Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Will you marry me?


__ADS_3

Satya berulang kali menghela nafasnya saat di ruang meeting. Dia tak begitu konsen dengan yang disampaikan Firlan di hadapan para pemegang saham.


Satya beberapa kali memandangi arlojinya dengan raut wajah yang gusar dan sesekali memainkan penanya diatas kertas yang sepertinya tak ada coretan sedikit pun. Firlan yang sekilas memandang Satya, merasa heran mengapa bosnya itu terlihat sangat gelisah.


"Baik, apakah ada yang ingin ditanyakan?" ucap Firlan setelah menyampaikan materi rapat.


"Maaf, sekarang saya ada urusan yang sangat penting, saya tutup meeting hari ini, selamat siang!" ucap Satya menginterupsi Firlan, pria itu segera bangkit dan langsung berjalan dengan langkah kaki yang terburu-buru. Sementara para peserta meeting saling melempar pandang satu sama lain sebelum akhirnya membubarkan diri.


Firlan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Satya yang seenak jidatnya, main kabur dari ruang meeting.


"Tunggu, Tuan..." ucap Firlan


"Siapkan jet pribadi, aku sudah ketinggalan pesawat 15 menit yang lalu! itu semua gara-gara meeting hari ini!" Satya mendengus kesal.


"Tapi anda tidak mengatakan bahwa anda ada akan pergi, Tuan!" Firlan tak mau kalah.


"Sudah jangan banyak bicara, lakukan saja perintahku!" ucap Satya dengan nada yang meninggi.


"Baik Tuan," sahut Firlan.


"Haissh bisa gila aku ngadepin anak bos yang satu ini!" gumam Firlan yang mengumpat di belakang Satya.


"Aku dengar semua yang kau katakan, Firlan!" ucap Satya tanpa menghentikan langkahnya, dan menarik satu garis senyum yang nyaris tak terlihat. Firlan hanya bisa mencak-mencak dalam hatinya.


Memang benar, Satya tak mengatakan apapun tentang rencana kepergiannya hari ini yang katanya karena ada urusan penting. Firlan ingat betul, saat Satya meneleponnya pagi-pagi dia hanya menyuruh untuk memesankan bunga untuk Amartha, wanita yang sedang ditaksir bosnya itu.


Firlan ingin menjambak rambutnya sendiri, menghadapi seorang Satya Ganendra. Bahkan kehidupan percintaannya sendiri sedang diujung tanduk, gara-gara bosnya ini jarang memberikan jatah libur. Walaupun Satya membayar tinggi atas pekerjaan Firlan, namun tak bisa dipungkiri, jiwanya meronta merindukan belaian sang kekasih.

__ADS_1


Firlan segera menelepon anak buahnya untuk menyiapkan sebuah jet pribadi diatas rooftop. Selama satu tahun memimpin perusahaan, sedikit banyak sikap Satya berubah. Dia lebih tidak sabaran dari sebelumnya, Firlan sangat stress dibuatnya.


Walaupun Firlan mendapatkan hadiah rumah dan mobil mewah dari Abiseka karena berhasil membujuk anaknya agar mau mengambil alih perusahaan, namun sepertinya kehadiran Satya di perusahaan membuat dirinya semakin sibuk. Sibuk mengurusi kehidupan pribadi Satya lebih tepatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kedua gadis dengan memakai toga dikepalanya duduk di barisan depan. Vira yang kebetulan meraih gelar cumlaude dipanggil pertama untuk maju kedepan, kemudian disusul para peserta wisuda yang lainnya termasuk Amartha. Untuk yang pertama kalinya gadis itu sangat bangga dengan dirinya, dengan pencapaian yang diraihnya saat ini. Orangtua Amartha tak kuasa menahan air matanya, Rosa menyadari anaknya lebih kurus dari sebelumnya. Rosa tidak mengerti mengapa anaknya bisa wisuda? Kapan Amartha menyelesaikan pendidikannya? Lalu mengapa tak ada Kenan disini? Apa yang sebenarnya terjadi diantara Kenan dan Amartha?


"Pah, mama rasa ada yang Amartha sembunyikan dari kita, Pah..." ucap Rosa di tengah prosesi wisuda.


