
Setelah terpejam selama 5 menit akhirnya Satya pun terjaga. Dia hanya sebentar memejamkan matanya mengusir kantuk yang sudah tak bisa ditahan, Satya bangkit dari tidurnya dan dilihatnya masih belum ada tanda-tanda pergerakan dari Amartha. Padahal ketika ia merebahkan tubuh gadis itu ke ranjang, ia langsung memposisikan kaki Amartha lebih tinggi dari kepalanya agar memperlancar sirkulasi darah dan aliran oksigen ke otak. Tak lupa, dia melonggarkan kaitan jeans serta melepas jaket yang dikenakan gadis itu.
Pria tampan itu mengecek kembali keadaan Amartha, denyut nadi dan pernafasannya. Menepuk pipi gadis itu agar cepat sadar.
Amartha mulai mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dengan kepala yang masih sangat pusing, dia mencoba untuk bangkit, Satya membantu gadis itu untuk duduk, meletakkan bantal sebagai sandaran untuknya, pria itu duduk ditepi ranjang.
"Masih pusing?" tanya Satya sambil mengelus pucuk kepala Amartha.
"Iya ... sedikit..." sahut Amartha lemas. Bibir yang biasanya berwarna merah muda, kini terlihat sangat pucat. Namun ia merasa ada yang aneh dengan jeans yang ia kenakan, terasa agak longgar.
"Eh, a-apa yang kamu-" ucap Amartha panik saat merasakan kaitan jeansnya terbuka.
"Nggak usah mikir yang macem-macem, aku emang yang buka kaitan jeans kamu, supaya kamu bisa lebih nyaman bernafas,"
"Ehm, aku dimana?" tanya Amartha setelah membetulkan jeansnya.
"Kamu di hotel," ucap Satya lembut.
"Kamu pasti belum makan, kan? aku mau pesan makanan, kamu tiduran aja dulu," ucap Satya sambil beranjak dan memesan makanan di resto hotel itu lewat sambungan telepon.
Pria itu lalu duduk di sofa, menyandarkan punggungnya dan beberapa menerima panggilan telepon entah dari siapa. Wajahnya terlihat serius, dan sesekali ia mengurut pangkal hidungnya. Sementara Amartha, gadis itu duduk di ranjang dengan pandangan kosong.
Selang beberapa lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Satya mematikan ponselnya dan membuka pintu. Ternyata makanannya yang ia pesan telah datang. Satya menaruhnya diatas meja. Pria itu mendekat ke ranjang Amartha.
"Sekarang kamu makan, yah? aku tadi pesen bubur ayam, sebentar ... aku ambilkan," Satya mengambil mangkuk yang berisi bubur ayam yang masih hangat. Mata Amartha mendadak terasa panas, dan bulir-bulir air mata jatuh tanpa bisa dikendalikan.
"Loh kok nangis? kenapa?" tanya Satya sembari memegang sebuah mangkuk putih.
"Siapa juga yang nangis!" Amartha mencoba mengelak dengan memalingkan wajahnya dan menghapus cepat air mata yang membasahi pipinya.
"Dih, lagi sedih masih aja jutek," celoteh Satya mencoba menghibur Amartha.
"Ck," Amartha hanya berdecak kesal menatap pria tampan bernama Satya Ganendra.
"Lagian, kasian tuh air mata dibuang cuma buat nangisin cowok kayak gitu!" ucap Satya dengan santainya.
Amartha menatap tajam Satya ditengah tangisannya yang pecah sore itu. Rasa kecewa sudah pasti gadis itu rasakan. Bagaimana tidak, kekasihnya dan sahabatnya akan bertunangan, mendengar itu hati Amartha berdenyut sakit. Seperti seribu pedang menghunus hatinya saat ini.
"Cup, cup, cup, makan dulu biar kuat menghadapi kenyataan," Satya menepuk pipi Amartha pelan, dan tangan satunya masih memegang mangkuk yang masih terasa hangat.
__ADS_1
"Nggak lucu!" dengus Amartha kesal.
"Masa, sih? lucu, ah..." Satya menaik turunkan alisnya.
"Mau aku suapin? aaaaa..." Satya menyendokkan bubur dan mengarahkannya pada gadis cantik dihadapannya
"Aku nggak mau makan," tolak Amartha dengan suara datar.
Namun sialnya antara ucapan dan cacing di perut Amartha tak sejalan, terdengar suara 'krukk...krukk' yang berasal dari perut gadis itu. Amartha memalingkan wajahnya menahan malu.
"Tapi cacing di perut kamu itu udah pada kosidahan ... makan dulu, karena jam 9 malam nanti kita akan pulang," kata Satya sambil tersenyum jahil.
"Pulang?" pertanyaan bodoh meluncur dari gadis cantik itu. Sepertinya nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
"Iya, pulang ... atau kamu mau-" Satya belum selesai bicara, gadis itu sudah memotong ucapannya.
