
Amartha berlari dan berlari menuju lift yang kebetulan terbuka, kotak besi itu membawanya ke lantai 3, entah lah dia hanya asal naik untuk menghindari Kenan.
Amartha kemudian menuju tangga darurat, kakinya perlahan-lahan menuruni setiap anak tangga, dia harus ke poli secepatnya sebelum para seniornya datang. Setiap perkataan Kenan terngiang-ngiang dikepalanya, dia hanya tersenyum kecut. Hah, cinta yang bagaimana yang Kenan maksud.
Jika cinta mereka berdua memang sekuat itu, tidak mungkin mereka mampu berpisah, dan selama setahun itu Kenan tak sekalipun mencarinya, cinta yang bagaimana yang pria itu maksud? cinta yang membuat orangtuanya nyaris kehilangan nyawa? Amartha ingin bahagia, dia lelah jika terus berlari dan berlari, dia ingin duduk tenang bersama orang yang menyayanginya.
Tanpa terasa kakinya berada di pijakan tangga terakhir, ia pun melongok ke kanan dan ke kiri seperti seorang pencuri. Setelah dirasa aman, wanita itu berjalan lebih tepatnya setengah berlari ke poli umum. Sementara Kenan mendapat telepon dari asistennya Ferdy untuk segera datang ke perusahaan. Kenan akan kembali besok untuk menemui Amartha, pria itu langsung meluncur ke perusahaan Brawijaya.
Ketika Amartha sampai di poli orthopedi, tempat semua perawat shift pagi berkumpul, setiap pagi sebelum pelayanan memang semua perawat poli mengikuti biefing.
Semua mata memandang Amartha yang muncul dibalik pintu, mereka saling berbisik, ada yang bilang dia diterima di rumah sakit lewat orang dalam, ada yang bilang janda muda, ada yang bilang wanita bermuka dua, banyak lagi kata-kata pedas lainnya, Amartha jelas mendengar itu, namun tubuhnya seakan terpaku ditempat, matanya mulai panas namun sebisa mungkin ia tahan.
"Kenapa mereka bicara seperti itu?" gumamnya dalam hati. Ia menatap nanar satu persatu wajah mereka yang sedang berkumpul.
"Kalian mau-mau aja kemakan gosip murahan kayak gitu? nggak mutu!" Maria langsung menarik Amartha keluar ruangan.
"K-kak?" pekik Amartha saat tangannnya tiba-tiba ditarik.
"Udah lo diem aja, daripada disana kuping lo panas denger mulut jahat mereka," Maria melangkahkan kakinya cepat sementara, Amartha terpaksa mengikuti seniornya itu.
"Kak tunggu, kakak ... kita mau kemana?"
"Maria!" Dhea mengejar Maria dan Amartha, membuat Maria tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Dhea.
"Maria sebaiknya kamu nggak usah ikut campur, Amartha kamu ditunggu diruangannya pak Handi, ke ruangan manager, kamu harus klarifikasi masalah ini," Dhea menatap Maria tajam, lalu mengalihkan pandangannya pada Amartha.
"Dhea, kamu tuh sama aja sama mereka, gosip kayak gitu aja kamu langsung percaya, kayak gitu cara kamu memimpin kita? lo penanggung jawab perawat disini, tapi sikap lo nggak netral, jangan-jangan lo ada masalah pribadi sama dia, ya?" Maria terus saja nyerocos tanpa titik koma, membuat Dhea marah dibuatnya.
"Nggak usah ngarang ya?!" Dhea berkilah, dia memang merasa diuntungkan dengan masalah yang menimpa Amartha, setidaknya dia bisa menjauhkan Amartha dari dokter Alvin.
__ADS_1
"Halah, jangan muna deh lo, gue tau lo nggak suka kan sama dia? karena dia deket sama dokter Alvin?" seakan membaca pikiran Dhea, Maria melayangkan tuduhannya
"Maria jangan asal ngomong, ya!" Dhea meninggikan suaranya, membuat Maria tersenyum penuh arti.
"Semua orang disini juga tau kalau kamu ngejar-ngejar dokter Alvin, tapi sayangnya sama sekali nggak direspon, heh? emang lo pikir mereka semua suka ama lo, Dhe? hahaha, mereka semua ngomongin lo dibelakang," Maria tertawa mengejek Dhea yang sudah merah padam.
