Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Di kediaman Satya.


Sandra dan Abiseka datang ke rumah anaknya, mereka ingin menjenguk anaknya yang semalam baru pulang dari luar kota.


"Mami? papi? kapan dateng?" ucap Satya yang sedang menuruni anak tangga dan mendapati orangtuanya sudah ada di sofa ruang keluarga.


"Baru aja, Sat..." sahut Sandra melihat anaknya sedang dipegangi Amartha.


"Ini nggak kebalik? Amartha yang nuntun kamu, Sat?" Sandra menyindir anaknya yang sedang masa pemulihan.


"Nggak tau tuh, Mam! berasa orang jompo aku tuh," jawab Satya melirik pada Abiseka.


"Ngomong orang jomponya nggak usah kesini kali, Sat!" celetuk sang papi, Satya tertawa.


"Nggak lah, Papi mah nggak jompo, tapi tua-tua keladi makin tua makin jadi apa, prok prok prok," seloroh Satya yang malah niruin gaya pak Tarno.


"Bisa aja kamu bocah Sableng!" ucap Sandra yang melihat Satya berjalan perlahan.


"Udah, Yank ... aku malu," ucap Satya yang perlahan turun.


"Barangkali kamu masih pusing terus ngegelinding ke bawah, Mas!" Amartha bersikeras menggandeng lengan Satya.


Satya menggelengkan kepalanya, mungkin Amartha pikir Satya ini bola bekel atau bola kasti yang bisa nggelinding kalau nggak dipegangin. Amartha dan Satya berjalan mendekat ke arah Sandra dan Abiseka yang bangkit dari duduknya.


"Mam, Pap, kita sarapan bareng, yuk?" ucap Amartha yang menyalami tangan mertuanya.


"Mami sama papi udah sarapan dari rumah," ucap Sandra.


"Amartha bikin puding sutra semalam, Mami cobain, ya?" Amartha membujuk mertuanya agar mau mencicipi puding buatannya.


"Ya uda yuk Pih ... Mami mau nyobain puding," Sandra menggandeng suaminya untuk mengikuti Amartha dan Satya yang berjalan ke arah meja makan.


"Kamu jalan sendiri aja, Sat!" celetuk Sandra yang melepaskan tangannya dari lengan suaminya dan malah mendekat ke arah menantunya. Sandra menggandeng Amartha seraya mengelus perut menantunya itu.

__ADS_1


"Kamu jalannya hati-hati, Sayang..." ucap Sandra mengingatkan.


"Mami duduk dulu, Amartha ambilin pudingnya," kata Amartha. Wanita hamil itu bergerak menuju lemari pendingin, dan mengambil beberapa mangkok kecil berisi puding sutra rasa mangga, Amartha menuang vla rasa vanilla serta irisan buah cherry diatasnya.


"Biar bibik bantu, Nyonya..." ucap Bik Surti yang mengambil alih nampan berisi puding untuk diantarkan ke meja makan.


"Terima kasih, Bik..." ucap Amartha.


Sasa sudah menyuguhkan ice lychee tea untuk Sandra dan kopi hitam tanpa gula untuk Abiseka, dan Bik Surti meletakkan puding di depan Sandra dan Abiseka serta dua lagi ia letakkan di depan Satya.


"Silakan, Tuan ... Nyonya," ucap Sasa.


"Terima kasih, Sa..." ujar Sandra saat minuman dingin dan menyegarkan itu tersaji di hadapannya. Sasa beralih untuk meletakkan kopi dan teh di meja itu.


Kemudian Bik Surti menyiapkan bubur ayam untuk Satya sedangkan Amartha untuk mengambilkan beberapa potong cake rasa mocca dengan vanilla mouse.


"Sat? gimana proyek yang kamu tinjau kemarin?" tanya sang papi setelah menyeruput kopi miliknya.


"Kacau! Ada manipulasi data keuangan, tapi sekarang Firlan sedang menyelidikinya, nanti jika ada kabar baru mengenai proyek itu, aku akan segera kabari Papi," jelas Satya.


"Entahlah, Pap! kemarin Satya kesana, pekerjaan sepertinya semuanya baik-baik saja, tapi tidak dengan laporan pengeluaran untuk pembelian bahan bangunan yang membengkak, tapi kita tunggu saja kabar dari Firlan," ucap Satya.


