
1 tahun kemudian.
.
.
.
Setelah berpisahnya Amartha dengan Kenan, Amartha tak pernah sekali pun bertemu dengan pria yang pernah mengisi hatinya itu. Amartha pun menyembunyikan keadaannya dari kedua orangtuanya, baik Rudy maupun Rosa tidak mengetahui perihal perpisahan Kenan dan Amartha.
Putri semata wayangnya itu sudah satu tahun tidak pernah pulang. Amartha beralasan bahwa dia belum bisa berkunjung karena Kenan sedang membangun bisnisnya di luar pulau, namun ketika ditanya, mereka tinggal dimana, Amartha hanya bilang mereka sekarang tinggal di luar Jawa.
Amartha belum siap untuk bicara jujur, dia belum siap membuat hati orangtuanya kecewa. Selama satu tahun itu, Amartha menyelesaikan kuliahnya di kota S, dia bekerja di sebuah klinik dokter untuk membiayai kehidupannya di kota itu.
Vira yang melihat perjuangan hidup Amartha yang tidak mudah pun, sedikit demi sedikit membantu sahabatnya itu. Hari ini hari terakhir untuk bayar wisuda, Amartha bingung dari pihak kampus menyatakan bahwa Amartha telah melunasi biaya wisudanya. Bagaimana bisa? lha wong dia baru dapat uangnya kemarin, pas dapat gajian dari klinik.
Kejadian seperti ini bukan hanya sekali, tapi berkali- kali. Nah, seperti uang semester yang tiba-tiba sudah lunas begitu saja. Amartha bersikeras, bicara ke pihak kampus bahwa dia merasa belum membayar uang semesteran, namun dari bagian keuangan mengatakan bahwa ada seseorang yang telah melunasi uang semesteran, bahkan uang untuk praktek kerja lapangan di rumah sakit, semuanya sudah lunas. Amartha hanya mngerutkan keningnya, ia memasukkan kembali uangnya ke dalam tas.
"Kenapa, Ta?" tanya Vira saat melihat wajah bingung Amartha.
"Katanya udah dibayar, tapi aku kan belum bayar, bingung aku tuh!" kata Amartha sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Ah, nggak usah dipikirin, itu namanya rejeki!" kata Vira yang langsung menggandeng lengan Amartha untuk segera pergi dari ruangan itu.
"Tapi-" Amartha menahan tangan Vira sesaat.
"Udahlah, mending kita ke kantin aja, aku udah laper!" ucap Vira yang menarik Amartha untuk pergi menemaninya mengisi perut di kantin. Vira menyunggingkan senyumnya penuh arti.
Tak berapa lama , kedua sahabat itu sampai di kantin. Vira dan Amartha memilih meja di pojokan, keduanya mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia. Mereka duduk berhadapan.
"Kamu mau pesen apa?" tanya Vira.
"Kamu aja, Vira ... aku nggak ah," sahut Amartha.
"Jangan gitu, aku tau ... kamu masih mikirin uang wisuda yang udah dibayarin, kan?" tanya Vira, Amartha hanya menggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Rasa penasarannya dilanjut setelah makan, sekarang udah siang, waktunya ngisi perut, lagian nanti sore kamu kerja di klinik, kan?" Vira bicara tanpa titik koma.
"Iya deh iya, bawel! aku soto sama es jeruk aja, Vir..." Amartha tidak mau berdebat lagi, itu hanya membuat kepalanya semakin cenat- cenut.
"Siapa sih sebenernya yang udah bayarin uang kuliah aku? aku sampe nyatronin bagian keuangan mulu, takut mereka salah ketik apa gimana, ah ... tau ah, puyeng!" gumam Amartha yang mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
Otaknya yang loadingnya lama pun dibuat ngebul perkara duit kuliah. Amartha sengaja menyimpan uang semesteran dan uang lainnya yang seharusnya sudah ia bayarkan di rekeningnya. Ia memisahkan uang itu dari uang makan, ia takut kalau pihak kampus tiba-tiba bilang kalau mereka melakukan kesalahan, dan meminta uang itu dari Amartha.
