Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Manusia Rese


__ADS_3

Ketika Amartha dan Kenan tengah menikmati santap siang mereka. Tiba - tiba seseorang menghampiri meja mereka.


"Ehem..." seorang lelaki berdehem seraya menarik kursi di samping Amartha. Membuat Amartha dan Kenan melayangkan pandangan kepada si pemilik suara.


Kenan menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam ke arah lelaki itu. Amartha bisa melihat kilatan rasa tidak suka di mata Kenan. Dia baru melihat sisi lain dari lelaki itu. Tatapannya begitu mematikan, berbeda ketika menatap dirinya. Sepertinya waktu banyak mengubah diri Kenan.


Lelaki disamping Amartha tanpa basa basi mengambil smoothies milik Amartha dan menyeruputnya. Amartha memutar matanya jengah. Lelaki itu adalah Satya.


"Ngapain kamu disini?" ucap Kenan kepada Satya.


"Ya mau makanlah.." jawab Satya asal sembari tersenyum manis pada Amartha. Amartha sedari tadi memperhatikan kedua lelaki yang sedang berdebat itu. Sungguh dia sangat tidak suka dengan situasi seperti ini.


"Cari meja yang lain. Kita mau makan!" sahut Kenan ketus.


"Aku maunya disini!" ucap Satya menatap Kenan tajam dan melipat tangan di depan dadanya.


"Tapi, aku sama Amartha mau makan!" sarkas Kenan.


"Ya udah tinggal makan, repot amat!" sahut Satya tak mau kalah.


"Tapi kamu ganggu!" Kenan meninggikan nadanya. Dia begitu kesal dengan Satya yang enggan pergi dari situ.


"Itu kan kata kamu!" Satya tak kalah ketus.


BRAKKK


"STOP!" teriak Amartha


"Kalian kayak anak kecil tau, nggak! Mending kalian aja yang makan disini. Aku mau pulang" ucap Amartha kesal.


Kenan yang melihat Amartha akan beranjak dari duduknya segera berdiri menahan lengan gadis itu.


"Amartha..." Kenan mendudukkan kembali gadis itu.


"Kalian mau kita jadi tontonan orang?" Sarkas Amartha. Amartha pun mendudukkan dirinya lagi dan menatap kedua lelaki itu secara bergantian.


"Enggak enggak! Maafin aku ya, Dek." Kata Kenan dengan lembut. Sedangkan Satya melempar pandangan tidak suka kepada Kenan yang bersikap lembut kepada gadis incarannya.


"Maafin, yah?" Kenan mencoba mengulang permintaan maafnya. Tapi Amartha hanya mengangguk tanpa bersuara.


"Kita lanjutin makan ya? Anggap aja Satya itu makhluk gaib! Antara Ada dan tiada" seloroh Kenan.


"Sembarangan!" Satya menatap Kenan tidak suka.


"Mau mulai lagi?" Amartha menatap tajam kedua lelaki itu, yang tingkahnya membuat pusing kepala.


"Ini orang yang mulai ,Ta." Satya membela diri.


"Yaelah...Cuma becanda, Dek.." ucap Kenan sembari melirik Satya tak suka.


"Makan lagi, ya. Nanti nangis loh makanannya.." Lanjut Kenan. Dia seperti membujuk anak kecil untuk makan. Untung saja Kenan tidak sampai bilang 'Itu ada pesawat terbang...Aaaaa'. Wah Bisa melayang itu piring ke wajahnya.

__ADS_1


Amartha yang mendengar ucapan Kenan hanya diam tak menanggapi.


"Dikira aku anak TK apa ya...."( Batin Amartha).


Akhirnya Satya pun memesan makanan dan ikut makan bersama Kenan dan Amartha. Karena perdebatan tadi membuat perutnya jadi keroncongan. Kenan dan Satya makan dengan tenang.


"Uhukk...uhuk.." Tiba-tiba Amartha tersedak. Dan otomatis membuat kedua lelaki tampan itu menyodorkan minuman milik mereka ke arah Amartha.


