
Seminggu lagi acara pernikahan Satya dan Amartha. Hari ini Amartha pulang ke kampung halamannya, karena acara ijab akan dilaksanakan di rumah wanita itu.
"Kamu hati-hati ya, Sayang ... kalau udah sampai, kabarin mami..." ucap Sandra sembari memeluk Amartha.
"Iya, Mam ... nanti kalau udah sampai, Amartha telfon Mami..." jawab Amartha yang kemudian menjarak tubuh keduanya.
"Ini gara-gara Firlan masih belum ngantor, aku jadi nggak bisa nganterin kamu, Yank..." Satya langsung meraih tubuh calon istrinya dan memeluknya, merasa bersalah karena tidak bisa mengantar calon istrinya.
"Nggak apa-apa, Mas ... kamu jangan terlalu sering lembur, jaga kesehatan ... aku pamit ya, Mas?" Amartha mengusap lembut punggung pria jangkung itu.
"Iya, Sayang ... sebenernya aku nggak bisa loh jauh-jauh dari kamu Sayang..." ucap Satya setelah melepaskan pelukannya.
"Cih, lebay banget jadi cowok, awas minggir..." kata Prisha yang menggeser tubuh abangnya, dan langsung memeluk tubuh calon kakak iparnya.
"Mbak hati-hati di jalan, rumah jadi sepi deh ... nggak ada mbak disini," ucap Prisha yang membuat Amartha tersenyum, gadis lucu yang sering membuatnya tertawa itu mencebikkan bibirnya.
"Iya maksih ya, Sha ... kalau nggak pengen sepi, kamu bisa minta Mas Satya nginep disini," kata Amartha sambil melepaskan pelukan Prisha.
"Ooohhh, tidakkk ... mending ditemenin hantu daripada ditemenin makhluk Tuhan yang satu itu," ucap Prisha yang membuat Satya berdecih.
"Pede banget, lagian siapa juga yang mau nginep disini ketemu monster kecil ini, cuma bikin emosi..." Satya membalas perkataan adiknya yang melirik tidak suka.
"Kalian udah pada gede masih aja ribut, lagian omongan adek kamu aja kamu tanggepin, kamu ngadepin Prisha aja masih suka emosi, gimana nanti punya anak sendiri? kamu lagi Prisha suka banget ngeledek abang kamu, kasian nih calon mantu mami pusing denger ocehan kalian," Sandra tak sadar bahwa dirinya terus saja mengoceh, membuat Amartha tambah pusing mendengarnya.
"Kamu hati-hati ya, Nak ..." Abiseka mengusap pucuk kepala Amartha yang tersenyum pada pria yang masih tampan diusia yang sudah tidak muda lagi.
"Terima kasih, Pih..." ucap Amartha.
"Ya udah, Amartha pamit..." lanjutnya.
Amartha kemudian menaiki mobil berwarna hitam melaju menuju kota B. Sepanjang perjalanan, Amartha hanya melihat keluar jendela. Pikirannya melayang entah kemana, beberapa pesan dari Satya yang mengalihkan perhatiannya, wanita itu tersenyum bahkan terkekeh saat membaca chat dari pria sengklek itu. Amartha dan Satya saling membalas chat, rayuan pulau kelapa modal nyolong dari g**gle pun membuat Amartha tertawa kecil. Pria itu, pria yang dia anggap sangat meresahkan, malah sekarang yang akan menjadi teman hidupnya, teman berbagi suka dan duka dan merajut masa depan bersama.
Amartha tak ingin kembali menoleh ke belakang, dia ingin terus melangkah ke depan, bersama Satya. Membayangkan itu, wanita itu tak sadar menarik segaris senyuman di bibirnya, ia memejamkan matanya sejenak.
Sementara Satya masih bergelut dengan tumpukan berkas-berkas yang harus ditandatanginya. Dimana keberadaan Firlan pun tak diketahuinya sampai saat ini. Satya terus saja mengumpat Firlan dalam hati.
"Liburan kemana sih tuh orang sampe nggak bisa ditelfon, astaga ... sabarrr ... sabar ..." gumam Satya sambil terus membubuhkan tanda tanganya diatas kertas.
Setelah melakukan perjalanan berjam-jam, akhirnya Amartha sampai juga di rumah orangtuanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Amartha sambil mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam, Yaaaaaaa, sebentaaaaaaar," sahut Rosa dari dalam rumah, wanita paruh baya itu terdengar berjalan tergesa-gesa dan membukakakan pintu.
"Amarthaaaaa? Sayang? ayo, masuk ... kamu sama siapa," kata Rosa dengan wajah yang sumringah sementara Amartha hanya tersenyum.
"Ini, kopernya, mau ditaruh dimana, Non?" ucap Damian, setelah menurunkan beberapa koper milik Amartha.
"Makasih, Pak ... nggak apa- apa, taruh disitu aja," kata Amartha.
"Kalau begitu, saya permisi, Non..." ucap Damian sopan.
"Loh, Pak ... duduk dulu, biar saya buatkan minum," kata Rosa mengajak Damian untuk masuk terlebih dahulu, sebelum kembali ke kota J.
"Tidak perlu repot-repot, Nyonya ... permisi..." ucap Damian
"Sekali lagi terima kasih, Pak..." ucap Amartha, kemudian Damian pun melajukan mobil meninggalkan rumah Amartha.
