Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
SAH!


__ADS_3

Pagi menjelang, seorang gadis duduk di depan meja riasnya dengan linangan air mata.


"Mbak, jangan nangis terus, nggak suka sama riasannya?" tanya perias pengantin yang menghentikan sapuan bedaknya karena si empunya wajah malah menitikkan air mata.


"Nggak kok," Amartha mencoba tersenyum.


"Udah, jangan nangis lagi, ini nanti nggak kelar-kelar loh ini," ucap si perias sambil melanjutkan merias wajah Amartha.


Setelah selesai dirias, Amartha duduk di pinggir ranjangnya mengenakan kebaya putih. Amartha menautkan kedua telapak tangannya, menatap nanar koper miliknya yang sudah siap dibawa. Hari ini adalah hari pernikahannya yang hanya dihadiri oleh keluarga dan tetangga kanan kiri. Gadis itu nampak cantik dengan rambut yang disanggul, namun sayangnya tak ada senyum yang menghiasi wajah itu.


"Sayang?" ucap Rosa seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Amartha.


"Mah..." Amartha hanya menatap Rosa dengan sendu.


"Mama tau ini berat, tapi mama yakin, kamu akan bahagia ... mama yakin itu," ucap Rosa dengan lembut, tangannya mengelus punggung anaknya dengan lembut.


"Kebaya ini adalah kebaya mama waktu nikah sama papa kamu, dulu mama menikah dengan papa kamu juga tanpa cinta, kami berdua dijodohkan oleh orang tua, tapi karena setiap hari bersama, akhirnya lambat laun kasih sayang tumbuh di hati kami berdua apalagi setelah memiliki kamu, cinta itu tumbuh semakin kuat," Rosa menggenggam tangan Amartha, tangis gadis itu pun pecah dan memeluk Rosa dengan erat.


Rosa mengusap punggung Amartha memberinya kekuatan, kemudian melonggarkan pelukan itu. Rosa menahan tangisnya di depan putri semata wayangnya, ini pun berat baginya, karena bagi Rosa kebahagiaan Amartha adalah segalanya. Namun, ini semua harus ia lakukan, di keselamatan putrinya.


"Suatu saat kamu juga akan menemukan kebahagiaan kamu, Sayang ... mama selalu mendoakanmu, kamu tunggulah disini, mama akan keluar..." Rosa bangkit dari duduknya dan berjalan keluar tak lupa ia menutup pintu kamar Amartha. Rosa menangis di balik pintu kamar putrinya, lalu ia segera menyeka air matanya dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


Terdengar orang-orang sudah berdatangan dan ia dengar jelas suara Satya yang sedang berbincang dengan Rudy. Berulang kali gadis itu menarik nafasnya dalam, mencoba menenangkan hatinya yang rasanya ingin meledak.


Waktu yang dinanti pun telah tiba, seorang pria dengan lantang mengucapkan sebuah kalimat sakral.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Amartha Dina binti Rudy Hartanto dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai!" ucap pria itu dengan sekali tarikan nafas.


"Saaaaaahhhhhh!" ucap para saksi.


Amartha yang sedari tadi terisak lantas memebelalakkan matanya setelah mendengar ijab qobul yang diucapkan pria itu.

__ADS_1


"Nggak mungkin! a-aku pasti salah dengar! iya, aku pasti salah dengar!" gumam Amartha.


Aku harus memastikannya!


Amartha lantas bangkit duduknya dan membuka pintu kamarnya perlahan, mama yang melihat Amartha keluar pun langaung menghampiri putri kesayangannya.


"Sayang..." kata Rosa dengan air mata yang terus saja mengalir dari wanita yang sudah tak lagi muda itu.


"Mah, su-suara itu-"


"Iya Sayang, kamu benar," Rosa mengangguk dan menangkup wajah Amartha.


Gadis itu berjalan cepat menuju ruang tamu, dan netranya menangkap sosok pria yang sangat dicintainya.


"Mas Kenan!" seru Amartha seraya menghentikan langkahnya.


"Amartha..." ucap Kenan lembut dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Pria itu mendekat ke arah gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya.


"Ja-jadi be-benar itu su-suaramu?" kata Amartha terbata-bata. Kenan hanya mampu mengangguk menggenggam tangan Amartha. Gadis itu memandang Rudy, dengan tatapan yang sulit diartikan. Rudy hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian Amartha kembali menatap Kenan.


"Aku disini," sahut Satya yang tiba-tiba muncul di belakang Amartha. Pria itu sangat tampan memakai jas berwarna hitam dan bawahan berwarna senada dengan dasi berwarna maroon.


Amartha yang mendengar suara Satya, lantas melepas genggaman tangan Kenan dan segera memutar tubuhnya. Ia mendapati Satya tersenyum padanya.


"Mas?" Amartha menatap Satya dengan sendu.


"Aku harap dia membahagiakanmu, jika dia sampai menyakitimu akan buat perhitungan dengannya!" ucap Satya dengan wajah seolah sedang mengancam Kenan.


"Nggak akan!" seru Kenan.


Satya tersenyum pada Amartha yang kini tengah memandang Kenan dengan tatapan penuh cinta.

__ADS_1


Andai aku adalah dia, mungkin aku adalah pria yang paling bahagia sekaligus paling beruntung di dunia ini karena bisa memilikimu, berbahagialah Amartha... berbahagialah cintaku.


Satya segera menyeka air mata yang merembes dari sudut matanya, ia tidak mau terlihat sedih di depan gadis yang dicintainya.


Namun, seketika momen haru itu buyar dengan suara teriakan dari luar.


"Kalian berdua tunggu disini!" ucap Satya pada Kenan dan Amartha. Kemudian pria itu berjalan cepat menuju teras. Tak berapa lama, pria itu kembali dengan wajah yang sangat serius.


"Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini! orang suruhan ayahmu mengobrak-abrik tempat ini!" jelas Satya.


"Tapi-" belum selesai Amartha bicara, Satya sudah memotong kalimat gadis itu


"Pergilah..." ucap Satya sambil mengusap pucuk kepala Amartha.


"Cepat! lewat pintu belakang! ambil ini!" ucap Satya sambil memberikan kunci mobilnya.


"Ayo, Ta..."Kenan menggenggam tangan istrinya.


"Tapi..." ucap Amartha seraya menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. Mana mungkin dia akan meninggalkan orangtuanya dalam keadaan seperti ini.


"Aku akan menjaga orangtuamu, percayalah!" Satya meyakinkan Amartha bahwa ia akan membereskan masalah ini.


"Aku akan lari ke depan untuk mengecoh mereka, begitu mereka lengah masuklah ke mobilku, bawa pergi Amartha!" kata Satya yang kini menatap Kenan. Kenan hanya mengangguk.


"Jaga dirimu baik-baik!" Satya menatap Amartha lekat. Amartha tak menyangka Satya akan melakukan ini semua demi dirinya.


Satya segera melepas jas yang ia kenakan lalu menutup sebagian wajahnya dan berlari kedepan meninggalkan Amartha dan Kenan. Pria itu berlari menjadikan dirinya tameng untuk Amartha.


Apapun akan aku lakukan demi melindungimu, pergilah, raih bahagiamu...


...----------------...

__ADS_1


sejujurnya aku sangat sedih menulis part ini, makanya 3 hari nggak update.


ikuti alurnya ya...


__ADS_2