"Minum, Ta" Ucap Satya.


"Minum dulu , Dek" Lanjut Kenan.


Amartha diam melihat reaksi Kenan dan Satya. Dia memilih untuk mengambil minumannya sendiri daripada mengambil salah satu minuman yang dipegang kedua lelaki itu.


Kenan maupun Satya menaruh kembali gelas mereka diatas meja dengan perasaan kecewa.


Setelah selesai makan, mereka bertiga keluar menuju area parkir. Jangan ditanya? Kelakuan kenak- kanakan Satya dan Kenan membuat Amartha memijit keningnya pusing. Saat membayar bill pun kedua lelaki itu berebut. Tak pantas disebut lelaki dewasa. Amartha menahan malu saat Satya maupun Kenan akhirnya berebut untuk membayar. Dan sebagai penentuan si pelayan diikat matanya, dan memilih salah satu kartu.


'Yess!' itulah kata yang spontan keluar dari mulut Kenan. Senyum kemenangan mengembang di bibir dari lelaki itu. Sedangkan Satya, kesal bukan main apalagi melihat senyum mengejek dari Kenan. Hatinya sekarang panas terbakar melihat senyuman dari rivalnya itu.


Setelah sampai di parkiran depan restoran, perdebatan pun kembali terjadi.


"Ta, pulang sama aku aja. Tuh mobilku disebelah sana." Ucap Satya seraya menarik lengan Kanan Amartha.


"Dek, tadi kan kamu kesini sama aku. Jadi pulangnya sama aku, ya?" Kenan menarik lengan kirinya.


"Amartha pulang sama aku !" Ucap Satya menarik lagi lengan Amartha.


"Pulang sama aku aja ya?" Satya bersikeras.


"Dek, pulang sama aku aja ya?" Kenan tak mau kalah.


"STOP?!!!!!" Amartha meninggikan suaranya. Dia sudah cukup bersabar menghadapi tingkah kedua lelaki itu yang memaksanya.


"Biar aku pulang sendiri ajah!" Tolak Amartha.


"Dek, kamu nggak kasihan? Tangan mas masih sakit loh. " Ucap Kenan melas.


"Kayaknya baik-baik aja tuh tangan. Nggak kenapa-kenapa?" Ejek Satya.


"Tangan Mas Kenan memang lagi sakit. Dia kena sayatan belati karena nolongin aku waktu aku dibegal."


"Terus kamu gimana? Nggak kenapa-_napa, Ta?" Tanya Satya khawatir seraya memegang pundak Amartha. Gadis itu hanya menggeleng.


"Bisa nggak itu tangan nggak usah pake pegang- pegang?" Kata Kenan sambil melepaskan tangan Satya dari pundak Amartha.


"Dek, kita pulang yuk?" Lanjut Kenan sambil menarik tangan Amartha untuk berjalan ke arah mobil miliknya.


"Aku pulang duluan, Mas" Ucap Amartha kepada Satya.


Satya hanya memandang tidak suka terhadap Kenan. Amarta menghela nafasnya lagi saat berjalan ke arah mobil Kenan. Gadis itu benar- benar pusing dengan tingkah kedua lelaki itu yang jauh dari kata dewasa. Kenan memang benar baru saja keluar dari rumah sakit. Dia terluka karena menolong Amartha. Kali ini mungkin dewi fortuna berpihak pada lelaki itu. Amartha akhirnya mengikuti keinginan Kenan. Dan jelas membuat Satya semakin kesal dengan Kenan.

__ADS_1


Kenan melajukan mobilnya meninggalkan restoran, Sedangkan Satya berjalan ke mobil miliknya dia duduk di belakang kemudi. Nafasnya memburu dengan cepat.


"Arrrrrghhhh ?!!!!!!!" Teriak Satya seraya memukul stir mobilnya.


Lain halnya dengan Kenan yang terus saja menyunggingkan senyumannya. Kenan bahagia saat Amartha lebih memilih dirinya daripada Satya. Kemudian, Kenan melirik Amartha yang kini memejamkan matanya.


