
Keesokan harinya.
Sandra datang kembali bersama dengan Rudy dan Rosa yang kebetulan baru sampai di kota itu tadi pagi.
"Assalamualaikum," kata Sandra saat pintu kamar Amartha dibuka.
"Waalaikumsalam. Mama? Papa? Mami?" pekik Amartha saat mengetahui siapa yang datang.
"Sayang, alhamdulillah kamu sudah melahirkan. Mama sama papa kaget mendengar berita ini," kata Rosa yang memeluk anaknya yang sedang duduk di ranjangnya.
"Selamat sekarang kalian sudah resmi jadi orangtua. Semoga anak ini semakin memperkuat pondasi pernikahan kalian," ucap Rudy sambil menepuk pundak Satya yang terlihat bangga karena sudah menjadi seorang ayah.
"Satya, Mami bawakan puding caramel untuk Amartha," kata Sandra.
"Mami taruh di lemari pendingin, ya?" ucap Sandra seraya menaruh 10 cup besar puding caramel yang ia beli di salah satu toko kue.
"Makasih, Mam!" kata Satya.
"Sayang, cucu mama mana?" tanya Rosa yang tidak melihat bayi di kamar rawat anaknya.
"Lagi mandi sama suster, Mah..." jawab Amartha.
"Selamat ya, Sat! sekarang kamu memiliki seorang putri," ucap Rosa seraya menatap menantunya seraya melepaskan pelukannya dari Amartha.
Rosa dan Rudy kemudian bergabung untuk duduk di sofa yang sama dengan Sandra.
"Satya bikinin teh, ya?" ucap Satya seraya menuju mini bar.
"Nggak usah, Sat! kamu pasti capek," kata Rosa.
"Nggak repot kok, Mah..." ucap Satya seraya menuang air ke dalam teko elektrik.
Saat mereka tengah berbincang mengenai bagaimana proses kelahiran baby Evren, ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Dan perlahan pintu pun terbuka, sebuah didorong masuk ke dalam. Semua orang menoleh dan melihat putri kecil sedang tertidur pulas dibalik selimut hangatnya di dalam kotak kecil transparan itu.
"Permisi," ucap suster setelah mendorong masuk baby box itu di samping ranjang Amartha. Sandra beranjak dan menggeser baby box beroda itu ke hadapan kakek neneknya.
"Astaga, cantiknya cucuku," puji Rosa saat melihat wajah Evren.
"Seperti kamu waktu bayi, Sayang! hanya bentuk hidungnya yang sedikit berbeda," kata Rudy pada Amartha.
"Aku hanya kebagian hidungnya saja, Pah! padahal aku yang bekerja keras siang dan malam," celetuk Satya yang tengah menuang air panas ke dalam cangkir yang sudah diberi teh kantong.
"Hahahhahah, benar Sat! hidungnya mirip kamu," kata Rudy tertawa.
"Apaan sih kamu, Mas! bikin malu aja," Amartha tak bisa menahan rona merah di wajahnya.
"Nggak usah malu. Ngapain malu? kita bisa lahir juga karena orangtua kita dulu bekerja keras tanpa mengenal waktu. Bener nggak, Pah?" Satya meminta dukungan.
"Sableng emang nih bocah! maafin anak saya yang mulutnya suka eror ya, Pak?" ucap Sandra pada Rudy.
__ADS_1
Rudy hanya tertawa melihat Satya yabg cengar cengir sambil mengaduk teh yang sedang dibuatnya. Pria itu lantas membawakan dua cangkir teh diatas meja sofa, lalu dia kembali lagi untuk mengambil satu cangkir yang masih tertinggal.
"Tehnya, Mam! Mah, Pah..." Satya menawarkan teh yang sudah dibuatnya.
"Terima kasih, Sat! kamu jadi repot begini," ucap Rosa.
"Siapa nama cucu ku yang cantik ini, Amartha?" tanya Rudy.
"Evren, Pah! Evren Arsatya Ganendra," ucap Amartha.
"Nama yang sangat cantik seperti wajahnya," puji Rudy.
"Jelas, Pah! aku sampai bertapa di bawah bulan purnama untuk mendapatkan nama itu," seloroh Satya.
"Barangkali, Mama sama Papa pengen gendong Evren, gendong aja, Mah ... Pah," ucap Satya.
"Biar saja, dia sedang tidur. Nanti dia bisa terganggu..." ucap Rosa yang menatap wajah cucu perempuannya.
