Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kembali menghilang!


__ADS_3

Tangis Amartha pecah dipelukan suaminya. Saat sedang khusyuk dalam kesedihannya, keningnya berkerut pasalnya ada sesuatu yang mengganjal, susah sekali untuk dideskripsikan. Amartha akhirnya menjarak tubuhnya dengan Kenan, dia baru menyadari saat ini dia hanya memakai kemeja putih yang sangat tipis. Pantas saja rasanya semriwing gitu.


"Ehm, ini baju punya-" ucapan Amartha menggantung.


Aih kenapa malah ngomongin soal baju, astaga mulut sama otak nggak sinkron, sih!


"Oh, itu ... itu kemeja punyaku, soalnya semalem kamu pingsan di kamar mandi, masih pake kebaya yang basah kuyup, ya udah karena ribet buka koper jadi ya aku-"


"Aku apa?" Amartha menuntut jawaban suaminya.


"Jadi, aku gantiin pake kemeja punyaku, tenang ... aku gantiin kamu pake insting doang kok!" sahut Kenan sambil tersenyum.


"Nggak ngerti!" Amartha tidak mengerti dengan ucapan Kenan.


"Aku, tutup badan kamu pake selimut, terus cuma tanganku aja yang masuk, mataku merem melek, eh..." ucap Kenan yang membuat Amartha memelototkan matanya tajam.


"Canda, Sayang ... paling juga nggak sengaja nyenggol dikit," Kenan tertawa melihat wajah Amartha yang sudah sangat jengkel dibuatnya.


"Aawwwwwh!" Amartha lantas mencubit pinggang Kenan dengan sangat Kenan.


"Nyenggol tangan maksudnya, Yank ... ish, pagi- pagi aturan dapetnya morning kiss ini malah dapet gigitan plus cubitan," kata Kenan sambil meringis kesakitan.


"Ehm, banyak hal yang harus kita bicarain, tapi ... kamu mandi dulu, karena bajumu itu bikin nggak konsen!" ucap Kenan sembari meraih pinggang istrinya.


Amartha yang menyadari pakaiannya tidak beradab pun langsung melepaskan dirinya dari Kenan dan berlari ke kamar mandi. Kenan hanya terkekeh melihat tingkah istrinya.


Tokk.


Tokk.


Tokk.


"Sayang! buka pintunya!" ucap Kenan sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku lagi mandi!" sahut Amartha setengah berteriak.


"Buka dulu pintunya!" kata Kenan.


"Jangan, Mas! haram!" ucap Amartha yang sedang di bawah guyuran shower.


"Haram? ngomong apa sih dia?" gumam Kenan, menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.


"Sayang! aku mau ambil kemeja aku dulu! aku mau ke bawah sebentar!" Kenan masih berdiri di depan pintu sambil mondar-mandir kaya setrikaan.

__ADS_1


Astaga! iya nih kemeja dia kan aku pake tadi!


"Iya iya, bentar!" ucap Amartha yang langsung melilitkan handuk di tubuhnya. Amartha membuka pintu dan hanya tangannya yang mengulurkan kemeja putih milik Kenan.


Kenan langsung menyambar kemeja itu dan langsung memakainya. Dia menutup pintu dan berjalan keluar hotel. Sebenarnya ia akan membeli pakaian untuknya, karena dia sama sekali tak membawa pakaian ganti, dan sekalian mengambil uang cash di atm terdekat.


Amartha telah menyelesaikan mandinya. Ketika ia akan melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, ia teringat perkataan seseorang.


Kalau mandi itu jangan lupa keringin rambut!


Amartha lantas mengambil hair dryer yang menempel di dinding samping wastafel. Dengan perlahan dia mengeringkan rambut panjangnya.


Ah! kenapa aku jadi inget sama... ah, nggak! nggak! otakku pasti rada-rada mensle! inget kamu tuh udah nikah sama Kenan!


Amartha pun segera mematikan hair dyernya dan keluar dari kamar mandi, ia segera mengganti bajunya dengan jeans dan T-shirt berwarna ungu. Dia menunggu suaminya yang katanya akan pergi sebentar, namun nyatanya sudah berjam-jam pria itu tak kunjung kembali.


Mas Kenan kemana ya? udah jam 3 sore tapi nggak balik-balik!


Amartha semakin cemas manakala langit sudah berubah menjadi oranye. Dia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Ya, seseorang yang selalu ada saat dia membutuhkan.


"Assalamualaikum," sapa Amartha saat panggilannya terhubung dengan Satya.


"Waalaikumsalam," sahut Satya.


"Ehm, itu..." Amartha menggigit bibir bawahnya, ia bingung harus menjelaskan maksud tujuannya menelepon Satya.


