
"Biarkan mereka menyalip kita!" titah sang anak penguasa Ganendra group.
"Apa?!" Firlan yang sedang menyetir kaget dengan perintah Satya yang memang seenaknya sendiri.
"Biarkan mereka memotong jalan kita!" Satya mengulangi perkataannya.
"Tapi, ini sangat berbahaya, Tuan Satya!" Firlan mencoba menolak perintah konyol Satya.
"Lakukan sesuai perintahku," ucap Satya tak mau dibantah.
"Baiklah, Tuan..." Firlan mulai mengurangi kecepatan mobilnya, dia tetap fokus menyetir memperhatikan dua mobil itu dengan mudah menyalip mobil yang dikendarainya.
Ciiiiiiiiiitttttttt!
Firlan mencoba menginjak rem saat salah satu mobil komplotan tersebut berhasil menyalip dan memotong jalannya. Firlan hanya menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukan Satya. Mobil yang di kendarai Firlan, berhenti secara mendadak sehingga otomatis membuat tubuh mereka terdorong ke depan.
Mobil Satya dikepung oleh komplotan suruhan Damar.
"Turun!" ucap salah seorang dari komplotan itu menodongkan senjata berapi.
Satya yang melihat itu lantas melepas sabuk pengamannya hendak keluar dari mobil.
"Jangan, Tuan!" Firlan mencegah Satya untuk keluar.
"Kau hanya perlu memastikan semuanya aman!" Satya melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
Firlan langsung menghubungi orang suruhannya yang juga mengikuti mereka masuk ke dalam tol untuk segera mendekat di titik mereka berhenti.
"BRENGS*K!" teriak salah seorang pimpinan komplotan itu ketika menyadari mereka telah dibodohi. Bukan Kenan yang ada di mobil yang mereka kejar, melainkan orang lain yang postur tubuhnya mirip dengan target mereka.
Satya hanya tersenyum miring mengejek kebodohan mereka. Tak berapa lama, 5 mobil mengepung mereka, mereka berjumlah lebih dari 10 orang, turun dari mobil dan mengarahkan pistol pada orang suruhan Damar. Mereka sama sekali tak bisa berkutik.
"Bereskan, mereka!" ucap Satya yang berjalan kembali ke dalam mobil.
Firlan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Satya, yang seenaknya sendiri memerintah orang. Firlan terus saja mengumpat anak bosnya itu dalam hati.
...----------------...
__ADS_1