Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Stop Berpura-pura, Fendy!


__ADS_3

"Tapi mungkin sebaiknya mulai sekarang kita nggak usah ketemu lagi," lanjut Sinta sambil menatap kedua mata Fendy dengan tajam.


"Kenapa?" tanya Fendy.


"Masih nanya kenapa," cibir Sinta.


"Kamu ngomong apa sih, Tayang? ngambekan terus, lagi ada bulan nih mesti," kata Fendy menowel dagu Sinta.


"Emng dasar kuyang nggak tau diri," sarkas Sinta.


"Kok kuyang lagi, sih? kenapa coba? apa salah dan dosaku padamu, Tayang?" ucap Fendy mencoba melucu.


"Jadul!" kata Sinta.


"Kamu kalau ngamuk tuh lucu, gemesin," ucap Fendy.


Sinta menaruh cappucinonya dan melepas jas yang menghalau hawa dingin yang menusuk kulitnya. Ia melemparkan jas itu tepat di muka Fendy.


"Awwwhhh, panas! Astagaaaa, ini jadi KDRT begini dah?" kata Fendy yang spontan berdiri, karena cappucino miliknya tumpah karena jas yang dilempar Sinta membuatnya terkejut.


"Bukan salahku," kata Sinta.


"Kamu kenapa, sih? panas tau, nggak? main lempar sembarangan dikiran aku keranjang baju kotor apa, ya?" kata Fendy yang menaruh cangkir diatas meja dan mengibaskan celananya mengusir rasa panas.


"Sekarang aku nanya sama kamu titisan kuyang dari neraka! apa tujuan kamu deketin aku, hah? kamu pikir aku cewek bego yang bisa kamu kibulin?" ucap Sinta dengan tatapan nyalang.


"Aku deketin kamu ya karena aku suka sama kamu, cinta sama kamu..." kata Fendy santai ia duduk kembali menatap Sinta.


"Cinta? cih!" Sinta berdecih.


"Iya cinta. Masa kamu nggak liat ketulusan aku, liat cinta gambar lope lope di mataku ini, coba deh kamu liat," ucap Fendy seraya memajukan wajahnya.


"Nggak lucu!" kata Sinta mendorong muka Fendy dengan tangannya.


"Astaga, hidung mancungku bisa benyek ini!" seloroh Fendy, seraya mengusap hidungnya yang mendapat serangan tiba-tiba.

__ADS_1


"Nggak usah bilang cinta kalau kamu sendiri, suka mempermainkan perasaan orang!"


"Mainin perasaan siapa, sih? kan aku cuma cinta sama kamu, kan kamu satu-satunya di hati aku, Tayang!" kata Fendy bersungguh-sungguh.


"Satu-satunya? salah satunya, kali..." ucap Sinta dengan nada meledek.


"Wajahmu ternyata menipu," kata Sinta yang sudah tidak tahan dengan sikap Fendy yang pura-pura tidak tahu. Sinta memalingkan wajahnya, ia mencoba menghapus air mata yang akan segera terjun bebas ke pipinya.


Fendy yang melihat itu lantas mendekat ke arah Sinta. Dia menekuk kakinya di depan Sinta yang duduk di kursinya. Fendy meraih tangan wanita itu.


"Gini deh, kamu ngomong yang jelas. Salahku tuh dimana, apa yang bikin kamu kesel sama aku," kata Fendy, ia menyentuh dagu Sinta dengan jarinya, membuat wanita itu menatap kedua bola matanya.


"Ngomong sekarang juga, aku ini siapa buat kamu?" tanya Sinta.


"Pacar. Kamu itu ya sayangnya aku cintanya aku, masa depan aku..." jawab Fendy.


"Pacar?"


"Iya kan kita pacaran dari kamu SMA, gimana sih? otak masih baik-baik aja, kan?" ucap Fendy dengan menyentuh pelipis Sinta. Wanita igu menggerakkan kepalanya. Dia tidak suka dengan apa yang Fendy lakukan.


"Kamu selalu bilang aku pacar kamu, aku pacar kamu, hubungan kita itu pura-pura, ngerti nggak sih?" Sinta ngegas.


