Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
MODUS


__ADS_3

"Hooeeeekkh, hoeeeeeeeekkkk..." Satya masih mengeluarkan makanan dari perutnya, membayangkan buah durian yang sudah menjelma menjadi keripik, membuat sensasi mual yang luar biasa mengaduk- aduk lambungnya, kepalanya mulai terasa pusing.


"Prishaaaa! kenapa kamu nggak bilang ini keripik durian," teriak pria itu dari dalam kamar mandi.


"Dasar adek durhakaaa! awasss aja, nanti abang bales kamu!" Satya mengumpat adiknya ditengah penderitannya kini.


"Dih, marah-marah ... salah sendiri langsung nyomot! lagian doyan juga, kan?" gumam Prisha saat mendengar sayup-sayup suara Satya mengumpatnya dari dalam kamar mandi.


"Wooooeeekkkk ... hoooweeekk," Satya memegang perutnya yang entah sudah berapa kali mengeluarkan isinya.


"Mas Satya kenapa, Sha?" tanya Amartha berjalan mendekati Prisha karena mendengar sekilas Satya yang treakan.


"Eh, Mami udah pulang ... kapan datengnya, Mam? maaf tadi Amartha pergi sama mas Satya, jadi tau kalau Mami udah pulang ke rumah, Mas Satya kenapa Mam?" Amartha menyalami tangan Sandra.


"Ngeluarin isi perut, Sayang ... tuh di kamar mandi deket dapur," jelas Sandra yang membuat Amartha mengingat-ingat apa yang mereka makan sewaktu di mall, Amartha mengira kalau Satya keracunan makanan.


"Salah makan? atau jangan-jangan Mas Satya keracunan makanan? tapi perasaan tadi nggak makan yang aneh-aneh kok," ucap Amartha dengan raut wajah yang cemas.


"Karma karena nyomot makanan orang mbak, nih ... dia nyomot ini ..." ucap Prisha menunjuk toples berwarna oranye yang tergeletak diatas meja, Amartha segera meraih toples itu dan melihat isi didalamnya.


"Keripik?" Amartha mengerutkan keningnya, ia menutup toples itu lalu menaruhnya kembali.


"Masalahnya ini keripik durian mbak," kata Prisha yang belum cukup menjelaskan kenapa bisa keripik itu membuat Satya mual-mual.


"Satya nggak suka durian, Sayang ... jangankan makan buahnya, nyium baunya durian aja dia bisa mual-mual, pusing ya segala macam lah, padahal kita semua paling suka durian, apalagi papinya Satya, cuma si sableng itu yang nggak doyan," Sandra menjelaskan pada calon menantunya.


"Ya udah Amartha coba liat mas Satya dulu ya Mam?" kata Amartha yang diangguki oleh Sandra.


Amartha berjalan ke arah kamar mandi dan mengetuk pintunya.


"Mas? kamu nggak apa- apa?" seru Amartha.


"Nggak," sahut Satya yang sepertinya sudah lemas.


"Ahhh, howeeekkk..." suara Satya yang masih mengeluarkan sisa- sisa keripik buah durian.


"Mual banget emang?" tanya Amartha dari balik pintu.


"Banget, Yank..." sahut Satya yang kemudian membuka pintu kamar mandi, menampilkan wajah pias Satya.

__ADS_1


"Udah?" tanya Amartha yang dijawab anggukan oleh Satya.


"Ya udah aku anterin ke atas, ya?" Amartha merasa kasihan melihat Satya yang tak berdaya. Kemudian Amartha memapah Satya berjalan.


"Cih ... manja banget," Prisha berdecih saat dua sejoli itu melewatinya, sementara Satya melirih sinis adiknya tanpa berniat membalas ucapan monster kecil itu.


"Lebaaaayy..." lanjut gadis itu ketika Satya mulai menjauh.


"Brisiiikkk!" seru pria itu yang akhirnya tidak tahan untuk tidak bersuara, Amartha hanya bisa menghela nafasnya, melihat tingkah kakak beradik itu.


Setelah menaiki satu persatu anak tangga, akhirnya mereka sampai di kamar Satya, Amartha membantu pria itu untuk rebahan di ranjangnya dan menutupi setengah tubuh Satya dengan selimut.


"Tiduran dulu, aku buatin air teh, ya? biar mualnya berkurang," kata Amartha seraya mengelus punggung tangan Satya


"Kamu disini aja, Yank..." rengek Satya tidak mau ditinggal, ia menggenggam tangan Amartha saat wanita itu mulai beranjak.


