
"Suka?" Vira mengernyitkan dahinya.
"Suka sama siapa?" tanya Vira.
"Sama Ricko, sama siapa lagi coba?" ucap Firlan kesal.
"Kamu mikirnya gimana sih, Ay?" tanya Vira dia tidak mengerti jalan pikiran Firlan.
"Abisnya kamu sering banget ke apartemen tuh orang! dan kalian akrab banget, wajar lah kalau aku curiga. Di depan aku aja kamu deket banget sama dia, apa lagi di belakang aku?" kata Firlan, Vira menggeleng tidak percaya.
"Orangtuaku disana, loh! kamu mikirnya apa sih? orang aku nggak ada apa-apa sama dia," jelas Vira.
"Alesan," ketus Firlan.
"Kok alesan, sih? emang aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, lagian orangtuaku disana ya otomatis aku juga sering kesana. Dia udah donorin ginjalnya buat papa ku dan dia juga yang harus ngurus papa ku gitu? sementara aku, leha-leha disini pacaran sama kamu?" ucap Vira.
"Dia kasih ginjalnya buat papa kamu dan dia kasih hatinya buat kamu," celetuk Firlan.
"Kata-kata kamu jahat tau, nggak?" ucap Vira segera mengambil uang di dompetnya lalu segera beranjak dari duduknya.
"Vira!" seru Firlan.
"Bu, saya makan nasi satu gorengan satu wedang jahenya dua, kembaliannya buat ibu," ucap Vira yang menyodorkan uang seratus ribuan. Vira langsung pergi dari tempat itu. Pria itu segera mengejar Vira, ia mencekal lengan wanitanya.
"Vira!" sentak Firlan.
"Apaan, sih!" Vira mencoba melepaskan genggaman tangan Firlan namun tenaganya tak bisa melawan kekuatan tangan seorang pria.
"Apa lagi? aku capek, aku mau pulang!" ucap Vira seraya menggerakkan tangannya yang mulai sakit.
"Sakit tau, nggak!" kata Vira lagi. Firlan menarik Vira menuju mobilnya, ia membuka pintu mobil.
"Masuk!" perintah pria itu. Setelah menutup pintu ia segera setengah berlari menuju sisi mobil satunya. Ia membuka pintu dan duduk di belakang kemudinya.
Vira memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Firlan hanya melirik wanita yang beberapa hari ini suka sekali mengikat sebagian rambutnya dan menyisakan sebagian lainnya terurai. Pria itu mendekat pada kekasihnya, ia menarik sabuk pengaman dan memasangkannya pada Vira.
Firlan mulai menginjak pedal gasnya, ia muter-muter di dalam kota. Sementara Vira tidak peduli, ia bersikap acuh pada pria yang fokus pada jalan raya.
"Kalau nggak niat nganterin aku pulang, mendingan berhenti dan aku bisa naik ojek," ucap Vira tanpa menoleh pada kekasihnya.
"Aku nggak suka kamu deket-deket sama Ricko, aku tau dia tuh suka sama kamu!" kata Firlan. Vira tak menanggapi.
__ADS_1
"Kamu denger nggak, sih?" tanya Firlan kesal.
"Aku denger, kedua telingaku ini masih berfungsi dengan baik, aku bahkan bisa mendengar tanpa perlu kamu teriak-teriak kayak di hutan!" kata Vira yang langsung memutar kepalanya dan menatap lawan bicaranya dengan tatapan tajam.
Firlan segera menepikan mobilnya. Vira segera melepas sabuk oengaman yang membelit tubuhnya, ia bersiap untuk keluar. Ia pikir Firlan menghentikan mobil untuk menurunkannya dj tempat yang lumayan ramai itu. Firlan segera mencekal lengan kekasihnya ia memegang kedua bahu Vira membuat wanita itu menghadap dirinya.
"Aku cinta sama kamu, dan aku nggak mau kehilangan kamu!" ucap Firlan, Vira membuang muka.
"Kamu denger aku, kan? aku cinta sama kamu dan aku serius dengan hubungan ini," kata Firlan.
"Aku nggak suka," lirih Vira.
"Aku nggak suka kamu memperlakukan aku kayak barang. Yang bisa seenaknya kamu seret-seret," kata Vira dengan nada datar, ia masih tak mau melihat Firlan.
"Aku minta maaf," kata Firlan melembutkan suaranya, pria itu memeluk kekasihnya.
"Bosen!" lirih Vira.
"Apa?" Firlan menjarak lagi tubuhnya dengan Vira, dia menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya.
"Bosen aku bilang!" ucap Vira. Vira melepaskan tangan Firlan dari wajahnya, air mata sudah memupuk di kedua matanya dan dalam sekali kedipan air mata itu akan lolos membanjiri kedua pipinya. Vira mencoba untuk membuka pintu.
