Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Yang Jelas Bukan Keselek Biji Salak


__ADS_3

Baru saja Vira akan melangkah ke ruang laundry, terdengar bel yang dipencet berulang-ulang.


"Ini pasti kurir," gumam Vira. Ia pun berjalan untuk membuka pintu. Benar saja, seseorang dari jasa antar makanan yang berdiri di depan pintu.


"Dengan Nona Vira?" tanya pria itu memastikan


"Iya betul," jawab Vira.


"Ini pesanan dimsumnya, Nona..." kata pria itu sambil menyerahkan beberapa box makanan dalam satu kantong plastik berwarna bening.


"Berapa, Mas?" tanya Vira memastikan bahwa makanannya sudah dibayar atau belum.


"Sudah dibayar, Nona..." kata pria itu. Vira merogoh sakunya, mengeluarkan selembar uang sebagai tips untuk si kurir.


"Terima kasih," kata pria itu setelah menerima uang dari Vira.


"Permisi, Nona..." lanjut kurir pengantar makanan sebelum pergi.


Vira pun menutup pintu dan meletakkan bungkusan itu di meja makan, dan ia melenggang menuju ruang laundry.


Wanita itu mengikat rambutnya dengan karet rambut yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia mengambil piring lalu menata berbagai macam dimsum. Vira menaruh saos cocolannya di tempat terpisah.


"Kamu pesen makanan dari luar?" tanya Ricko yang tiba-tiba saja muncul di belakang Vira.


"Astaga, ngagetin banget deh, Kakak! untung jantung aku baik-baik aja," Vira mengelus dadanya, seraya mengatur nafas.


"Hahahaha, maaf! ibu sama bapak mana?" tanya Ricko yang tak melihat Raharjo dan Dewi.


"Ada, sebentar lagi juga keluar," ucap Vira sambil mencomot dimsum dengan tangannya. Namun dengan segera Ricko meraih tangan itu dan mengarahkan dimsum ke mulutnya. Vira hanya melongo.


"Laper!" ucap Ricko, Vira hanya kedap kedip melihat dimsum yang gagal masuk ke mulutnya.


"Kamu nggak bilang pengen dimsum, aku kan bisa beliin sebelum pulang ke rumah," ucap Ricko.


"Ini juga dipesenin Firlan!" celetuk Vira.


"Uhuk!" Ricko terbatuk. Vira langsung mengambilkan air untuk Ricko.


"Minum! tenang ini air galon bukan air kobokan!" seloroh Vira sambil membantu Ricko untuk minum.


"Uhukk, ada-ada aja segala air kobokan disebut," Ricko masih terbatuk.

__ADS_1


"Kenapa Ricko, Vir?" tanya Raharjo yang melihat Vira menepuk punggung Ricko.


"Keselek, Paa..." jawab Vira.


"Keselek apa? makannya kalau makan jangan lupa bismillah dulu biar setannya nggak pada ngikut," kata Raharjo duduk di salah satu kursi. Sedangkan Vira dan Ricko masih berdiri.


"Yang jelas bukan keselek biji salak, Paa ... apalagi biji duren!" seloroh Vira, Ricko makin terbatuk saja mendengar ucapan Vira.


"Minum lagi," kata Vira menyodorkan minuman untuk Ricko. Dewi dan Raharjo hanya tersenyum melihat kedekatan antara Ricko dan Vira.


Awalnya mereka berharap jika keduanya bisa bersama, namun setelah mengetahui bahwa Vira telah memiliki kekasih, Raharjo maupun Dewi membuang jauh-jauh pikiran itu. Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan putrinya, dan Firlan sempat mengatakan jika ia serius menjalin hubungan dengan Vira.


Ricko pun akhirnya duduk, begitu juga dengan Vira.


"Aku ambilkan nasinya ya?" kata Vira pada Ricko. Pria itu mengangguk.


Mereka pun menikmati makan siang bersama. Vira heran dengan tatapan orangtuanya, yang dari tadi senyam-senyum sambil memperhatikan dirinya dan Ricko yang duduk berdampingan.


"Papa sudah, Ma..." kata Raharjo pada Dewi. Dewi segera membereskan piring bekas makan suaminya.


"Ricko, keadaan saya sudah lebih baik, saya tidak mau merepotkan kamu terus," kata Raharjo.


