
Sesampainya di rumah, Satya langsung ngibrit ke kamarnya dia meninggalkan Amartha di ruang tamu.
"Hahahah, astaga ... masuk kemana aja tuh semut," Amartha sudah tidak kuat lagi untuk tidak tertawa.
"Astaghfirllah ... hahahhaa,"
"Kamu ketawa kenapa? dateng-dateng malah cekikikan," kata Rosa menghampiri anaknya.
"Nggak apa-apa, Mah ... aku mau ke kamar nyusulin mas Satya dulu," Amartha memghentikan tawanya.
"Oh ya, Mah ... nitip ini," Amartha memberikan keresek yang berisi jambu air.
"Beli dimana?" Rosa memgernyitkan keningnya saat membuka keresek hitam yang ada ditangannya.
"Bukan beli tapi minta sama pak Dirga," jawab Amartha
"Mah ... mintain tolong Nuri biar buatin sambel kacang dong, Mah! Oh ya, Mah ... sama buatin juga cabe yang diulek sama garam, tempatnya suruh dipisahin gitu. Aku mau liat mas Satya dulu, lagi gatel-gatel dia," lanjut wanita itu.
"Habis ngapain? kok sampe gatel-gatel?"
"Manjat pohon jambu," sahut Amartha.
"Tangan baru juga sembuh udah manjat-manjat, ya udah kamu liat dulu sana," kata Rosa yang kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.
Amartha berjalan perlahan ke kamarnya, namun ia tak melihat suaminya.
"Mas? kamu di dalem?" seru Amartha.
"Iya!" sahut Satya.
"Masih lama?" tanya Amartha.
Sesaat Satya membuka pintu kamar mandi. Dia ternyata hanya berganti pakaian. Pria itu memakai celana pendek dan kaos.
"Muka kamu merah-merah gini, Mas?" Amartha melihat wajah dan leher Satya ruam-ruam.
"Iya, tau nih..."
Amartha mengajak suaminya untuk duduk di ranjang. Wanita itu menyentuh wajah Satya, ia memeriksa mana saja yang terkena sengatan semut.
"Mau aku kasih tepung singkong?" tanya Amartha sambil mengelus wajah suaminya.
"Tepung singkong?"
"Tepung tapioka. Tepung aci kalau nggak ngerti mah!" jelas Amartha.
"Apaan pakai tepung singkong! emangnya aku mau dbikin cilok? tega banget kamu, Yank!" Satya spontan menangkup wajahnya sendiri. Tangan Amartha tersingkir begitu saja
"Aku minum obat aja, aku bawa kok obat anti alergi," kata Satya yang bergerak menuju salah satu kopernya.
"Atau mau kasih bedak dingin?" tanya Amartha.
"Nggak nggak! kayak gini minum obat aja cukup," Satya menolak ditaburi tepung atau pun bedak. Satya mengambil obat yang diperlukannya lalu segera menelan obat itu dengan bantuan air putih yang ada di botol yang ditaruh di meja.
__ADS_1
"Sini aku liat dulu, aku kasih minyak kayu putih punggung kamu, Mas!" ucap Amartha.
"Nggak pakai tepung-tepungan, kan?"
"Cuma pakai ini..." Amartha menunjukkan minyak kayu putih di tangannya. Satya pun berani mendekat, duduk membelakangi istrinya lalu menarik kaosnya ke atas.
"Merah-merah semua kayak habis kena azab, Mas!" celetuk Amartha.
"Jahat banget kamu, Yank..." Satya ngambek.
"Lagian siapa juga yang nyuruh manjat?" Amartha mengoles minyak kayu putih di punggung suaminya.
"Kan tadi pak Dirga bilang bisa manjat, tho?" ucap Satya meniru apa yang diucapkan tetangga Amartha.
"Ya kan dia cuma bilang gitu bukan berarti nyuruh kamu manjat. Tinggal bilang tangan lagi sakit gitu," Amartha malah mengomel, ini semua terjadi juga karena permintaannya yang ingin makan jambu air. Satya menarik nafas sebelum menjawab.
"Harga diri, Yank..."
"Harga diri gimana sih maksudnya?" tanya Amartha.
"Ya harga diri lah, dia itu bukan nanyain tapi negesin kalau aku itu bisa manjat. Beda loh nanyain sama negesin," Satya merasakan hangat di punggungnya.
Amartha tak mau berdebat dengan Satya. setelah selesai mengoleskan minyak kayu putih, Amartha pun menurunkan kembali kaos yang dipakai suaminya. Satya berbalik menatap Amartha yang mengulum senyumnya.
