Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mencurigakan


__ADS_3

"Mas? kamu nggak apa-apa?" Amartha semakin khawatir saat melihat wajah suaminya yang pucat pasi.


"Nggak apa-apa," lirih Satya yang berjalan mendekat ke arah Amartha, ia membuka jasnya dan menaruhnya di atas sofa. Pria itu menggulung kemeja hitamnya sebatas siku.


"Ngomong nggak apa-apa tapi badan kamu berkata sebaliknya, kamu terlalu memforsir pikiran dan badan kamu, Sat!" kata Sandra yang melihat anaknya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Istirahat bentar juga udah baikan, Mam..." Satya mengusap lembut punggung maminya, dan tersenyum tipis.


"Ya udah, Mami pulang dulu ya, Sayang? biar kalian bisa istirahat, kalau butuh apa-apa telfon Mami aja, ya?" ucap Sandra yang berpamitan pada anak dan menantunya


"Makasih ya, Mam!" Satya yang mengantar mami Sandra menuju pintu keluar.


Setelah menutup pintu, Satya berjalan dengan langkah gontai menuju ranjang istrinya.


"Mas? kamu beneran nggak apa-apa?" ucap Amartha lagi yang merasa sangat kasihan melihat pria yang biasanya slengean itu terlihat sangat tak bertenaga.


"Jangan khawatir, Yank ... aku bakalan cepet baikan, aku istirahat sebentar, ya?" ucap Satya.


"Mau kemana?" Amartha bertanya saat Satya akan berjalan menuju sofa.


"Mau tiduran disana, Yank..." kata Satya menunjuk sofa empuk di dekat jendela


"Disini aja," ucap Amartha yang menggeser tubuhnya ke pinggir, memberi tempat suaminya. Satya mengeryitkan dahinya.


"Aku..." Amartha menggantung ucapannya.


"Kenapa?" Satya mendekat pada istrinya.

__ADS_1


"Pengen deket kamu, Mas..." ucap Amartha malu-malu, membuat Satya tak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Kamu jangan jauh-jauh, disini aja!" lanjut Amartha lagi.


Satya akhirnya naik ke atas ranjang merebahkan dirinya disamping istrinya. Mereka berbaring dengan posisi menyamping, pria itu merengkuh tubuh Amartha dari belakang sambil tangannya mengelus dimana calon bayinya berada.


Perlakuan lembut Satya membuat Amartha sangat nyaman, tak butuh waktu lama mereka pun akhirnya memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuh mereka.


Cukup lama mereka terpejam, tangan Satya yang semula terus berkeringat dingin kini perlahan memudar. Satya merasakan mual yang teramat sangat, dan membuat pria itu terbangun, sementara Amartha masih tertidur pulas. Satya berlari ke arah toilet untuk kembali mengeluarkan isi perutnya yang sudah bergejolak.


Pria itu menatap cermin di wastafel, wajahnya terlihat pucat dengan keringat dingin yang mulai bercucuran. Satya membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar, dan mengeringkannya dengan tissue. Satya keluar dari toilet dan merogoh ponsel yang ada di sakunya.


"Lan? kamu bisa kesini? tolong kamu ke rumah mami, tolong ambil koper yang isinya baju ganti buat saya dan Amartha. Oh ya? jangan lupa beli es rujak serut dulu, perut saya lagi nggak enak! pengen yang seger- seger!" ucap Satya ditelepon, sementara Firlan yang baru saja sampai di rumahnya mendadak menjambak rambutnya kesal, harusnya dia tidak mengangkat panggilan dari bosnya.


Baru saja pria itu duduk di sofa, perlahan ada yang mengetuk pintu, dan munculah wajah sosok yang menyerupai wajah Aaraf.


"Jadi, siapa nih yang sakit? kamu atau Amartha?" tanya orang itu sambil meletakkan papperbag diatas meja, ia duduk disamping Satya.


"Nggak ada yang sakit," ucap Satya yang membuat pria dihadapannya mengerutkan keningnya.


