Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Bos Bahagia, Asisten Menderita


__ADS_3

"Sayang, kami pamit pulang ya,?" ucap Rosa seraya bangkit dari kursinya diikuti oleh Rudy. Amartha dan Satya pun ikut berdiri, mendekat ke arah Rudy dan Satya.


"Mama pulang naik apa?" tanya Amartha yang kini memegang tangan sang mama.


"Naik kereta, Sayang..." jawab Rosa sambil mengelus punggung tangan putrinya.


"Bagaimana kalau diantar mobil saya saja, Tante...?" ucap Satya.


"Nanti ngerepotin kamu, Nak..." kata Rudy menanggapi tawaran Satya.


"Nggak sama sekali, Om..." sahut pria yang kini menjadi calon suami dari putri tunggalnya.


"Baiklah, kalau begitu ... Amartha, jaga diri kamu baik-baik, papa dan mama pulang..." ucap Rudy yang tersenyum ke arah Satya. Rudy berharap Satya bisa membahagiakan Amartha. dia berharap pria itu bisa menjadi pelindung bagi putrinya.


Rudy dan Rosa pun akhirnya menerima tawaran Satya, Satya mempersilahkan kedua orangtua Amartha untuk berjalan mengikutinya menuju pintu keluar.


"Iya, Mah ... Pah ... hati-hati di jalan," ucap Amartha pada orangtuanya saat mereka sudah di depan mobil hitam Al***rd.


"Hati-hati, Om ... Tante..." ucap Satya melambaikan tangannya saat Rudy dan Rosa mendudukkan dirinya di kursi penumpang di bagian belakang.


Rudy dan Rosa menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya pada putri semata wayangnya dan calon menantunya.


Amartha menatap sendu ke arah mobil yang kini sudah hilang dari pandangannya.


"Hey, jangan bengong!" ucap Satya mengagetkan Amartha.


"Bisa nggak sih kalau jangan ngagetin!" ucap Amartha seraya mengelus dadanya yang rasanya mau copot.


"Ishhh ... sama calon suami jangan galak-galak!" ucap Satya yang membuat Amartha menepuk jidatnya pelan.


Tak bisakah semenit saja mereka bisa akur? Amartha menghembuskan nafasnya pelan, sangat pelan, mencoba mengatur emosinya melihat ekspresi menyebalkan dari orang yang beberapa saat yang lalu menyatakan cinta padanya.


"Ta..." rengek Satya pada Amartha yang memalingkan wajahnya.


"Ta..." ulang Satya membuat Amartha mendengus kesal.


"Ih, apa sih?" sahut Amartha seraya menoleh ke arah Satya.


"Ta? ehem ... makasih ya kamu udah menerima lamaranku," ucap Satya sambil menggenggam tangan Amartha.

__ADS_1


"Hem ... iya," jawab Amartha mengiyakan ucapan Satya.


"Itu karena berlian ternyata lebih menarik daripada sebuket bunga," lanjutnya dengan berbisik di telinga pria yang di sampingnya dan tersenyum penuh arti.


"Maksudnya?" Satya mengerutkan keningnya, pura-pura tak mengerti makna dari ucapan calon istrinya itu.


"Kamu akan menyesal telah memilihku sebagai istrimu, Tuan Satya ... karena aku akan menghabiskan uangmu," ucap Amartha.


"Tidak masalah, lakukan saja!" sahut Satya.


"Ih, harusnya kamu marah dapet calon istri yang matre! bukannya malah kayak gitu reaksinya!" Amartha mencebikkan bibirnya.


"Hahahahha, uangku sangat banyak, Sayang ... dan buatku uang tidak terlalu penting, jika dibandingkan dengan dirimu," ucap Satya sambil menowel dagu Amartha.


"Ish, jangan nowal nowel sembarangan, nggak enak dilihat orang!" ucap Amartha sambil melihat ke arah Satya.


"Berarti kalau nggak ada orang, boleh ya?" bisik Satya yang membuat bulu kuduknya merinding, seperti habis bertemu syaithonirrojim.


"Kayaknya kalau aku dekat kamu bisa bikin aku stres, kaya Firlan!" ucap Amartha yang diiiringi tawa dari Satya.


