
"Dok?" Ivanka mengetuk pintu, merasa tidak dikunci wanita itu langsung masuk melihat keadaan Satya yang sudah sangat pucat.
"Keluarlah, Nona ... aaku...!" kata Satya dengan susah payah, pria itu langsung membersihkan mulutnya dan membasuh wajahnya.
"Kita ke rumah sakit, sepertinya anda sedang sakit," ucap Ivanka sembari menarik beberapa lembar tisu yang ada di wastafel dan berniat mengelap wajah Satya namun segera pria itu menghindar.
"Saya bisa sendiri, Nona," ucap Satya yang mengambil beberapa helai tisu dari tempatnya, dan segera mengeringkan wajahnya.
"Kenapa?" Ivanka mengerutkan keningnya heran. Kemudian ia menginjak tempat sampah dan membuang tisu yang dipegangnya. Satya memperlihatkan cincin pernikahan yang tersemat di jarinya.
"Saya hanya menjaga perasaan istri saya," ucap pria itu yang meremas tissue yang telah selesai digunakan yang berakhir ke tempat sampah.
"Maaf saya tidak bermaksud..." ucap Ivanka terhenti.
"Tidak masalah,"
Kemudian Satya keluar dari toilet berbarengan dengan Ivanka yang mengekorinya dari belakang.
"Dokter beneran nggak kenapa-napa?" kata Ivanka yang berjalan di belakang Satya.
"Saya baik- baik saja, ehm! Nona, sebaiknya anda tidak perlu memanggil saya dengan sebutan dokter," ucap Satya yang menghentikan langkahnya dan berbalik menatap lawan bicaranya setelah sampai di meja kerjanya.
"Baiklah, Pak Satya..." ucap Ivanka tersenyum. Matanya tak berpaling dari sosok pria yang berdiri dihadapannya.
Ponsel Satya berdering, menampilkan nama mami Sandra, pria itu langsung mengangkatnya.
"Satya! kamu ada dimana sekarang!" kata Sandra panik.
"Di kantor. Memangnya ada apa, Mam?" ucap Satya khawatir mendengar Sandra begitu panik.
"Amartha hilang! dia tidak ada di sini, mami sudah cari kemana-mana tapi nggak ketemu!" ucap Sandra.
"Apaaa? bagaimana bisa!" Satya membulatkan matanya.
__ADS_1
"Aarggggg!" Satya begitu geram, rahangnya mengeras tangannya mengepal membuat urat-urat ditangannya terlihat menonjol. Satya mengatur nafas, dia merutuki kecerobohannya meninggalkan sang istri tanpa pengawalan yang ketat.
"Hufh, udah, sekarang Mami tenang dulu," ucap Satya mencoba menenangkan Sandra, agar tetap tenang walaupun dia juga khawatir dengan keadaan istrinya.
"Gimana mami bisa tenang! sementara menantu mami sekarang dalam bahaya!"
"Mami lihat dari kamera yang terpasang di rumah sakit, istrimu di bawa seseorang dalam keadaan tidak sadar, seseorang yang menyamar sebagai dokter! sekarang, cepat cari menantu mami! mami nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama calon cucu mami!" ucap Sandra yang segera memutuskan sambungan teleponnya
"Apa ada masalah?" tanya Ivanka setelah Satya mengantongi kembali ponselnya.
Baru Satya akan menjawab pintu segera terbuka dan Firlan menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.
"Tuan! gawat!" seru Firlan dengan nafas yang terengah-engah.
"Saya sudah tau," kata Satya sambil memberi kode.
"Ehm, Nona Ivanka, maaf saya harus pergi sekarang," ucap Satya yang berusaha bersikap tenang walaupun hatinya sedang tidak karuan.
"Saya mengerti, kalau begitu saya permisi," ucap Ivanka yang segera keluar dari ruangan itu, dengan banyak pertanyaan dalam benaknya.
"Saya sudah siapkan helli," ucap Firlan singkat.
"Bukankah saya sudah menyuruh kamu memasang GPS di ponsel baru itu?" ucap Satya setelah berada dalam sebuah kotak besi yang bergerak ke atas.
