Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Boneka Itu Lagi


__ADS_3

"Maaf, Nyonya! ini sepertinya milik anda..." ucap seorang pelayan yang memberikan sebuah boneka yang bergaun merah.


"Maaf, tapi ini bukan milik saya," ucap Amartha dengan senyum terpaksanya.


"Tapi tadi..." ucap pelayan itu nampak bingung dan seperti sedang mencari seseorang.


"Ya sudah kalau begitu," ucap pelayan itu lagi yang membawa boneka itu dan pergi mendekat pada rekannya yang lain. Dan mereka mencuri-curi pandang ke meja yang di tempati Amartha dan Vira.


"Kok boneka itu sampai ngikutin kita kesini ya, Vir?" tanya Amartha yang melihat boneka yang masih ada dalam genggaman pelayan resto.


"Yang jelas ada yang ngikutin kita, Ta! menurutku kamu jangan anggap remeh hal ini," ucap Vira yang tak mau terjadi sesuatu yang buruk dengan Amartha.


"Bentar aku telfon Damian dulu deh, mastiin jalau dia udah buang tuh boneka," ucap Amartha pada Vira.


Amartha segera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Damian.


"Halo, Dam! kotak coklat yang saya kasih sudah dibuang atau belum, ya?" tanya Amartha pada Damian di telepon.


"Sudah, Nyonya..." jawab Damian.


"Oh, gitu ya? ya sudah, makasih..." ucap Amartha yang mengakhiri panggilan teleponnya.


"Gimana?" tanya Vira penasaran.


"Kata Damian udah dibuang," sahut Amartha.


"Tuh, kan! ini jelas bukan iseng lagi, tapi ada orang yang sengaja meneror kamu," kata Vira.


"Silakan," ucap seorang pelayan yang membawakan pesanan dan menatanya diatas meja.


"Kita makan dulu aja, perutku udah laper banget!" ucap Amartha yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Dia sebenarnya penasaran siapa yang dengan sengaja mengirimkan boneka bergaun merah itu padanya. Apa motif orang itu, karena seingat Amartha ia tak mempunyai musuh.


Hubungannya sudah membaik dengan Sinta. Jadi wanita itu tak mungkin juga ia curigai, karena mereka sudah berteman lagi seperti dulu. Amartha nampak berpikir, dan Vira tahu akan hal itu. Akan tetapi, Vira memilih untuk diam.


Sementara di tempat lain.


"Maaf saya datang terlambat," ucap seorang pria.


"Tidak masalah, saya juga baru datang..." ucap Satya seraya berdiri dan menjabat tangan pria yang ada di hadapannya.


"Perkenalkan saya Carlo," ucap pria itu.


"Salam kenal Tuan Carlo," ucap Satya.

__ADS_1


"Silakan," Satya mempersilakan Carlo untuk duduk.


Firlan duduk berada tak jauh dari meja bosnya. Ia memperhatikan kedua orang yang tengah berbincang. Mata elang Firlan menangkap beberapa orang yang duduk tak jauh dari posisinya saat ini, kemungkinan mereka merupakan bodyguard pria yang duduk berhadapan dengan Satya


"Jadi, ada keperluan apa anda meminta saya untuk datang kemari?" tanya Satya sambil menumpangkan kakinya dibatas kaki satunya.


"Ada hal yang ingin saya tanyakan," kata Carlo.


"Silakan, sebisa mungkin saya akan menjawabnya," sahut Satya.


"Apa sebenarnya hubungan anda dengan Vanka?" tanya Carlo.


"Vanka?" Satya mengernyit heran.


"Putri dari Adam Barsha, pemilik dari Bars Corporation," jelas Carlo.


"Ivanka?" Satya menautkan alisnya.


"Tidak ada," ucap Satya santai sembari mengetuk- ngetukkan jarinya di tangan kursi. Carlo melihat dengan tatapan menelisik pada Satya, ia menaikkan sudut bibirnya saat Satya menunjukkan cincin perkawinan di jari manisnya.


"Tapi bukankah dia sangat menginginkanmu?" tanya Carlo.


"Aku tidak tahu pasti, yang jelas aku tidak ada hubungan spesial dengan wanita itu. Aku kira pengusaha hebat sepertimu mengajakku bertemu di hari werkend seperti ini untuk membicarakan hal yang penting, tapi ternyata..." ucapan Satya terhenti.


"Aku beri tahu sesuatu," Carlo sedikit memelankan suaranya.


