Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Pencarian


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu.


Saat ini matahari bergerak naik ke atas, menunjukkan sinarnya yang hangat. Amartha sedang memandang sebuah notes yang ada di tangan kirinya. Ia duduk di tepi ranjangnya, sembari menghela nafas.


"Apa aku harus menghubungi Vira, ya?" Amartha memejamkan matanya sesaat lalu membukanya kembali sambil meraih pinselnya yang tergeletak di samping kanannya.


Ia kemudian memencet nomor ponsel Vira di layar ponselnya, namun kegiatannya terhenti tiba-tiba.


"Tapi kalau aku ngehubungin Vira, apa iya dia nggak akan cerita sama Firlan?" Amartha masih menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya. Akhirnyabia mengurungkan nuat itu dan kembali memasukan notes ke dalam tas.


Amartha yang sudah cantik dengan kardigan panjang yang membuatnya terasa hangat. Semakin hari, kandungannya semakin besar. Bayi yang ada di dalam perutnya pun semakin aktif saja. Amartha berniat membeli susu untuknya dan beberapa baju bayi. Karena sampai saat ini dia belum ada keinginan untuk pulang.


"Neng?" panggil Esih sambil mengetuk pintu.


"Iya, Teh..." Amartha beranjak seraya menyampirkan tas selempangnya di bahunya.


Amartha berjalan dan membuka pintu perlahan, ia melihat Esih sudah siap.


"Kita berangkat sekarang," ajak Amartha, wanita itu menutup pintunya dari luar.


"Tunggu, Teh. Aku lupa mau pesan mobil dulu," ucap Amartha.


"Eh, saya lupa mau bilang kalau sudah ada mobil buat pergi ke kota," kata Esih.


"Mobil siapa , Teh? kan saya belum mesen..." kata Amartha.


"Mobilnya Den Akbar," jawab Esih.


"Nggak enak lah, Teh ... masa pakai mobil dia?" Amartha menggeleng. Dia tidak mau banyak berhutang budi dengan orang lain.


"Saya yang pinjam, soalnya disini beda dengan kota. Disini kalaupun ada kendaraan adanya sewaan mobil ompreng. Kasihan Neng kalau naik mobil kayak gitu, keguncang-guncang yang di dalem. Lagipula, kita pergi sama supirnya Den Akbar, jadi Neng tidak perlu sungkan," jelas Esih.


Amartha menepuk jidatnya, ia lupa disini tidak ada jasa taksi online, bahkan sinyal pun masih kedap-kedip. Apalagi kalau kabut turun, sinyal langsung hilang.


"Bagaimana, Neng?" tanya Esih membuyarkan lamunan Amartha.


"Ya udah, Teh ... tapi nanti kita ganti isiin bensinnya, sama bayarin supirnya. Saya nggak mau gratisan, Teh..." kata Amartha.


"Iya nanti, gampang diatur itu. Yang penting sekarang kita bisa pergi," kata Esih.

__ADS_1


Amartha harus pergi ke kota karena persediaan uangnya sudah semakin menipis. Disamping itu dia juga ingin membeli beberapa sweater dan kebutuhan lainnya.


Amartha bersama Esih masuk ke dalam mobil berwarna putih. Perlahan mobil berjalan meninggalkan pelataran Villa.


Dari kejauhan terlihat seorang pria yang melihat mobil bergerak menjauh dari pandangannya. Pria itu pun memutar kendaraan roda duanya kembali menuju rumah.


Selama di perjalanan, Amartha masih memikirkan apakah ia harus menghubungi Vira atau tidak. Persalinan tidak bisa diprediksi, bisa lebih cepat atau mundur dari perkiraan. Ada rasa khawatir di hati Amartha, bagaimana dia akan mengahadapi hari itu seorang diri.


"Lagi mikirin apa, Neng?" tanya Esih.


"Nggak ada, Teh..." Amartha memasang senyum tipisnya.


"Kalau lagi hamil teh kudu bahagia, tidak boleh banyak pikiran. Nanti berpengaruh juga sama dedek yang ada di perut Neng," Esih mengingatkan.


"Iya, Teh..." ucap Amartha. Ia merasa sangat beruntung dalam keadaan seperti ini ada saja orang yang berbaik hati padanya.