"Tapi itu muka pucet banget," ucap sosok yang diyakini adalah kembaran Aaraf.


"Oh, ini cuma karena kecapean aja," sahut Satya sambil terus memperhatikan raut wajah pria berkemeja abu-abu tua itu.


"Terus kalau nggak sakit kenapa kalian disini?" pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Istriku nggak sakit cuma butuh istirahat, lagi hamil muda," ucap Satya yang membuat segurat keterkejutan di wajah pria yang kemudian dengan cepat mengembalikan raut wajahnya menjadi tenang.

__ADS_1


Tidak ada ucapan selamat dari bibir pria itu membuat Satya semakin penasaran dengan sosok yang kini meraih papper bag berwarna coklat diatas meja.


"Oh, ya ... ehm, ini aku bawakan makanan untuk kalian," ucap pria itu yang memberikan paper bag pada Satya.


"Oh, ya ... terima kasih, tapi darimana kamu tau aku ada disini?" kini giliran Satya yang bertanya, sembari meletakkan papper bag itu di sampingnya dan kembali menatap lawan bicaranya.


"Oh, itu dari Firlan! kebetulan aku ketemu dia di lobby, dan dia bilang kalau kamu ada disini," kata pria itu, padahal Satya tahu Firlan tidak ada di kantor, karena asistennya itu ijin menemui Vira yang sedang sakit. Jadi tidak mungkin, orang itu bisa ketemu dengan Firlan di lobby, kecuali jika Firlan mempunyai kemampuan membelah diri.


"Oh, ya? memangnya ada perlu apa mencariku?" Satya bersikap sesantai mungkin, dia akan mengikuti permainan ini.


"Nggak ada yang penting, hanya ingin menanyakan kabar, dan sorry aku terpaksa mengambil kembali investasiku, karena ya ... tau sendiri keadaan ekonomi saat ini sedang carut marut, hufh ... bisa bertahan saja sudah cukup beruntung!" kata pria itu yang dibalas senyuman dari Satya.


"Aku sudah dengar kabar itu, santai aja, karena bagaimanapun ini semua tentang bisnis, semua ada perhitungannya, dan tidak ada seorang pun yang ingin rugi," ucap Satya menohok.


"Gimana? perusahaan kamu yang di jepang?" Satya mengusap perutnya yang sangat tidak tahu sikon, lambungnya kembali bergejolak menimbulkan rasa yang tidak nyaman. Tapi sekuat tenaga Satya mengalihkan pikirannya dari rasa tidak nyaman itu.


"Everything's has controlled, ya pelan-pelan mulai stabil lagi," sahut pria berkemeja abu-abu.


"Oh..." Satya hanya menjawab dengan satu kata, dan rasanya ia ingin kembali mengeluarkan isi lambungnya yang mungkin sekarang hanya akan mengeluarkan cairan pahit, karena sedari siang belum ada makanan yang masuk ke perutnya.


"Sebentar, aku tinggal,"


Dan benar Satya langsung mengeluarkan cairan lambung berwarna kuning yang terasa sangat pahit dan asam. Padahal dia sama sekali tidak punya penyakit lambung, tapi keadaannya saat ini sungguh membuatnya sangat lemas, rasanya ada yang menghantam perutnya dengan sangat kuat, sebelum akhirnya cairan itu keluar lagi dari mulutnya. Tangan kiri pria itu berpegangan pada wastafel, sedangkan tangan satunya memegang perutnya.


Sewaktu Satya sedang di toilet, pria yang masih menjadi Aaraf itu mendekat ke arah wanita yang tengah tertidur, dengan lancang ia menyentuh wajah Amartha. Membuat wanita itu sangat terganggu, namun ia enggan membuka matanya. Dia tetap memejamkan matanya dan tidak membuat gerakan yang mencurigakan.


"Hai cantik!" ucap pria itu yang membuat jantung Amartha berdegub kencang, mendengar sapaan yang sama dengan yang diucapkan oleh penelepon misterius.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2