
"Ta? kamu udah siapin koper baju yang buat ke rumah sakit belum?"
"U-dah, ada di kamar bayi. K-koper warna hitam," ucap Amartha, dan seketika rasa sakit menyerangnya kembali.
"Cepat Bik ambil! aku tunggu di mobil," ucap Vira.
"Ta...? sakit banget?" tanya Vira. Amartha yang mendengar pertanyaan Vira pun hanya bisa diam. Ketika mulutnya akan menjawab, mendadak rasa sakit yang luar biasa seakan mengkoyak dirinya. Sakit yang membuat peluh membasahi keningnya.
"Tarik nafas, hembuskan..." ucap Vira seraya mempraktekannya, ia mengusap keringat Amartha dengan tisu.
"Kamu masih kuat jalan? karena beban hidupku udah berat apalagi harus ngegendong kamu, pasti aku nggak kuat lahir batin," Vira ngoceh.
"Masih kuat kok," kata Amartha yang berusaha untuk berdiri di bantu oleh Vira.
"Astaga, ngapain masih berdiri disitu? bantuin kek, nggak peka banget sih jadi cowok!" ucap Vira pada Firlan.
Sebenarnya bukannya tidak peka, tapi Firlan juga masih ada koma koma untuk sekedar menyentuh tangan istri bosnya itu.
"Iya, ih cerewet!" gumam Firlan.
"Tahan ya, Ta ... aduh, ngilu banget aku bayanginnya, Ta..." ucap Vira sambil memapah Amartha di sisi kanan Amartha. Sedangkan Firlan ada di samping kiri wanita hamil itu yang berjalan dengan susah payah menuju mobil.
"Astaga Bik Surti lama nian ya Allah..." Vira ngoceh lagi.
"Aaaakhhh, Astaghfirllah," pekik Amartha, ia mencengkram lengan Vira.
"Astaghfirllah! periiih cuy!" ucap Vira yang tak sengaja kuku Amartha menancap di lengannya.
"Ya Allah perihnya, aturan dia aja yang kamu tubles pake kuku, Ta..." ucap Vira sambil menunjuk Firlan dengan dagunya.
"Vira mending kamu diem, semakin kamu ngoceh nyonya Amartha bisa jadi makin sakit karena pusing dengerin kamu ngomong dari tadi," ucap Firlan. Amartha hanya bisa menahan rasa sakitnya sementara dua orang disampingnya terus saja bersahut-sahutan.
"Tunggu disini, aku ambil mobil dulu," Firlan meninggalkan kedua wanita itu di teras rumah. Pria itu berlari seraya memarkirkan mobilnya. Firlan segera membukakan pintu mobil bagian belakang.
Damian yang melihat gelagat aneh dari Firlan pun segera berlari dari pos diikuti mang Tatang dan mang Anto.
"Tuan Firlan!" seru Damian.
"Nyonya mau melahirkan. Biar saya saja yang mengantar, tolong hubungi Tuan Satya! katakan kalau Nyonya sedang menuju rumah sakit," perintah Firlan.
"Baik, Tuan..." jawab Damian.
__ADS_1
Firlan segera menghampiri Amartha dan Vira, pria itu membantu memapah istri bosnya itu.
"Hati-hati, Ta..." ucap Vira yang membantu Amartha untuk duduk di belakang. Setelah pintu ditutup, Vira berlari membuka pintu mobil sebelahnya. Ketika Firlan akan memacu pedal gasnya. Vira berteriak.
"Tunggu! kopernyaaaaa!" ucap Vira seraya menunjuk bik Surti yang tergopoh-gopoh menarik benda berbentu kotak beroda itu.
"Astaga, Vira kamu bikin orang kaget tau, nggak!" ucap Firlan, ia segera menarik rem tangannya dan berniat keluar dari mobil. Namun aksinya tertunda karena Damian mengetuk pintu kaca mobilnya.
"Buka bagasi," ucap Damian setelah Firlan menurunkan kaca mobilnya. Firlan menekan tombol bagasi, dan Damian pun mengangkat koper dan memasukkannya ke dalam bagasi.
Firlan segera menekan pedal gasnya dan segera meluncur menuju rumah sakit.
"Sabar ya, Ta. Kamu pasti kuat," ucap Vira segera mengusap perut Amartha untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Ssakit, Vir..." kata Amartha yang sejuat tenaga menahan rasa sakit yang tidak akan bisa digambarkannya.
