
1 tahun kemudian.
"Ev! hati-hati, Nak..." ucap Amartha yang melihat Evren sudah bisa berjalan meskipun masih sedikit mengkhawatirkan.
"Biarkan saja, Sayang...." kata Satya yang merentangkan kedua tangannya di hadapan putri kecilnya.
"hihahahahhaah," suara tawa Evren terdengar saat ia berhasil berjalan ke arah sang ayah.
"Astaga, Evren. Kamu bikin jantung ibu deg-degan," ucap Amartha yang sedang memakaikan bandana pada Evren yang duduk diatas play matt. Namun ketika sang ayah datang ke kamarnya. Gadis kecil itu segera merangkak dan berdiri kemudian berjalan ke arah Satya.
"Hahahah, kamu dengar? ibu sangat khawatir kamu akan terjatuh," bisik Satya pada Evren.
"Yayah! dedatada..." ucap Evren dengan suara gemasnya. Satya hanya manggut-manggut.
"Kayak ngerti aja kamu, Mas!" celetuk Amartha.
"Dikit-dikit," ucap Satya.
"Evren, ayo pakai bandananya, Sayang..." Amartha akan memakaikan bandana itu pada kepala Evren tapi gadis kecil itu menggeleng dan mengusap rambutnya yangasih pendek.
"Evrennggak mau pakai ini? bentuknya lucu, dan ayah akan suka jika kamu mau memakainya. Kamu mau memakainya untuk ayah, Ev?" ucap Satya. Evren mengusap pipi ayahnya.
"Yayah... emh,"
"Evren mau, ya?" ucap Satya merayu sang anak.
"Coba pakaikan," kata Satya pada Amartha.
Amartha mulai memakaikan bandana berwarna putih itu senada dengan gaun yang Evren kenakan saat ini. Gadis kecil itu masih sibuk memencet hidung mancung ayahnya, dan ketika Satya mengeluarkan suara seperti bebek, maka gadis cilik itu pun akan tertawa.
"Kalian benar-benar sangat mirip. Bukan wajahnya, tapi kelakuannya!" celetuk Amaryha yang melihat Evren sering bertingkah aneh seperti sang ayah. Mereka berdua seperti meniliki satu bahasa yang membuat keduanya saling memahami.
"Kau sudah memberikan warisan wajah cantikmu pada Evren, Sayang! jadi jangan iri jika sifatku menurun padanya," kata Satya menowel dagu istrinya.
"Iya kan, Evren?" ucap Satya sambil tersenyum pada putrinya yang baru berusia 1 tahun.
"Astaga, kalian masih disini. Ayo, semua orang sudah menunggu di bawah..." ucap Sandra
.
.
.
Satya menggenggam tangan Amartha dan satu tangannya lagi menggendong Evren. Mereka menuruni anak tangga menuju taman belakang. Rumah megah itu dihias berbagai macam bunga dan balon bertemakan unicorn.
"Cantik sekali cucu ku," ucap Rosa.
"Selamat ulang tahun, Evren..." lanjut Rosa seraya mengelus kepala cucu nya
"Terima kasih, nenek..." ucap Amartha mewakili Evren.
"Pah..." Amartha melepaskan genggaman tangan suaminya dan mendekat pada Rudy.
"Benar-benar wajahnya mirip denganmu. Papa seperti melihat Amartha kecil," kata Rudy melihat Evren dengan senyum bahagia.
"Benarkah?" tanya Amartha.
"Tentu," sahut Rudy.
__ADS_1
Amartha tersenyum saat melihat Evren menyapa opa dan omanya. Gadis itu tertawa dalam gendongan Abiseka. Prisha yang datang sambil membawa minuman kaleng ditangannya pun langsung menghujani Evren dengan kecupan. Ia berebut dengan papi nya ingin menggendong Evren. Prisha sudah menyelesaikan studinya, dan belum genap satu bulan ini dia pulang ke Indonesia.
"Amartha, papa mungkin bukan ayah yang terbaik untuk kamu. Papa sadar kalau papa terlalu keras mendidikmu,"
"Dan terlalu kolot!" serobot Rosa.
"Hahaha, iya benar. Aku memang terlalu kolot, tapi sepertinya Satya tidak seperti itu ya, Amartha?" Rudy menarik Rosa dan memeluk kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.
"Nggak, Pah..." jawab Amartha sambil tersenyum pada Rosa.
Evren tersenyum senang saat melihat beraneka ragam balon berwarna-warni. Kini gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya pada sang ayah setelah puas bermain dengan wanita yang menamai dirinya Onti Isha.
Bersamaan dengan itu Sinta datang bersama dengan Fendy. Sinta yang tengah hamil membawa satu kotak kado di tangannya.
"Hati-hati. Sudah aku bilang jangan memakai sepatu yang itu, kenapa kau tidak mau mendengarkanku?" ucap Fendy.
"Astaga, kau sangat cerewet belakangan kni," jawab Sinta dan Amartha pun terkekeh melihat sepasang suami istri nampak sedang berdebat.
Amartha melepaskan diri dari sang ayah, dan meminta ijin untuk menyapa sahabatnya.
"Hai bumil...!" sapa Amartha pada Sinta.
"Hai, Ta. Aku nggak terlambat, kan?" tanya Sinta.