"Aku buatin teh dulu, nanti aku balik kesini lagi," Amartha menatap pria yang sedang terbaring lemah itu.


"Tapi jangan lama-lama, ya? aku maunya ditemenin kamu," ucap Satya sambil mencebikkan bibirnya, meminta Amartha untuk memberinya perhatian lebih.


"Iyaaa, Mas..." kata Amartha yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Satya menuju dapur.


"Minum dulu, Mas..." ucap Amartha seraya membantu pria itu untuk duduk, kemudian Amartha mengambil cangkir yang ia taruh diatas nakas, Satya mulai menyesapnya, perlahan rasa hangat menjalar di kerongkongannya hingga ke lambungnya, wajahnya masih terlihat pucat. Lalu, Satya memberikan lagi cangkir yang sudah kosong pada Amartha.


"Udah? udah anget perutnya?" tanya Amartha seraya menaruh kembali cangkir diatas nakas, wanita yang duduk ditepian ranjang itu, menggenggam tangan Satya.


"Aku baru tahu kamu nggak suka durian, Mas ... padahal aku suka banget tuh makan durian, apalagi kalau dibikin pancake durian,"


"Ngebayanginnya aja aku udah puyeng, Yank..." ucap Satya lemas sementara Amartha terkekeh mendengar jawaban pria itu.


"Ya udah aku keluar, biar kamu bisa istirahat," kata Amartha yang akan beranjak dari duduknya, namun dengan segera Satya merengek minta ditemani.


"Kamu disini aja, Yank..."


"Nggak enak sama mami, Mas..." kata Amartha sambil menggigit bibir bawahnya, membuat Satya juga ingin mencicipinya.


"Tapi aku maunya kamu disini, Yank ... kamu nggak kasian sama aku?" Satya mengiba pada calon makmumnya, supaya mau menemaninya, biasanya juga dia tidak semanja ini kalau sakit.


"Justru karena aku kasian, makanya aku mau keluar biar kamu bisa tidur..." Amartha menjelaskan dengan lembut, tidak mungkin dia ngegas saat pria itu tergolek lemah begini. Satya terus menatapnya, menyiratkan bahwa dirinya tidak berdaya dan membutuhkan Amartha disampingnya.

__ADS_1


"Ya udah, aku temenin deh," Amartha akhirnya menyerah.


"Yank cium..." ucap Satya manja, membuat Amartha memutar bola matanya jengah.


Cup


"Udah, ya ... udah tuh..." Amartha mengecup pipi kanan Satya sekilas.


"Bukan disitu, tapi disini," Satya menunjuk bibirnya, membuat Amartha berpikir sejenak.


"Ehm, tapi bentar aja ya?" Amartha bernego dengan pria itu. Seulas senyum mengembang di bibir pria itu, walaupun sebentar tidak apalah daripada tidak sama sekali. Lumayan juga sakit, membuat dia bisa modus dikit, pikir Satya.


"Iya Sayang..." ucap Satya selembut mungkin, membuat Amartha bergidig ngeri.


"Ya udah, Mas merem..." ucap Amartha malu-malu.


"Nggak mau," sahut Satya seraya menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, aku juga nggak mau, kamu cium aja tuh tembok biar jontor sekalian," ucap Amartha yang membuat Satya akhirnya menuruti kemauan sang wanita.


"Ya udah ... iya,iya..." Satya kemudian memejamkan matanya, sementara Amartha jadi bingung sendiri dibuatnya, antara maju dan mundur, jantungnya berdegub kencang, ia menelan salivanya dengan susah payah, Amartha akhirnya mulai mendekatkan wajahnya perlahan-lahan.


Lalu sesaat kemudian...


Ceklek!


"Abang! kata mami-" seru Prisha yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar abangnya, seketika Amartha dan Satya kompak menoleh ke arah pintu.


"Prishaaaaaaaaaaaaaaa!" teriak Satya kesal.


Sementara Prisha yang mendengar teriakan Satya langsung menutup pintu dan kabur secepatnya.


Yassalaaaammm, gagal lagi untuk yang kesekian kalinya, sementara Amartha terkekeh melihat wajah Satya yang kesal bukan main dan uring-uringan nggak jelas.


...----------------...


kan kan sore udh up lagi..wkwkwkwk


awalnya sulit lama-lama jadi terbiasa double up, hari ke 8 gaaaeeeesss...

__ADS_1


__ADS_2