
"Mam? abang liburan berapa hari, sih? kok nggak ada kabar? jangan-jangan mereka terdampar di pulau tak berpenghuni, terus mereka jadi tarzanmania? atau jadi manusia air" ucap Prisha sambil minum susu hangatnya. Sementara Sandra hanya geleng- geleng kepala mendengar anak gadisnya berimajinasi terlalu jauh.
"Husss, kebanyakn nonton film yang aneh- aneh kamu tuh! kalau ngomong suka sembarangan," ucap Mami seraya menyeruput teh hangat miliknya sambil nonton berita infotaintment.
"Katanya sih beberapa hari disana, mungkin mereka masih betah ngadon kue disana, Sha..." lanjut Sandra membuat Prisha mengernyitkan dahinya, tidak mengerti arah pembicaraan maminya, karena otaknya sangat bersih, belum terkena polusi.
"Ngadon kue? Mami ngomong apaan si? ya kali jauh-jauh ke pulau terpencil cuma mau bikin kue? aneh-aneh aja, Mami..." ucap Prisha yang tidak tau arti 'ngadon kue' yang Sandra maksud.
"Halah, anak kecil nggak bakalan tau," sahut Sandra yang membuat anak bungsunya itu mencebikkan bibirnya.
"Lagian kamu tuh ngapain cari abang? bukannya kalau ketemu kerjaannya ribut mulu?" ucap Sandra yang membuat Prisha nyengir nggak jelas, Sebenarnya Prisha sudah terbiasa dengan kehadiran Amartha. Dia senang karena akhirnya bisa memiliki kakak perempuan yang bisa diajak curhat.
"Heehehe, bukan sama abng mau ketmunya, tapi sm kakak ipar lah. Sama abang mah cuma bikin tambah emosi.." kata Prisha yang masih dalam posisi rebahan dipangkuan sang mami, bocah kecil yang masih manja dengan maminya.
"Lagian aku kan sebenernya pengen ikut, Mam! eh sama abang nggak boleh ikut, pelit banget tuh orang," Prisha masih saja ngedumel perkara tidak diperbolehkan ikut bulan madu.
"Lagian ada orang bulan madu bawa krucil kayak kamu? yang ada mereka gagal ngadon terus!" celetuk Sandra yang sama sekali tidak dimengerti Prisha. Padahal dia sempat searching tempa yang abang dan Amartha akan kunjungi, ah bener-bener bikin ngiler, pemandangannya masih begitu asri. Prisha membayangkan pasti menyenangkan menginap di resort mewah kelas dunia seperti itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan pengamanan yang ketat, Amartha dan Satya bisa liburan dengan tenang, mengunjungi berbagai destinasi yang ada di pulau sumbawa, mereka juga sempat berpindah tempat mereka menginap.
Mereka benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memiliki waktu berdua, menghabiskan waktu dengan pasangan sebelum berkutat kembali dengan segudang pekerjaan. Sementara Vira masih dalam waktu liburannya, dia sering menyambangi pacarnya untuk makan siang bersama, walaupun tiap hari Firlan dan Vira pasti cakar-cakaran, tapi abis itu sayang-sayangan.
__ADS_1
Hari ini adalah kepulangan mereka ke ibukota, dengan membawa oleh-oleh dari destinasi yang mereka kunjungi. Banyak pengalaman baru yang Amartha dan Satya dapatkan,.
Benar kata Satya, banyak tempat yang cantik yang bisa dikunjungi di negeri ini, bahkan Amartha begitu terpesona dengan tempat-tempat itu dan suatu saat ingin kembali berkunjung kesana, liburan kali ini lebih mendekatkan mereka dengan alam, menikmati kesunyian dan ketenangan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.
Sekarang mereka telah berada di apartemen Satya, mereka terlalu lelah untuk mendapat sambutan dari Sandra maupun Prisha yang hebohnya ngalahin orang yang habis dapet uang kaget, pasti Amartha tidak akan bisa istirahat. Makanya, Satya memilih untuk pulang ke unit apartemennya daripada ke rumah Sandra.
