
Prisha berjalan ke arah Amartha dengan membawa satu keresek yang berisi jeruk medan.
"Jeruknya kayak gini kan, Mbak?" tanya Prisha.
"Iya, bener. Makasih ya..." jawab Amartha.
Tak lama pesanan mereka pun datang.
"Bill-nya," ucap Prisha pada wanita yang membawa pesanan mereka.
"Udah aku bayar, Sha..." kata Amartha.
"Kita ke mobil sekarang," Anartha segera bangkit dari tempat duduknya. Tadinya Prisha akan menelepon Damian untuk membantu mereka mengangkut belanjaan, tapi Amartha melarangnya. Menurut Amartha belanjaannya bisa dibagi antara dirinya dan Prisha untuk membawanya sampai ke mobil.
Damian melihat majikannya kerepotan membawa barang belanjaannya pun segera menghampiri Amartha dan Prisha.
"Mari saya bantu, Nyonya..." Damian mengambil alih barang belanjaan yang ada di tangan Amartha. Saat Damian akan mengambil barang yang ada di tangan Prisha gadis itu pun menjawab.
"Aku bawa sendiri aja, lagian mobilnya udah deket," kata Prisha.
Amartha tersenyum melihat sikap Prisha, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil sementara Damian sedang menaruh barang-barang ke dalam bagasi. Setelah setelah selesai pria itu duduk di kursi kemudinya. Amartha mengatakan bahwa dirinya ingin mampir ke kantor suaminya.
Setelah memakan waktu perjalanan kurang lebih 40 menit akhirnya mereka sampai di sebuah gedung perkantoran yang sangat megah.
Kedua wanita yang usia tidak terpaut jauh itu berjalan beriringan menuju lift, Amartha selalu menyimpan kartu yang di dapat suaminya. Ia memasukkan sebuah kartu akses di dalam lift sebelum menekan tombol lantai yang ingin dia tuju.
"Ribet banget elah, harus pake kartu gitu ya?" kata Prisha mengomentari pintu lift yang tidak akan berfungsi jika tidak dimasukkan sebuah kartu akses.
"Dulu, waktu terakhir aku kesini belum ada tuh aturan lift pakai kartu," lanjut Prisha.
"Untuk proteksi aja mungkin, Sha..." ucap Amartha.
"Sini biar aku bawa sebagian," ucap Amartha yang akan meraih barang yang ada di tangan Prisha.
"Nggak usah, Mbak! bawa segini mah nggak bikin lengan berotot, eh lift-nya udah kebuka," ucap Prisha menunjuk pintu besi dengan dagunya.
Mereka oun keluar dan berjalan menuju ruangan Satya.
"Maura kamu udah makan siang?" tanya Amartha.
"Belum, memangnya ada apa, Nyonya?" tanya Maura sopan. Amartha meminta satu box makanan dari sebuah kantong plastik
"Nggak, ini makan siang buat kamu. Suami saya ada di dalam, kan?" Amartha melirik kearah pintu.
"Ada, Nyonya..." jawab Maura.
"Terima kasih makanannya, Nyonya Amartha..." kata Maura lagi.
Amartha dan Prisha kemudian masuk ke dalam ruangan Satya setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Assalamualaikum," sapa Amartha.
"Waalaikumsalam, Sayang..." jawab Satya seraya berdiri menyambut kedatangan istrinya.
"Aku kira kamu kesini bakal sendirian, Yank tanpa makhluk ini," kata Satya yang memeluk istrinya yang menggemaskan.
"Mataku woooy!" seru Prisha yang langsung berjalan dan mendaratkan tubuhnya di sofa empuk di ruangan itu.
"Elah, kenapa sih monster kecil ikutan kesini?aturan kamu balikin dulu ke emaknya, Yank..." celetuk Satya.
"Eeiiitts! aku laporin sama mami, loh!" ancam Prisha ia meletakkan makanan box makanan diatas meja.
Amartha dan Satya mendekat ke arah Prisha yang sedang cemberut.
"Duduk, Yank ... awas, hati-hati..." kata Satya.
"Kenapa tuh bibir masih aja maju lima senti? kan udah abang traktir tas?" tanya Satya.
"Sama sepatu, Mas ... tadi kita beli sepatu juga," timpal Amartha.
"Tuh, udah sama sepatu juga, terus kenapa tuh muka ditekuk lagi? udah kayak kertas contekan aja, lecek banget!" kata Satya.
