
Malam harinya di kediaman Ganendra.
"Yank..." Satya memanggil istrinya yang tiduran membelakanginya
"Kok diem? aku salah lagi?" tanya Satya, namun Amartha tak bergeming.
"Dia dateng bukan aku yang ngundang loh, Yank..." Satya segera mengklarifikasi perihal kedatangan Ivanka, jelmaan ulet bulu yang bikin huru hara di kehidupan Satya dan Amartha.
"Yank..." rengek Satya, ia menghela nafas.
"Kamu boleh minta apapun deh asal jangan ngediemin aku kayak gini," ucap Satya, pria itu mengeluarkan jurus pamungkas agar istrinya cepat reda ngambeknya.
"Madep sini kek, ini suaminya ganteng begini mubadzir kalo nggak diliatin," kata Satya yabg pedenya setinggi langit.
"Aku nggak marah sama Mas, aku cuma lagi kesel aja," ucap Amartha yang masih diam pada posisinya.
"Gara-gara Ivanka, kan?" tanya Satya.
Amartha mengangguk, ia perlahan memiringkan posisi tidurnya berbalik menghadap suami tercinta.
"Terus? gimana caranya supaya kamu lupain rasa kesel kamu, Yank?" tanya Satya, ia membelai wajah Amartha.
"Kita keluar, mau?" Satya bertanya mengecup punggung tangan istrinya.
"Aku pengen makan lamongan lagi, tapi harus makan di tempat," ucap Amartha.
"Oke deh, aku tau tempat yang enak!" ucap Satya mengiyakan permintaan bumil
"Masa?" Amartha memicingkan matanya, tumben suaminya itu langsung mengiyakan ucapannya, biasanya kan kalau Amartha ingin makan di pinggir jalan pasti ada alasannya. Alsan kebersihan lah, dibawa pulang aja lah.
"Masa, sih?" Amartha menatap suaminya dalam-dalam.
"I-iya, karena kamu suka banget makan lesehan kayak gitu aku ... aku jadi nyari tempat yang enak buat kamu makan, gitu..." kara Satya yang sedikit gugup mendapat tatapan dari istrinya.
"Bener ya enak, awas kalau nggak!" kata Amartha.
"Dih, ibu ngancem ayah, Dek?" Satya berbisik pada calon anaknya.
Amartha segera beranjak dari tempat tidur, begitu juga sengan Satya. Pria itu berganti pakaian di ruang ganti. Terdengar seaeorang mengetuk pintu dari luar.
"Biar aku aja Mas!" Amartha membuka pintu kamarnya dengan membawa celana dan baju di tangannya.
"Kenapa, Sha?" tanya Amartha saat melihat adik iparnya berdiri di depan kamar.
"Nih, katanya mbak lupa bawa bingkisan dari siapa tuh tadi mami bilang, anaknya temennya papi..." Prisha menyodorkan sebuah tas.
"Makasih, ya sha..." ucap Amartha, ia ingat siapa yang membawa bingkisan itu.
"Mbak mau pergi ya?" tanya Prisha saat melihat baju di tangan kakak iparnya itu.
"Iya, mau keluar mau cari makan," jawab Amartha.
__ADS_1
"Kemana? ikut dong," tanya Prisha dengan mata yang memelas.
"Beneran mau ikut? katanya perut kamu lagi sakit?"
"Iya bukan cuma perut tapi hati juga sakit, kalau sekarang udah mendingan, kok! boleh ikut, ya? please..." kata Prisha mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Ya udah aku mau ganti baju dulu," ucap Amartha.
"Aku tunggu di bawah ya, Mbak?" kata Prisha.
Amartha kembali memutup pintu dan berjalan dengan membawa satu jinjingan dari wanita ular.
"Apa itu, Yank?" tanya Satya.
"Dari wanita yang kesengsem sama suamiku," jawab Amartha.
Amartha melihat isi dari apa yang di bawa Ivanka, ternyata isinya dasi pria dan penjepit dasi yang harganya selangit.
"Kan bener, ngasihnya barang kayak gini ... buat siapa coba? kalau bukan buat Pak Satya," ucap Amartha.
"Buang aja, Yank ... daripada bikin kesel," Satya mengambil barang pemberian Ivanka dan membuangnyabke tempat sampah.
"Nah selesai, sekarang kamu ganti baju dulu, gih..." kata Satya.