"Bapak sama ibu sama sekali tidak merepotkan saya. Saya malah senang disini ada Ibu dan Bapak, saya seperti mempunyai keluarga lagi," kata Ricko sendu.


"Hatimu sungguh mulia sekali, Nak..." ucap Dewi yang menatap Ricko.


"Bapak tinggalah disini sampai Bapak sembuh. Saya sama sekali tidak merasa direpotkan," kata Ricko.


"Biarlah orangtuamu sementara tinggal disini, Vira..." Ricko menoleh pada Vira. Wanita itu hanya bisa mengangguk dan tersenyum tipis.


Setelah perbincangan itu, Raharjo kembali ke kamar dengan dipapah Dewi. Sementara Vira kebagian beres-beres meja makan. Dia langsung membawa tumpukan piring ke wastafel. Sedangkan Ricko berjalan ke ruang tivi sambil matanya melirik ke arah dapur.


"Vira?" Ricko memanggil saat melihat Vira berjalan menuju kamarnya.


"Ya, Kak..."


"Kita bisa bicara sebentar?" tanya Ricko. Vira mengangguk pelan.


"Ikut aku," ujar pria itu yang berjalan menuju ruang kerjanya. Vira mengikuti Ricko dari belakang, dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan pria itu.


"Duduk, Vir..." Ricko mengajak Vira untuk duduk di sofa. Ruangan itu tidak begitu luas, namun sangat nyaman. Vira baru pertama kali masuk ke ruang kerja Ricko.

__ADS_1


"Masih marahan?" tanya Ricko.


"Sama?" Vira mengernyit.


"Pacar kamu," ucap Ricko, Vira tersenyum canggung.


"Aku tau kalau Firlan itu tipe pacar yang cemburuan," ucap Ricko sambil tertawa kecil saat mengingat tingkah konyol Firlan.


"Iya emang, dia tuh begitu!" kata Vira, padahal dia pun akan bersikap sama jika Firlan dekat dengan wanita lain. Sesaat krik krik melanda keduanya.


"Maaf, tapi aku mau menanyakan hal lain, boleh?" tanya Ricko memecah keheningan.


"Tanya aja..." jawab Vira.


"Kamu .. emh, kamu sekarang..." Ricko ragu mengucapkannya, dia takut Vira tersinggung.


"Pengangguran," serobot Vira.


"Maaf, aku bukan bermaksud..."


"It's okay, Kak! aku sudah resign dari pekerjaaanku. Rencananya aku mau ngerawat papa dan balik ke kampung halaman," kata Vira. Ricko masih terdiam, sementara Vira menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali bicara.


"Mungkin aku akan meneruskan usaha papa. Nggak mungkin juga papa harus bekerja seperti dulu, sayang juga kalau usaha yang sudah dibangun selama belasan tahun harus gulung tikar begitu aja," ucap Vira.


"Kamu anak yang baik," kata Ricko, Vira tersenyum.


"Nggak sebaik Kak Ricko," seloroh Vira. Dia tersenyum simpul pada satu sosok pria yang bagaikan jelmaan malaikat bagi keluarganya.


"Aku nggak enak selalu ngerepotin Kakak. Dan nggak mungkin kita berlama-lama disini, Kakak udah terlalu banyak membantu orangtuaku," ucap wanita itu menatap kedua manik Ricko. Ia melihat keteduhan di mata pria itu.


"Tapi aku nggak merasa seperti itu loh, Vira ... aku tuh seneng banget karena aku nggak kesepian lagi, aku seperti punya keluarga lengkap. Udah lama aku nggak ngerasain ini," ujar Ricko.


"Lagian, Pak Jojo masih harus rutin kontrol ke rumah sakit. Coba kamu pikirin dan pertimbangkan semua itu," kata Ricko.


"Untuk usaha papa kamu, aku udah suruh orang buat ngurus. Tenang aja, usaha papa kamu nggak akan bangkrut, nggak usah mikirin itu dulu. Karena sekarang yang terpenting kesehatan papa kamu," ucap Ricko.


"Tapi aku disini numpang makan tidur, yang ada jadi beban hidup Kakak..." kata Ricko.


"Ya nggak lah! apalagi kalau kamu jadi istriku," kata Ricko yang membuat Vira terkejut dengan ucapan pria itu.


"Maksudnya?" Vira mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2