"Dorr!" Vira mengagetkan Amartha yang sibuk dengan pikirannya.
"Astaghfirllah!" ucap Amartha sembari mengusap dadanya.
"Lagian, ngelamun aja!" kata Vira sambil membawa pesanan mereka. Vira dan Amartha memang suka membawa pesanan mereka sendiri, itung- itung bantu bu kantin yang lagi repot ngurusin pesanan orang.
__ADS_1
"Makan dulu, mumpung masih panas!" ucap Vira sambil menyodorkan satu mangkuk soto dan es jeruk di depan Amartha.
"Vira, aku nggak ke kos ya, aku mau gantiin temenku, dia lagi ada urusan sebentar ... jadi nggak bisa masuk di klinik dokter Caroline, dia praktek dari jam 1 sampe jam 5 sore, temenku itu bisa datengnya jam 3, jadi aku gantiin dia 3 jam, abis itu baru deh aku lanjut ke kliniknya dokter Rizal," kata Amartha sembari menuangkan sambal dan kecap manis di kuah sotonya.
"Nggak capek kamu, Ta?" tanya Vira yang menatap Amartha dengan lekat.
"Nggak! udah biasa ... lumayan, kalo gantiin temenku itu, bayarannya harian ... kan bisa buat nambah-nambahin bayar kosan, aku malu masa kamu terus yang bayar kos?" ucap Amartha yang mulai menyeruput es jeruknya
"Aku nggak pernah mempermasalahkan itu loh Amartha, kita ini sahabat, Ta..." ucap Vira memandang sendu Amartha.
"Liat badan kamu, makin kurus sekarang, kamu itu terlalu capek, Ta..." lanjut Vira.
"Makasih Vira... tapi aku nggak mau terus-terusan ngerepotin kamu, lagian lusa kita wisuda, aku udah banyak hutang sama kamu," ucap Amartha.
"Amartha, denger ya ... aku nggak pernah menganggap itu sebagai hutang loh, kamu nggak pernah ada hutang sama aku..." kata Vira seraya menggenggam tangan sahabatnya. Amartha terharu dengan semua yang diucapkan Vira padanya.
"Udah-udah, jangan ngomong terus, sotonya keburu dingin," ucap Vira mengalihkan pembicaraan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
Keesokan harinya.
Jika dia memberitahu Rudy dan Rosa, berarti dia telah membongkar semua kebohongannya selama ini, penjelasan macam apa yang akan ia berikan nanti?
Berulang kali Amartha menghela nafasnya, sembari memegang kartu berbentuk persegi panjang itu. Sesaat kemudian ia menyimpan kartu undangan itu di bawah bantalnya.
Pandangan Amartha kini beralih pada jam tangannya, dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya, menunjukkan pukul 4 sore. Itu berarti sudah waktunya ia berangkat ke klinik dokter Rizal, dokter muda yang manis kalau di pandang dari sedotan, eh beneran manis kok nggak bohong! Ehek!
"Vira, aku pinjem motornya, ya? aku berangkat!" ucap Amartha sembari menyambar kunci motor yang digantung di depan cermin.
"Iya..." jawab Vira setengah merem, dia masih setia dengan gulingnya.
Amartha yang sudah berpakaian rapi langsung menyambar sweater dan tas kecil, tak lupa helm berwarna ungu yang menjadi teman setianya. Jarak antara kosan dan tempat praktek dokter Rizal memang tidak jauh, hanya butuh 10 mnit kalau naik motor, dan 20 menit kalau jalan kaki.
