
"Papi?" lirih Satya.
Dan...
Plak!
Plak!
Abiseka menampar wajah anaknya. Satya tak melawan. Dia hanya diam menerima apa yang dilakukan ayahnya.
"Kapan papi mengajari kamu untuk berkhianat, Satya?" Abiseka langsung mencengkram kerah baju anaknya. wajah Abiseka terlihat sangat marah.
"Hey Sadar, Sat! setan mana yang masuk ke dalam otakmu, hah?" satu tangan Abiseka menepuk pipi Satya dan tangan yang lain masih mencengkram kuat kerah baju anaknya.
"Pih, jangan Pih..." Sandra memelas, dia tak mau Satya ditampar atau dipukul lagi oleh suaminya.
"Biar, Mam! anak seperti ini tidak perlu kamu bela. Biar papi kasih pelajaran, buar dia sadar!"
"Pih, lepasin Satya, Pih. Papi tenang dulu, Pih..." Sandra berusaha melerai keduanya. Abiseka melepaskan Satya dengan kasar,.
"Kita duduk dulu, dan bicarakan semuanya baik-baik..." kata Sandra.
"Pih..." Sandra menarik tangan lengan suaminya.
"Ayo, Sat?" Sandra menggerakkan sedikit kepalanya.
Satya membuang nafas, ia meraba wajahnya yang terasa panas. Suasana semakin kacau. Bahkan ia tak pernah melihat papinya semarah itu.
Dan sekarang mereka duduk di sebuah ruang keluarga. Abiseka tak melepaskan tatapan tajamnya ke arah Satya.
"Panggil istrimu sekarang," perintah Abiseka.
"Aku bisa jelasin, Pap! aku nggak ada niat sedikit pun buat menghianati pernikahan aku, Pap," kata Satya.
"Papi bilang panggil istrimu sekarang!" teriak Abiseka.
"Sat? apa Amartha sudah kembali?" tanya Sandra pelan. Satya menggeleng.
"Papi tidak menyalahkan Amartha, jika dia pergi meninggalkan suaminya yang selingkuh dengan wanita lain," ucap sang papi.
"Kenapa masalahnya bisa sampai sebesar ini?" gumam Satya yang nampak berpikir.
__ADS_1
"Kenapa? kamu kaget kenapa papi bisa tahu kelakuan busukmu ini?" sindir Abiseka pada anaknya.
"Kita beri kesempatan Satya untuk menjelaskan semua ini, Pih..." kata Sandra mencoba menenangkan suaminya.
Abiseka memergoki Satya yang dipeluk Ivanka di ruang kerja. Posisi mereka membelakangi pintu dan sekilas Abiseka mendengar apa yang diucapkan Ivanka mengenai hubungan anaknya dan wanita itu. Abseka yang murka, langsung menelepon seseorang untuk menyelidiki hubungan Satya dan Ivanka.
"Papi kecewa sama kamu, Satya! papi tidak pernah menyangka, kamu akan melakukan hal seperti ini. Terlebih lagi kamu akan mempunyai seorang anak. Papi sudah mewanti-wanti, supaya kamu jangan terlalu dekat dengan Ivanka. Apa yang kamu lakukan bukan hanya menyakiti Amartha, tapi juga keluarganya. Bagaimana jika Rudy sampai tahu akan hal ini? coba kamu pikirkan perasaan mereka!" kata Abiseka.
"Tapi aku nggak menghianati Amartha, sebenarnya aku..." Satya pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai bukti, ia menelepon Carlo dan ia mengaktifkan mode speaker di ponselnya. Satya berbincang dengan Carlo sementara Sandra dan Abiseka mendengarkan tanpa bersuara.
"Thanks,!" ucap Satya sebelum mematikan sambungan telepon itu.
Abiseka memandang istrinya sebelum mengatakan sesuatu pada anaknya.
"Apapun yang kalian rencanakan, papi ingin kamu temukan menantuku! papi tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya," kata Abiseka.
Sementara Amartha yang sudah selesai berbelanja, wanita itu pun masuk ke dalam mobil sementara Esih menata barang belanjaan di dalam bagasi dibantu oleh supir.
"Nuhun, Mang!" ucap Esih saat pintu bagasi di tutup.
Esih kemudian masuk dan menutup pintu mobil. Namun saat mobil akan dinyalakan, tiba-tiba Amartha menepuk lengan Esih.