"Kenan kok nggak ada ya, Pah? dia kan suaminya, kenapa Amartha tinggal di kosannya yang dulu? lalu kemana Kenan?" lanjut Rosa.


"Sudahlah, Mah ... nanti Amartha pasti akan menjelaskan semuanya pada kita, kita tunggu saja..." ucap Rudy sembari menggenggam tangan Rosa.


Kemudian tibalah sesi hiburan, sebuah performance dari band yang sangat terkenal membuat riuh suasana. Alunan musik membuat suasana semakin hidup. Semuanya merasakan kebahagiaan di hari yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Mereka semua berkumpul di tengah sambil menari menikmati musik. Kecuali Amartha dan Vira yang tetap setia duduk di kursi melihat teman-temannya bernyanyi dan menari menikmati lagu.


"Amartha Dina, happy graduation!" ucap seorang pria menggunakan pengeras suara. Pria yang sangat ia kenal.


Amartha langsung menghentikan langkahnya seraya membalikkan tubuhnya, memastikan suara yang ia dengar adalah suara orang yang selama ini seakan lenyap dari kehidupannya.


"Mas, Satya?" gumam Amartha, gadis itu memandang Vira yang berada di sampingnya.


Rosa dan Rudy pun segera berjalan menghampiri putrinya yang tengah diterangi lampu sorot, dan seseorang yang entah dari mana memberikan sebuah mic pada Amartha.


"Amartha? kenapa ada Satya disini? lalu kemana suamimu?" bisik Rudy bertanya pada putrinya, sedangkan Amartha hanya memandang Rudy dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku juga nggak tahu, Pah ... kenapa Satya ada disini, untuk masalah Kenan Amartha akan jelaskan, Pah ... Amartha janji," lirih Amartha sembari menggenggam tangan Amartha.

__ADS_1


Rosa memeluk pinggang Amartha, ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Pertanyaan mengenai Kenan saja belum terjawab, sekarang ia melihat Satya berada di tempat ini dengan setelan jas rapi.


"Amartha Dina, Hey?! kamu masih disana?" ucap Satya yang melihat Amartha hanya diam seperti patung. Rosa melepaskan pelukannya dan bergeser ke arah suaminya.


"Ya?" sahut Amartha.


Ya Allah ini orang sableng mau ngapain lagi?


"Aku telah lama menantikan hari ini..." ucap Satya sambil berjalan perlahan mendekat ke arah Amartha dengan membawa sebuket mawar putih ditangan kirinya.


"Ijinkan aku untuk menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hidupku ... kali ini aku tidak akan mengalah, kali ini aku akan merayu bahkan memaksa takdir untuk berpihak padaku, hari ini disaksikan oleh orangtuamu dan seluruh orang yang hadir disini, aku Satya Ganendra ingin memintamu untuk menjadi ibu dari anak-anakku, Amartha Dina will you marry me?" ucap Satya yang sudah berada tepat di hadapan Amartha dengan menatap kedua manik perempuan itu. Satya memberikan mic pada Firlan yang berdiri di sampingnya. Tiba-tiba suasana menjadi hening.


"Jika kamu menerima lamaran ini, ambilah cincin yang ada di kotak kecil ini," Satya merogoh sakunya dan membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin bertahtakan berlian.


"Tapi jika kau menolakku ... tapi aku yakin kamu tidak akan mungkin menolak diriku, kan? hahahaha" ucap Satya seraya tertawa renyah, dan diikuti para hadirin yang juga ikut tertawa mendengar banyolan Satya.


Haish, bisa-bisanya dia bercanda disaat seperti ini!


"Ehem, jika kamu menerimaku, ambilah cincin ini, tapi jika kau menolakku maka ambilah buket mawar putih ini," ucap Satya seraya menunjuk buket mawar putih yang ada di tangan kirinya, dan sebuah cincin di tangan kanannya.


"Terima ... terima ... terima!" sorak sorai para suporter lamaran dadakan.


Satya menatap Amartha dengan lekat, ia tahu wanita yang di depannya ini pasti sangat bimbang menentukan pilihannya. Namun, apapun keputusan Amartha, ia akan menerimanya.


"Jadi?" Satya memecahkan keheningan antara dirinya dan Amartha.


"Maaf!" ucap Amartha.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2