Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kalian?


__ADS_3

Sahabat yang dulu hilang bagaikan ditelan bumi, sekarang datang kembali. Seakan orang dimasa lalu berlomba-lomba untuk kembali muncul di kehidupan Amartha. Sudah seminggu ini, Sinta selalu mengirimnya chat bahkan terkadang menelepon Amartha diwaktu senggangnya.


Amartha tidak terlalu berpikir terlalu jauh, sementara Vira menyadari ada yang janggal dari sikap Amartha semenjak hari dimana dia makan siang bersama Satya.


"Ta, ini malam minggu loh," Vira memecahkan keheningan.


"Terus?" Amartha menyahut sambil mengunyah keripik kentang yang sebentar lagi akan habis.


"Mas Satya nggak ngapel?" Vira memperjelas pertanyaannya.


"Viraaa, kebiasaan deh ngomongnya, nanti kalau Mas Kenan denger dikira aku ada apa-apa sama Mas Satya?" ucap Amartha yang kini ngibrit ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Kemudian kembali duduk lesehan disamping Vira yang sedang mendekap boneka beruang kesayangannya.


"Lagian pacar kamu tuh udah sebulan lebih nggak kesini, kan? terakhir dia datang yang waktu kamu jatuh itu, iya kan?"


"Awas, jangan-jangan kecantol cewek laen," celetuk Vira yang sebenarnya membuat hati Amartha menjadi resah.


"Nggak, nggak mungkin, dia pasti bisa setia sama aku..." sanggah Amartha berusaha meyakinkan sahabatnya.


"Emang ada jaminan?" Vira menatap Amartha tajam.


"Nggak ada, tapi aku yakin kalau..." Amartha kehabisan kata-kata.


"Kalau apa? sekarang aku tanya, gimana komunikasi kamu sama dia?" Vira mulai bicara serius.


"Sering nelpon?" tanya Vira.


"Jarang," Amartha menjawab singkat.


"Sering chat?" Vira kembali bertanya.


"Jarang juga," jawab Amartha lirih.


"Dari yang aku tau sih ya, namanya cinta itu butuh komunikasi yang bagus apalagi kalian berdua beda kota yang otomatis jarang ketemu, nah kalau komunikasi kalian buruk, siap-siap aja ada orang ketiga!" Vira bicara panjang lebar.


"Ih, amit-amit, kok kamu malah

__ADS_1


ngomong kayak gitu, Viraaaa!" Amartha membekap mulut Vira.


"Ih ... aku ngomongin fakta loh, bukan mau nakut-nakutin kamu," Vira melepaskan tangan Amartha sebelum ia menjawab.


"Vira, seminggu kedepan kan kita ada libur hari kejepit nasional tuh, temenku yang namanya Sinta minta aku buat ke kota J, katanya kangen sama aku, dan aku udah beli tiket kereta buay kesana," Amartha mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kamu mau kesana sendirian?" tanya Vira dengan tatapan menyelidik.


"Iya,"


"Tapi, kamu kan nggak pernah pergi sejauh itu," Vira sedikit khawatir dengan sahabatnya.


"Aku bukan anak kecil lagi, Viraa..." Amartha mendengus kesal.


"Coba sini tiketnya, aku pengen liat!" Vira menengadahkan tangannya meminta tiket kreta yang sudah Amartha pesan.


Amartha berjalan menuju lemarinya dan mengeluarkan sebuah tiket kereta dan memberikannya pada Vira. Vira segera mengambil ponselnya dan memotret tiket itu menggunakan ponsel miliknya.


"Buat apa difoto?" tanya Amartha usai Vira mengembalikan tiket itu.


"Ih aneh!" celetuk Amartha yang kemudian bangkit u tuk menyimpan kembali tiket yang sudah ia beli beberapa hari yang lalu.


Vira merasa ada yang janggal dengan rencana kepergian Amartha ke kota J. Ada perasaan yang mengganjal saat melihat Amartha menaiki tempat tidurnya dan berbaring menghadap tembok.


Vira tahu, Amartha sedang sedih karena hubungannya dengan Kenan mulai renggang, tak seintens dulu. Namun, terkadang Amartha lebih suka menyimpan kesedihannya seorang diri. Vira hanya mampu menghela nafas panjang, melihat sahabatnya yang mungkin sedang menangis dalam diam.


