Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Gue Janji!


__ADS_3

"Intinya ada yang perlu gue omongin sama dia," ucap Sinta kemudian. Wanita itu tidak mungkin mengatakan apa saja yang ingin dia bicarakan dengan orang yang dulu ia panggil sahabat.


"Dengar, Sinta ... suami Amartha tidak akan semudah itu membiarkan kamu bertemu dengan istrinya, but sorry to say dia liat kamu aja udah enek kayaknya," ucap Fendy tanpa dosa. Sinta jelas dongkol mendengar ocehan Fendy yang bikin darah mendidih. Sinta tak mau menanggapi.


"Memangnya apa yang mau kamu omongin?" tanya Fendy ingin tahu.


"Ya pokoknya ada," jawab Sinta ketus, sedangkan Fendy terkekeh.


"Kamu nggak kenal teknologi yang namanya telepon? video call? kamu tinggal pencet nomor dia, dan masalah beres," ucap Fendy mencibir. Namun, tidak semudah itu bagi Sinta, hubungannya dengan Amartha sudah renggang, tidak seperti dulu, itu juga karena keegoisannya. Dia terlalu terobsesi dengan seseorang, yang sampai saat ini tidak bisa ia miliki 


"Nggak semudah itu," jawab Sinta datar, dia tidak tahu bagaimana caranya ia mengatakannya pada Fendy, sedangkan di mata semua orang, dia adalah sosok monster yang harus diwaspadai. apapun yang ia katakan hanya akan dianggap angin lalu.


"Kamu sekarang keluar, aku udah di bawah, kita cari angin," perintah Fendy pada Sinta. wanita itu langsung menyibak tirai di jendela kamarnya, dan ia melihat sebuah mobil terparkir di pelataran rumahnya. Sinta mengernyit heran, pria itu lebih mirip setan yang datang dan pergi tanpa permisi.


"Udah malem," tolak Sinta, matanya masih mengawasi mobil yang masih terparkir di luar.


"Cepetan turun atau aku samperin ke atas?" perintah Fendy, pria itu suka sekali mengancam. 


"Bawel!" jawab Sinta.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Sinta langsung menyambar baju hangatnya dan segera turun menemui Fendy. 


Sinta langsung masuk ke dalam sebuah mobil sport berwarna merah.


"Pasang seat belt jangan lupa," titah Fendy, pria itu gagah di belakang kemudinya. Tanpa bicara Sinta langsung membelitkan seat belt ditubuhnya. Fendy mulai menekan pedal gasnya, membelah jalan raya yang masih ramai.


"Nggak kangen?" tanya Fendy pada Sinta, pasalnya beberapa hari ini mereka tidak bertemu.


"Nggak sudi!" jawab Sinta, Fendy hanya tersenyum. 

__ADS_1


"Nggak usah lebay," lanjut Sinta.


"Jangan terlalu benci, ntar jadi cinta, loh! kan aku jadi enak," ucap Fendy, Sinta malah mlengos melihat ke luar jendela. Kesal mendengar ocehan Fendy, namun itu rasanya lebih baik daripada harus berkawan sepi. 


Rumah megah, namun tak ada satu pun yang bisa ia ajak bicara. Dia ditinggal hanya dengan para pelayan yang lebih memilih mojok nonton sinetron daripada harus nongol depan Sinta, yang ujung-ujungnya bakalan kena semprot.


"Nih mobil nyuri dimana?" Sinta tiba-tiba bersuara, ia menoleh pada Fendy yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang 


"Enak aja nyuri, beli!" sahut Fendy, melirik Sinta sekilas. Sinta menarik satu sudut bibirnya, mencibir Fendy.


"Dikira nggak mampu gitu beli mobil ginian?" tanya Fendy yang menangkap remehan dari wajah Sinta.


"Bukannya lo dulu kere?" ucap Sinta menohok.


"Dih itu mulut beneran pedes amat, level berapa, sih?" tanya Fendy yang menyindir Sinta. Sepanjang perjalanan, yang terdengar dua orang sedang berdebat tanpa ada ujungnya.


"Kamu aja mata nggak dipake, aku dari dulu udah tajir tapi emang nggak melintir," kata Fendy menatap jalanan yang ramai pengendara, yang mungkin baru selesai ngapel dan akan menuju rumah masing-masing.