"Sinta, aku cinta sama kamu dan aku nggak akan bisa hidup tanpa kamu. Aku mau kamu jadi pacarku, dan aku pengen mengikat kamu dengan seutas cinta dari pria tampan dan menawan yang selalu mencintai kamu apa adanya..." kata Fendy.


"Kalau aku jadi pacar kamu, lalu mau kamu kemanakan wanita itu, hah?" tanya Sinta.


"Wanita yang mana?" tanya Fendy.


"Stop berpura-pura, Fendy!" teriak Sinta. Ia menepis tangan Fendy yang mencoba menyentuhnya.


"Ivanka," ucap Sinta.


"Tunangan kamu," lanjutnya.


"Ivanka wanita kadal itu? oh, jadi kamu marah-marah kayak gini karena liat wanita kadal ada di ruanganku?" tanya Fendy.

__ADS_1


"Aku sama Ivanka nggak pernah bertunangan. Nih, kamu liat ada cincin nggak di jari aku? nggak ada, kan?" Fendy menunjukkan jari-jarinya. Namun Sinta tak percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan pria itu.


"Jadi, awalnya aku ada janji ketemu dengan seorang teman di sebuah restoran, dan ketika aku ingin menemui temanku itu ada perempuan gila yang menarikku ke mejanya dan mengakuiku sebagai pacar di depan kedua orangtuanya dan juga seorang pria yang aku nggak tau siapa dia. Aku nggak bisa berbuat apa-apa karena wanita itu langsung nyerocos aja, aku melirik temanku yang memang duduk tak jauh dari meja wanita kadal itu. Dia memintaku untuk mengikuti sandiwara wanita gila yang bernama Ivanka. Jadi, aku dijebak oleh mereka. Sialan memang!"


"Dia datang ke kantorku, untuk memintaku berpura-pura menjadi tunangannya, dan tanpa sepengetahuanku mereka sudah mempersiapkan acara pertunangan settingan sialan itu. Katanya, ada seseorang yang akan menggantikan posisiku. Dia hanya meminta bantuanku untuk mengulur waktu. Mungkin kamu hanya mendengarnya sekilas lalu pergi. Tapi yang perlu kamu tahu, demi apapun aku nggak ada hubungan apa-apa dengan dia. Dan aku nggak akan mengikuti ide gila wanita itu, percaya aku..." Fendy berusaha meyakinkan Sinta.


"Buktikan," ucap Sinta.


"Oke, aku akan buktikan ucapanku. Aku nggak akan menghianati kamu, dan aku nggak akan pernah memberi ruang orang lain untuk menghancurkan hubungan ini," ucap Fendy.


"Kamu mau masih mau disini, atau mau masuk ke dalam?" tanya pria itu.


"Cepat tunjukkan dimana toiletnya, aku sudah nggak tahan!" ucap Sinta.


"Kemarilah, akan aku tunjukkan," ucap Fendy seraya berdiri dan berjalan masuk ke dalam Villa.


Sementara di tempat lain, Amartha sedang berpamitan pada kedua orangtuanya.


"Mah, Pah ... Amartha pamit, ya?" ucap Amartha seraya memeluk kedua orangtuanya.


"Hati-hati di jalan," kata Rosa seraya mengelus rambut panjang anaknya. Amartha melepaskan pelukan mereka.


"Mah, Pah ...jaga kesehatan, ya?" kata Satya seraya menyalami tangan Rudy dan Rosa.


"Jaga Amartha dan calon cucuku ya, Sat?" ucap Rudy, ia menepuk pundak menantunya.


"Siap, Pah!" jawab Satya.


"Ayo, Sayang..." Satya menggandeng tangan Amartha dan membantu istrinya untuk naik masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Nuri hanya bisa memandang sang pujaan hati yang sudah selesai memasukkan barang majikannya ke dalam bagasi. Mata Nuri pun terus saja mengikuti Damian sampai pria itu masuk dan duduk di kursi kemudi. Nuri garuk-garuk pilar yang ada di teras.


"Nur!" Ida menyenggol lengan Nuri.


"Lagi merana, Da!" ucap Nuri dengan tatapan memelasnya.

__ADS_1


Rosa hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nuri. Mereka pun melambaikan tangannya saat mobil mulai bergerak menjauh dari pandangannya.


...----------------...


__ADS_2