Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Loreng-loreng


__ADS_3

"Saya Alia, apa Bapak tidak menyimpan nomor saya?" tanya Alia, keningnya berkerut.


"Oh, Alia. Saya lupa, belum saya save nomor kamu, ada apa?" jawab Firlan datar.


"Nona Ivanka meminta Pak Satya untuk bertemu di cafe dekat kantor kami," Alia mengulangi ucapannya.


"Nanti saya tanyakan Pak Satya dulu. Besok saya kabari lagi," sahut Firlan, pria itu melirik jam dinding di kamarnya.


"Baiklah, Pak. Selamat malam, maaf mengganggu." Alia memutuskan sambungan telepon itu, dia melepas kacamatanya yang seharian ini nangkring di hidungnya.


"Hadeuhhhh, besok alamat kena semprotaaaaan lagi! hoam, ngantuk. Lebih baik sekarang aku tidur, setidaknya biar bisa siapin mental dengerin omelan bos," ucap Alia yang menempelkan kepalanya di atas bantal.


Sedangkan Firlan langsung menghubungi Satya perihal Ivanka yang ingin bertemu kembali.


Satya mengernyit heran saat sekilas melihat ponselnya berdering, ada nama Firlan di layarnya.


"Mas?" Amartha memanggil Satya.


"Ada yang telfon," lanjut Amartha, menunjuk ponsel yang berada disamping pria itu.


"Tanggung," sahut Satya dengan suara seksinya, dan mengabaikan ponselnya yang terus berdering.


"Mass, angkat dulu," Amartha menyuruh suaminya untuk menjeda kegiatannya saat ini.


"Telfon dari Firlan. Palingan juga masalah kerjaan. Biarin aja sih, tanggung mau masukin," ucap Satya yang menatap istrinya.


"Taruh dulu juicernya, Mass!" Amartha gemas melihat tingkah suaminya, dia mendudukkan istrinya di meja saji di dapur, sedangkan pria itu berdiri di depannya sambil memasukkan potongan melon ke dalam mesin pembuat jus.


"Kali aja penting," kata Amartha lagi, mengganggu aktivitas Satya.


"Jam segini ngapain si Firlan pake nelfon segala, ganggu aja!" gerutu Satya.


"Bentar aku cuci tangan dulu," Satya membasuh tangannya di bawah kucuran air di wastafel. Pria itu menarik tissue towel dan mengeringkan tangannya sebelum meraih ponselnya.


"Ya. Halo, Lan? gimana? ngapain? kan udah ketemu tadi juga, emang ada yang belum sepaham sama kita? ya udahlah kamu atur aja," ucap Satya yang terlibat percakapan di telepon dengan asistennya. Pria itu me mengantongi pinselnya dan melanjutkan aktivitas yang tertunda


"Kenapa, Mas?" tanya Amartha penasaran dengan raut wajah suaminya yang begitu kesal.


"Kerjaan, Yank ... Ivanka minta ketemu," ucap Satya singkat.

__ADS_1


"Ivanka?" gumam Amartha.


"Iya, udahlah nggak penting, ini aku buatin kamu jus melon dulu," Satya mulai menekan juicernya, lalu keluarlah sari buah melon yang sangat segar.


Satya membuatkan satu gelas jus melon tanpa gula untuk istri tercinta, Amartha sedang enggan untuk makan malam. Bumil yang satu itu hanya menemani orangtua dan suaminya menikmati makan malam mereka.


"Nggak mau makan, beneran? nanti laper, loh..." ucap Satya seraya memberikan satu gelas jus melon di tangan istrinya. Amartha yang masih dalam posisi duduk diatas meja pun, segera meneguk minuman segar itu.


"Lagi males, apalagi denger nama Ivanka," ucapnya setelah menghabiskan setengah jusnya.


"Ehem, cemburu nih yeeeeeeee?" Satya mencubit pipi istrinya


"Ya jelas lah! pria mana sih yang nggak tertarik kalau dideketin sama cewek seksi kayak gitu? depan sama belakang on point semua," ucap Amartha yang memegang gelas dengan kedua tangannya.


"Ada," ucap Satya cepat.


"Aku! aku nggak tertarik sama dia, mau dia pake baju kurang bahan atau pakai jaring laba-laba sekalipun. Karena aku cuma tertarik sama kamu, aku paling suka..." ucapan Satya terhenti saat dengan cepat Amartha menutup mulut suaminya dengan satu tangannya.


"Dih, ini mulut nggak ada filternya apa, ya?" ucap Amartha yang kemudian melepaskan tangannya.