"Ikuti saja permainan ini," kata Carlo. Pria itu pun memberi tahu apa yang diinginkannya.


Sedangkan di kantor, Ivanka tersenyum puas. Tak lama ponselnya berdering, ia pun segera mengangkatnya setelah mengetahui siapa yang meneleponnya.


"Bagaimana? jangan biarkan dia kabur, aku akan segera kesana!" ucap Ivanka dengan seseorang. Dan Alia sedari tadi melepaskan pandangannya dari bosnya itu.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Ivanka ketus, membuat Alia tersenyum kecut.


"Tidak ada, Nona..." ucap Alia yang lebih baik melanjutkan pekerjaannya.


"Alia, aku akan pergi. Mungkin aku tidak akan kembali ke kantor," ucap Ivanka seraya memasukkan ponsel ke dalam tas.


"Apakah aku perlu ikut, Nona?" tanya Alia sambil menaikkan kacamata yang sempat turun.


"Haish, kalau kau ikut mana mungkin aku menitip pesan padamu kalau aku tidak akan kembali! please, think smart, Alia!" ucap Ivanka kesal. Wanita itu pun meninggalkan Alia seorang diri di ruangannya.


"Huufh, saya hanya bertanya, kenapa dia malah ngotot seperti itu! mencurigakan!" gumam Alia, tidak suka.


"Aku telfon Firlan aja lah," ucap Alia, dia pun menempelkan benda pipih ke telinganya.

__ADS_1


"Halo," sapa Alia saat panggilannya tersambung pada Firlan.


"Ya. Ada apa, Alia?" suara khas Firlan terdengar menyapa gendang telinga Alia. Suara yang beberapa hari ini sering ia dengar, ia pun tergagap saat Firlan mengulang pertanyaannya.


"Ah, ya! maaf suaramu tadi terputus," kata Alia, ia mengigit bibir bawahnya.


Sementara Alia sedang berbicara dengan Firlan, Ivanka sudah bergerak menjauh dari perusahaannya. Ia mengenakan kacamata hitam, dengan bibir berwarna maroon membuat wajahnya terlihat berani dan dewasa.


"Beraninya kau membodohiku!" ucap Ivanka sengit.


"Kali ini kau tidak bisa kabur, dasar ulat kecil!" Ivanka berbicara sendiri, ia membelokkan stir mobilnya dan memperlambat laju mobilnya saat tujuannya sudah dekat.


Ivanka mengecek penampilannya saat mobilnya sudah berhenti di sebuah tempat.


"Perfect!" Ivanka menaikkan satu sudut bibirnya.


Wanita yang tampil dengan rambut ikal berwarna coklat terang itu keluar dari mobilnya. Ivanka memang seringkali mengubah tampilan rambutnya. Namun satu hal yang tak akan ia ubah dari dirinya, lensa mata berwarna hazel.


Langkah kakinya terdengar seperti sebuah irama, wanita dengan pedenya membanting pintu salah satu ruang privat di tempat itu.


"Akhirnya kita bertemu," ucap Ivanka seraya membuka kacamatanya.


"Ivanka? kau!" ucap pria itu terkejut.


"Dia siapa, Sayang?" ucap seorang wanita yang sedang duduk di samping pria yang sedang menatap Ivanka tanpa berkedip.


"Suruh wanitamu pergi, karena kita ada urusan yang belum selesai!" ucap Ivanka tegas.


"Memangnya kau siapa? beraninya kau mengusirku!" ucap wanita dengan suara cempreng itu.


"Kau tidak pelu tau aku siapa, yang jelas aku menyuruhmu pergi. Karena aku ada urusan dengan setan yang satu ini!" ucap Ivanka penuh penekanan.


"Pergilah, tunggu aku di luar..." ucap sang pria.


"Tapi..." wanita cempreng itu menolak.


Ivanka yang gemas segera menepuk kedua tangannya. Dan dalam sekejam muncul dua orang berbadan besar masuk ke dalam ruangan itu.


"Bawa dia keluar," Ivanka memberi perintah. Dua orang itu tanpa bersuara menyeret si wanita keluar dari ruangan itu. Walaupun si wanita dengan sekuat tenaga memberontak.


"Lepas! Ethan, tolong aku!" seru si wanita. Suaranya semakin menjauh.


Ivanka menjatuhkan dirinya diatas sofa, melihat pria disampingnya dengan tatapan mematikan.


"Beraninya kau menipuku!" Ivanka mencengkram kerah Ethan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2