
Pagi ini Vira menghubungi Amartha untuk minta ketemuan, lebih tepatnya jalan-jalan di mall. Kebetulan mereka berdua juga jarang pergi bersama semenjak Amartha menikah.
"Mas? hari ini aku mau pergi keluar boleh, nggak?" tanya Amartha sembari memasangkan dasi untuk Satya
"Kemana? sama siapa?" ucap Satya datar, Amartha mendongak melihat suaminya, tidak biasanya Satya menjawab dengan nada seperti itu. Amartha beralih mengambil jas dan memakaikannya pada suaminya.
"Vira, Mas ... aku sama dia kan jarang ketemu, pulangnya aku mau mampir ke rumah Mami," ucap Amartha.
"Boleh, tapi diantar Damian, ya?" ucap Satya yang sedang memakai arloji di tangan kirinya.
"Pakai kartu ini, pakailah untuk belanja atau mentraktir Vira?" Satya mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dalam dompetnya.
"Kan Mas udah ngasih aku kartu yang kayak gini juga," Amartha mengernyit heran.
"Nggak apa-apa pakai aja,"
"Aku naik taksi aja ya, Mas? nggak usah dianter supir. Barangkali aku lama kasian Damian," kata Amartha
"Nggak boleh!" ucap Satya yang sudah rapi dengan setelan jasnya.
"Tapi aku pengen sekali-kali pergi sendiri," Amartha memaksa agar Satya mengijinkan dirinya untuk pergi tanpa supir, namun Satya yang memang sedang banyak pikiran malah membentak istrinya.
"Aku bilang nggak ya nggak! kamu dibilangin ngerti nggak sih!"
"Aku akan suruh Damian antar kamu, aku nggak mau dibantah!" ucap Satya yang menatap Amartha yang malah memalingkan wajahnya, kecewa.
"Aku berangkat," ucap Satya yang kemudian mencium kening istrinya sekilas, lalu pergi keluar dari kamar.
Airmata mengalir deras dari kedua mata wanita itu, baru kali ini Satya membentaknya. Hatinya sakit saat Satya menatapnya tajam. Padahal semalam suaminya itu masih bersikap lembut. Wanita itu terduduk diatas ranjang, kemudian menyeka bulir bening yang membasahi pipinya.
__ADS_1
Satya masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan yang tidak karuan. Satya yang menyadari bahwa dia telah membentak istrinya pun hanya mengusap wajahnya kasar. Masalah yang sedang dihadapinya memang sangat pelik karena menyangkut nasib ratusan ribu karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaannya.
"Arrrggghhh! maafin aku, Sayang." ucap Satya merutuki kebodohannya.
"Seharusnya aku nggak bentak kamu kayak tadi, aku harus kembali dan minta maaf." ucap Satya dan berniat akan membuka mobil dan kembali menemui istrinya.
Ketika Satya akan membuka pintu mobil ponselnya berdering dari Firlan. Asistennya mengatakan bahwa ada seorang investor yang ingin bertemu dengannya. Satya yang hendak kembali ke unitnya lantas mengurungkan niatnya, ia menghubungi nomor Amartha namun wanita itu tak juga mengangkatnya. Mungkin istrinya masih marah padanya, pikir Satya.
Amartha yang sedang mandi tak mendengar ponselnya berdering. Wanita itu segera memakai jeans dengan bentuk potongan tinggi hingga ke atas pinggang sehingga menampilkan tubuh rampingnya dan dipadu dengan outer motif floral.
Sesuai apa yang dikatakan Satya, Amartha pergi diantar Damian. Mobil melaju menuju sebuah mall terbesar di kota itu. Amartha duduk di sebuah restoran, ia memesan segelas minuman sambil menunggu Vira yang belum nongol juga.
"Halo, Ta? perutku mendadak mules, nggak tau kenapa. Mungkin masuk angin, sorry kita ketemuannya di pending sampe waktu yang tidak ditentukan, dah ya? bye." ucap Vira nyerocos di telepon sebelum kembali masuk ke dalam toiletnya.
Amartha yang mendengar itu lantas menggerutu namun dia juga kasihan dengan Vira yang sedang sakit. Ia melambaikan tangannya pada seorang waitress, untuk membayar minumannya.
"Ngapain nelfon?" gumam Amartha saat ponselnya berdering. Wanita itu hanya melihat tanpa berniat mengangkatnya.
