Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mau, Tapi Tutup Mata Dulu!


__ADS_3

"Masa iya baru jadi istri sehari udah mau bikin catetan dosa karena nggk mau nurut sama suami?" ucap Satya.


Amartha nampak berpikir, catatan dosa udah banyak masa iya mau ditambah lagi? wanita itu nampak menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya dengan kain laknat itu. Matanya sekilas melirik ke arah kotak yang sudah tidak berpita. Sementara Satya berusaha menahan tawanya saat melihat bagaimana ekspresi galau istrinya.


"Ya udah aku nggak akan maksa, terserah kamu aja mau diapain itu pemberian, Mami..."


Tidak ada kata 'Sayang' yang biasa diucapkan pria itu, membuat Amartha mengira Satya marah, pria itu berbalik dan berniat untuk tidur di ranjang. Padahal Satya berbalikbkarena sudah tidak tahan melihat wajah lugu istrinya yang nampak gamang.


"Oh, ya ... aku tidur duluan ya," ucap Satya yang sudah naik ke ranjang dan menarik selimutnya.


"Iya, iya , aku ... aku .... iya, iya ih aku pake," Amartha berdecak kesal.


"Kalau terpaksa nggak usah, nggak apa-apa..." ucap Satya Santai.


"Iya, aku ikhlas nih makenya, wahaiiiiii suamiku..." ucap Amartha sambil melirik Satya yang tengah berbaring dengan jari yang saling bertaut.


"Nah gitu dong, Sayang ... itu baru istri yabg sholekha, buruan cobain gih," ucapan membuat Amartha sangat dongkol


Amartha lalu meraih kotak itu dan membawanya ke kamar mandi, namun sebelum dia melangkahkan kakinya ia mematikan lampu kamar, hanya ada lampu tidur yang menyala.


"Hih ... ngapain Mami ngasih aku barang kayak gini, sih? yang lebih tertutup mana, ya? aihhhh, yang ini aja deh, lumayan daripada yang lain," ucap Amartha seraya mengambil satu pasang kain yang membuatnya malu dan risih.


"Udah, belum, Yank...? kok lama?" seru Satya sambil cekikikan.


"Iya, sabar ... ini juga lagi dipake," sahut Amartha.


Melihat pantulan dirinya didepan cermin membuatnya sangat malu dan ragu untuk melangkah keluar. Ia mencoba menggerai rambutnya, apakah akan membantu dalam menutupi area yang biasa tertutup? jawabannya tidak. Karena rambutnya yang sepinggang kini hanya sebatas punggung.


"Duh, keluar nggak ya?" Amartha yang mondar-mandir depan pintu.


"Yank ... kamu lagi ngapain?" tanya Satya setengah berteriak.

__ADS_1


"Nggak lagi ngapa-ngapain," sahut Amartha asal.


"Ya udah cepetan keluar," seru Satya yang kemudian menutup mulutnya untuk menahan agar suara cekikikannya tidak terdengar sang istri


"Iya, kamu tutup mata dulu, Mas! baru aku keluar..."


"Kenapa?" pertanyaan konyol keluar dari bibir pria yang sedang menjahili istrinya


"Ya aku malu, Mas ... kalau nggak aku tidur disini aja, nggak apa-apa, yang penting aku udah nurutin kamu," kata Amartha yang sebenarnya sudah kedinginan dengan pakaian yang ia kenakan.


"Iya, deh ... aku tutup mata, udah cepetan kesini, lagian lampu udah kamu matiin juga," kata Satya yang kemudian menutup mata dengan tangannya.


"Beneran, ya? awas kalau bohong!" seru Amartha dari dalam kamar mandi.


"Nggak percayaan banget, sih sama suami sendiri?" kata Satya yang membuat Amartha perlahan memutar handle, membuka pintu dan melongokkan kepalanya keluar, melihat ke arah Satya dan benar lelaki itu sudah menutup matanya dengan tangan, merasa keadaan sudah aman, Amartha mulai melangkahkan kakinya dari kamar mandi, menuju ranjang king size itu, buru-buru ia bersembunyi di dalam selimut dan menutupi tubuhnya dari leher sampai kaki.


