Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mantan dan Suami


__ADS_3

"Kalau menurut kamu, Mas?" akhirnya wanita itu bersuara.


"Lakuin aja sesuai apa kata hati kamu, Yank ... aku kasih kalian berdua untuk ngomong," ucap Satya sambil mengelus punggung tangan istrinya.


"Kamu beneran nggak apa-apa, Mas?" ucap Amartha sambil melihat suaminya yang beberapa kali menyeruput kopinya.


"Nggak apa-apa, Sayang ... kan kamu dateng sama aku, jadi nggak usah khawatir," ucapan Satya membuat Amartha tersenyum.


"Besok aku hubungi dia, sekarang kita tidur, aku udah kenyang nih, kue buatan istri emang nggak ada duanya," ucap Satya yang mengusap perutnya yang sudah kenyang, membuat Amartha tertawa dan membereskan meja.


"Coba aku liat perutnya masih ada kotak-kotaknya atau udah berubah bentuk jadi lingkaran?" ucap Amartha yang membuat Satya mencubit hidung mancung istrinya.


"Wah! mulai nakal ya? sini, sini aku liatin ... kalau perlu semuanya aku liatin," ucap Satya yang membuat Amartha berlari masuk ke kamar. Pria itu pun akhirnya menyusul istrinya yang sudah lebih dulu bersembunyi di balik selimut tebalnya.


Matahari mulai menampakkan dirinya, sebagian manusia masih terlelap, tapi tidak dengan Amartha. Dia sudah berjibaku dengan pekerjaan rumah tangga. Satya sudah berulangkali menawari istrinya untuk mempekerjakan seorang pelayan, namun sang istri tetap bersikeras untuk mengerjakan semuanya sendiri, toh mereka hanya tinggal berdua dan dia akan bosan jika tidak ada yang bisa dikerjakan.


Karena asik dengan urusan wajan dan kompor, Amartha tak menyadari suaminya sudah berada di belakangnya.


"Masak apa, Sayang?" tanya Satya yang masih memakai baju tidurnya.


"Eh, Mas? ini aku cuma bikin nasi goreng seafood sama telor mata sapi," ucap Amartha sembari mematikan kompor.


"Kebetulan aku juga udah laper," Satya malah memeluk istrinya dari belakang.


"Mas tunggu di meja makan nanti aku siapin makanannya," ucap wanita itu sambil mengelus tangan suaminya.


"Kalau kayak gini, aku geraknya susah nih..." ucap Amartha yang menepuk tangan suaminya, pria itu malah memeluknya semakin erat.


"Masss?" ucap Amartha lagi.

__ADS_1


"Iya deh iya," Satya segera melepaskan pelukannya dan berjalan gontai ke arah meja makan. Lalu ia merogoh kantung celana piyamanya dan segera menghubungi Kenan.


"Ken? Amartha setuju buat ketemu sama kamu, aku harap kamu akan mnghormati setiap keputusan yang dia ambil," ucap Satya setelah panggilan itu tersambung pada Kenan.


"Oke, kita ketemu saat jam makan siang, nanti aku share lokasinya," ucap Kenan yang merasa sangat lega karena Amartha masih mau menemui dirinya. Setidaknya pertemuannya ini bisa mengobati rasa rindunya pada mantan istrinya itu.


"Makasih," lanjut Kenan sebelum memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


"Tumben bilang makasih segala," gumam Satya yang mengendikkan bahunya kemudian kembali mengantongi ponselnya.


Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Satya meminta Amartha untuk ikut ke kantor. Dia ingin sekali-kali ditemani saat bekerja, dan kebetulan mereka ada janji makan siang dengan Kenan. Semua mata tertuju pada pemimpin perusahaan yang gagah dengan setelan jas abu-abunya, dengan seorang wanita cantik yang memegang lengannya. Banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya sampai mereka masuk ke dalam kotak besi yang membawanya ke lantai atas.


Amartha menemani suaminya di dalam ruangan yang hanya ada mereka berdua. Amartha melihat suaminya sibuk dengan berkas-berkas penting yang ada di mejanya.


Sedangkan Amartha memilih untuk bermain game yang ada di ponselnya, namun gerak geriknya tak luput dari pandangan Satya.