"Udah deh, Yank..." ucap Satya.
"Udah apaan coba?"
"Muka kamu itu loh," Satya mendesis.
"Keliatan ngeledeknya," ucap Satya.
"Aku mah bukan kamu yang suka ngeledek, apalagi kalau ngomong sama adik kamu, Prisha. Sampai 7 turunan 7 tanjakan 7 puteran juga nggak akan selesai," cibir Amartha.
"Itu karena dia yang nyebelin," Satya tak mau kalah.
"Udah mendingan apa belum?" tanya Amartha.
"Apanya?"
"Itu gatelnya lah," Amartha menunjuk tangan Satya yang juga bentol-bentol.
"Masih lah, kan baru minum obat juga barusan emang kayak di iklan begitu teguk langsung sembuh?" ucap Satya. Rasa gatal membuatnya sedikit emosi, dari dulu dia paling tidak bisa menahan gatal.
"Lagian semutnya banyak emang?" tanya Amartha.
"Nggak banyak tapi mereka gigitnya berjamaah. Terus keluyuran kesana kemari," kata Satya yang mengusap lengannya secara bergantian.
"Jangan digaruk, nanti luka!" Amartha mencegah tangan Satya.
"Tapi aku nggak tahan,"
"Aku aja yang..." ucapan Amartha menggantung. Wanita itu malah menancapkan kuku di jari telunjuknya menekan pada kulit yang bentol.
__ADS_1
"Aaaaaawhhh!" Satya memekik kaget.
"Tega banget kamu, Yank!" Satya menarik tangannya cepat.
"Udah deh, diem bentar! ini biar nggak gatel," ucap Amartha menarik lagi lengan Satya. Dia menancapkan lagi kukunya.
"Aaaaaaawhhhh!" Satya memekik lagi.
"Ya Allah, kamu dapet ilmu dari mana sih, Yank?" Satya mengusap kulitnya yang terdapat bekas kuku istrinya.
"Feeling aja..." sahut Amartha santai.
"Gatelnya emang ilang, Yank..." Satya meniupkan udara ke lengannya.
"Tuh kan manjur caraku!" Amartha tersenyum bangga.
"Gatelnya emang ilang tapi kulitku jadi perih tau, nggak?" Satya meniupkan lagi kulitnya yang habis ditubles kuku macan.
"Ya kan syarat dan ketentuan berlaku, Sayang..." kata Amartha yang tak bisa lagi menahan tawanya. Satya mencubit pipi Amartha gemas, yang benar saja wanita itu sudah berani mengerjainya.
"Sini, mau lagi?" Amartha mendekatkan tangannya pada lengan Satya yang satunya.
"Nggaaaaaakkk!" seru Satya. Pria itu langsung menyembunyikan badannya di balik selimut.
Sementara di tempat lain, Firlan sedang mengajak Vira untuk makan sesuatu yang dingin dan manis. Ya, sekarang mereka berada di sebuah kedai es teller.
"Tumben malem-malem pengen makan es kayak gini?" tanya Firlan.
"Lagi pengen aja," jawab Vira.
"Kok cuma diaduk gitu? nggak enak?" tanya Firlan.
"Enak kok," jawab Vira.
"Terus kenapa nggak dimakan?" tanya Firlan.
"Ini juga mau dimakan, Ay..." kata Vira tersenyum tipis.
"Kenapa? lagi ada masalah?" tanya Firlan, ia tak puas dengan jawaban dari Vira.
"Nggak, Ay..." jawab wanita berponi itu.
"Nggak mungkin! pasti lagi ada yang kamu pikirin, soalnya kan biasanya kamu itu nyebelin, Ay!" Firlan kelepasan ngomong.
"Gimana gimana? nyebelin? aku?" Vira menghunuskan tatapan tajam pada kekasihnya.
"Udah jangan marah, nanti cepet keriput!" kata Firlan.
"Bukannya yang sering marah-marah nggak jelas itu kamu. Kamu tuh galaknya konsisten dari dulu, tau nggak?" kata Vira, lalu menyuapkan satu sendok alpukat yang bercampur dengan daging kelapa.
"Kayak gitu aja kamu terpesona, apa lagi kalau aku lembut dan romantis! bisa-bisa kamu nyengir mulu tiap hari," kata Firlan. Vira malah menghembuskan nafasnya.
"Ay ... aku mau ngomong serius," kata Vira. Firlan menautkan kedua alisnya, menatap Vira dengan lekat.
__ADS_1
"Gimana kalau aku..." ucap Vira menggantung.
...----------------...