"Gimana Sat? lihat istrimu melahirkan kamu masih berniat nambah?" tanya Sandra.
"Untuk sekarang stop dulu, Mam! kasian Amartha. Tapi kalau Amartha memaksa ya aku bisa apa? sebagai suami yang baik aku harus menurutinya untuk memiliki banyak anak!" ucap Satya.
"Astaga, harusnya aku yang mengatakan itu, Mas! kamu nyebelin banget tau, nggak?" kata Amartha.
Sementara di tempat lain. Sinta sedang berada di kantor Fendy sambil memandangi sebuah undangan pernikahan yang ada di tangannya.
"Aku ingin mengantarnya tapi aku tidak tahu alamat rumahnya," jawab Sinta
"Bukannya waktu kita pernah kesana?"
"Itu rumah mertuanya," ucap Sinta.
"Kalau begitu kita antarkan saja ke kantor suaminya atau kau hubungi Amartha dan bilang ingin bertemu. Semudah itu," ucap Fendy sembari membubuhkan tanda tangannya diatas kertas. Pria itu kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Sinta.
"Tapi aku males ketemu sama suaminya yang jutek itu,"
"Aku kesana nggak sendirian tapi sama aku. Kita hanya mengantarkan undangan ini tidak lebih, atau kamu mau orang suruhanku saja yang..." ucap Fendy menggantung.
"Kita antarkan sendiri saja," kata Sinta.
"Tapi bukan ke kantor suaminya yang jutek itu. Aku telfon Amartha dulu aja, minta alamat rumahnya," ucap Sinta.
Sinta mengeluarkan benda pipih canggih miliknya, kemudian ia tempelkan di telinga kanannya.
"Halo," sapa Sinta ragu.
"Ada apa?" bukan suara Amartha yang menjawab namun seorang pria dengan nada juteknya.
"Ehm, aku ... aku ingin ngomong sama Amartha," kata Sinta.
__ADS_1
"Ada perlu apa, Nona Sinta?" pria itu semakin menekankan ucapannya. Sinta baru saja akan mengatakan sesuatu namun terhenti saat suara Amartha terdengar di telepon.
"Astaga, maaf Sin!"
"Kamu kok gitu sih, Mas!" bisik Amartha pada suaminya yang masih bisa terdengar oleh Sinta.
"Emh, maaf Sin. Mas Satya emang suka nggak jelas gitu..." ucap Amartha.
"Nggak apa-apa, Ta. Kamu apa kabar?" tanya Sinta sedikit kaku.
"Kabar baik. Kalau kamu?"
"Aku baik juga. Oh, ya? kamu ada waktu nggak hari ini? karena aku pengen ketemu," ucap Sinta ragu.
"Ehm, aku lagi di rumah sakit, Sin..."
"Kamu sakit apa? terus kandungan kamu?" tanya Sinta khawatir.
"Bukan sakit, Sin. Tapi aku habis melahirkan," jawab Amartha.
"Kapan? kenapa kamu nggak ngabarin aku?"
"Kemarin, Sin. Maaf, ya? soalnya masih riweuh. Jadi belum ngabarin kamu..."
"Selamat Amartha, semoga dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan juga pintar. Nggak nyangka ya sekarang kamu udah punya baby. Oh ya, laki-laki atau perempuan?" tanya Sinta antusias sementara Fendy masih khusyuk mendengarkan wanitanya berbincang di telepon.
"Perempuan, Sin..." jawab Amartha.
"Emh, bolehkah jika aku melihatnya?" tanya Sinta lirih.
"Tentu, dia akan sangat jika dijenguk banyak orang. Kemarilah, kami menunggumu..." ucap Sinta.
"Tapi apa kamu nggak minta ijin dulu sama suami kamu?"
"Udah, dia ngijinin kok. Iya kan Mas?" ucap Amartha pada Satya.
"Yaaa..." jawab Satya malas.
"Kamu dengar, kan? kemarilah, putriku ingin bertemu dengan tantenya," ucap Amartha.
"Oke, aku akan kesana. Bye!"
Sinta mengakhiri sambungan teleponnya. Ia memasukkan benda itu ke dalam tasnya.
"Aku mau ke rumah sakit, Amartha melahirkan. Aku ingin menjenguknya," kata Sinta.
"Biar aku antar," ucap Fendy.
...----------------...
__ADS_1