
Perlahan mata Vira terbuka. Kepalanya merasakan pusing yang teramat sangat.
"Aku dimana?" ucap Vira lemas.
"Kak Ricko?" Vira memegang kepalanya yang kliyengan.
"Kamu udah sadar, syukurlah!" kata Ricko yang mengusap kening Vira.
"Bukannya aku..." ucap Vira sambil mengingat-ingat.
"Udah tiduran ajah," Ricko mencegah Vira yang hendak bangun.
"Tadi Firlan yang bawa kamu kesini," ucap Ricko.
"Firlan?" gumam Vira.
Mata wanita itu mencari Firlan namun ia tak menemukan pria itu di ruangan itu.
"Dia sedang pergi, ada urusan katanya," jelas Ricko. Melihat raut wajah Vira yang nampak bingung, Ricko pun mulai menjelaskan apa yang dia ketahui.
"Jadi, Firlan telfon aku pakai nomor ponsel kamu. Dia bilang kamu pingsan. Awalnya dia mau ngehubungin ibu, tapi dia pikir ibu pasti khawatir jika tau kamu ada disini. Sedangkan bapak membutuhkan ibu untuk selalu disampingnya dan nggak bisa ditinggal sendirian. Jadi dia nelfon aku buat jagain kamu disini," ujar Ricko. Vira hanya tersenyum kecut.
"Ternyata dia masih marah," gumam Vira dalam hatinya. Wanita itu merubah posisi tidurnya membelakangi Ricko yang duduk di samping ranjangnya.
"Istirahatlah, aku akan duduk di sofa sana," ucap Ricko. Vira mengangguk pelan. Tangannya yang diinfus membuatnya tak bisa bergerak dengan leluasa.
"Kak?" ucap Vira tiba-tiba sebelum Ricko beranjak. Wanita itu bicara memunggungi Ricko.
"Jangan bilang aku disini sama mama," ucap Vira.
"Iya, nanti aku bilang kamu lagi nginep di rumah temen kamu, gitu ya?" ucap Ricko mengusap kepala Vira sekilas.
"Makasih," kata Vira datar.
Air mata menetes membasahi bantal yang berwarna putih. Sebisa mungkin Vira tak bersuara, hanya air mata yang terus menetes tanpa bisa dihalangi.
Hari semakin siang, acara wisuda sudah selesai. Kini mereka ada di sebuah restoran yang sudah di booking hari itu. Tak ada pengunjung lain selain mereka berlima.
"Ehm, kenapa kamu diam, Sinta..." tanya Fendy.
"Menurutmu?" ketus Sinta.
__ADS_1
"Mama dan papa bisa menjelaskan ini semua," ucap Kamila.
"Apa yang harus aku dengar? aku juga nggak tau apakah aku harus senang atau kecewa dengan kalian semua," kata Sinta tersenyum kecut.
"Kami berbuat seperti ini juga demi kebaikan kamu," ucap Arya.
"Kebaikan seperti apa, Pah?" Sinta menuntut jawaban.
"Ingat kamu bicara dengan orangtuamu. Jaga sikapmu, Sinta!" bisik Fendy penuh penekanan.
"Harus banget aku dengerin kamu gitu? dasar pembohong!" Sinta menatap wajah Fendy tajam.
"Dengerin penjelasan kami dulu, Sinta ... ini bukan seperti yang ada dipikiran kamu. Kami melakukan ini supaya kamu-" ucap kamila, namun Sinta segera angkat bicara.
"Supaya aku apa, Mah? supaya aku bisa kalian perlakukan seperti sapi perah?" kata Sinta.
"Sinta jaga sikapmu!" Fendy tak bisa diam dengan sikap wanita yang duduk di sampingnya itu.
"Jadi benar, orang yang aku lihat beberapa waktu yang lalu itu adalah kamu, Kak!" ucap Sinta pada seorang pria yang duduk berhadapan dengan dirinya.
"Kamu udah sembuh, dan kalian dengan teganya menyembunyikan ini dari aku? kalian biarin aku sedih dan kesepian disini," ucap Sinta lagi.
