Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mencari Cara


__ADS_3

"Neng? makanan udah siap, Neng Vira udah nunggu di meja makan..." kata Esih yang menghampiri Amartha yang sedang berdiri menyibak sedikit tirai yang menutupi jendela.


Amartha langsung menoleh dan mengelus dadanya.


"Astaga, Teteh bikin aku kaget banget, tau..." Amartha memutar tubuhnya dan melepaskan tirai dari genggaman tangannya.


"Makan dulu, Neng. Sup nya nanti keburu dingin, nggak enak!" kata Esih mengingatkan.


Amartha menengok sekilas memandang luar jendela, sebelum ia berjalan mengikuti Esih menuju ke meja makan.


"Ta..." panggil Vira, Amartha hanya diam. Masih gerakan tutup mulut, Vira hanya bisa diam sambil terus berpikir.


"Nggak usah sungkan, makan yang banyak, Vir. Jangan sampai penyakit lambungmu datang disaat yang tidak tepat," kata Amartha dingin.


"Udah sih, udahan ngambeknya sama aku. Kalau kayak gini aku tuh mau makan nggak enak, Ta ... kalau kamu sebel sama aku jangan salahin kalau anak kamu bisa mirip sama aku, iya kalau cantiknya yang mirip? lah kalau kelakuanku yang lain yang mirip gimana? kamu mau begitu? iya?" Vira mencoba mempengaruhi pikiran Amartha dengan mitos-mitos.


"Kita orang modern, masih aja percaya yang kayak gitu. Nggak usah ngarang," kata Amartha.


"Aku bukan ngarang, karena yang kayak begitu udah terbukti sama orang. Tetanggaku selama hamil benci banget sama muka suaminya, eh pas anaknya lahir mukanya plek ketiplek sama suaminya berikut kelakuannya juga," jelas Vira.


Esih yang mendengar itu pun menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Amartha.


"Ya ya udah, aku maafin..." kata Amartha kemudian.


"Nah gitu dong, makasih ya, Ta?" ucap Vira.


Akhirnya mereka pun makan malam dengan tenang, dengan satu senyuman yang tersungging di wajah Vira karena berhasil meluluhkan Amartha.


.


.


.


Sedangkan di luar sangat dingin. Satya sudah masuk ke dalam tenda.


"Gila, dingin banget!" gumam Satya yang membungkus tubuhnya dengan sebuah sweater namun tak bisa menghalau rasa dingin yang menyerang pori-pori kulitnya.


"Sampai kapan ini kita disini, Tuan?" tanya Firlan.


"Sampai Amartha mau ikut pulang denganku," jawab Satya.

__ADS_1


"Sepertinya mustahil, ya!" gumam Firlan sambil menggeleng.


"Apa yang kamu katakan, Firlan?" tanya Satya sinis.


"Tidak ada, Tuan. Telinga anda sepertinya sangat sensitif akhir-akhir ini," Firlan beralasan.


Firlan pun segera beranjak dari duduknya, dan mulai bergerak keluar.


"Mau kemana kamu?" tanya Satya.


"Mau ke tenda saya, Tuan. Saya mau istirahat," kata Firlan yang kemudian menutup tenda bosnya.


Di dalam tenda Satya berpikir, bagaimana caranya menarik simpati istrinya yang jelas-jelas sedang marah padanya.


"Aku kangen banget sama kamu, Yank! kangen banget," gumam Satya.


Tak lama, ia mendengar ponselnya berdering. Ia berharap Amartha yang menghubunginya karena wanita itu merasa tidak tega suaminya kedinginan karena tidur di luar, namun harapannya pupus kala melihat nama wanita lain yang menghubunginya. Dia mengubahnya ke pengaturan senyap, agar benda itu tak mengeluarkan suara lagi.


Udara malam semakin menusuk tulang, Satya pun membungkus tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di dalam tenda. Beberapa kali ia meniupkan udara dari mulutnya.


"Gila, makin malem yang ada malah makin dingin," Satya memperbaiki posisi bantalnya dan semakin mengeratkan selimutnya.


"Kenan? ngapain tuh orang ketuk pintu? ini nggak bisa dibiarin!" kata Satya dengan mata yang membulat sempurna. Pria itu langsung menghempaskan selimut tebalnya dan menjulurkan badannya keluar dari tenda.


