
Amartha memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri. Satya segera melepas jas yang dikenakannya, dan menutupi tubuh istrinya yang sudah sangat kedinginan.
"Sayang! bangun!" Satya menepuk pipi Amartha, tapi wanita itu tak merespon.
Kulitnya putih pucat, Satya segera menggosok-gosokkan tangannya agar memberikan kehangatan pada sang istri.
"Lan, kita harus pergi sekarang!" ucap Satya pada Firlan yang membungkuk memegangi perutnya yang sangat nyeri.
"Lalu bagaimana dengan," Firlan melihat le arah Ashraf yang tergeletak.
"Tinggalkan saja, sekarang nyawa istri dan anakku lebih penting daripada orang brengsek itu," kata Satya menatap pria yabg tergeletak itu dengan tatapan tajamnya.
"Baik, Tuan!" ucap Firlan tak mau membantah.
Firlan langsung mengontak sebuah helikopter untuk datang menjemput mereka yang sedang berada di lautan lepas.
Ombak saat ini begitu ganas, Satya melindungi istrinya. Dia terus mendekap tubuh wanita itu, mereka terduduk diatas lantai kayu, sesekali ia mengecek nadi istrinya.
"Sebentar lagi kita akan pulang, Sayang! kamu pasti kedinginan, ya! aku akan memelukmu seperti ini, hmmm ... kamu akan merasa lebih hangat. Bertahan ya, Sayang ... bertahanlah," Satya terus saja berbicara sambil meniupkan nafasnya pada tangan istrinya. Matanya membulat saat ia merasakan dress istrinya nampak basah.
"Firlan! suruh mereka cepat, kesini!" ucap Satya saat tak sengaja tangannya terkena cairan berwarna merah yang berasal dari pakaian istrinya.
"Mereka sudah dekat, Tuan! sebentar lagi mereka pasti datang!" Firlan mencoba menenangkan pria yang kini sangat mencemaskan keadaan Amartha.
Amartha terlalu lama menahan beban tubuhnya membuat rahimnya mengalami kontraksi ditambah lagi wanita itu kekurangan cairan dan shock akibat kejadian yang dialaminya, membuat dirinya hilang kesadaran.
Tak perlu menunggu lama, akhirnya yang ditunggu datang juga. Satya segera bangkit, dan mengangkat tubuh istrinya dengan kedua tangannya.
Ashraf melihat dengan pandangan kabur saat Satya berjalan dengan menggendong tubuh Amartha masuk ke dalam sebuah helikopter, dan disusul oleh pria yang dia kenal sebagai asisten pribadi Satya. Mereka pergi meninggalkan kapal yang kini diterjang ombak.
"Uhukkk ... hhhh"
pria itu terbatuk dan mengeluarkan cairan merah sebelum akhirnya kembali terpejam.
__ADS_1
Sang asisten memberi perintah agar semua orang suruhannya pergi dari kapal tersebut, meninggalkan mereka yang sudah terkapar tak berdaya.
Seorang pengawal dari kapal milik Ashraf menembakkan timah panas ke udara, sebagai tanda kapal mereka membutuhkan bantuan.
Pengawal itu berjalan dengan terhuyung mendekati tuannya. Dia menembakkan timah panas sekali lagi ke udara, membuat kapal yang rencananya akan membawa kabur Amartha segera mendekat ke arah kapal yang kini sudah sangat kacau.
Satya segera melarikan istrinya ke rumah sakit terdekat, karena untuk menjangkau rumah sakit milik istrinya memerlukan jarak tempuh yang cukup jauh, dan dia tidak ingin mengambil resiko.
Satya sedang menunggu istrinya di dalam ruang perawatan.
"Tuan, sebaiknya anda obati luka anda, Tuan!" ucap Firlan yang melihat luka di lengan bosnya.
"Saya tidak mau meninggalkan istri saya, Lan!" kata Satya sambil melihat istrinya yang kini bernafas dengan bantuan selang oksigen.
"Dokter yang akan kesini, jadi Tuan tidak perlu khawatir," ucap Firlan sambil melihat Amartha yang masih terpejam.
"Baiklah, tapi kamu juga obati luka di wajahmu itu, bisa-bisa pacarmu tidak mengenalimu saat pulang nanti," kata Satya yang membuat Firlan terkekeh.