Lumayan jauh perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju kota. Untung saja mobil milik Akbar sangat nyaman, bahkan tidak terasa jika ada guncangan. Amartha mengatur posisi kursinya agar bisa sedikit rebahan. Ia menutupi tubuhnya dengan kardigan yang ia lepas dan ia gunakan sebagai selimut.


Rintik hujan menemani perjalanan mereka, suasana semakin dingin saja.


"Tidur dulu saja, Neng. Masih lumayan jauh..." kata Esih.


"Kalau saya merem nanti Teteh nggak ada temen ngobrol," kata Amartha.


"Iya lumayan, Neng. Yang penting jangan turun kabut," ucap Esih.


"Disini tuh tenang banget ya, lama-lama betah juga," kata Amartha sambil terkekeh.


"Suasananya masih alami, beda dengan kota yang sudah banyak asap kendaraan," lanjut Amartha.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di kota. Amartha mengajak Esih ke sebuah pusat perbelanjaan setelah ia menarik uang di mesin ATM.


"Ayo, Teh naik..." ucap Amartha menunjuk sebuah escallator pada Esih.


"Punten, Neng. Saya takut naik beegituan, kalau jatuh bagaimana? saya teh ngeri pisan, Neng..." kata Esih yang menolak untuk menaiki escallator.


"Teteh tinggal melangkah aja, Teh. Terus tangannya pegangan, nggak akan jatuh beneran deh..." bujuk Amartha, Esih nampak ragu. Karena baru pertama kalinya ia masuk di pusat perbelanjaan yang berada di tengah kota.


"Ayo, kalau Teteh nggak nyoba, kan nggak bakalan tau bisa atau nggaknya," kata Amartha yang memegang tangan Esih dan mengajaknya mendekat pada tangga yang berjalan itu.

__ADS_1


.


.


Sementara di negara lain. Kenan yang mengetahui jika Amartha kabur dari rumah pun khawatir.


Ia menghubungi seseorang, dia takut terjadi apa-apa dengan wanita yang saat ini masih mengisi hatinya.


"Halo? Wan? apa benar berita itu?" tanya Kenan gusar.


"Kamu segera lacak keberadaannya, tolong Wan! saya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk, saya akan terbang ke Indonesia hari ini juga," kata Kenan yang sudah panik.


Kenan mengusap wajahnya kasar, ia meminta Irwan untuk melacak kartu yang ia berikan pada Amartha. Barangkali wanita itu sempat menarik uang di kartu itu. Segala kemungkinan harus dicoba, Amartha tidak akan kabur jika tidak ada masalah yang berarti.


"Dulu aku gagal melindungimu, aku harap aku bisa menebusnya saat ini," gumam Kenan sambil mengepak baju ke dalam koper.


Ia segera menyiapkan pasport dan segera memesan tiket kepulangannya.


.


.


Satya masih mencari Amartha. Orang suruhannya belum memberikan informasi apapun mengenai keberadaan wanita itu.


"Lan? bagaimana? sudah ada perkembangan?" tanya Satya lewat ponselnya.


"Nyonya, menaiki taksi sesaat turun dari mobil yang disupiri Damian. Saat ini kita sudah mendapatkan plat mobil itu, dan orang kita sedang menginterogasi supir yang membawa nyonya saat itu," jelas Firlan.


"Lalu?" tanya Satya.


"Kenapa istriku belum ditemukan?" lanjut Satya.


"Supir itu masih bungkam, Tuan. Dia mengira kita irang jahat yang mengincar nyonya," jawab Firlan.


"Dimana dia? biar aku yang bicara," tanya Satya.


Firlan pun akhirnya memberitahu dimana si supir taksi itu berada. Satya segera bersiap, ia memakai kemejanya yang mengambil sebuah bukti yang akan membuat orang itu akan mengatakan padanya mengenai keberadaan Amartha, istrinya.


Satya keluar dari kamar, dan menuruni anak tangga. Ketika sampai pada anak tangga terakhir ia dikejutkan oleh seseorang.

__ADS_1


"Dasar anak tidak tau diri!" teriak pria itu.


...----------------...


__ADS_2