"Udah," kata Amartha seraya memejamkan matanya.


"Ih, nyebelin banget kamu, Mas ... jangan ketawa, ih? Mas Satya ngerjain aku, ya? tega kamu, Mas ... ngeliat aku tersiksa pakai jaring ikan kayak gini!" Amartha kesal karena Satya yang terus menerus tertawa sampai mukanya terlihat sangat merah.


"Kok ngerjain, sih?" ucap pria itu disela tawanya.


"Tau ah, awas aku bales kamu, Mas! awas, aku mau ganti, ah..." Amartha sudah kesal bukan main, dan tanpa sadar wanita itu malah menyibak selimut yang membungkus tubuhnya. Melihat istrinya marah, Satya langsung mencekal tangan wanita itu agar tidak beranjak dari tempat tidur.


"Jangan marah, lebih baik kita mabar," kata Satya.


"Yang kalah harus di coret," ucap Satya mengeluarkan sebuah lipstik.


"Oke, siapa takut," ucap Amartha yang mengambil ponselnya dan bersembunyi dibalik selimut.


"Kalau kalah jangan nangis," ledek Satya.

__ADS_1


"Nggak akan," ucap Amartha yakin.


Namun takdir berkata lain, beberapa kali coretan mendarat di wajah sang istri, dia manyun. Kesal mengapa Satya begitu lihai memainkan permainan ini sampai akhirnya mereka mabar sampai menjelang jam 3 pagi.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Amartha menggeliat merasakan tubuhnya yang rasanya hampir remuk, tulang belulang yang rasanya sakit sekali untuk digerakkan, perlahan ia mengerjapkan matanya, mengumpulkan nyawa. Rasanya begitu lelah, karena dia hampir tidak pernah begadang sampai pagi. Samar dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia meraih ponsel diatas nakas, ia melirik jam berapa sekarang. Baru jam 4 pagi,itu artinya dia baru tidur satu jam.


Amartha dengan langkah gontai mengambil dress yang ada dalam kopernya, ia mengganti pakaian yang lebih tertutup. Sandra membelikan banyak pakaian sewaktu mereka tinggal bersama, untuk menyenangkan hati Sandra, Amartha kerap memakainya dan sedikit demi sedikit mengubah gaya berbusananya.


Satya keluar bertepatan dengan Amartha yang baru mengambil pakaian layak pakai, dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya.


"Ehm, udah bangun, Sayang?" ucap Satya Santai yang masih memakai handuk untuk menutupi keris empu gandring miliknya.


"Udah, Mas..." jawab Amartha singkat, sambil mencoba untuk berjalan selangkah demi selangkah, namun rasa pusing membuat langkahnya terhenti


"Awhhh..." pekik Amartha saat ia akan melangkah ke kamar mandi untuk memakai baju yang ada di tangannya.


"Pusing?" kata Satya yang mau mendekati istrinya.


"Nggak apa-apa aku bisa sendiri kok, Mas disitu aja," ucap Amartha gugup dengan kaki yang bergetar.


"Udah nggak usah dipaksain kalau emang masih pusing," ucap Amartha.


"Gimana nggak pusing aku kan amatiran dalam hal gadang begadang!" kata Amartha.


Setelah perdebatan yang cukup lama, akhirnya mereka berdua menjalankan kewajibannya terlebih dahulu sebagai seorang muslim, setelah itu Amartha memejamkan matanya kembali. Satya dengan lembut membelai kepala istrinya, mendekapnya erat. Satya teringat saat dirinya kehilangan wanita yang sangat dicintainya ini. Satya tak akan sanggup jika dia kehilangan wanitanya lagi.


"Tidurlah, aku akan menjagamu," ucap Satya.


Amartha yang memang sudah tepar tidak mendengar ocehan Satya, pria itu pun akhirnya lelah karena ngomong tanpa ada lawan bicara, kemudian ia tanpa sadar ikut memejamkan matanya dan terbang menggapai mimpi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2