Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Jangan Ada Keraguan


__ADS_3

"Mau kemana, Mah? Pah?" tanya Sinta yang kebetulan baru saja turun dari mobilnya.


"Sin ...Refan ... ah ... kakak kamu kecelakaan, Refaaaan, kritis ..." ucap Kamila yang dengan segera memeluk putrinya.


"Kecelakaan? kak Refan? memangnya mama sama papa dapat berita itu darimana?" kata Sinta memandang papa dan mamanya secara bergantian.


"Dari Kenan, sekarang dia sedang disana bersama Refan, makanya sekarang papa mau kesana," kata Arya.


"Ya udah, papa sama mama mau ke rumah sakit sekarang, kamu tunggu di rumah aja," lanjut pria paruh baya itu,


"Nggak, nggak, Sinta ikut, Pah ... Sinta ikut," Sinta memaksa untuk ikut yang kemudian diangguki oleh Arya.


"Ya sudah, ayok cepat masuk ke mobil..." kata Arya yang dengan segera membuka pintu mobil berwarna hitam.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Kamila terus saja menangis, ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan, sementara Arya mencoba untuk tetap tenang dan sesekali mengenggam tangan istrinya, mencoba memberikan kekuatan.


"Tenang, Mah ... papa yakin, Refan pasti kuat, dia pasti bisa melewati masa kritis, kita doakan Refan segera sadar," ucap Arya mencoba menenangkan istrinya, namun mendengar hal itu kamila justru semakin tak bisa menghentikan tangisannya.


Sementara Sinta yang duduk di kursi penumpang dibagian belakang pun tak banyak bicara. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri, yang ia tahu Refan bukan tipe orang yang suka ugal-ugalan di jalan, Refan tidak suka ngebut.


Setelah 20 menit perjalanan, mobil yang dikendarai Arya melaju ke arah luar kota, membuat Sinta mengernyit heran, dan mulai bersuara.


"Loh, ini kan arah luar kota, memangnya kak Refan dirawat di rumah sakit mana?" Sinta bertanya pada Arya.


"Dia ada di kota X, dia dirawat disana, papa juga belum dengar cerita yang lebih jelasnya, nanti setelah bertemu dengan Kenan, baru kita akan tahu jawabannya," kata Arya menjelaskan.


Sinta masih penasaran mengapa Refan bisa menyetir sejauh itu, kalau dilihat dari arahnya ini menuju kota kecil yang dulu menjadi temoat tinggalnya, tempat masa kecilnya dulu.


Tak berapa lama, mobil Arya sampai ditempat yang mereka tuju. Arya langsung berlari ke arah ICU, disana ia melihat Kenan yang sedang duduk di ruang tunggu.


"Ken?" seru Arya pada sahabat putranya, Kenan yang mendengar itu langsung menoleh ke arah asal suara, dan mendapati Arya sedang berjalan tergesa-gesa ke arahnya, disusul Kamila dab Sinta dibelakangnya.

__ADS_1


"Om? akhirnya Om dateng juga," ucap Kenan menghela nafas lega.


"Bagaimana keadaan Refan?" Arya menatap Kenan dengan raut wajah yang khawatir sekaligus takut, Kamila dan Sinta pun menunggu jawaban dari Kenan.


"Dia masih-" belum sempat Kenan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba dokter berlari masuk ke ruang ICU, seorang perawat mengatakan Refan mengalami henti jantung. Mendengar hal itu, kamila menangis meraung dan seketika dia jatuh pingsan. Arya langsung menangkap tubuh istrinya, sedangkan Sinta hanya diam terpaku, dia melihat Kenan yang begitu terlihat kacau, Sinta hanya diam dia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Sementara tim dokter langsung menyiapkan alat kejut jantung dengan harapan jantung pria yang sedang terbaring itu bisa kembali berdetak. Sengatan listrik mengalir di tubuh pria itu, setelah beberapa kali dilakukan jantubg Refan kembali berdetak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di rumah Amartha, gadis itu tak juga memejamkan matanya. Dia sempat mengirim Vira beberapa chat, tapi sepertinya makhluk yang satu itu sudah terbang ke alam mimpi.


Amartha hanya bisa menghela nafasnya kasar, dia tak habis pikir mengapa Refan datang ke rumahnya untuk membuatnya membatalkan pernikahan.


