Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Lagu Lama Kaset Baru


__ADS_3

Mereka berdua duduk di kedai minuman boba. Amartha menaruh barang belanjaannya di meja.


"Biar aku yang antri, Mbak mau pake jelly juga nggak?" tanya Prisha.


"Boleh, punyaku brown sugar ya? less sugar," Amartha mengucapkan pesanannya.


"Ya udah, Mbak tunggu disini..." Prisha segera bangkit dari duduknya.


"Uangnya?" tanya Amartha, ia akan membuka tasnya untuk memberi Prisha uang.


"Aku yang traktir," jawab gadis itu. Lalu, ia meninggalkan Amartha dengan barang belanjaannya


Amartha memainkan ponselnya, ia menelepon Satya mengingat ini sebentar lagi jam makan siang.


"Halo? Mas?" ucap Amartha saat teleponnya tersambung.


"Ya, Sayang..." jawab Satya, pria itu menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Di kantor?" tanya Amartha.


"Iya di kantor, gimana jadi nggak belanjanya?"


"Jadi. Adik kamu udah ceria lagi, tuh..." ucap Amartha yang melihat Prisha yang sedang mengantri.


"Lagu lama kaset baru dia mah," celetuk Satya.


"Maksudnya?" Amartha mengerutkan dahinya, tak mengerti.


"Udah biasa dia kayak gitu, beda case doang ... yang ujung-ujungnya nangis karena sesuatu terus sumringah setelah dapet barang yang lagi dia pengen," jelas Satya.


"Oh, gitu ... Oh, ya Mas rencananya mau makan dimana?" Amartha membuat pola abstrak di meja dengan tangannya.


"Kerjaan lagi numpuk banget, Yank ... Firlan kan udah mulai cuti panjang, nggak tau tuh mau kemana tuh orang..." ucap Satya yang memijat pangkal hidungnya.


"Tapi tiket liburannya dia belum ambil, nggak tau deh dia ngilang kemana, paling juga nggak jauh-jauh dari temen kamu, Yank..." lanjutnya lagi.


"Viraaaaa..." Amartha segera meralat penyebutan Satya.


"Iya Vira," ujar Satya.


"Kalau aku kesitu ganggu, Nggak?" tanya wanita yang cantik di masa kehamilannya itu.


"Aku malah seneng, Yank..." jawab Satya.


"Ya udah, aku bawain makanan sekalian," ucap Amartha.


"Istriku emang terbaik," puji Satya.


"Ya udah aku tutup dulu ya, telfonnya," kata Amartha saat melihat Prisha sudah menyelesaikan pesanannya

__ADS_1


Amartha segera menutup telfonnya sesaat setelah Prisha datang membawa dua minuman boba ditangannya.


"Nih, Mbak..." ucap Prisha menyodorkan minuman untuk Amartha.


"Sha, aku mau ke kantornya mas Satya, kamu mau ikut?" tanya Amaryha, ia merobek plastik pembungkus sedotan lalu ia mengaduk minumannya.


"Boleh, aku jarang sih main kesana," ucap Prisha yang melakukan hal yang sama dengan Amartha.


"Tapi aku mau beli makanan dulu buat mas Satya, nanti kita makan bareng disana, gimana?" kata Amartha kemudian menyeruput minumannya, Prisha mengangguk ia tengah meminum minuman kekinian itu.


"Boleh tuh, disana ada resto jepang, tepanyakinya enak, mau cobain?" Prisha menunjuk sebuah resto tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Boleh,"


"Ya udah habis ini kita langsung kesana," ucap Prisha.


Setelah menghabiskan satu cup large minuman manis itu, Amartha dan Prisha meninggalkan kedai boba dan berjalan ke arah sebuah restoran jepang. Amartha memesan makanan dan minuman, saat ini mereka sedang menunggu pesanannya dibuat.


"Sha, tiba-tiba aku pengen jeruk medan," ucap Amartha.


"Hah? jeruk medan?" Prisha malah hah hoh.


"Kamu tunggu disini, aku mau ke supermarket bentar," ujar wanita hamil itu.


"Jangan, Mbak! biar onti Isha yang beliin buat Nanakan onti," kata Prisha diimut-imutin.


"Mbak tunggu disini aja, kalau jalan ke sana pasti capek banget," lanjutnya.


"Nggak, lah! aku kesana dulu, mbak tunggu disini aja, lagian pesanan kita juga belum datang, kan?" ucap Prisha.