"Maafin aku, tapi aku harus melakukan ini," gumam Vira yang sekarang sedang mengetik pesan untuk seseorang.


...----------------...


Hari yang ditunggu pun tiba. Pukul 07.00 WIB Amartha sudah tiba di stasiun S, Amartha turun dari motor Vira, dan tak lupa menyerahkan helm miliknya pada Vira.


"Hati-hati ya? jangan lupa kabari aku kalau udah sampai disana," ucap Vira penuh penekanan.


"Iya iya ih, cerewet banget sih yem? aku masuk dulu ya?" Amartha berpamitan dengan sahabatnya.

__ADS_1


"Ya udah, aku pulang ya," kata Vira yang dijawab anggukan kecil Amartha, yang kini mulai melangkahkan kakinya menuju pintu masuk stasiun. Gadis itu hanya membawa satu tas punggung berwarna ungu, tak lupa ia kenakan jaket karena AC dalam kereta cukup dingin.


Setelah melalui pengecekan tiket di pintu masuk, Amartha berjalan menuju kereta yang ditujunya. Gadis cantik dengan rambut dikucir kuda itu naik ke dalam kereta menyelusuri gerbong dan mendudukkan dirinya sesuai nomor kursi yang tertera dalam tiket.


Amartha tidak menyimpan tasnya dalam bagasi, dia peluk tasnya yang lumayan empuk karena hanya berisi pakaian saja. Amartha menyenderkan tubuhnya, menyamankan dirinya. Dia tidak menyadari ada sepasang mata yang selalu mengawasinya, tidak jauh dari tempat duduknya.


Setelah beberapa jam duduk di dalam kereta, akhirnya kereta itu berhenti di stasiun tujuan. Amartha segera turun, dan tak lupa menelepon Sinta. Sinta tak bisa menjemput sahabatnya, ia meminta Amartha untuk datang ke sebuah cafe dan mengiriminya alamat cafe itu melalui chat. Hari sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, Amartha segera menaiki taksi untuk segera sampai ditempat yang ditentukan Sinta.


"Terima kasih, ya Pak..." ucap Amartha seraya menyerahkan sejumlah uang kepada supir taksi, ketika taksi itu sudah berhenti di pelataran cafe.


Amartha turun dari taksi dan segera masuk ke dalam cafe yang di dominasi warna hitam dan coklat kayu itu.Tak butuh waktu lama Amartha mendapati sosok Sinta yang sangat menonjol diantara para pengunjung cafe. Amartha melangkahkan kakinya menuju meja gadis itu.


"Hai, akhirnya kita bisa ketemu juga!" ucap Sinta seraya memeluk sahabatnya. Amartha melepaskan pelukan itu dan memandang lekat sahabat semasa SMA nya dulu.


"Kenapa kamu baru ngabarin aku selama sekian tahun? jahatnya kamu, Sin..." Amartha mengerucutkan bibirnya. Sinta mendudukkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Amartha. Amartha pun melepas tas punggungnya, dan ikut duduk melepas penat, setelah berjam-jam melakukan perjalanan yang melelahkan.


"A, aku... ah, udah jangan bahas itu lah, mending kita pesen minum dulu, kamu pasti capek, kan" ucap Sinta seraya melambaikan tangannya kepada salah satu waitress. Ia memesan desert dan iced coffee untuk mereka berdua.


Namun, dari arah belakang Amartha, nampak seorang pria berjalan mendekat ke arah meja kedua gadis yang tengah berbincang itu.


"Sinta, aku mau bicara soal pertunangan kita!" ucap pria itu dengan nada datarnya. Amartha merasa tidak asing dengan suara pria tadi, segera ia memutar tubuhnya dan dia terkejut dengan sosok dihadapannya itu.


DEG!


"Mas Kenan!" pekik Amartha membulatkan matanya tak percaya.


"Amartha!" Kenan tak kalah terkejutnya melihat kekasihnya berada di depan matanya.


Amartha dengan segera berdiri dan memandang Kenan dan Sinta secara bergantian.


"Kalian?" ucap Amartha terbata-bata. Rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


...----------------...


ikuti terus kisah selanjutnya ya...

__ADS_1


__ADS_2