Ketika dia akan memasukkan ponsel ke dalam tas, benda itu kembali berdering. Ia mengusap layar ponselnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Ih, nggak usah nelfonin terus, aku lagi males ngomong sama kamu, Mas." ucap Amartha setelah panggilan tersambung. Hening, tak ada sahutan.
"Halooo?" Amartha mengerutkan keningnya, kenapa suaminya tak juga bersuara.
"Hai cantik! lama tidak bertemu," ucap pria itu yang membuat mata Amartha terbelalak
"S-siapa k-kamu?" ucap Amartha terbata setelah mengetahui orang yang sedang berbicara dengannya bukan suaminya.
"Hahahaha..." Pria itu malah tertawa, entah apanyabg ditertawakannya.
__ADS_1
"Dasar orang gila!" sarkas Amartha yang akan menutup panggilan telepon itu namun seseorabg disana kembali bersuara.
"Ya, benar! aku memang tergila-gila denganmu, hahahahahaha, aku sangat tergila-gila denganmu,a" pria itu tertawa.
"Mana suamimu? kenapa dia membiarkanmu sendirian disini? ah, apa dia sudah bosan dan sudah punya mainan baru? haiishhh, aku tidak menyangka dia bisa setega itu denganmu, bersiaplah mungkin sebentar lagi kau akan dicampakkan olehnya." ucap pria itu membuat Amartha sangat geram mendengar ocehan pria yang tak dikenalnya itu.
"Tau apa kau tentang suamiku!"
"Hahahahahaha, aku mengenalnya jauh sebelum dia menikahi wanita cantik dan lugu seperti dirimu." ucap pria itu, Amartha merasa sangat familiar dengan suara orang tersebut. Ia pun mengedarkan pandangannya. Melihat sekelilingnya mencari tahu, apakah ada orang yang terlihat mencurigakan disekitarnya
"Sepertinya kau sedang mencari keberadaanku, apa aku benar?" kata pria itu tiba-tiba, membuat wajah Amartha semakin pias. Berarti memang benar, penelepon itu berada tak jauh darinya. Amartha tak menyadari orang itu sudah mengawasinya sedari tadi, ia tak menempelkan ponsel ditelinga, melainkan menggunakan earpods yang membuatnya seperti mengobrol biasa dengan orang didepannya. Pria itu sengaja duduk membelakanginya dan semua gerak-gerik Amartha tak luput dari pengawasan orang yang ada di depan pria itu.
"Ah, kau begitu menggemaskan dengan wajah lugu seperti itu, hey bicaralah! kau masih punya mulut, bukan?" orang itu terus mengoceh, sementara Amartha masih melihat siapa orang yang tengah berbicara dengannya saat ini, namun sialnya tampak beberapa orang terlihat melakukan hal yang sama, mereka tengah menempelkan ponsel di telinganya, berbicara sama seperti dirinya.
Amartha beranjak dari tempat duduknya, sementara matanya terus melihat ke arah berbagai sudut, lalu matanya menatap pintu keluar, tanpa
"Kau mau kemana? hah? ayolah, wajah ketakutanmu itu membuat dirimu semakin menarik, hahahahaha," ucap pria itu.
Amartha segera mematikan ponselnya, ia berjalan cepat ke arah pintu keluar.
"Aku harus cepat pergi dari sini!" gumam Amartha yang melangkahkan kakinya ke arah escallator yang bergerak menuju lantai bawah, dengan sesekali melihat ke belakang.
Ia setengah berlari menuruni tangga berjalan untuk segera sampai di lantai dasar. Ia merasa seseorang tengah mengikutinya, Amartha tak mau melihat ke belakang, ia terus saja berjalan dengan terburu-buru. Namun karena banyaknya pengunjung, membuat Amartha sedikit memperlambat langkahnya. Dan tiba-tiba kepalanya sangat pusing, membuat pandangannya semakin kabur, akan tetapi wanita itu tetap berusaha melangkah hingga akhirnya...
Brukk.
Amartha terjatuh dan tak sadarkan diri. Seseorang meraih tubuhnya dan meneriakkan namanya berkali-kali untuk membuatnya tetap sadar. Namun sepertinya usaha orang itu sia-sia, karena saat ini kedua mata wanita itu sudah tertutup.
...----------------...
__ADS_1