Gadis cantik itu pun segera berjalan menuju area supermarket. Prisha berjalan melewati rak-rak barang-barang rumah tangga, sampai akhirnya dia menemukan counter khusus sayuran dan buah-buahan.


Prisha garuk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, ia menyusuri aneka buah buahan sambil matanya melek kuat-kuat.


"Jeruk medan, jeruk medan..." Prisha bergumam


"Ini apa nih? jeruk sunkist, beda ... bukan yang ini," Prisha meletakkan kembali jeruk sunkist yang dia pegang.


"Cari apa, Dek?" tanya seorang pria.


"Jeruk medan, Mas!" ucapnya tanpa melihat siapa yang tengah bertanya padanya. Dia terus saja mencari dimana keberadaan jeruk medan.


"Bukan disini tempatnya, tapi disana ditempat buah-buah lokal," kata pria itu.


Gadis itu kemudian menoleh dan mendongakkan sedikit kepalanya melihat orang yang tengah berbicara padanya. Prisha mendadak terpaku sesaat melihat makhluk tuhan yang begitu sempurna dimatanya selain Frans.


"Dek?" pria itu melambaikan tangannya di depan wajah gadis yang memandangnya cengo.


"Dek!" pria itu meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Eh, eh, gimana gimana tadi?" tanya Prisha yang malu setengah koit karena kepergok bengong.


"Cari buah medan? itu disana tempatnya," pria itu menunjuk sebuah keranjang buah yang cukup besar berisikan buah jeruk.


"Tapi aku nggak tau milih mana yang manis," kata Prisha yang masih betah melihat wajah si pria.


Pria itu ingin tertawa dalam hatinya, melihat ekspresi gadis muda di hadapannya ini, gadis yang imut dan yang pasti cantik.


"Mau dibantu milihin maksudnya?" tanya pria itu.


"Iya, mau. Mau banget, malah!" kata Prisha yang spontan menutup mulutnya karena terlalu bersemangat.


Pria itu pun mendorong trolley-nya ke arah yang tadi ia tunjuk. Prisha mengekor di belakang pria bertubuh tegap itu yang sesekali memegang perutnya.


"Dia lagi maagh apa gimana dah?" gumam Prisha saat melihat gerakan pria itu menyentuh perutnya sendiri.


"Mau berapa kilo?" tanya pria itu yang belum menyebutkan namanya.


"Sekilo aja, eh dua juga boleh..." ucap Prisha.


"Jadi sekilo atau dua kilo?"


"Dua!" jawab Prisha cepat. Pria itu terkekeh mendengar jawaban gadis yang ada di sampingnya itu.


"Disuruh mamah belanja apa gimana?" tanya pria itu sambil terus memilihkan jeruk.


"Bukan, tapi buat kakak iparku yang lagi ngidam," ujar Prisha.


"Oooh, adik ipar yang baik nih ceritanya..." celetuk pria itu yang sudah mendapatkan jeruk yang lumayan banyak di dalam plastiknya.


"Segini cukup?" tanya pria itu.


"Cukup!" jawab Prisha.


"Saya nggak tau pasti beratnya berapa kilo, tapi mungkin nggak sampai tiga kilo," ujar pria yang memakai blue jeans dan polo shirt berwarna putih itu.


"Kalau nggak tau pastinya kenapa nanya tadi," gumam Prisha.


"Kenapa, Dek?" tanya pria itu.


"Eh, gimana? nggak, ehm segitu aja udah cukup. Aku juga nggak tau seberapa banyak jeruk yang mau dimakan kakak iparku itu," jelas Prisha.


"Ya sudah, kamu bisa bawa ini ke tempat penimbangan," kata pria itu menunjuk counter untuk menimbang buah dan sayur.


"Dimana?" Prisha celingukan, maklum saja dia tidak terbiasa belanja kebutuhan rumah tangga. Dia bedain mana sledri dan mana peterseli aja dia tidak bisa. Padahal jelas-jelas keduanya sangat berbeda.


"Disebelah sana," tunjuk pria itu.


"Ya sudah saya duluan ya, Dek..." kata pria itu seraya mendorong trolley-nya menjauh dari Prisha.

__ADS_1


"Tunggu! kita kan belum kenalan!" seru Prisha saat punggung pria itu hampir tidak terlihat.


...----------------...


__ADS_2