"Sudah, sesuai perintah anda! GPS itu akan terlacak walaupun dengan jangkauan sinyal yang terendah sekalipun" jelas Firlan.
"Dan saya sudah menemukan titik lokasinya," lanjut Firlan bersamaan dengan pintu lift yang terbuka dan mereka berdua berlari ke arah rooftop.
"Dimana?"
"Anda bisa lihat sendiri, Tuan! kita harus bergerak cepat, karena posisi Nyonya semakin jauh." ucap Firlan menyerahkan ponsel pada Satya, pria itu melihat layar ponsel asistennya sekilas.
Satya begitu geram saat GPS menunjukkan bahwa titik itu sedang bergerak menyebrangi lautan menuju negara tetangga yang berbatasan dengan Indonesia.
__ADS_1
"Aarghh, sial! aku yakin ini ada hubungannya dengan Ashraf!" ujar Satya, yang setengah berlari ke arah rooftop.
"Lan! kerahkan semua orang-orang kita untuk memantau dari udara, awasi kapal-kapal yang melintasi daerah itu!" titah Satya yang menyodorkan ponsel ke tangan asistennya.
"Baik," sahut Firlan yang dengan segera menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Amartha.
Sementara di sebuah kapal.
Seorang wanita sedang tertidur di sebuah kamar yang cukup luas. Amartha mengerjapkan matanya, beradaptasi dengan cahaya lampu yang ada di ruangan itu. Rasa nyeri seperti menghantam kepalanya, namun ia sekuat tenaga untuk kembali tersadar.
Wanita itu masih memakai baju yang terakhir kali dipakainya. Amartha mengingat-ingat apa yang terjadi dengannya, dimana dia sekarang karena ruangan ini begitu asing baginya.
"Awh!" Amartha merasakan nyeri di kepalanya, ia beranjak dari tempat tidur sembari melihat sekelilingnya.
"Dimana aku sekarang? kenapa aku ada disini? bukannya aku di rumah sakit?" Amartha bermonolog dengan dirinya.
Wanita itu nampak ketakutan berada di tempat asing sendirian, pikirannya mengingat-ingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri. Matanya membulat kala mengingat bahwa sebelumnya ia bertemu dengan seseorang dan ia tak ingat lagi apa yang terjadi.
Dia merogoh sakunya, beruntung dia mengantongi sebuah benda pipih untuk menghubungi suaminya. Namun, sayangnya tak ada sinyal.
"Kok ga ada sinyal?" ucap Amartha yang menggoyang-goyangkan ponselnya dengan tangan yang gemetar, dia sangat takut saat ini. Beberapa kali dia mencoba menghubungi suaminya namun gagal.
Amartha mengantongi ponselnya lagi, dan mencoba mencari cara untuk keluar dari ruangan itu, namun pintu kayu berwarna coklat terkunci. Berulang kali dia mengakali handle pintu tapi tidak membuahkan hasil.
"Mas, Mas Satya! dimana kamu, Mas! huhuhu," Amartha berusaha membuka pintu namun hasilnya nihil. Ia melihat ada pintu lain disalah satu sudut ruangan itu.
Amartha mengabaikan rasa nyeri yang menghantam kepalanya, ia berusaha membuka tirai yang menutupi sebuah pintu kaca dekat jendela, dia tak begitu jelas melihatnya karena langit telah berubah menjadi gelap.
"La-laut? apa aku berada diatas kapal?" Amartha berbicara sendiri, dia melihat keadaan sekitar yang memang gelap, dia berusaha membuka pintu kaca itu namun tak juga berhasil. Tenaganya tak cukup kuat untuk membuka paksa pintu yang memang sengaja dikunci.
"Kamu dimana, Mas? aku takut, huhuhuhu, aku takuut!" ucap Amartha disertai isakan, dia terus saja mengelilingi ruangan itu melihat apakah ada celah yang memungkinkan dirinya untuk keluar dari sini.
"Pasti ada cara keluara dari sini!"
__ADS_1
Ditengah ketakutannya, ada seseorang yang sepertinya sedang membuka memutar kunci, dan pintu pun terbuka lebar, Amartha membulatkan matanya saat melihat sosok pria yang berjalan mendekat padanya.
...----------------...