"Ya lagian, baru juga dateng malah digituin,"
"Ya elah, Mon! baperan amat, sih?" ujar Satya.
"Dari pada ribut terus, mending kita makan karena aku udah laper banget," ucap Amartha yang mulai mengeluarkan box makanan serta sumpit dari tempatnya.
"Beef Tepanyaki, aku belum pernah nyoba makan disitu tapi kata Prisha enak," jelas Amartha.
Mereka mulai membuka masing-masing box, lengkap dengan menu complement-nya.
"Hmm, enak! tumben lidah kamu bener, Mon..." kata Satya.
"Emang aku kan emang jagonya makan enak," jawab Prisha.
Sesaat pikiran Prisha melayang pada pria yang ditemuinya di supermarker, sewaktu membeli buah jeruk untuk Amartha. Prisha cengar-cengir sendiri, Amartha dan Satya saling tatap melihat kelakuan aneh Prisha.
"Ini kesambet dimana sih? kemarin nangis-nangis sekarang senyum-senyum," tanya Satya pada istrinya.
Ditempat lain, Sinta masih terus memikirkan sosok yang ia temui tempo hari. Sinta menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran yang sebenarnya milik Refan.
"Aku yakin banget, kemarin itu aku nggak salah liat. Nggak mungkin kan kak Refan bisa disini sedangkan dia masih menjalankan perawatan di singapur?" Sinta mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
"Kalau dia ada disini, berarti dia udah sembuh? kenapa nggak pulang ke rumah? terus dimana mama sama papa? gila, ini random banget dipikiran aku!" Sinta menopang kepalanya dengan kedua tangannya, dengan siku bertumpu di atas meja.
Ketika Sinta sibuk dengan pikirannya sendiri, seseorang mengetuk pintunya, dan masuk begitu saja.
"Tumben ada kemajuan?" sindir Sinta.
__ADS_1
"Apa?" tanya pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan Sinta.
"Ketuk pintu," jawab Sinta malas.
"Oh, nggak sengaja berarti itu tangan tau-tau main ngetok sendiri," sahut pria yang bernama Fendy.
"Kenapa? lagi suntuk?" tanya Fendy ia duduk di hadapan Sinta.
"Iya, apalagi setelah liat muka kamu," celetuk Sinta.
"Ah, masa? padahal banyak yang bilang muka ku ini ganter luar biasa, loh..." kata Fendy memegang dagunya.
"Luar binasa lebih tepatnya ya?" ucap Sinta.
"Nggak apa-apa, deh ... asalkan jadi pasangan kamu, kamu mau bilang ganteng pake banget aku sih ikhlas-ikhlas aja, lahir batin..." kata Fendy yang nggak nyambung sama sekali.
"Udah selesai ngimpinya?" tanya Sinta ketus.
"Belum, kan ngimpinya bareng kamu," jawab Fendy, Sinta memutar bola matanya.
"Kok nggak ketawa?" tanya pria itu.
"Nggak lucu," sahut Sinta.
"Ya dilucu-lucuin, dong!" kata Fendy.
"Aku lagi sibuk," ucap Sinta.
"Aku juga sibuk, sibuk mikirin kamu..." kata Fendy.
"Garing!" ucap Sinta.
"Kriuk!" timpal Fendy.
"Kita bukan lagi maen game tebak kata, ya?" celetuk Sinta.
"Kalau tebak perasaan mau, nggak?" seloroh Fendy.
"Sakit nih orang!" ucap Sinta yang mulai membuka dokumennya, namun dengan cekatan tangan Fendy mencegahnya.
"Waktunya jam makan siang," ujar Fendy.
"Kerja boleh, tapi nggak boleh berlebihan ... karena yang berlebihan itu nggak baik," lanjutnya.
"Berarti sikap kamu juga jangan kelewatan baik sama aku, karena itu juga nggak baik," kata Sinta yang menjauhkan tangannya dari map itu.
"Itu jelas beda, aku kan mengembalikan kamu ke jalan yang benar, jalan yang lurus, pasti jadi baiknya dong!" kata Fendy dengan argumennya.
"Capek debat sama Kuyang!" celetuk Sinta.
__ADS_1
"Awalnya Kuyang lama-lama jadi Sayang!" seloroh Fendy.
...----------------...