"Mamaaaa, aku kangen," rengek Amartha yang memeluk sang mama.
"Mama juga kangen, masuk yuk..."
"Nanti mama kabarin Papah kalau kamu pulang, biar kalau pulang papa sekalian mampir beli ceker dower kesukaan kamu, sama biar beli tahu gejrot yang deket sekolah kamu itu, sama apa lagi? es boba? es teller?" ucap Rosa sangat bersemangat.
"Emang perut aku segede ember kesayangan Mama?" celetuk Amartha yang membuat Rosa terkekeh mendengarnya.
"Hahahaha, iya juga ya? mama telfon papa dulu, kamu istirahat ya, kamu pasti capek banget ya Sayang ... mama punya udang jumbo di kulkas, nanti mama masakin kamu udang saos padang, kamu suka kan Sayang?" ucap Rosa sambil membelai pipi anaknya.
"Sukaaa banget, aku bersih-bersih badan dulu ya, Mah ... nanti aku nyusul Mama ke belakang.."
"Mama keluar dulu ya, Sayang..." kata Rosa yang kemudian berjalan ke arah dapur.
Saat Rosa sudah menutup pintu dari luar, Amartha mengedarkan pandangannya, kamarnya nampak beraih, sepertinya Rosa selalu membersihkan kamar itu setiap hari, karena tidak ada debu bahkan sekarang sudah terpasang pendingin ruangan, ya kamarnya sedikit berbeda, jauh lebih nyaman tentunya, dulu di kamar Amartha tidak ada kamar mandi, tapi sekarang kamarnya sekarang memiliki kamar mandi dalam. Ternyata setahun lebih ia tidak pulang ke rumah, tapi Amartha tidak mau berlama-lama mengingat kenangan yang menyakitkan, wanita itu memilih untuk menyambar handuk di dalam koper dan langsung melesat ke dalam kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hmmmmmm ... wangiii banget," ucap Amartha saat sudah sampai di dapur.
"Hmmmm udah mau mateng ya, Mah?" tanya Amartha pada Rosa.
__ADS_1
"Iya, nih udah selese ... mama juga udah bikinin nasi kemangi kesukaan kamu, Sayang..." sahut Rosa sembari meletakan masakannya ke dalam piring.
"Ehmmm, sambelnya bikin ngiler," kata Amartha ketika melihat korek di mangkuk kecil.
"Tunggu papa ya? katanya tadi udah di jalan," ucap Rosa sambil menata makanan di meja makan.
"Mah ... banyak yang direnov, ya?" tanya Amartha sambil menarik salah satu kursi dan mendudukkan dirinya.
"Iya, Sayang ... alhamdulillah ada aja rejeki, Sayang..." sahut Rosa.
"Assalamualaikum," seru Rudy yang membuka pintu depan dengan bawaan yang lumayan banyak.
"Waalaikumsalam, Pah ..." jawab keduanya kompak, Rosa langsung mencium punggung tangan Rudy begitu juga dengan Amartha.
"Amartha? papa seneng banget akhirnya kamu pulang juga ke rumah ini, nih papa beliin banyak makanan," kata Rudy mengelus pucuk kepala putrinya. Amartha langsung meraih beberapa kantong berisi makanan.
"Wah banyak banget, ceker dowe, telor gulung, sate aci, apa lagi nih ... tahu gejrot, es boba juga ... es teller ... wah Papah borong jajanan kesukaan aku, makasihhh ya, Paaah..." ucap Amartha saat mengabsen satu persatu makanan yang dibeli Rudy.
"Iya Sayang ... Papa mandi dulu, ya? baru kita makan bareng," kata Rudy yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Sementara Rudy sedang membersihkan tubuhnya, Amartha dan Rosa menempatkan semua jajanan diatas piring. Senyum mengembang di bibir Amartha, Rosa mengelus pucuk kepala Amartha, membuat matanya terasa panas dan sejurus kemudian airmata meluncur bebas ke pipi Rosa, Amartha yang merasakan tetesan airmata yang jatuh di lengannya pun segera memandang Rosa.
"Mah? kok mama nangis?" ucap Amartha menatap mamanya sendu.
"Kenapa, Mah?" tanya Amartha lagi.
"Nggak apa-apa, Sayang ... mama cuma bahagia bisa melihat kamu lagi, Sayang ... maafkan mama yang tidak ada disaat kamu terpuruk, disaat kamu membutuhkan dukungan, Mama-"
"Mah ... udah, Mah ... Amartha nggak bisa kalau liat mama nangis kayak gini, karena tangan aku abis kena sama kuah pedesnya ceker dower, kalau aku hapus air mata Mama bukannya berenti nangis, nanti malah mama tambah kejer nangisnya gara-gara pedes kena cabe," celetuk Amartha membuat Rosa akhirnya tersenyum.
Kamu bisa aja, Sayang ..." ucap Rosa yang kemudian menghapus jejak-jejak airmata di pipinya.
Setelah selesai mandi, Rudy langsung bergabung dengan anak dan istrinya di meja makan, menikmati makanan yang tersaji di meja.
...----------------...
**tetapp semngatttt gaes ....
menghitung hariiiii detik demiii detiiikk**
__ADS_1
ayey..meluncur d hri ke 9, nanti malem aku up lagi