"Suruh dia berhati-hati dan jangan sampai mereka curiga," kata Abiseka.


"Aku percaya Firlan bisa menanganinya, Pap!" ujar Satya yang dibalas anggukan oleh Abiseka.


"Kamu istirahat saja dulu, urusan kantor sementara Papi ambil alih," kata sang papi.


"Sudah, sudah, ini kasian Amartha pusing dengerin kalian ngomongin kerjaan terus," Sandra yang sedari tadi menikmati pudingnya pun merasa pusing saat pria berbeda usia itu sedang membicarakan masalah perusahaan. Abiseka tertawa melihat wajah masam istrinya,


"Bagaimana kabar calon cucu papi? udah bisa apa dia?" tanya Abiseka pada Amartha yang berjalan mendekat dengan membawa piring berbentuk persegi panjang yang berisi cake.


"Salto, pap!" celetuk Satya. Amartha tersenyum mendengar jawaban suaminya.

__ADS_1


"Ngarang kamu, Sat!" kata Sandra kesal dengan jawaban anaknya yang asal-asalan.


"Baik, Pap! udah sering nendang perut ibunya," ucap Amartha.


"Papi cobain dulu mocca cake-nya." ucap Amartha sembari mengambilkan satu potong cake dan menaruhnya diatas piring oval kecil, dengan telaten Amartha melayani mertuanya.


Abiseka menyuapkan satu potong kecil cake ke dalam mulutnya.


"Aku mau dong, Yank..." rengek Satya manja.


"Ambil sendiri, jangan manja!" ucap Sandra menginterupsi Amartha yang akan mengambilkan cake untuk suaminya.


"Silakan, Tuan..." bik Surti menaruh semangkuk bubur ayam dengan kuah kuning di depan Satya.


"Pengen itu..." rengek Satya pada Amartha. Sandra hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya.


Sedangkan di rumah sakit, Vira kembali ke bangsal dengan mengantongi sebuah surat. Wanita itu menghela nafas, seakan ada beban berat yang ada di pundaknya. Firlan sedang sibuk menyelesaikan urusan perusahaan, dia tidak mau membuat Firlan tambah pusing perkara keinginan pengunduran dirinya.


"Gimana aku bisa pulang? aku nggak mungkin minta extra cuti lagi," gumam Vira yang duduk di nurse station.


Vira mengeluarkan ponselnya, ia membuka fotonya dengan orangtuanya. ada rasa rindu yang membuncah di hatinya. Rindu akan belaian sang mama, dia rindu kebersamaan dengan orangtuanya. Vira segera menyeka air di sudut matanya, dia membuka catatan pasien, dan matanya membelalak saat melihat sebuah nama yang sangat ia kenal.


"Papah? nggak, nggak mungkin! ini pasti nama orang lain yang kebetulan sama dengan papah," ucap Vira, lalu ia mencari buku rekam medik atas nama Raharjo Putro yang ada di sebuah rak di dekatnya.


Tangannya berhenti pada buku catatan rekam medik berwarna biru. Vira membukanya perlahan dan tangannya dengan segera menutup mulutnya saat membaca informasi data diri pasien, matanya langsung berembun dan sesaat kemudian air mata jatuh di pipinya. 


"Papah!" Vira memekik pelan.


Vira langsung mencari nama dan kamar papa nya berada. Setelah menemukan apa yang ia cari, ia segera memakai masker dan berjalan menyusuri lorong kamar. Hatinya berdegup kencang saat ia berhenti di kamar dimana papanya berada.


Perlahan ia membuka pintu, dan ia melihat sepasang suami istri yang sedang berbincang. Sang istri masih memegang sebuah mangkok, sepertinya papanya baru saja menghabiskan sarapannya.


Mereka berdua menoleh ke arah pintu, mereka menatap seorang perempuan dengan baju perawat dengan masker medis menutupi sebagian wajahnya, berdiri mematung sementara mata perempuan itu sudah sembab, wanita paruh baya itu melihat ke arah suaminya yang juga menatapnya penuh arti. Perawat itu membuka masker medisnya dan membuat kedua orang itu terperanjat.

__ADS_1


"Vira?" ucap pria paruh baya itu.


...----------------...


__ADS_2