Amartha mengurungkan niatnya memakai sweater rajut, berhubung hatinya sudah panas dan akhirnya menaikkan suhu tubuhnya saat ini, Amartha memakai legging dan baju hamil lengan panjang untuk wisata kuliner bersama suaminya.
"Pakai jaket, ya? nanti kamu kedinginan, Yank..." kata Satya yang melihat penampilan istrinya.
"Suhu dingin begini kamu malah gerah?" Satya menautkan alisnya.
"Ya udah, tapi aku tetep bawa jaket buat kamu, takut tiba-tiba kamu kedinginan," lanjutnya.
Satya dan Amartha pun keluar dari kamar, ia mendengar Sandra dan Rosa sedang mengobrol di ruang keluarga. Mereka berdua menghampiri dua wanita yang sudah tidak muda lagi itu.
"Kalian mau kemana malam-malam begini?" tanya Sandra.
"Cari makan, Mam..." ucap Amartha.
"Lah bukannya tadi udah makan?" tanya Sandra lagi.
"Laper lagi sekarang, Mam..." jawab Amartha, Sandra hanya mengangguk mengerti. Mungkin menantunya sedang ngidam, pikirnya.
"Udah bawa gunting kuku?" tanya Rosa.
"Buat apaan?" tanya Amartha. Satya dan Amartha saling pandang.
"Tolak bala, pokoknya nurut aja, bentar mama ambil," ucap Rosa.
"Udah nurut ajah," timpal Sandra.
Rosa melangkah menuju kamar tamu yang ditempatinya, tak lama Rosa muncul denfan membawa gubting kuku dan peniti. Rosa memasangkan gunting kuku.
__ADS_1
"Dulu waktu mama hamil kamu juga disuruh bawa ini sama nenek kamu," ucap Rosa sambil memasangkan gunting kuku dengan menggunakan peniti di baju Amartha.
"Nggak ditaruh di dompet aja?" tanya wanita yang kehamilannya sudah memasuki trimester ketiga itu.
"Baiknya dipasang," ucap Rosa, sambil merapikan baju anaknya.
"Ya udah, kita berangkat ya? sssalamualaikum," ucap Amartha.
Satya dan Amartha menyalami kedua wanita yang sangat luar biasa itu, kemudian mereka berjalan menuju pintu utama.
"Kamu tunggu disini aja, aku mau ambil mobil di garasi," kata Satya dengan jaket ditangannya.
Amartha celingukan mencari keberadaan Prisha. Akhirnya Amartha pun mengirim pesan pada adik iparnya itu bahwa dia sudah menunggu di teras depan.
Tak butuh waktu lama, Satya muncul dengan mengendarai sebuah mobil hitam. Amartha segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya, namun wanita itu malah celingukan seperti mencari seseorang.
"Cari apa, Yank?" tanya Satya.
"Pasang seat belt dulu, biar aman..." Satya memasangkan sabuk pengaman pada istrinya.
Tanpa di duga ada seseorang yang membuka pintu mobil bagian belakang.
"Tunggu, jangan tinggalin!" seru seorang gadis yang suaranya sangat familiar di telinga Satya.
"Lah, ngapain kamu disitu, Mon?" tanya Satya, ia sampai memutar tubuhnya melihat ke arah belakang.
"Mau ikut," ucap Prisha sambil nyengir.
"Nggak usah, kamu di rumah aja," kata Satya.
"Dih, aku mau ikut pokoknya," Prisha bersikeras tidak mau keluar dari mobil.
"Aku yang ngajak, Mas..." ucap Amartha, ia mengedipkan satu matanya pada adik iparnya itu.
"Tapi, Yank..." Satya menatap istrinya.
"Nggak apa-apa lah, Yank ... lagian adik kamu itu pasti bosen di rumah," ucap Satya lembut.
"Lah kan dia bisa pergi sendiri, Yank..." sanggah Satya.
"Sekali-kali inih, Mas ... jangan gitu sama adik sendiri," ucap Amartha.
"Iya, deh..." jawab Satya ngenes.
"Ayo jalan, Mas ... aku udah laper," ucap Amartha.
"Jalan, Baaaaaaang!" seru Prisha.
"Astagfirllaaaaaah..." Satya hanya bisa ngelus dada dan segera menekan pedal gas mobilnya keluar dari kediaman Ganendra.
...----------------...
__ADS_1