"Candaaaa, ih…" Fendy nyengir, kemudian tertawa tanpa aba-aba, Sinta pusing berada satu mobil dengan orang menyebalkan macam Fendy yang masih ngaku kalau mereka pacaran.


"Mata masukin lagi ke dalem, ntar copot lagi dipake melotot gitu," seloroh Fendy yang menurut Sinta sama sekali tidak lucu. Sinta mengabaikan ocehan Fendy dan memilih menatap lurus ke depan, sambil memeluk dirinya sendiri, dingin.


"Aku mencapai semua ini tidaklah mudah, aku mulai mengenal dunia bisnis, aku emang bukan dari keluarga konglomerat kaya pujaan hati kamu yang udah…" Fendy ngoceh lagi, Sinta menoleh pada pria itu dengan tatapan mematikan.


"Ehem, iya iya ih! gitu amat liatnya," ucap Fendy saat Sinta melayangkan tatapan tajam padanya, pria itu malah cengar-cengir melihat lurus ke depan, entah apa yang dipikirkan pria itu.


"Lo ngomong apa, sih? gue nggak peduli


tuh lo anak orang kaya atau nggak, bukan urusan gue," ucap Sinta yang ternyata menanggapi perkataan Fendy.

__ADS_1


"Aku cuma mau bilang, everything is possible," Fendy memperlambat laju mobilnya.


"Kamu punya masa lalu, dan sekarang tuhan memberimu kesempatan untuk berubah, memaafkan diri, orang lain, dan keadaan. Nggak ada gunanya menyimpan dendam, kamu kayak berjalan diatas bara api, hanya rasa panas dan sakit yang kamu nikmati, semua itu nggak ada gunanya," ucap Fendy, berharap Sinta mau mendengarkannya kali ini.


"Kesempatan?" lirih Sinta sambil menatap Fendy.


"Kamu masih punya kesempatan, buat berubah. Percaya sama aku, kamu akan lebih lega hidup kamu akan lebih tenang setelah membuang rasa dendam itu, setelah mengalahkan obsesimu itu. Sebenarnya kalian bertiga sama-sama terluka, tapi Amartha memilih untuk bangkit, sedangkan kalian berdua masih terjebak dengan masa lalu," kata Fendy lagi, kali ini Sinta merasa ada benarnya yang dikatakan Fendy. Hening, tak ada kata-kata dari mulut Sinta ataupun Fendy, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Gue, gue minta bantuan lo," Sinta tiba-tiba bersuara, ia menoleh pada Fendy. Pria itu menepikan mobilnya.


"Nggak salah denger, nih?" Pria itu mengusap telinganya dan menaikkan satu alisnya.


"Rese! udahlah, lupain aja!" ucap Sinta ketus.


"Astaga, emosian banget nih si eneng," kata Fendy yang sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Sinta.


"Bantu apa? bantu doa apa gimana, nih?" tanya Fendy.


"Gue serius! gue harus ketemu sama Amartha," Sinta menatap Fendy dalam.


"Aku usahain, dan kamu harus janji kalau kamu nggak akan mencelakai dia, atau kamu akan menanggung akibatnya," jawab Fendy.


"Gue janji," kata Sinta.


Sesuai apa yang dikatakan Ivanka, wanita itu datang kembali keesokan harinya. Namun Amartha selalu berada di sisi pria itu, Ivanka jadi tidak bisa berkutik, akhirnya mereka membahas pekerjaan. Amartha beberapa kali menguap, pertanda wanita hamil itu sudah mulai mengantuk. Satya meminta menyudahi pembicaraan itu, Satya mencoba bersikap profesional saat mereka membahas tentang kerja sama antara dua perusahaan besar itu.


"Saya rasa pembahasan cukup sampai disini, lagipula asisten saya belum datang. Kita bisa membicarakan ini nanti, untuk saat ini saya masih perlu istirahat," ucap Satya, yang melihat Amartha sudah tertidur di ranjangnya, sedangkan Satya duduk di kursi berhadapan dengan Ivanka yang berada di sofa.


"Baiklah, sepertinya istri anda yang lugu itu sudah terlelap," ucap Ivanka menaikkan satu sudut bibirnya.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu," ucap Satya penuh penekanan.


...----------------...


__ADS_2