Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Tergelincir


__ADS_3

"Kemarilah, kita akan segera pergi sebelum Satya menemukan kita. Kamu ikut denganku atau aku habisi nyawa suamimu itu!" Ashraf mengancam, agar Amartha mau menuruti keinginannya, sedangkan wanita itu terus saja naik ke atas besi, dia tidak mau Ashraf menangkapnya.


"Aku lebih baik terjun ke bawah menjadi santapan para monster di dalam lautan, daripada aku harus menghianati pernikahanku dengan Mas Satya," kata Amartha berteriak pada pria yang kini selangkah demi selangkah mendekatinya.


"Berhenti aku bilang! jangan bodoh! kemarilah," seru Ashraf yang mengulurkan tangannya, berharap bisa menyentuh wanita yang kini tengah melepas alas kaki yang dikenakannya, dan menaiki anakan besi yang melengkung mirip pagar. Tubuhnya kini berada di luar kapal, hanya tangan dan kakinya yang bertumpuan pada besi.


"Jangan mendekat! tetap ditempatmu! jangan mendekat!" teriak Amartha dengan sesekali melihat ke bawah, dengan nafas yang memburu.


"Aku mencintaimu, aku tidak akan bersikap kasar, kamu hanya perlu bersamaku, aku bisa memberikanmu segalanya, kita akan naik kapal itu, ayolah ikut bersamaku, aku akan membahagiakanmu, aku janji," ucap Ashraf menunjuk sebuah kapal yang tak jauh dari kapal miliknya, ia memang sudah menyiapkan dua kapal mengantisipasi hal buruk yang terjadi. Ashraf berpikir dia harus secepatnya berpindah tempat sebelum Satya muncul dan mengacaukan rencananya.


"Jangan kamu kira aku wanita yang haus akan harta, jangan mendekat! satu langkah maju, aku tak segan- segan untuk terjun dari sini!" ucap Amartha dengan berapi-api, lalu ia melihat ke bawah, melihat air laut yang sudah pasti sangat dalam.


"Oke, oke ... kemarilah, ingat ada nyawa lain dalam perutmu itu, jangan bodoh, ayo kemarilah, Honey! kamu bisa jatuh," ucap Ashraf yang segera berlari ke arah Amartha, namun dari arah belakang Satya yang melihat Ashraf berada sangat dekat dengan Amartha yang sedang berdiri diujung kapal, berpikir pria itu berusaha mencelakai istrinya.


Ia pun segera berlari dan mencengkram baju bagian belakang Ashraf dan menariknya, dia langsung menghajar Ashraf tanpa ampun.


"Dasar sialan! kamu apakan istriku! hah!" Satya dengan membabi-buta menghajar Ashraf, cairan kental berwarna merah mengalih dari sudut bibir dan hidung pria itu. Bukannya merasa kesakitan pria itu malah tertawa.


"Berani-beraninya kamu menculik istriku! apa yang sebenarnya ada di otakmu!" Satya berteriak di depan wajah Ashraf, pria itu malah tertawa. Satya kembali melayangkan pukulannya diwajah Ashraf.


"Karena aku mencintainya dan menginginkannya, puas? hahahahah," ucap Ashraf yang memancing emosi Satya, ia kembali memukul Ashraf, pria itu tak tinggal diam, mereka saling baku hantam, menghajar satu sama lain. Sampai akhirnya Ashraf melayangkan senjata tajam, Satya yang mendapatkan serangan tiba-tiba terlambatbuntuk menghindar, benda tajam itu mengenai lengan Satya.


"Aaarrgggg!" Satya memekik kesakitan memegang lengannya yang berdarah.

__ADS_1


"Aku akan merebut dia darimu, dia akan menjadi milikku! bagaimanapun caranya aku akan membawa dia pergi," ucap Ashraf yang melayangkan kembali senjatanya pada Satya. Kali ini Satya yang memang mempunyai ilmu bela diri langsung menangkisnya, Satya memutar tangan Ashraf sehingga pisau itu terlepas dari genggaman tangan pria yang merupakan kembaran temannya, Aaraf. Tak sampai disitu saja Satya memukul tubuh bagian belakang Ashraf hingga pisau itu tergeletak tak sadarkan diri.


Amartha membalikkan tubuhnya, dan mencoba menghampiri suaminya, namun tiba-tiba kakinya terpeleset, ditambah ada ombak besar yang menghantam kapal mereka.