Yaaa Allah, bisa-bisanya aku nerima ini orang! apakah ada yang salah dengan otakku saat ini, siapapun tolong akuuuuuuu!😭


Ditempat lain, Firlan telah menyelesaikan tugasnya. Pria itu duduk di salah satu kursi di ruangan yang beberapa jam lalu menjadi tempat wisuda Amartha. Firlan menghela nafas panjang, sungguh sangat melelahkan. Sementara, di sampingnya kini ada seorang gadis yang memijit kakinya, pegal karena mengekori Firlan bolak balik kayak setrikaan.


"Bang ... laper..." ucap Vira dengan muka yang memelas.


"Lah, dari tadi ngapain?" Fian bertanya dengan wajah juteknya.


"Tadi, aku nggak dapet," Vira beralasan.


"Nggak mungkin!" ucap Firlan yang menyangkal ucapan Vira.


"Heheheh, iya tadi aku kasih temenku, katanya buat adeknya di rumah," kata Vira sambil nyengil kuda.


"Disana, ada kedai bakso," lanjut gadis itu, sambil jarinya menunjuk ke sembarang arah.


"Terus?" Firlan menanggapi gadis itu dengab malas.


"Makan disana yuk, bang! seger nih sore-sore makan bakso," ajak Vira dengan mata yang penuh harap.

__ADS_1


Sebenarnya sedari tadi ia juga sangat lapar, ia melirik wajah gadis yang kini sedang memasang tampang merana.


"Ck! tapi nggak makan bakso, ya? berlemak, aku nggak suka! makan steak aja," Firlan akhirnya menyerah, kali ini ia menuruti keinginan Vira. gadis yang selama setahun ini membantunya untuk melaporkan semua kegiatan Amartha.


"Makan apapun asal sama abang!" ucap Vira dengan sangat bersemangat.


Vira memang kesengsem dengan ketampanan Firlan. Sejak pertama bertemu dengan pria bertubuh sawah 6 petak itu, ehem sebenernya Vira belum mengecek secara langsung sih! Tapi dilihat dada bidang Firlan, yang ingin membuat Vira nemplok, kemungkinannya 90% lah, ada kotak- kotak di perut Firlan.


Firlan mengetahui Vira merupakan satu-satunya sahabat Amartha dari orang suruhannya yang bertugas memantau keadaan Amartha. Untuk lebih memudahlan segala sesuatunya, Firlan memilih untuk bertemu dengan Vira dan meminta bantuan secara langsung, memberikan informasi apa saja yang dia butuhkan.


Vira tak percaya begitu saja, sampai akhirnya Satya sendiri yang menghubunginya, dan mengatakan semua yang dia lakukan untuk memastikan keselamatan Amartha, dan memberikan apa saja yang Amartha butuhkan termasuk biaya kuliahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas Kenan!" teriak seorang gadis yang masuk tanpa mengetuk pintu dahulu.


"Maaf Tuan, Nona Sinta yang memaksa untuk masuk," ucap Soraya sekretaris Kenan


Kenan hanya menganggukkan kepalanya, dan memberi kode Soraya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Soraya lantas menutup pintu ruangan Kenan, sedangkan Sinta sudah mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ada apa?" tanya Kenan dingin.


"Mas, hari ini kan aku harus kontrol ke dokter, Mas mau yah nemenin aku?"


"Saya lagi sibuk Sinta, dan sepertinya keadaanmu sudah lebih baik dari sebelumnya, mungkin lain kali, ya?" ucap Kenan sambil mengecek berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.


"Tapi aku maunya sama Mas Kenan! titik!" ucap Sinta yang kemudian berjalan dan melepas kacamata yang sedang Kenan kenakan, dan dengan tidak tahu malunya mengambil berkas yang ada di tangan Satya dan meletakkannya sembarang.


"Sinta, belajarlah untuk mengerti orang lain!" Kenan sudah diambang batas kesabarannya.


"Tapi kamu itu bukan orang lain, Mas! kamu itu calon suamiku!" kata Sinta dengan nada meninggi.


"Siapa bilang?" ucap Kenan dengan santai, ia mengambil kacamata yang ada di tangan Sinta dan kembali mengecek berkas-berkas penting yang ada dihadapannya.


"Mas! kamu, Argggh!" Sinta mengerang frustasi.


Sementara Sinta pergi dari ruangan Kenan dengan perasaan marah, ia menutup pintu dengan kasar. Kenan tak peduli dengan apa yang dilakukan gadis itu. Ia terdiam sesaat mengingat seseorang yang sangat ia rindukan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2