
"Sore, Mbak?" ucap Amartha saat sudah sampai di bagian receptionist.
"Sore Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu wanita yang memakai seragam merah maroon.
"Saya Amartha, saya mau bertemu dengan Tuan Satya," kata Amartha yang membuat kening wanita dihadapannya berkerut, pasalnya melihat tampilan Amartha yang begitu sederhana tanpa riasan di wajah, serta rambut yang hanya di kucir asal membuat kedua wanita itu saling melempar pandangan. Salah satu wanita itu mengendikkan bahunya.
"Maaf ada keperluan apa, ya? apakah sudah ada janji sebelumnya" wanita itu berusaha tetap ramah.
"Saya tidak tahu, saya hanya disuruh untuk kemari," jawab Amartha asal, ia memang tidak diberitahu untuk apa ia diminta datang ke perusahaan calon suaminya itu.
"Maaf untuk bisa bertemu dengan CEO kami, Nona harus memakai kartu akses seperti ini, yang akan kami berikan kalau Nona sudah membuat janji bertemu, dan kalau alasannya tidak jelas kami tidak bisa mengizinkan nona untuk naik ke atas," jelas wanita itu sambil menunjukkan kartu akses yang dimaksud.
"Oh, begitu ya? kalau begitu terima kasih," ucap Amartha yang kemudian menghela nafasnya, dan berbalik arah sambil merogoh saku jeansnya.
"Kenapa hape pake mati segala, sih? nyusahin aja," Amartha memencet-mencet tombol on off di ponselnya.
"Ya udahlah aku tunggu aja disini," gumam Amartha sembari mendudukkan dirinya di kursi empuk yang ada di loby. Amartha menyandarkan punggungnya, sambil memandang langit-langit gedung perusahaan Ganendra group yang megah.
Karena menunggu selama berjam-jam ditambah lagi tak ada yang bisa ia lakukan dengan ponselnya, kantuk pun mulai menyerang mata. Beberapa kali Amartha menguap, ia berusaha untuk mengerjapkan matanya, lalu ia menegakkan posisi duduknya. Namun sesaat kemudian, ia menyangga kepalanya dengan tangannya, rasa lelah setelah seharian bekerja membuatnya tak bisa lagi menahan kantuk yang begitu hebat, ia pun terlelap dalam posisi duduk.
"Firlan? kenapa Amartha belum sampai? sudah lebih dari dua jam," tanya Satya pada asistennya.
"Saya sudah menghubungi, tapi nomornya tidak aktif, Tuan..." Firlan menghentikan aktivitasnya ketika menjawab pertanyaan dari bos sablengnya.
"Aku terlalu fokus dengan dokumen-dokumen sialan ini," kata Satya bermonolog sembari terus membubuhkan tanda tangannya, di atas kertas.
"Apa mungkin dia lupa? kalau aku memintanya untuk datang?" Satya menutup salah satu dokumen yang selesai ia kerjakan, lalu meletakannya di atas meja.
"Aku pulang aja lah, lagian udah jam pulang kantor juga," Satya segera beranjak dan segera mengantongi ponselnya.
"Firlan, saya pulang duluan! kau bisa menyelesaikan dokumen itu besok, aku tidak mau punya asisten mendadak gila karena terlalu sering lembur!" seru Satya saat berjalan menuju pintu keluar, Firlan yang masih di ruangan bosnya itu pun menghembuskan nafasnya kesal.
"Seharusnya anda memberiku jatah liburan, Tuan..." seru Firlan menanggapi omongan dari bos sableng yang sering menyusahkannya.
"Nanti kalau saya sudah mood kasih kamu jatah cuti! hahahahah," Satya menjawab tanpa menghentikan langkahnya, pria itu membuka pintu dengan diriingi tawa yang membuat Firlan sangat jengkel.
__ADS_1
"Kalau bukan bos udah gue timpuk tuh orang!" Firlan segera membereskan mejanya, dan berniat untuk pulang juga.
Satya berjalan menuju kotak besi yang membawanya menuju lantai lobby kantor, setelah berjalan beberapa langkah matanya menangkap sesosok wanita yang tengah tertidur di sofa lobby, Satya pun segera menghampirinya.
"Sayang, bangun ... kok kamu tidur disini," Satya duduk disamping Amartha seraya mengelus lembut lengan wanita itu, yang mulai mengerjapkan matanya.
"Emmh, Mas...?" kata Amartha seraya menegakkan tubuhnya. Sementara ada dua orang wanita yang membelalakkan matanya melihat adegan mesra antara Satya dan Amartha, kedua wanita itu hanya bisa merutuki kebodohannya karena tak mengijinkan wanita yang bernama Amartha itu untuk menemui CEO mereka.
"Sayang? kamu kenapa tidur disini?" tanya Satya sembari mengelus punggung Amartha.
