
Hari ini semua kehebohan dimulai, rumah Amartha sudah kedatangan para kang decor, yang tugasnya mendecor rumah itu untuk acara siraman besok. Suasana lumayan riweuh, kalau dulu pernikahan Amartha di gelar secara dadakan kayak tahu bulat. Tapi hari ini semua terasa sangat berbeda.
Semua sudah diurus oleh W.O, rumah itu dipenuhi bunga mawar putih dan melati dan beberapa bunga lain yang menjadi pemanisnya. Amartha menatapbke sekeliling kamarnya yang sudah dihias sedemikian rupa, aroma melati yang bercampur dengan mawar membuat sensasi yang menenangkan, Amartha tersenyum saat Satya yang kesal karena ia selalu mereject panggilan vidio dari pria itu. Amartha kembali terkekeh saat mengingat adik ipar dan calon imamnya yang tak pernah akur, keluarga Satya benar-benar ajaib dan karena mereka ia perlahan mengubah sikap dingin dan cueknya, ia juga sekarang lebih banyak tersenyum bahkan tertawa
Ketika Amartha sibuk dengan lamunannua, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Ya ... sebentaaaar," Amartha segera beranjak dari tempat tidurnya, ia menggerai rambut panjangnya, wanita itu segera berjalan menuju pintu dan segera membuka pintu.
"Viraaaa..." pekik Amartha saat melihat sahabat karibnya didepan matamya.
"Tukiiijeeeemmmm?" Vira otomatis memeluk Amartha mereka berdua terlihat sangat senang bisa kembali bertemu.
"Ini Vira, Mah sahabat aku waktu kuliah," kata Amartha yang tak melepaskan sentuman dibibirnya.
"Tadi aku udah memperkenalkan diri di depan, Ta ... iya kan Tante?" kata Vira sambil tersenyum.
"Iya ... oh ya, Vira mau minum apa? biar tante ambilkan," kata Rosa yang langsung mendapat gelengan kepala dari Amartha.
"Nanti Amartha aja yang ambilin, Mah..."
"Oh, ya udah, Tante tinggal kebelakang ya Vira..." Rosa yang berdiri di samping Vira kemudian memilih untuk pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Rudy.
"Makasih, Tante ..." ucap Vira sopan.
"Aih Vira, baru dateng? ayo ayo masuk..." Amartha segera mengajak Vira untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Wihhh gilaaaaa, rumah kamu udah kaya kebon bunga... permintaan edun kamu, Ta? itu satu truck depan isinya ngangkutin mawar putih, nggak buat kamu makan, kan?" kata Vira yang membuat gelak tawa diruangan itu.
"Bukaaan, aku nggak segila itu juga kali," Amartha seraya merebahkan tubuhnya di kasur empuknya, Vira pun yang memang lelah setelah melakukan perjalanan darat selama berjam-jam pun akhirnya ikut rebahan juga.
"Berarti itu perbuatan calon suami kamu?" tanya Vira penasaran, pasalnya waktu dia sampai di rumah Amartha banyak sekali orang dan kebetulan ada beberapa truck pengangkut bunga.
"Nggak tahu, yang ngurusin W.O jadi aku nggak tau apa-apa, dari tadi aku cuma bengong aja depan rumah," ucap Amartha yang membuat Vira melongo.
__ADS_1
"Keren Ta, nikahan nggak ikut repot tinggal duduk anteng, enak banget kamu, Ta..." kata Vira ya kemudian melirik sahabatnya
"Oh, ya Ta, ini bneran kamu ngasih libur aku dua minggu?" ucap Vira penasaran, ia kemudian bangkit dari rebahannya dan duduk bersila menghadap Amartha.
"Iya itu emang maunya aku ... tapi Firlan yang ngurusin," jawab Amartha sekenanya
"Oh," sahut Vira singkat.
"Kok oh, aja ... kenapa emang?" Amartha juga ikut beranjak dan duduk diatas kasur menghadap Vira.
"Nggak apa-apa," sahut Vira datar dan terkesan memaksakan senyumanny.
"Kenapa? biasanya kamu antusias kalo soal Firlan," kata Amartha mengerutkan keningnya heran.