Pasien dokter Rizal lumayan banyak, dia buka dari jam 5 sore sampai jam 10 malam, wajahnya yang ganteng menjadi faktor membludaknya pasien. Katanya, liat muka ganteng dokternya aja udah bikin yang tadinya lemes bisa langsung seger, yang tadinya pusing bisa langsung sembuh, lucu sih para pasien yang kebanyakan para jomblowati itu. Namun, sayangnya semua pasien yang caper alias cari perhatian itu nggak di gubris dokter Rizal sama sekali, karena sang dokter sudah punya calon istri, itu sih menurut desas desus di kalangan pegawai klinik.
Ngomong-ngomong, Amartha saat ini sudah sampai di klinik dokter Rizal, dia langsung menyiapkan alat-alat yang diperlukan di meja perawat, tempat untuk menanyakan keluhan pasien, mengukur tekanan darah, menimbang berat badan ataupun mengukur suhu tubuh pasien, dan mencatatnya dalam rekam medis masing-masing pasien, sebelum rekam medis itu dimasukkan ke dalam ruangan dokter.
Setelah menunggu 30 menit, akhirnya sang dokter kece datang juga. Pria yang bisa dibilang nggak putih-putih amat itu, langsung masuk ke dalam ruangannya.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Ya, masuk," ucap dokter Rizal yang sudah memakai jas dokternya.
"Sore, Dok..." sapa Amartha saat ia sudah masuk ke dalam ruangan dokter dan menutup kembali pintunya.
"Sore juga, sudah ada pasien?" tanya dokter Rizal.
"Iya, dok..." jawab Amartha singkat.
"Ya sudah, kita mulai saja..." titah sang dokter.
"Baik, dok..." sahut Amartha yang kemudian kembali ke meja perawat.
Amartha pun mulai memanggil pasien satu persatu, sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Akhirnya semua pasien sudah ditangani, Amartha segera membereskan meja, dan mulai menggerai rambutnya yang tadinya diikat.
"Amartha?" suara dokter memanggil dirinya.
"Eh, dokter ... ada apa, Dok?" tanya Amartha yang sudah selesai beres-beres.
"Kamu belum pulang?" tanya dokter Rizal basa-basi.
"Ini mau pulang, Dok..." jawab Amartha sopan.
"Ini tadi ada yang bawa coklat, buat kamu aja! saya alergi coklat soalnya," kata dokter Rizal sambil menyerahkan satu kantong yang berisi coklat.
"Oh, dari pasien yang tadi ya, Dok?" kata Amartha, sambil menerima kantong berisi coklat itu.
"Iya, nih kamu bisa bagi-bagi ke temen-temen kamu,"
"Terima kasih dok, saya permisi..."ucap Amartha, mengambil tasnya lalu melangkahkan kakinya keluar meninggalkan dokter Rizal di dalam.
Amartha langsung menyalakan mesin motornya dan mencangkolkan satu kantong yang berisi coklat cad***ry. Ia sudah sangat lelah hari ini, kuliah dan mencari uang membuatnya tak ada waktu untuk sekedar jalan-jalan. Bahkan hari libur pun dia gunakan untuk, bekerja di fotokopian dekat kampus.
Ya, apapun ia akan lakukan demi menghasilkan uang. Tanpa ia sadari, motor yang dikendarainya sudah sampai di gerbang kosan. Amartha mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Vira, minta tolong dibukakan pintu, karena gerbang kosan sudah dikunci.
Namun, seketika ia teringat pada sang mama tercinta. Amartha dengan ragu menelepon Rosa, mungkin ini waktunya ia harus jujur pada orangtuanya. Hatinya berdegub kencang saat, suara nada tunggu terdengar di telinganya.
"Halo, Amartha?" sapa Rosa.
"Ha-halo, Mah?" sahut Amartha gugup, ia tak tahu harus memulai dari mana.
"Ya, Sayang... tumben nelfon?" tanya Rosa heran.
"Sebenernya, Amartha... ehm..." Amartha menjeda kalimatnya sesaat.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rosa penasaran.
"Emmm, besok Amartha wisuda, mama sama papa bisa dateng?" ucap Amartha dengan cepat.
__ADS_1
"Apaaaaaaaaaaa?!" teriak Rosa.
...----------------...