"Aaaaaaaaaa!" Amartha berteriak, tubuhnya bergelantungan dan hanya berpegangan pada besi yang berada di ujung geladak. Satya yang melihat itu meninggalkan Ashraf yang sudah babak belur dan segera berlari ke arah Amartha.


"Amarthaaaaaaaaaaaaaaaaa!" teriak Satya yang melihat tubuh istrinya yang hampir jatuh Amartha ketakutan saat matanya melihat ke bawah, dia hanya bertumpu pada kekuatan tangannya.


"Tenang, aku akan menarikmu, Aaarrrrghhhh!" Satya memegang mencengkram tangan istrinya, namun tangannya yang basah membuatnya kesulitan untuk menarik tubuh Amartha.


"Jangan lihat ke bawah, lihat aku! aku disini, kamu akan baik-baik saja, kamu percaya kan sama aku?" Satya menggunakan kedua tangannya untuk membantu sang istri untuk kembali naik ke atas.


Darah mengalir dari lengan Satya yang tak sengaja terkena pisau, membuat rasa sakit menjalar di tubuhnya, otot-ototnya terlihat jelas saat ia berusaha menarik istrinya, sebagian tubuhnya membungkuk, ia hanya bertumpuan pada besi yang menekan perutnya.


"Tanganku sudah tidak kuat, lepaskan aku atau kamu akan ikut terjatuh," Amartha merasakan tangannya sudah tidak kuat lagi untuk berpegangan, sedangkan kakinya yang tanpa alas kaki itu merasakan dingin yang teramat sangat.


"Nggak akan! aku nggak akan lepasin kamu, aku akan menarikmu, bertahanlah! bertahan, Sayang! Aaaarrrrrhhhhhh!" Satya sekuat tenaga menarik namun darah yang mengalir dari tangannya membuat cengkraman tangan Satya semakin sulit.


"Aku mencintaimu, Mas!" ucap Amartha tiba-tiba, tubuhnya menggantung.


"Aku tau, jadi jangan pernah lepaskan tanganku, bertahanlah demi anak kita, aku akan menarikmu sekali lagi. Berusahalah, Sayang! Aaarrrghhhhhh..." Satya kembali menarik tubuh Amartha.


"Aku nggak kuat Mas, Aaaaaaaah!" ucap Amartha dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


"AAARRRRRRGGGGGGGHHHH!" Satya menangis saat tangannya hampir terlepas dari Amartha, namun Satya tak menyerah. Ketakutan akan kehilangan istrinya lebih besar daripada sakit yang ia rasakan saat ini.


Para pengawal Ashraf sebagian besar telah dilumpuhkan. Sekarang Firlan mulai mencari keberadaan bosnya, pria itu berlari dengan keadaan yang sangat kacau. Pria itu memegangi perutnya yang terasa sakit. Asisten Satya segera berlari saat mendengar suara teriakan seseorang yang sangat familiar.


"Tuan!" seru Firlan.


"Aaarrrrghhhh," Satya menarik tubuh istrinya dengan sisa tenaga yang ia miliki, perlahan tubuh Amartha mulai terangkat ke atas. Amartha pun akhirnya bisa meraih besi yang sempat terlepas dari tangannya.


Firlan yang melihat itu tanpa pikir panjang langsung membantu Satya menarik lengan istri bosnya. Amartha mencengkram bahu Satya, sementara kakinya melewati pagar besi yang berada diujung kapal itu. Satya segera mengangkat tubuh istrinya menjauh dari sana.


Satya mendekap erat tubuh istrinya, mencium pucuk kepala wanita itu, sedangkan Amartha menangis sambil memeluk suaminya. Dia tak sanggup jika harus berpisah dengan belahan jiwanya.


"Maafkan aku, maafkan aku!" ucap Satya yang tak kuasa menahan air matanya.


"Mas aku takut!"


"Sekarang kamu sudah aman, Sayang! ada aku. Ada aku disini," ucap Satya sambil terus mendekap tubuh istrinya.


"Terima kasih, Lan!" ucap Satya pada Firlan, asistennya tersenyum dan mengangguk.


Satya bernafas lega akhirnya istrinya selamat dari kejadian yang hampir merenggut nyawa. Amartha merasakan nyeri di bagian perutnya, Satya yang melihat itu sangat panik.


"Mas, perutku sa-kit,"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2