"Kamu pulang sama aku," kata Firlan.
"Buka!" Vira mengulangi ucapannya.
"Nggak, kamu harus pulang sama aku," ucap Firlan. Pria itu menancapkan gasnya menuju kosan Vira, selama perjalanan Vira lebih banyak diam. Firlan melirik sekilas tangan Vira yang merah akibat perbuatannya. Firlan mengusap wajahnya kasar dengan satu tangannya. Vira masih menaha air matanya agar tidak tumpah.
Firlan menghentikan laju mobilnya tepat di depan kosan Vira. Wanita itu melepas sabuk pengamannya, ia membuka pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Firlan segera mengejar kekasihnya, namun Vira begitu cepat melesat masuk ke dalam dan menutup pintu.
"Aaarrrrghhh! sial!" Firlan meninju angin. Kemudian pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya, menekan pedal gasnya meninggalkan tempat itu.
Sementara di tempat lain.
"Jadi nggak sih syutingnya? udah nunggu sejam lebih nih," ucap wanita itu yang sudah memoles wajahnya sebagus mungkin, Prisha yang sedang memperhatikan Ricko pun mengalihkan pandangannya pada wanita di hadapannya.
"Syuting?" Prisha malah balik bertanya, dia.lupa kalau wanita yang duduk satu meja dengan dirinya itu mengira dia sedang syuting acara reality show yang suka ngerjain orang.
"Iya, syutingnya kok nggak mulai-mulai dari tadi? keburu bedak sama lipen aku luntur, nih!' protes sesembaknya. Prisha memutar otak.
"Oh, kita nggak jadi syutingnya, kameramen saya mendadak diare, jadi dia ngibrit pulang," ucap Prisha berbohong.
__ADS_1
"Ngomong kek dari tadi! kalau kayak gitu kan udah saya minum es kopi saya, udah cair begini kan mana enak! mana saya tenggorokan udah kering kerontang kayak musim kemarau panjang!" ucap wanita itu kesal.
"Ehm, ini buat es kopinya..." ucap Prisha sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Minuman tadi saya yang traktir, jadi Mbak bisa pesen lagi," lanjutnya.
"Oh ya udah, deh..." ucap wanita itu sok jual mahal, dia pun akhirnya menerima uang yang ia anggap sebagai kompensasi gagalnya syuting dadakan.
"Sekali lagi maaf, ya Mbak..." ucap Prisha segera beranjak meninggalkan wanita yang memakai pakaian serba hitam.
"Huh dasar maemunah, liat duit aja langsung ijo tuh mata," ucap Prisha yang kaki udah jalan tapi kepala masih melihat wanita yang kini sedang menghitung uang yang diberikan Prisha.
"Awwhh!" pekik Prisha saat menabrak seseorang di depannya.
"Kalau jalan mata lurus ke depan, Dek!" ucap pria itu.
"Iya, tau! sorry..." ucap Prisha seraya mengelus kepalanya dengan tangannya sendiri. Ia yang merasa familiar dengan suara orang yang tadi ditabraknya pun segera mendongak.
"Eh, Om ..eh Kak..." ucap Prisha gugup.
"Aku kira udah pulang loh," lanjutnya.
"Aku juga kira kamu udah pulang," kata Ricko. Prisha yang akan melangkah maju terhenti karena gerakannya berbarengan dengan Ricko yang menggeser tubuhnya seakan menghalangi jalan Prisha. Kemudian Wanita itu bergeser ke arah sisi kanan, Dicko pun bergeser ke kanan. Akhirnya mereka tertawa kecil melihat mereka saling menghalangi jalan masing-masing.
"Kamu duluan," ucap Ricko, yang diam dan mempersilakan Prisha untuk berjalan melewatinya.
"Makasih ..." ucap Prisha malu-malu miaaaw. Perlahan Prisha berjalan kedepan, melewati sosok pria dewasa itu. Namun sesaat kemudian Prisha berhenti dan memutar tubuhnya
"Ehm aku bisa pinjem ponsel, Kakak?" tanya Prisha.
"Ponsel?" Ricko memutar tubuhnya, menghadap pada wanita yang kini berjalan mendekatinya.
"Mau minta jemputan?" tanya Ricko, Prisha hanya tersenyum. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada gadis yang terpaut usia lumayan jauh dengannya.
Prisha menekan 8 digit angka pada layar ponsel Ricko, kemudian ia mengambil ponsel miliknya yang berdering dan ia pun mengembalikan ponsel Ricko.
"Itu nomerku," ucap Prisha seraya pergi meninggalkan Ricko yang terkekeh melihat nama kontak baru di ponselnya.
"Cantik?" Ricko membaca nama kontak yang Prisha tulis sendiri.
...----------------...
__ADS_1