"Lan," Satya memanggil Firlan saat pria itu sudah membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu.
"Ya, Tuan?" Firlan menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menatap bosnya yang penuh luka.
"Terima kasih banyak," ucap Satya tulus.
"Sama-sama, Tuan. Wow! harusnya saya rekam ucapan tadi, ya? kan jarang-jarang bos bilang makasih," kata Firlan yang membuat Satya mengumpat asistennya itu.
"Dasar asisten gendeng!" ucap Satya sambil berdecak.
"Kalau saya gendeng berarti anda Sableng, Tuan! ya sudah, saya panggilkan dokter, permisi," kata Firlan sambil tertawa, pria itu berjalan keluar meninggalkan Satya dan Amartha.
Firlan meminta dokter untuk mengobati luka di lengan Satya akibat tertusuk benda tajam. Luka yang lumayan dalam dan memerlukan beberapa jahitan sebelum akhirnya dokter memberikan balutan di lengan tangan kanan pria itu.
Satya yang tak mau meninggalkan istrinya sedetikpun, membuat dokter mengobati beberapa luka di tubuh pria itu di dalam ruangan yang sama dengan Amartha. Mereka juga menarung dua ranjang di ruangan itu.
__ADS_1
Satya menatap wajah istrinya lekat. Yang beberapa saat yang lalu mengeluarkan darah dari jalan lahirnya, namun beruntung janin yang ada di dalam sana mampu bertahan.
Satya pun tak lupa meminta dokter untuk mengobati luka di wajah Asistennya. Namun, ternyata sang asisten sudah terlebih dulu mendapatkan penanganan dari seorang suster di sebuah ruangan perawatan yang bersebelahan dengan ruangan yang dipakai Satya dan Amartha.
Satya memang menyuruh asistennya untuk mengambil dua ruang perawatan, karena bagaimanapun Firlan sempat terluka akibat melawan para pengawal Ashraf. Pantas saja papinya memperlakukan Firlan seperti keluarga, ternyata memang Firlan sangat loyal dan sangat bisa diandalkan.
Penampilan Firlan lumayan kacau dengan beberapa luka yang nangkring diwajahnya. Sudut bibir yang luka membuat pria itu meringis kesakitan saat luka itu dibersihkan.
Disaat seorang suster datang membawa trolley yang berisi obat-obatan, ponsel Firlan berdering.
"Permisi, Tuan. Saya akan mengobati luka, anda." seorang suster mendekatkan trolley tersebut di dekat Firlan, pria itu yang sedang duduk di ranjangnya pun mengangguk memberi ijin.
"Halo, Ay? kamu dimana? kok kamu nggak angkat telfon aku dari tadi siang? kenapa? kamu sakit? atau lagi banyak kerjaan? atau kamu lupa sama aku? aku kan pacar kamu, Ay!" serobot Vira begitu panggilannya terhubung, wanita itu tak memberi kesempatan pacarnya untuk menyapanya terlebih dulu.
"Astagfirllaaaaaaaaaaaaaaah..." Firlan mengusap dadanya saat mendengar pertanyaan Vira yang panjangnya kayak kereta api.
"Kalau nanya satu-satu bisa nggak? puyeng tau dengernya!" Firlan mendengus kesal mendengar Vira yang bicara dengan sekali tarikan nafas.
"Aku lagi," ucap Firlan terhenti, pria itu malah memekik menahan perih.
"Aaawhh! pelan-pelan, sakit!" ucap Firlan yang tak bisa menahan perih saat lukanya sedang diolesi obat.
"Iya pak, ini juga pelan-pelan, bibirnya jangan digigit," ucap suster itu saat mengobati luka di sudut bibir Firlan.
"Ay! ka-kamu la-gi ngapain, hah! kok ada suara cewek? kamu? kamu lagi ngapain? jawab!" ucap Vira terbata-bata.
"Sshhh, perih!" bukannya menjawab pertanyaan pacarnya yang sudah merah padam, Firlan malah berdesis menahan perih.
"Iya, Pak. Ini sebentar lagi selesai," jawab seorang wanita dengan suara yang sangat lembut.
"Apa? perih, sakit, selesai?" gumam Vira dengan air mata yang sudah menumpuk.
...----------------...
__ADS_1