"Iya iya sakit, sabar ya, Ta ... tahan, kita lagi jalan ke rumah sakit," ucap Vira mencoba menenangkan Amartha.
"Ya Allah, nggak kuat..." kata Amartha yang rasa sakitnya bertambah berkali-kali lipat.
"Istighfar, Amartha ... jangan mengejan, ayo tarik nafas ... keluarkan," ucap Vira memberi instruksi.
"Kamu ngasih instruksi yang jelas Vira, keluarkan itu keluarkan apa..." Firlan menimpali ucapan Vira.
Di perusahaan Ganendra Group. Satya sangat terkejut dengan berita yang disampaikan Damian.
"Apa....! istri saya mau melahirkan? sudah dibawa ke rumah sakit diantar Firlan? kenapa kau baru memberitahuku sekarang?" Satya langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya dan keluar dari ruangannya.
"Tuan!" seru Maura ketika melihat pemimpin perusahaan keluar dengan langkah terburu-buru.
"Saya ada urusan penting, tunda semua pertemuan hari ini!" perintah Satya.
Pria itu segera berlari menuju lift, dan hilang tertelan pintu besi menuju lobby.
Sedangkan di dalam perjalanan, Amartha terus saja menggenggam tangan sahabatnya. Firlan menyalip beberapa kendaraan yang ada di sisi kirinya.
"Kok belum nyampe-nyampe, sih?" protes Vira.
"Kamu tuh nanya sama siapa?" sindir Firlan.
"Sama yang pegang stir, masa iya sama bik Surti?" ucap Vira.
__ADS_1
"Ssshhh, jangan ribut bisa nggak, Vira? bukan cuma perutku yang sakit, tapi kupingku juga. Denger kalian ribut terus dari tadi, aku jadi tambah sakit," kata Amartha sesaat sebelum rasa sakitnya datang dan semakin kuat.
"Dia yang mulai duluan, Ta. Kalau karena bukan karena kamu dalam keadaan kayak gini, aku juga males ngomong sama tuh manusia," ucap Vira yang malah curhat.
Perlahan mobil yang dikendarai Firlan berhenti di sebuah rumah sakit milik Amartha. Vira segera mengantar Amartha masuk ke dalam ruangan khusus yang diperuntukkan untuk sang pemilik rumah sakit.
"Vira, kamu jangan pergi," ucap Amartha yang sudah berbaring di tempat tidur di ruang persalinan.
"Sebelum mas Satya datang, kamu nggak boleh pergi," Amartha menahan menggeleng rasa sakitnya sudah menjalar sampai tulang belakangnya dan kedua kakinya.
Amartha yang kesakitan tak sengaja mencengkram lengan Vira sampai kukunya menubles kulit Vira.
Mata Vira berair, selama menjaga sahabatnya itu. Apalagi sewaktu pemeriksaan dalam.
"Sssakit banget, Vir..." kata Amartha.
"Iya, Ta ... aku juga sakit, perih malah, Ta..." ucap Vira mengeluarkan air mata. Amartha seakan tak peduli dengan penderitaan Vira, ia kembali menekan kukunya di kulit Vira saat nyeri datang kembali.
"Sudah pembukaan 3, Nyonya ... sebaiknya anda jangan terlalu banyak mengejan," ucap dokter wanita yang menangani Amartha.
Satya yang menyetir seperti orang yang sedang kesetanan pun tak butuh waktu yang lama untuk bisa segera sampai di rumah sakit.
Satya berlari di lorong rumah sakit sembari menelepon asistennya.
"Bagaimana keadaan Amartha?"
"Nyonya sudah di dalam ruang persalinan khusus, saya tidak tahu bagaimana keadaannya karena Vira yang ada di dalam sana," jelas Firlan.
Satya langsung menutup ponselnya, ia terus berlari dengan perasaan yang campur aduk.
"Bertahanlah, Sayang..." gumam Satya.
Deg
Deg
Deg
Dengan nafas yang terengah-engah dan detak jantung yang berpacu cepat, akhirnya ia sampai di depan ruang persalinan khusus Dilihatnya. Firlan sedang duduk di depan kursi tunggu.
"Tuan," ucap Firlan seraya berdiri.
__ADS_1
Satya tak menjawab, pria itu segera membuka pintu dan masuk ke dalam.
...----------------...