"Akhirnya sampai juga..." ucap Amartha seraya menjatuhkan dirinya ke atas kasur empuk.
"Kamu istirahat dulu ya, Sayang..." ucap Satya seraya menggukung lengan kemeja panjangnya sampai siku.
"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Amartha melihat Satya yang sepertinya akan bersiap untuk keluar. Wanita itu langsung terkesiap, dan langsung bangun.
"Aku ke perusahaan sebentar, ada berkas penting yang harus ditandatangani, kamu tiduran aja, kamu pasti capek banget," ucap Satya yang duduk di samping Amartha
"Emang, kamu nggak capek, Mas?" tanya Amartha yang dijawab senyuman manis Satya.
"Capek, Yank ... tapi ini urgent, aku cuma sebentar kok, dan kalau urusan udah kelar aku langsung pulang lagi, atau aku mau telfonin Prisha buat kesini? buat nemenin kamu," kata Satya yang dijawab gelengan kepala Amartha.
"Nggak usah, Mas ... aku juga mau tiduran aja, lagian ngantuk, aku cuma khawatir kamu kecapean aja, Mas," ucap Amartha yang membuat Satya bahagia, dengan ungkapan kekhawatirannya.
"Cieee yang udah mulai khawatir," Satya mengangkat dagu istrinya dan memberi kecupan kecil.
"Ya udah, aku pergi dulu, jangan sembarangan buka pintu, oke?" kata Satya yang sebenarnya ingin beristirahat, tapi Firlan memintanya untuk datang ke perusahaan, dan tidak bisa ditunda
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau Satya harus pergi meninggalkan istrinya
"Beresin kopernya nanti ajah, kalau aku udah balik kesini," ucap Satya seraya bangkit dari duduknya, dan melihat ponselnya sekilas, lalu mengantonginya kembali.
"Aku akan segera kembali, ingat jangan sembarangan buka pintu," ucap Satya yabg kemudian melangkahkan kakinya keluar dari unitnya.
Setelah Satya meninggalkan apartemennya, Amartha memilih untuk mandi terlebih dahulu, sambil menunggu Satya kembali. Ia ingin sekali berendam air hangat, mungkin itu akan mengusir rasa lelah yang menggelayut dipundak dan kakinya.
Amartha menceburkan dirinya di dalam bathtube yang sudah diisi essential oil dan gelembung-gelembung busa yang memanjakan kulitnya. Wanita itu memejamkan matanya menikmati waktu berendamnya tanpa gangguan sang suami yang kerap minta jatah.
"Ah, nyaman sekali," ucap Amartha spontan saat merasakan sensasi hangat di kulitnya.
"Aku nggak menyangka kalau aku begitu dicintai mas Satya, orang yang sering bikin emosi dulunya, eh sekarang malah jadi suami, emang bener kali ya kata orang, jangan terlalu sebel sama orang, nanti malah jadi cinta." ucap Amartha yang entah bicara pada siapa, wanita itu terkekeh saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Satya.
Setelah berendam kurang sebih 30 menit, Amartha segera beranjak dan membilas tubuhnya di bawah guyuran shower air hangat, yang membuat tubuhnya terasa sangat segar.
Akhirnya, Amartha selesai juga membersihkan diri, wanita itu lantas mengganti pakaiannya dan merapikan rambutnya.
Tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi, membuyarkan lamunan Amartha saat memyisir rambutnya. Ia lupa bahwa Satya berpesan untuk jangan sembarangan membukakakan pintu. Setelah kejadian di pulau Moyo, Satya lebih waspada, dia tidak tau untuk apa orang itu mengawasi gerak-gerik mereka selama disana resort itu. Walaupun dengan pengawalan yang ketat, tetap saja ada rasa khawatir dan cemas.
"Ya ... sebentar," ucap Amartha seraya keluar dari kamar Satya, kamar yang mulai saat ini menjadi kamarnya juga.
Amartha berjalan menuju pintu dan memutar handle pintu.
__ADS_1
Dan telihat seseorang diambang pintu
...----------------...