Pria itu dengan langkah terburu-buru menghampiri Kenan yang terus saja mengetuk pintu.


"Ngapain kamu ketuk pintu malem-malem?" tanya Satya.


"Ini baru jam 8 malam, Sat! lagian aku mau numpang toilet," jawab Kenan dengan tampang yang terlihat sangat gelisah.


"Kebetulan aku mau ke toilet juga," kata Satya yang sama sekali tidak ditanya Kenan.


Tak lama pintu pun terbuka, Esih melihat Satya dan Kenan secara bergantian.


"Ada apa, Tuan? anda berdua belum juga pergi dari sini?" tanya Esih.


"Saya mau numpang ke toilet," ucap Kenan cepat.


"Ehm, bagaimana ya?" Esih nampak berpikir, apakah dia harus mengijinkan kedua pria itu masuk atau tidak.


"Dimana toiletnya?" tanya Kenan lagi.

__ADS_1


"Ada di dalam," ucap Esih yang kemudian mengantarkan Kenan menuju toilet di dekat dapur.


Sementara Satya ikut masuk dan menghentikan langkahnya di ruang tamu. Tanpa sadar, kakinya bergerak menyusuri villa itu, ia mencari dimana keberadaan istrinya. Namun Amartha tak nampak, atau mungkin wanita itu ada di dalam kamar.


"Bik, tolong saya minta kertas dan pena," kata Satyanyang melihat Esih keluar dari dapur.


"Sebentar, Tuan..." Esih pun pergi ke kamarnya untuk mengambil kertas dan pena. Dan itu tak luput dari pandangan Satya. Disana hanya ada dua kamar, jika kamar yang ituditempati orang yang membantu Amartha di villa itu, berarti kamar di seberangnya merupakan kamar yang ditempati Amartha.


Hanya membutuhkan waktu satu menit, Esih keluar dengan pena dan kertas.


"Terima kasih," ucap Satya yang segera menerima barang itu yang digunakannya sebagai alasan, dia hanya ingin memastikan dimana kamar Amartha.


Beberapa saat kemudian, Kenan keluar dari arah dapur dengan ekspresi lega.


"Masih disini?" tanya Kenan.


"Menurutmu? aku juga kan ingin ke toilet," kata Satya


"Amartha dimana? kok sepi?" tanya Kenan pada Esih.


"Mungkin sudah tidur," jawab Esih.


"Sebaiknya Tuan segera keluar dari sini, soalnya saya bisa-bisa dimarahi neng Tata," ucap Esih.


Daripada Satya ikut diusir akhirnya Satya memilih pergi ke belakang, masuk ke dalam toilet.


Sementara Kenan pergi dan masuk kembali ke tendanya. Di dalam toilet Satya memikirkan cara supaya dia bisa menemui Amartha. Cukup lama ia pura-pura menekan flush supaya yang diluar tidak curiga.


Esih yang menunggu Satya di ruang tengah pun akhirnya tertidur di sofa dengan televisi yabg masih menyala. Satya yang berada di dalam toiket lebih dari satu jam pun membuka pintu dengan sangat hati-hati dan mencoba untuk keluar. Melihat Esih yang tertidur, ia mengendap berjalan tanpa bersuara. Ia membuka pintu kamar yang ia yakini kamar Amartha. Dan benar saja di lihatnya ada dua wanita tengah terlelap. Satya segera menghampiri dimana istrinya tertidur, ia memandangi wajah yang sudah lama ia rindukan.


Satya bergerak ke sisi ranjang Vira, ia menepuk bahu wanita itu. Merasa ada yang mengganggunya, Vira pun membuka mata dan terkejut saat melihat Satya ada di depan matanya. Satya segera mebaruh telunjuknya di depan mulutnya, ia meminta Vira untuk tidak bersuara. Satya menggerakkan tangannya, dan memberi kode agar Vira keluar dari kamar itu.


Sementara Esih terbangun dari tidurnya, ia menegakkan tubuhnya sembari meregangkan sendi-sendinya yang pegal.


"Kok saya malah ketiduran disini," ucap Esih.


"Tuan yang tadi apa sudah keluar? hoaamm! ah, mungkin sudah, aku kunci pintu lagi saja," ucap Esih pada dirinya sendiri.


Setelah mematikan televisi dan mengunci pintu depan, Esih kembali ke kamarnya melanjutkan tidurnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2