"Nggak sama sekali," kata Amartha tersenyum.
"Dimana gadis kecil itu? aku membawa sesuatu untuknya," tanya Sinta.
"Disana," Amartha menunjuk Evren yang sedang bersama Satya memegang sebuah balon berwarna merah muda.
"Evren, Sayang!" seru Amartha seraya melambaikan tangannya pada ayah dan anak itu.
Satya pun berjalan dengan Evren yang melingkarkan tangan kecilnya di leher sang ayah.
"Ikut dengan Ibu," ucap Satya pada Evren.
"Sini, Sayang..." kata Amartha.
"Hai, Princess!" seru Sinta yang memegang tangan Evren.
"Happy birthday," lanjut wanita itu sembari memberikan kotak hadiah.
"Maacih, Onti..." ucap Amartha.
"Ayo, Fen! kita duduk disana. Kau akan pusing jika mendengar perbincangan para wanita," kata Satya.
"Sayang, aku kesana. Hati-hati dengan langkahmu dan jangan terlalu lama berdiri," kata Fendy seraya mengecup kepala Sinta sekilas.
"Tenang, Kak ada aku. Dia nggak akan pecicilan," ucap Amartha.
"Titip Sinta ya, Ta..." kata Fendy sebelum meninggalkan istrinya dan berjalan mengikuti Satya.
Tak lama, datanglah satu pasangan yang entah sampai kapan akan terus eng ing eng-an. Siapa lagi kalau bukan Vira dan Firlan.
"Vira, tunggu!" seru Firlan. Namun, Vira dengan wajah betenya tak menggubris Firlan.
"Astaga kenapa lagi mereka," gumam Amartha dalam hatinya.
"Haiii, Taaaaa!" Vira berjalan cepat meninggalkan Firlan yang menghela nafas kesal dengan kelakuan wanita yang kini memeluk Amartha. Ia memberikan kado untuk gadis kecil itu.
__ADS_1
"Aku kira kamu nggak akan dateng," kata Amartha membuat Vira melepaskan pelukannya.
"Ya dateng, cuma..."
"Hem, selamat ulangtahun Evren..." ucap Firlan yang kemudian mengeluarkan hadiah yang ia sembunyikan dibalik punggungnya.
"Saya sengaja memesannya untuk Evren, semoga dia suka," kata Firlan yang memberikan sebuah boneka yang memakai gaun yang sangat cantik, yang berdiri di dalam kotak transparan.
"Wah, terima kasih, Kak. Evren pasti menyukainya. Iya kan, Ev?" ucap Amartha sembari menunjukkan boneka yang ada ditangannya. Evren pun tersenyum sambil melihat sosok cantik yang ada di dalam kotak.
"Mbak? mungkin kita bisa mulai acaranya sekarang..." kata Prisha yang datang menghampiri kakak iparnya.
"Iya, Sha..." ucap Amartha yang memberikan kotak boneka pada Prisha dan juga kado dari Vira.
"Ayo, Sin, Vir ... Kak Firlan," kata Amartha.
Amartha menggandeng Sinta yang tengah hamil 5 bulan. Sinta tersenyum tulus padanya.
"Jangan terburu-buru," kata Amartha.
"Terima kasih," ucap Sinta.
"Untuk?"
"Melanjutkan pertemanan ini, dan menjadi bagian penting di dalam hidupku," kata Sinta. Amartha mengangguk dan tersenyum.
Satya yang melihat Amartha berjalan segera mengambil Evren.
"Sini sama ayah," kata Satya.
Amartha menggandeng Sinta ke tempat duduk yang ada disana. Sedangkan Vira yang sedang berjalan tiba-tiba saja dikagetkan dengan tangan yang mengisi sela-sela jarinya. Vira menghentikan langkahnya dan menatap mata pria yang kini juga menoleh padanya.
"Berjalanlah. Semua orang sudah berkumpul disana," kata Firlan yang kemudian menatap ke depan menarik Vira agar mau mengikutinya.
Evren berdiri di deoan sebuah kue dengan hiasan unicron yang sangat ia sukai. Gadis itu meniup lilin pertama dengan didampingi Satya dan Amartha. Semua orang bertepuk tangan melihat Evren yang berhasil membuat lilin padam walaupun harus mencobanya beberapa kali.
"Happy birthday," ucap Satya.
Dan ...
Cup
Satya dan Amartha kompak mencium putri kecil mereka bersama-sama dan itu tak lepas dari bidikan kamera yang mengabadikan kebahgiaan Satya dan Amartha.
"Ayo kita semua berfoto," seru Satya.
Dan mereka semua berdiri dalam dengan wajah ceria menghadap ke kamera dengan gayanya masing-masing.
Amartha sangat bahagia dengan kehidupannya saat ini. Sesaat pikirannya melayang pada seorang pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
"Dan kita akan bertemu kembali saat kamu sudah menemukan seorang wanita yang akan membuat kamu terhanyut dalam pesona cintanya," gumam Amartha dalam batinnya.
Amartha memandang suaminya dengan penuh cinta.
"Jangan pernah pergi dariku," kata Amartha.
"Nggak akan! karena aku akan selalu disampingmu sampai kapanpun..." ucap Satya seraya mengecup kening istrinya. Pria itu menggendong Evren dengan satu tangannya.
TAMAT
__ADS_1
...----------------...