"Kan ngomongnya juga sama kamu, Yank." ucap Satya menyeringai.


"Mau," jawab Satya cepat.


"Maunya kamu...awwwrhhh," Lanjutnya, Satya menirukan suara macan. Amartha tertawa melihat suami sengkleknya niruin gaya macan yang akan menerkam mangsanya. Amartha segera menghabiskan jus yang ada di dalam gelas daripada harus meladeni omongan Satya yang udah ngalor ngidul nggak jelas.


Hari ini, pagi-pagi sekali Amartha sudah berkutat di dapur, dia hanya menyiapkan bread toast, kopi dan teh untuk sarapan.


"Bikin apa, Sayang? wangi banget..." ucap Rosa mendekat ke arah dapur.


"Roti, Mah ... papah dimana, Mah?" jawab Amartha yang menata roti di piring besar.


"Ada, lagi di kamar. Bentar lagi juga keluar," ucap Rosa yang membantu putrinya menaruh piring yang berisi roti diatas meja. Amartha segera melepas appron hitam miliknya setelah selesai membuat ommelet dengan toping sausages dan keju kesukaan Satya. Ia segera mencuci tangan dan mengelapnya dengan tissue.


"Amartha ke atas dulu ya, Mah? mau panggilin Mas Satya buat sarapan bareng," ucap Amartha yang menaruh piring yang berisi ommelet diatas meja makan.


"Iya, Sayang. Mamah juga mau panggilin papah kamu," kata Rosa.


"Hati-hati naik tangganya," ucap wanita paruh baya itu lagi.

__ADS_1


"Iya, Mah..." jawab Amartha yang kemudian meninggalkan dapur dan menaiki satu oeratu anak tangga, menuju kamarnya.


"Lan, bilang aja ketemunya pagi ini, kamu share lokasinya," ucap Satya yang berdiri membelakanginya. Pria itu mengantongi kembali ponselnya dan segera berbalik setelah mendengar langkah kaki seseorang mendekat padanya.


"Mas? sarapan, yuk?" ucap Amartha membenarkan posisi dasi Satya, lalu merapikan jas yabg dipakai suaminya.


"Sarapan kamu aja, gimana?" Satya merengkuh pinggang istrinya.


"Aku bukan roti, Mas!" Amartha menunduk tersipu malu


"Hahahaha, ntar kamu beli lagi yang loreng-loreng, ya?" ucap Satya yang tak bisa lagi menahan tawanya.


"Macan kali loreng," celetuk Amartha, Satya tertawa kembali.


"Dedek utuy? jangan nakal, ya? ayah mau berangkat kerja dulu, nanti malem kita ngobrol lagi," Satya membungkuk dan berbicara dengan perut Amartha seraya mengelusnya dengan lembut.


"Ayok, ah..." ajak Amartha pada suaminya.


Setelah selesai sarapan, Satya melajukan mobilnya menuju sebuah cafe yang sudah buka sepagi ini. Banyak yang menikmati sarapan mereka disana dengan secangkir kopi dan cake yang fresh from the oven.


Satya melangkah keluar dari mobil, masuk ke dalam cafe. Sementara Firlan sudah ada disana dengan Alia, Alia yang melihat Satya datang langsung berdiri.


"Silakan, Tuan..." ucap Alia mempersilakan Satya duduk, dan benar sesuai tebakannya. Satya akan duduk semeja dengannya dan Firlan. Alia memutar otak, sebentar lagi Ivanka akan datang dan dia harus secepatnya pergi dari situ dengan membawa asisten Satya.


"Aawhhhh," Alia memekik kesakitan.


"Kamu kenapa, Al?" tanya Firlan dingin.


"Lambungku sakit, mungkin karena sepagi ini minum kopi," jelas Alia.


"Ceroboh sekali kamu, Alia." kata Firlan dingin.


"Pak Firlan bisa antar saya, ke rumah sakit disekitar sini? saya punya gastritis kronis, ini sangat sakit." ucap Alia sambil memegangi perutnya, bulir keringat dingin membasahi keningnya, wajahnya mulai pucat.


"Antar, Lan. Kasian, udah pucet kayak gitu." ucap Satya yang melihat Alia menahan sakit lambungnya.


"Baiklah, ayo Al..." ucap Firlan seraya bangkit dan memapah Alia keluar dari cafe. Sementara saat Alia masuk ke dalam mobil Firlan, Ivanka datang masuk ke dalam cafe.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap seorang wanita yang duduk di hadapan Satya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2