"Apa dia tidur?" ( Batin Kenan).


Mobil kenan melaju dengan kecepatan sedang. Sementara Amartha semakin dalam memasuki alam mimpi. Kenan tidak bisa melukiskan betapa bahagianya dirinya sekarang, dia bisa melihat wajah gadis yang dicintainya ini.


Mobil Kenan berhenti di depan kos ber cat putih. Kenan melepaskan sabuk pengaman, dan mencondongkan tubuhnya ke kursi yang berada disampingnya, tempat gadis itu berada.


"Dek.....Kita udah sampai." Kenan membangunkan Amartha dengan mengelus lengan kanan gadis itu. Namun, Amartha tak kunjung membuka mata.


"Dek...." Panggil Kenan lagi.


Amartha mencoba membuka matanya perlahan setelah mendengar sayup-sayup orang memanggil namanya. Setelah mata Amartha terbuka, dia kaget mendapati wajah Kenan yang begitu dengan dengannya.


DEG


Jantung Amartha berdegub kencang. Dia terpaku melihat wajah tampan itu. Sementara Kenan, semakin terhanyut suasana. Dia tak bisa melepaskan pandangan dari gadis itu. Keduanya saling menatap satu sama lain. Tanpa sadar tangan lelaki itu mengelus pipi Amartha dengan lembut. Amartha hanya diam seakan terbuai dengan perlakuan manis Kenan.


Perlahan Kenan meraih tengkuk gadis itu dan mengec*p bib*rnya. Merasakan rasa manis cherry dari lipgloss yang dipakai Amartha. Amartha kaget menyadari b*birnya dikecup, sontak membuat matanya membulat sempurna. Jantungnya semakin berdebar tak karuan dan ada desir yang tak bisa ia jelaskan, seperti listrik yang menyengat tubuhnya. Kemudian Kenan melepaskan c*u*annya, lelaki itu memandang gadis itu dengan penuh cinta dan mengusap bibir Amartha dengan jarinya.


"Maafin,aku...." Ucap Kenan.


"Aku cinta sama kamu Amartha....Maaf aku tidak bisa menahan diri." Lanjut Kenan dengan menatap wajah Amartha.


Amartha tidak tau harus menjawab apa, dia bingung. Lidahnya seakan kelu untuk menjawab. Rasanya pipinya terasa panas, jantungnya berdebar- debar dan nafasnya pun masih memburu. Amartha mencoba mengatur nafasnya. Rasanya canggung menatap Kenan.


"Amartha...Apakah aku yang pertama merasakan ini?" Kenan menyentuh lagi bibir Amartha dengan jarinya.


Amartha hanya mengangguk pelan dan malu untuk menatap manik lelaki itu. Sedangkan Kenan sangat bahagia mengetahui dirinyalah yang pertama bagi Amartha.


"Lihat aku, Amartha Dina. Apakah ini berarti kamu pun mempunyai rasa yang sama denganku?" Tanga Kenan seraya menyentuh dagu Amartha dan mengarahkan Amartha untuk melihat wajahnya.


"Mungkin." Jawab Amartha asal. Kenan sungguh kecewa mendengar jawaban Amartha.


"Baiklah kita akan cari tahu..." Kenan mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Amartha. Dan sejurus kemudian Amartha membekap bibir Kenan dengan tangannya.


"Iya Iya ...Aku juga cinta sama kamu, mas. Udah jangan cari tau lagi..." Ucap Amartha buru-buru.


"Apa? coba ulangi..." Rengek Kenan.


"Nggak ada siaran ulang."


"Awas kamu ya....." Ucap Kenan lalu dengan cepat menggelitiki pinggang Amartha.


"Hahahhahah...Iya Iya ampun...Hahahh" Ucap Amartha sambil tertawa geli. Kenan menghentikan serangannya lalu memeluk Amartha.


"Makasih ya, sayang." Bisik Kenan yang membuat sengatan listrik di tubuh Amartha.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2