"Aku memang sakit, Sinta ... dan aku memang ke luar negeri untuk berobat. Dan kami melihat perubahan kamu selama kami tidak ada, jadi kami menunda kepulangan kami. Dan aku sengaja meminta Fendy untuk menjaga kamu disimi, dan dia membuktikan bahwa dia cukup bisa diandalkan dan lolos tahap satu," ucap Refan, sedangkan Sinta menatap tajam Fendy. Jadi selama ini pertemuannya dengan Fendy telah direncanakan sebelumnya.
"Fendy datang menemui kami, jauh sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia meminta izin untuk mendekati kamu. Karena pada saat itu kamu masih terbelenggu dengan obsesimu itu, kami pikir ini kesempatan yang baik jika ada orang lain yang hadir dalam kehidupanmu, Sinta ... orang yang menyayangi kamu sepenuh hati," jelas Arya.
"Papa dan mama memberi syarat pada Fendy. Dia bisa menjadi menantu di keluarga ini jika dia bisa membuatmu melupakan Kenan dan bisa menjagamu dengan baik, setelah dia lolos tahap itu baru dia bisa lanjut ke tahap selanjutnya," lanjut Arya
"Kalian melakukan ini tanpa persetujuanku?" ucap Sinta.
"Jangan salahkan orangtuamu, Sinta! jika kamu ingin marah, marahlah denganku. Mereka menyayangimu, mereka ingin kamu hidup dengan sebaik mungkin, dan nyatanya kamu berhasil melewati itu semua," ucap Fendy.
"Apakah Kak Kenan tau kalau kakak sudah sembuh?" tanya Sinta pada Refan.
"Ya, kami juga sudah bertemu," jawab Refan.
"Hah! ternyata aku sendirian yang kalian bodohi," Sinta segera beranjak pergi meninggalkan keluarganya.
"Sinta!" seru Kamila.
"Biar saya yang kejar Sinta, Tante..." ucap Fendy. Pria itu segera berlari mengejar Sinta.
__ADS_1
"Sinta, tunggu!" seru Fendy saat sudah berada di luar restoran.
"Sinta!" Fendy berhasil menangkap wanita itu.
"Lepas!" ucap Sinta seraya melepaskan cengkraman tangan Fendy.
"Aku mau pergi, lepasin!" ucap Sinta, tapi Fendy tak menggubrisnya. Pria itu membawa Sinta masuk ke dalam mobil. Fendy pun segera masuk dan membawa Sinta pergi meninggalkan restoran.
"Aku mau turun!" kata Sinta.
"Nanti," ucap Fendy.
"Tapi aku nggak mau nanti, aku mau turun se-ka-rang!" kata Sinta.
"Aku bilang nanti ya nanti!" sarkas Fendy.
"Kamu nggak bisa ngatur aku seenaknya!" seru Sinta menunjuk wajah Fendy dengan jarinya.
"Bisa! karena aku calon suami kamu," jawab Fendy.
"Aku nggak mau sama orang pembohong seperti kamu!" tolak Sinta.
"Kalau aku pembohong lalu kamu itu apa? malaikat? iya, malaikat?" kata Fendy dengan nada meledek.
"Diem, dan duduk dengan tenang!" perintah pria itu. Fendy membawa Sinta menuju keluar kota.
"Sebenernya kamu mau bawa aku kemana? aku bisa ya laporin kamu ke polisi atas tuduhan penculikan," ancam Sinta.
"Silakan saja," ucap Fendy tidak peduli.
"Kamu ini benar-benar menyebalkan!" ujar Sinta.
"Orang menyebalkan yang mulai kamu sukai," kata Fendy menaikkan satu sudut bibirnya.
"Aku nggak segila itu sampai bisa menyukai orang sepertimu," ujar Sinta tertawa mengejek.
"Nggak usah munafik, Sin! aku tau kamu itu sudah mulai menyukaiku bahkan mungkin sudah mempunyai rasa cinta buat aku," ucap Fendy menebak isi hati Sinta.
"Nggak akan! nggak usah ngimpi ketinggian," sindir Sinta.
"Nggak usah banyak cingcong! aku mau turun, aku nggak mau ya liat muka kamu lagi," kata Sinta yang berusaha membuka pintu mobil sementara mobil melaju dengan kencang.
__ADS_1
"Nggak usah coba-coba buka pintu, kecuali jika kamu pengen berakhir dengan baret-baret di wajah dan sekujur tubuh?' ucap Fendy mengingatkan agar Sinta tidak berbuat yang aneh-aneh.
...----------------...