"Kenapa? ada yang bisa aku bantu?" Satya menangkap ada sesuatu yang Amartha sembunyikan darinya.


"Aku takut!" ucap Amartha dengan suara bergetar.


"Takut kenapa? ada Kenan, kan?" Satya yang sedang duduk pun langsung berdiri, mendengar suara Amartha yang menyiratkan dia sedang tidak baik-baik saja.


"Tadi, sekitar jam 11 siang dia pamit keluar sebentar, tapi sampai sekarang dia nggak balik-balik! aku takut disini sendirian!" ucap Amartha diiringi isakan yang tak mungkin lagi ia tahan.


"Kamu tenang dulu, aku akan lacak keberadaan Kenan, karena aku sudah pasang GPS di mobil itu, pokoknya kamu tetap disana jangan kemana-mana! aku akan segera datang!" kata Satya mencoba menenangkan Amartha yang sudah sangat ketakutan ditinggal oleh Kenan.


"Makasih, Mas..." Amartha menutup telepon itu.


Gadis itu duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan menutup mukanya dengan telapak tangannya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, dia benar-benar takut saat ini, saat langit benar-benar sudah gelap dan pria yang menjadi suaminya baru satu hari itu tak kunjung menampakkan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satya yang sedang di kediaman orangtuanya lantas, membereskan kopernya dan keluar dari kamarnya. Pria itu menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Sat? kamu mau kemana?" tanya Sandra ketika melihat anaknya turun dari tangga.


"Aku ada urusan penting, Mih!" ucap Satya singkat.


"Mami udah siapin makanan kesukaan kamu loh, Sat!" kata mami dengan mode merajuk, benar-benar tidak sesuai dengan umurnya, ehem yang sudah tidak muda lagi tentunya.


"Lain kali aja ya, Mih! bilang juga ke papi, untuk tawaran yang satu itu, nanti Satya pikirin lagi kalau udah ketemu wangsit!" kata Satya sambil tertawa kecil.


"Ish! kamu ini ada-ada ajah! Satya anak mami yang ganteng ... nanti kalau kesini lagi, jangan cuma bawa diri tapi bawa calon mantu buat mami!" ucap Sandra sambil menepuk bahu Satya.


"Mamiiiii, ujung-ujungnya kesitu lagi, kesitu lagi! Satya pamit, assalamualaikum!" ucap Satya yang kemudian meraih tangan sang mami dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dan melesat pergi secepat kilat, sebelum petuah-petuah aneh berdengung di telinganya.


"Waalaikumsalam, inget Sat! pacaran jangan lupa!" teriak Sandra, saat melihat anaknya sudah ngibrit duluan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satya menelepon Firlan untuk mengecek keberadaan Kenan. Pria itu saat ini sedang berada di bandara, ia akan terbang menuju kota Y untuk menemui Amartha yang pastinya sedang sangat ketakutan, berada di kota orang sendirian.


"Halo, Lan?" ucap Satya saat dia sudah tersambung dengan Firlan, orang kepercayaan ayahnya yang sekarang sering direpotkan dengan urusan cinta anak dari bosnya.


"Posisi terakhir mobil itu ada di kota J, menurut info dia menemui Damar Brawijaya di rumah sakit karena ayahnya sedang kritis," jelas Firlan.


"******, bisa-bisanya dia ninggalin istrinya gitu aja! brengs*k!" umpat Satya yang membuat Firlan menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Ehm, dan..." Firlan menggantung perkataannya, dia ragu untuk menyampaikan berita selanjutnya pada Satya.


"Dan apa, Lan? lo kalo ngomong yang jelas!" omel Satya yang membuat Firlan mengusap dadanya karena kaget mendengar teriakan dari Satya.


"Fotonya sudah saya kirim, sebaiknya anda melihatnya sendiri," Firlan cari aman, dia lebih baik mengirim bukti foto saja pada Satya dari pada harus mendengar teriakan anak dari Abiseka Ganendra.


"Lama-lama nggak jelas kamu, Lan!" Satya mendengus kesal.


"Seperti anda, tentunya..." sahut Firlan dengan santai. Jika memilih dia lebih suka mendampingi Abiseka daripada anaknya yang seperti singa garong.


"Aiiiishhhhh!" gerutu Satya seraya mematikan sambungan teleponnya dengan Firlan, asisten gesrek.


Satya lantas membuka sebuah aplikasi chat berwarna hijau, dan membuka foto yang dikirimkan oleh Firlan. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal, memperlihatkan otot-ototnya yang kini menegang.


"Brengs*k!" umpat Satya saat melihat sebuah foto tempampang nyata di ponselnya.


...----------------...


Kira-kira foto apa ya yang bikin Satya semarah itu???? ehem...kita cari tau di episode selanjutnya ya....

__ADS_1


__ADS_2