Pria itu tersenyum saat melihat ekspresi istrinya yang sepertinya sangat seru dengan benda pipih yang sedari tadi di pegangnya.


"Hai, Ken? udah lama?" ucap Satya seraya menjabat tangan Kenan, pria itu tersenyum tipis. Matanya terpaku memandang wanita yang berada disamping Satya.


"Baru aja kok," ucap Kenan singkat.


"Oke, kalian bicaralah, aku akan menunggu disana," kata Satya yang membuat Amartha menatapnya bingung.


"Mas?"


"Nggak apa-apa, kalau udah selesai kamu bisa kasih tau aku, okey?" ucap Satya seraya mengusap lembut pucuk kepala istrinya, membuat Kenan memalingkan wajahnya, hatinya sangat perih saat melihat kemesraan antara Satya dan Amartha.


"Take ur time," ucap Satya seraya menepuk pundak Kenan, membuat pria itu menatapnya.

__ADS_1


"Ehem, duduk, Sa-" Kenan menghentikan ucapannya.


"Maksudku, duduk, Ta..." ucap pria itu lagi mempersilakan Amartha untuk duduk.


"Kamu apa kabar?" Kenan membuka pembicaraan yang terkesan sangat canggung.


"Aku baik, gimana kabar kamu, Mas?" jawab Amartha yang tersenyum tipis pada mantan suaminya.


"Buruk," ucap Kenan yang membuat Amartha menatapnya sendu.


"Ya itulah yang memang aku rasakan, hahaha sudahlah, nggak usah dianggap serius," ucap Kenan yang mencoba mencairkan suasana.


"Apa kamu bahagia hidup dengan Satya?" tanya Kenan yang membuat Amartha membuat segaris senyuman


"Iya, Mas ... aku bahagia, dan aku harap Mas Kenan juga bisa menemukan orang yang bisa mencintai Mas dengan tulus," kata Amartha, Kenan tersenyum getir saat mendengar ucapan yang sebenarnya sangat bagus namun terasa sangat menyakitkan baginya.


"Jadi, aku mau memindahkan aset restoranku atas nama kamu, karena selama pernikahan kita, aku belum pernah memberimu nafkah lahir maupun batin, dan kamu juga nggak mendapatkan apa-apa waktu bercerai denganku karena pernikahan kita yang baru sah secara agama, dan bodohnya aku yang sibuk dengan penderitaanku sendiri, mengabaikan kamu yang hidup dengan susah payah, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf," ucap Kenan sendu, ingin sekali ia menyentuh tangan wanita itu, namun ia tak boleh melakukan itu.


"Nanti pengacaraku yang akan mengurus surat pemindahan aset itu, aku harap kamu mau menerimanya," lanjut Kenan, sementara Amartha masih terdiam.


"Maaf Mas, aku tidak bisa menerima pemberianmu, aku tidak tau soal bisnis, dan itu terlalu berlebihan untuk pernikahan yang bertahan selama dua hari," ucap Amartha yang secara halus menolak atas rencana pemindahan aset restoran yang dimiliki Kenan.


"Walaupun pernikahan kita hanya bertahan dua hari, namun pernikahan tetaplah pernikahan, restoran itu sudah berkembang pesat, kamu hanya perlu memantaunya sesekali," ucap Kenan masih berusaha membujuk Amartha agar mau menerima pemberian darinya. Setidaknya dia ingin memberikan apa yang memang sudah ia rencanakan dulu ketika akan menikah dengan Amartha, ia tidak pernah menyangka pernikahan itu berakhir secepat itu.


"Sekali lagi aku minta maaf, Mas. Aku tidak pantas menerima semua itu, berikanlah untuk istrimu kelak, Mas..." ucap Amartha dengan sangat hati-hati, ia takut Kenan merasa tersinggung dengan ucapannya.


"Baiklah jika kamu menolak restoran itu, aku harap kamu mau menerima uang yang ada di kartu ini, terimalah, Ta..." ucap Kenan yang menyodorkan sebuah kartu beserta sebuah buku kecil.


"Terimalah, aku mohon," ucap Kenan dengan wajah penuh harap.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2