"Aku bisa pulang sendiri," ucap Amartha datar.
"Jangan bandel, aku udah pesenin dua tiket buat kita pulang, atau kamu mau ketemu Kenan dulu?" tanya Satya sengaja memancing Amartha.
"Nggak!" sergah Amartha.
Amartha memilih untuk mengambil alih semangkuk bubur ayam dari tangan Satya dan menghabiskannya. Amartha benar- benar malu untuk menatap wajah Satya yang dari tadi terkekeh melihat tingkahnya yang sok jual mahal. Mereka berdua menikmati makan siang yang sebenarnya sudah sangat terlambat.
Tak lupa, Satya memberi Amartha obat untuk mengurangi rasa sakit kepala yang teramat sangat.
"Ehem, darimana Mas tau kalau aku mau ke kota ini?" Amartha memberanikan diri untuk bertanya.
"Dari temen kamu," ucap Satya sembari meraih gelas bening berisi air mineral yang sudah habis setengahnya dari tangan Amartha.
"Siapa?" Amartha menatap Satya penuh tanya.
"Vira!" sahut Satya, menuntaskan rasa penasaran Amartha.
"Dia nelfon aku malem-malem, dan bilang kamu mau ke sini nemuin sahabat lama kamu, ya udah aku langsung pesen tiket kereta dan ngikutin kamu, hanya ingin memastikan kamu aman," jelas Satya.
Amartha tak kuasa menahan air matanya yang tumpah kala mendengar penjelasan Satya. Entah bagaimana nasibnya, jika Satya tidak mengikutinya.
"Udah, jangan nangis lagi, masih ada beberapa jam sebelum kita pulang, kamu istirahat aja dulu, aku juga mau rebahan dulu di sofa," Satya mengusap lembut pucuk kepala Amartha sebelum melangkahkan kakinya menuju sofa.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah istirahat beberapa jam, akhirnya mereka berdua check out dari hotel itu dan menaiki taksi menuju bandara. Jarak antara hotel dan bandara kurang lebih memakan waktu 1 jam perjalanan.
"Sudah sampai, Mas..." ucap supir taksi, memberitahu penumpangnya jika mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Terima kasih, Pak..." kata Satya sembari menyodorkan sejumlah uang.
"Maaf, ini uangnya kelebihan, Mas!" ujar supir taksi yang hendak mengembalikan uang dari Satya.
"Nggak apa- apa, itu tips buat Bapak..." Satya tersenyum sebelum akhirnya keluar dari taksi itu. Satya berjalan memutar ke sisi samping taksi dan membukakan pintu untuk Amartha.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Mas ... semoga lancar perjalanannya dan selamat sampai tujuan," seru supir taksi seraya menurunkan kaca mobilnya sebelum meninggalkan sepasang manusia yang jarang akur itu.
"Loh, kenapa kita ke bandara?" tanya Amartha, ia menatap Satya menuntut jawaban dari dokter ganteng yang super nyebelin itu.
"Emangnya aku nggak bilang, ya? kalau nanti kita pulangnya naik pesawat?" bukannya menjawab Satya malah balik bertanya pada gadis berkucir kuda itu. Dia berjalan menggandeng Amartha yang masih terlihat lemas.
"Aku mau naik kereta ajah," Amartha menghentikan langkahnya, merajuk seperti anak kecil.
"Mau naik kereta? dengan kondisi kamu kayak gini?" Satya menatap wajah Amartha.
"Lagian naik kereta butuh waktu berjam-jam, kaki pasti pegel banget! kalau pesawat kan nggak ada sejam, Ta..." mencoba memberi pengertian pada gadis keras kepala yang telah mencuri hatinya.
"Tapi," ucap Amartha dengan tatapan mengiba.
"Udah, ayo masuk!" ujar Satya seraya menuntun Amartha untuk kembali melanjutkan langkahnya.
Mau tidak mau, Amartha menuruti kemauan Satya. Lagipula dia tak ada tenaga untuk sekedar membalas perdebatan yang tak akan ada ujungnya. Amartha melangkah masuk menuju pesawat. Satya mengarahkan Amartha ke tempat duduk mereka di bussines class. Satya ingin Amartha menikmati perjalanannya.
Namun, ketika pesawat akan take off, tiba-tiba mata Amartha memejam kuat. Wajahnya pun kembali pucat.
"Ta, kamu kenapa?" Satya menatap Amartha khawatir.
"A-aku takut ketinggian!" sahut Amartha dengan terbata- bata dan nafas yang tak beraturan. Satya meraih tangan Amartha, dan mengusapnya pelan, mencoba memberikan ketenangan.
"Nggak usah takut, ada aku disini, pegang tanganku kalau kamu takut, peluk juga boleh, eh...." ujar Satya dengan nyengir kuda, sedangan Amartha langsung membuka matanya dan menatap dokter sableng itu dengan tatapan mematikan.
"Canda, Ta..." lanjut pria itu.
__ADS_1
...----------------...