Beberapa kali ia mengganti posisi tidurnya, tapi tak juga membuatnya ingin terpejam. Akhirnya Amartha turun dari ranjangnya dan berjalan keluar dari kamarnya, menuju dapur.


Ia membuka kulkas, dan mengambil botol air dingin, ketika ia akan menutup pintu tiba-tiba ia melihat mamanya membuat botol hampir lolos dari genggamannya.


"Astaghfirllah, Mama! kenapa tau-tau nongol disitu, bikin kaget," ucap Amartha sambil nengusap dadanya.


"Nggak bisa tidur?" tanya Rosa yang kemudian duduk di meja makan.


"Iya Mah..." sahut Amartha sambil menuang air dingin ke dalam gelas.


"Deg-degan? atau ada yang lagi kamu pikirin?" tanya Rosa yang menatap putrinya dengan lembut.


"Nggak ada," ucap Amartha setelah membasahi kerongkongannya dengan air dalam gelas, kemudian ia meletakkan kembali gelas itu diatas meja.


"Yakin? tapi mama liat kamu lagi mikirin sesuatu, mulut kamu bisa mengelak tapi tidak dengan tatapan mata kamu, Sayang..." Rosa mengusap lembut punggung tangan anaknya.


"Kenapa? apa ada hubungannya dengan kedatangan kakaknya Sinta?" Rosa semakin penasaran, sebenarnya apa tujuan pria itu datang menemui anaknya.

__ADS_1


"Dia kesini mau minta maaf dan meminta aku untuk memikirkan kembali tentang pernikahan ini, dia meminta aku untuk kembali sama mas Kenan, Mah ... dia minta maaf atas kelakuan Sinta, dan dia janji akan membawa Sinta jauh dari kehidupan kami," jelas Amartha, kemudian terdengar helaan nafas dari wanita itu.


"Terus? apa jawaban kamu?"


"Aku bilang, kalau aku dan Kenan hanya masa lalu, dan aku akan tetap menikah dengan Satya, tapi dia bersikukuh nggak percaya," Amartha memandang wajah Rosa, yang membuat wanita itu tersenyum simpul.


"Lalu, kenapa kamu malah nggak bisa tidur? apa ada keraguan di hati kamu?" tanya Rosa yang membuat Amartha mengendikkan bahunya.


"Nggak tau, Mah..."


"Begini, Sayang ... ketika kamu akan melangkah menuju pernikahan, pasti ada saja godaannya, datangnya Refan adalah suatu bentuk cobaan, sekarang semua ada ditangan kamu, hanya satu pesan mama, Sayang ... ketika kamu memutuskan sesuatu, pikirkan dengan matang-matang bukan dengan emosi sesaat yang bisa menjerumuskan kamu ke lembah penyesalan," ucap Rosa yang kemudian beranjak dari duduknya.


"Mama duluan, ya? ngantuk ... oh ya, jangan tidur kemalaman, besok ada acara siraman," ucap Rosa mengingatkan.


"Iya Mah, makasih ya, Mah..." ucap Anartha sebelum punggung wanita itu kian menjauh dan lama-kelamaan menghilang dari pandangannya.


"Mama benar, aku nggak mau kehilangan Mas Satya ... bahkan membayangkannya pun aku nggak sanggup," gumam Amartha yang kemudian berdiri dan memasukkan botol ke dalam lemari pendingin, ia mencuci gelas yang baru saja dipakainya, kemudian berjalan menuju kamarnya.


Amartha merebahkan tubuhnya, dan mulai memejamkan matanya, namun ketika akan terpejam tiba-tiba ada sebuah masuk ke ponselnya.


Amartha meraih ponselnya dan melihat siapa yang tengah malam mengirimnya chat.


"Mas Satya?" gumamnya dalam hati.


💬 Yank ... udah tidur? aku nggak bisa tidur, nih ... vidio call-an, yuk?


Amartha segera mengetik balasan untuk pria itu dengan senyuman yang tak bisa ia sembunyikan.


💬 Nggak! masih dipingit!


...----------------...

__ADS_1


masih aman nih otak...wkwkwk


yuk like dan komen di bawah y


__ADS_2