"Nggak apa-apa ... mending bahas kamu aja, apa yang bisa aku bantu?" Vira mulai mengalihkan pembicaraan, Vira tidak mau membebani pikiran Amartha menjelang hari bahagianya.
"Nggak mau! kamu harus cerita dulu, nih pasti ada apa-apa ... kamu udah nggak nganggep aku sahabat?" Amartha memicingkan matanya pada Vira yang mulai gelagapan.
"Bukan, bukan kayak gitu, Ta..." Vira bingung harus bagaimana.
"Terus?"
"Dia sama cewek, top banget pokoknya ... body goals banget lah, aku keburu nggak kuat lihat Firlan sama cewek lain, jadi aku langsung pergi aja," ucap Vira sambil menunduk, jujur saja pertemuannya dengan Firlan kemarin membuat tembok move on Vira hancur seketika.
"Aku jadi ngerasa insecure, badan rata kek papan penggilesan kayak gini, hah ... pantesan aja dia nggak ngelirik aku, ternyata tipenya dia yang bodynya uhuy banget, ah langsung potek hatiku, Ta..." lanjut Vira.
"Kamu yakin itu pacarnya?" Amartha menatap Vira dalam.
"Kamu udah pastiin?" lanjutnya.
"Aku denger si cewek bilang 'beb' gitu, mata udah panas, ya udah aku pergi, hufh ... aku nyerah..." Vira lagi-lagi menghela nafasnya.
"Sabar ya? kalau dia jodoh kamu, nanti pasti ada jalannya kok buat dia dan kamu bersatu," Amartha mengeluarkan kata-kata yang adem banget dihati Vira.
__ADS_1
"Udah ah, aku nggak mau bahas itu, mending bahas nikahan kamu aja," Vira tidak mau berlama-lama dengan acara patah hati ditengah acara persiapan pernikahan sahabatnya
"Oh ya, aku dapet privillage buat nginep di hotel deket sini, wkwkwk, enak juga ya temen dapet suami kaya, mayan dikit-dikit kerasa cipratannya," Vira kembali sengklek seperti biasanya, sangat terlihat Vira sedang menutupi hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu tuh nggak jelas sumpah," Amartha menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vira.
Ditengah obrolan dua sahabat yang entah ngobrol yang sangat tidak berfaedah itu, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya
"Bentar ya, aku buka pintu dulu," Amartha beringsut dari ranjang dan segera membuka pintu.
"Ada apa ya, Mbak?" tanya Amartha pada seorang pegawai W.O.
"Nona, sekarang Nona harus ikut kami untuk melakukan perawatan," ucap wanita dengan kisaran umur 30 tahun itu
"Perawatan? tapi saya lagi ada temen?" Amartha melihat sekilas ke belakangnya.
"Udah ikutin aja," ucap Vira yang segera beranjak dan berjalan mendekati Amartha.
"Mau nikah biar kinclong jangan burik, nanti Satya kabuuur..." lanjut Vira yang membuat Amartha melotot pada Vira.
"Ishhh, sembarangan kalau ngomong, aku mah sebenernya udah kinclong dari jaman orok," Amartha menyikut lengan Vira, sementara gadis itu meringis mendapat serangan tiba-tiba.
"Ehm, tapi ... saya nggak mau sendirian, temen saya juga harus ikut, gimana?" tanya Amartha pada wanita yang masih setia berdiri di hadapannya.
"Silakan Nona, Tuan Satya pesan agar semua keinginan Nona bisa dipenuhi," ucap wanita itu lagi, membuat Amartha tersenyum dan membuat Vira juga yas yes nggak jelas.
"Pengertian banget sih ,Ta ... abis perjalanan jauh pegel juga nih badan," celetuk Vira dari belakang Amartha.
"Kalau begitu saya tunggu di depan Nona ... permisi," ucap wanita dengan rambut yang diikat.
Kemudian setelah bersiap-siap, Amartha dan Vira menaiki mobil menuju tempat yang mereka tuju untuk melakukan serangkaian perawatan.
...----------------...
__ADS_1
lg ada acara jadi telat, wkwkwk