"Udah Kak, udah ... kakak jangan ribut disini, nggak enak dilihat sama yang lain," Amartha mencoca melerai keduanya
"Amartha, kamu ditunggu di lantai 7, cepat selesaikan masalahmu," ucap Dhea yang berjalan menuju ruangannya.
"Huffft, iya Kak..." Amartha menghela nafas panjang.
"Aku antar kamu sampai lantai 7, berita yang beredar pasti berita nggak bener, aku yakin kamu nggak seperti yang mereka tuduhkan," kata Maria menatap Amartha dalam.
"Berita apa, Kak? aku masih belum tau apa yang sebenernya terjadi," ucap Amartha meminta jawaban dari Maria.
"Nih, liat sendiri," Maria menyodorkan ponselnya dan menunjukkan grup chat yang membahas sebuah foto dan rekaman suara Amartha dengan seorang laki-laki, hanya sepotong yang menyatakan laki-laki itu meminta rujuk.
Ditempat lain, Firlan menerima sebuah pesan dari gadis yang beberapa waktu ini hilang bagaikan ditelan bumi, siapa lagi kalau bukan Vira. Vira bukannya langsungbmenghubungi Amartha, dia malah menghubungi Firlan, karena dia tau gosip-gosipnya Amartha sedang menghadap manager di lantai 7.
Firlan yang mendapat kabar itu lantas memberi tahu Satya yang tengah menghadiri rapat para petinggi perusahaan.
"Tuan, sepertinya ada masalah dengan Nona," bisik Firlan pada Satya yang tengah duduk memimpin rapat.
"Apa? ngomong yang jelas!" Satya menatap Firlan tajam.
"Anda bisa lihat sendiri," Firlan memperlihatkan sebuah foto, dan chat dari Vira.
"*****!" sebuah makian meluncur dari mulut Satya, melihat foto Amartha bersama Kenan. Para anggota rapat saling pandang melihat perubahan wajah Satya.
__ADS_1
"Ehem, saya ada urusan penting, maaf saya akhiri rapat sampai disini, terima kasih," kata Satya seraya bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan ruang rapat.
"Jam 9 nanti, ada meeting dengan-" Firlan mencoba mengingatkan bosnya
"Batalkan semua rapat penting hari ini," seru Satya tanpa menghentikan langkahnya.
"Oh ya, saya akan membereskannya sendiri, saya akan memberi kejutan untuk mereka semua," kata Satya yang langsung berjalan menuju kotak besi.
"Baiklah bos!" cicit Firlan, kemudian ia kembali ke ruangannya.
Selama perjalanan dari kantor ke rumah sakit pikiran Satya sangat kacau, kalau dibilang cemburu, ya pasti dia cemburu, namun tuduhan-tuduhan kejam yang mengarah pada Amartha yang membuatnya geram, dia yakin bisa menyumpal mulut-mulut kotor mereka.
Tak butuh waktu lama, Satya memarkirkan mobilnya di parkiran depan rumah sakit, para pegawai yang mengetahui pemilik rumah sakit datang pun membungkuk hormat, namun melihat wajah Satya yang terlihat tidak bersahabat mereka mengurungkan diri untuk menyapa.
Satya naik menuju lantai 7, dia langsung membuka ruang manager tanpa mengetuk pintu dahulu.
"Tu-tuan? an-anda-" Handi begitu gugup saat ia melihat Satya tiba-tiba membuka pintu dengan kasar. Amartha pun tak kalah terkejut saat melihat Satya masuk ke ruangan itu.
"Ada apa ini?" tanya Satya dengan nada datar, namun tidak dengan raut wajahnya yang berubah sangat menakutkan.
"Oh, ini Tuan, salah satu perawat kita terlibat skandal," ucap Handi dengan menunjukkan bukti foto-foto Kenan dan Amartha.
Amartha hanya menggeleng dengan deraian airmata membasahi pipinya, ia menatap sendu ke arah Satya, dia berharap Satya tidak mempercayai foto yang tersebar. Memang di toilet Kenan memeluknya namun, entah bagaimana angle foto itu seperti Amartha dan lelaki itu sedang melakukan hal. Satya mengabaikan tatapan mengiba Amartha.
"Skandal?" Satya tersenyum sinis.
"Kamu tau siapa dia?" Satya menarik lengan Amartha, untuk segera berdiri.
...----------------...
__ADS_1
Author lagi ngejar crazzy up loh, ehem....boleh ya setelah baca klik like dan komennya...maacihhh kesayangan