"Eneng mau? kalau mau saya belikan," kata Esih. Amartha mengangguk, matanya berbinar. Baru kali ini ia sebebas ini memilih makanan yang ia suka.
"Teh, jangan lupa batagornya ya Teh. Itu sama otak-otak juga, sekalian cuankinya juga," kata Amartha yang seakan gelap mata melihat jajanan.
"Ya sudah Neng tunggu disini dulu, saya mau beli..." kata Esih yang kemudian membuka pintu mobil.
"Tunggu sebentar ya, Mang?" kata Esih pada supir mobil Akbar.
"Coba kalau pergi sama mas Satya, pasti nggak dibolehin tuh makan begituan," ucap Amartha, sesaat matanya berembun. Ia tersenyum getir saat mengingat lembaran foto Ivanka yang melingkarkan tangannya di lengan Satya.
"Huuufhh," air mata lolos begitu saja dari kedua matanya yang terasa panas. Amartha mengusap pipinya dan mengatur nafasnya. Ia merasakan perutnya sedikit kencang bahkan ia merasakan ada yang mendorong dan membuatnya sedikit merasakan nyeri di bagian perut bawahnya.
"Huuffh, sabar sayang kita pulang sekarang, ya? " ucap Amartha seraya mengelus perutnya.
Esih datang dengan membawa banyak sekali jajanan.
"Pegang dulu, Neng..." kata Esih menyerahkan dua papper bowl berisi es durian, sedangkan ia meletakkan dua kantong keresek berwarna putih di jok kursi ditengah-tengah antara dirinya dan Amartha.
"Tadi saya beli air mineral juga," kata Esih seraya menutup pintu.
__ADS_1
"Teteh emang terbaik," kata
"Jalan, Mang!" ucap Esih pada supir.
Amartha nampak menikmati es duriannya, rasa durian yang manis bercampur dengan beberapa toping yang membuat es ini menjadi semakin enak. Esih yang melihat bumil makan dengan lahap pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, Esih tak mau bertanya mengapa wanita itu datang ke Villa tanpa suami atau keluarganya. Menurutnya itu masalah pribadi Amartha, dan ia tak berhak sekalipun mencampurinya. Namun jika dilihat dari bentuk perut Amartha, Esih memperkirakan persalinannya tidak akan lama lagi.
"Kenapa, Teh? kok esnya nggak dimakan?" tanya Amartha.
"Eh, nggak Neng! lagi inget aja sama anak," ucap Esih berbohong.
"Emang, anaknya Teteh..." belum sempat Amartha menyelesaikan pertanyaannya, Esih segera menjawabnya.
"Sekolah di kota, ikut bapaknya..."
"Oohh," Amartha mengangguk paham.
Esih mulai menyuapkan es durian ke mulutnya. Bekerja dengan Amartha membuatnya nyaman, karena wanita itu memperlakukannya seperti keluarga sendiri.
Setelah meneguk air mineralnya, Amartha mulai melihat isi di dalam kantong keresek berwarna putih. Dia mengambil batagor yang diwadahi papper box. Amartha membukanya dan aroma saus kacang langsung menyeruak.
"Neng, saya tadi belikan juga untuk Den Akbar, tidak apa-apa, kan?" tanya Esih.
"Iya, Teh ... makasih loh udah beliin, aku malah lupa ya buat ngasih mas Akbar," jawab Amartha.
"Ini tadi kembaliannya, Neng..." ucap Esih saat menyerahkan uang kembalian dari sakunya.
"Buat Teteh aja, buat jajan..." kata Amartha seraya mengambil sendok plastik dan mulai menikmati batagor yang rasanya juara di lidah Amartha.
Setelah kenyang Amartha pun tertidur. Mobil bergerak menyusuri jalan menuju villa. Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai juga ditempat tujuan.
"Neng ... Neng..." Esih membangunkan Amartha yang masih terpejam.
"Kita dimana, Teh?" tanya Amartha yang perlahan membuka mata.
"Di teras villa, Neng..." jawab Esih.
Amartha pun mengerjapkan matanya, ia menegakkan tubuhnya, mulai membuka pintu mobil.
Setelah menurunkan semua belanjaan, Esih pun membuka pintu sementara Amartha duduk di kursi yang ada di depan rumah.
...----------------...
__ADS_1