"Aku nungguin kamu, Mas ..." ucap Amartha dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Kenapa kamu nggak langsung naik ke atas, hem?" Satya memandang wanita yang sangat dicintainya itu.
"Hoam, katanya kalau naik ke atas aku harus punya kartu akses, kata mbak-mbak tadi," Amartha menunjuk wanita yang berdiri di balik meja receptionist, Satya lalu melihat arah yabg ditunjuk Amartha. Pria itu menatap tajam, membuat pegawainya semakin ketakutan saja.
"Huuffh, kenapa kamu nggk bilang kalau udah sampai? jadikan aku bisa langsung turun, Sayang..." Satya mengalihkan pandangannya, menatap Amartha dengan penuh kasih.
"Nih, hape mati..." sahut Amartha cengengesan,
"Yaudah kita pulang sekarang," lanjutnya yang dijawab anggukan oleh Amartha, keduanya beranjak dari sofa dan melingkarkan tangannya di lengan pria itu. Bukannya berjalan menuju pintu keluar, Satya malah membawa Amartha menuju kedua wanita yang sedang berdiri dengan raut wajah yang sangat tegang, melihat sang pemimpin perusahaan berjalan mendekati mereka.
"Tu-tuan," ucap salah satu wanita itu gugup.
"Saya hanya ingin memberitahu, kalau wanita ini adalah Amartha calon istri saya, jadi dia tidak memerlukan kartu akses hanya untuk menemui saya," ucap Satya tegas, dengan tatapan mengintimidasinya.
"Ma-maaf, Tuan ... kami tidak tahu kalau Nona ini calon istri Tuan Satya, maafkan kami, Nona..."
"Nggak apa-apa, Mas ... mereka cuma ngejalanin tugas, aku nggak apa-apa kok, beneran, kasian mereka udah ketakutan gitu, Mas..." kata Amartha mengelus lembut lengan Satya.
"Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi," kata Satya memperingatkan.
"Baik, Tuan..." ucap keduanya.
"Pulang yuk?" Amartha harus membawa sang calon suami pergi dari tempat itu, dia kasihan melihat kedua pegawai yang berada didepannya saat ini.
__ADS_1
"Ya udah, kita pulang sekarang," ucap Satya lembut, kemudian membawa Amartha keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
"Kamu udah makan siang belum, Sayang?" Satya melirik Amartha yang sedang melihat ke jendela.
"Belum," sahut Amartha menoleh ke arah Satya.
"Ya udah kita mampir ke apartemenku aja, aku masakin kamu, gimana?" ucap Satya dibalik kemudinya, membelah jalanan ibukota yang sangat ramai di jam pulang kantor seperti saat ini.
"Tapi aku masih ngantuk, Mas..." tergambar jelas di wajah wanita itu bahwa ia sedang sangat lelah, dan masih ingin melanjutkan tidurnya
"Kamu tidur dulu aja nggak apa-apa, nanti kalau udah sampe aku bangunin," Satya mengelus sekilas pucuk kepala Amartha.
"Mami gimana?" tanya Amartha yang mulai memejamkan matanya.
"Nanti aku telfon mami, bilang kalau kamu lagi sama aku," ucap Satya sambil tetap fokus menyetir.
"Kamu mau aku masakin apa, Yank?" tanya Satya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Yank?" Satya memanggil Amartha, namun tak kunjung mendapat sahutan.
"Yah udah tiduur," Satya terkekeh saat melihat Amartha sudah tidur pulas
Sementara di tempat lain, Sinta mencari cara agar bisa bertemu dengan Kenan, beberapa hari ini pria itu sangat sulit dihubungi apa lagi ditemui, akhirnya dia meminta bantuan temannya, menelepon bahwa Sinta pingsan di kampus.
Kenan yang baru saja keluar dari rumah sakit pagi tadi, langsung menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, pria itu hanya mampir sebentar ke apartemennya untuk berganti pakaian. Ditengah kesibukannya memeriksa berkas-berkas, Kenan diganggu dengan ponselnya yang terus saja berdering, menampilkan nama Sinta. Awalnya Kenan mengabaikan panggilan itu, namun sebuah pesan meminta Kenan untuk mengangkat telepon, karena Sinta sekarang pingsan di kampus, dan tidak ada yang bisa di hubungi. Tentu saja itu akal-akalan Sinta supaya bisa ketemu dengan Kenan.
Kenan menghubungi nomor Sinta, dan yang mengangkat wanita lain yang mengaku bernama Bella, Bella mengatakan bahwa Sinta sedang berada di klinik kampus, dia bingung bagaimana caranya membawa Sinta pulang karena dia tidak bisa menyetir.
Kemudian Kenan segera menelepon Refan memberitahu apa yang terjadi dengan adiknya, namun Refan tak mengangkat panggilan telepon dari Kenan, Kenan menghela nafasnya kasar. Mau tidak mau Kenan melajukan mobilnya ke kampus Sinta.
__ADS_1
...----------------...